Hujan gerimis sejak subuh membuat suasana desa sono kembang semakin sepi lengang dan.. menakutkan, bagaimana tidak sudah satu Minggu ini semua pintu rumah diketuk oleh seseorang disertai suara meminta tolong...
Tok..tok..tok.. terdengar suara pintu diketok.. membuat Ayunda yang sedari tadi sudah ketakutan semakin ketakutan..
"Mbaaaaakkkkk...toloooonggg...buka pintuuu mbakkkkk... Toloooonggg..disini dinginnn mbakkkk"
"Ya Allah..bapak,ibukkk kenapa gak pulang-pulang..Ayu takuttt"gadis cantik itu hanya bisa terus berdoa..
Srekkk..srekkk.. terdengar langkah kaki mendekat.."mbaaaaakkkkk.. toloooonggg.."
Suara-suara itu semakin dekat, semakin menakutkan... Dirumahnya yang besar Ayunda sedang sendirian bapak dan ibunya sedang kekota menjual hasil panen mereka Ayunda adalah anak dari juragan Karto dan Bu Sriani,
"Mbaaaaakkkkk..dingiin mbakkk toloooong"
"Si..si..siapa kamu..tolong jangan ganggu aku..aku tidak pernah ganggu kamu..pergi..pergiii!!!"
"Hi..hihihihi...kamu harus mati mbakkkkk kamu harus menolong akuuu..lalu aku akan pergi"
"tolong gantikan akuuu..akuuu dingin mbakkk.."
"Ta..tapii, bagaimana aku menolong kamu..hiks.. hiks "
"Kamu hanya harus bilang mau.."
"Ba..baiklah A..aku mau"
"Hi..hi..hi..terimakasih mbakkk.."
Pagi itu Pak Karto dan Bu Sriani baru saja datang
"Ayunda.. Ayunda..ini bapak sama ibu datang..tumben kamu diam saja nak.."
Seru pak Karto yang heran dengan sikap Ayunda yang cuek dan dingin.. berbeda dari biasanya karena Ayunda adalah anak yang ceria
"Tapi..aku Ayudia bapak..bukan Ayunda..aku Ayudia anak yang sudah bapak tumbalkan hihihiiii.."