Tiada yang dapat mengerti perasaan ku, mengenai kesedihan yang selalu aku pendam mulai sejak aku kecil hingga aku beranjak dewasa, mengharap sesuatu hanya akan menambah luka di hati, oleh sebab itu aku pun mulai menutup perasaan ku memandang dunia ini dengan datar
Merasakan kalau semua yang ada di dunia hanya fana tidak pernah memihak ku, perasaan jengah membuat ku akhirinya tutup mata dan tidak pernah menghiraukan apapun lagi.
Kini aku berada di bangku sekolah menengah atas. Saat itu seperti biasa aku hanya terdiam di bangku memperhatikan sekitarku yang mulia bising dan melontarkan suaranya masing-masing
Satu dengan yang lain, mereka berbicara seperti orang yang begitu bahagia, mengabaikan aku yang ketika itu duduk tenang di kursi paling sudut
"Sebenarnya apa dosaku?" Batinku ketika itu bertanya-tanya, mengapa aku berbeda? Sejak kecil aku tidak di rawat oleh orang tua, aku tinggal hanya dengan nenek sampai aku beranjak dewasa
Awalnya aku sempat bingung dengan keberadaan ku, apakah aku ini hanya seorang anak yang tidak di inginkan?
Banyak pertanyaan dalam benak yang begitu membebani pikiran ku saat ini, tetapi aku juga tidak ingin mengambil pusing lagian aku juga tidak membutuhkan teman
Karena teman hanya akan berujung kepada pengkhianatan, tiada hal yang bagus dari teman, aku yang sudah terbiasa sendiri merasa teman bukanlah hal yang diperlukan
Usut punya usut akhirnya hari yang tidak diinginkan pun tiba, dimana nenek ku akhirnya menghembuskan nafas terakhir di bangsal rumah sakit
Ketika itu aku tidak bisa berbuat apapun, tatapan ku kosong, mulutku kalut bahkan pupil mataku tidak mengeluarkan air sama sekali
Berdiri menatap nenek yang telah terbaring tak berdaya di atas ranjang, dengan kulit keriput yang mulai memucat karena suhu menjadi dingin
"Jangan tinggalkan aku" ucapku ketika itu tertegun diam, sembari mengepalkan telapak tangan dengan kuat. Dan untuk setelah sekian lamanya, air mataku pun mengalir kembali.
Hari pun berlalu aku mulai melupakan kepergian sang nenek, dan lengkap sudah aku melupakan nenek, orang tua ku, dan bahkan namaku sendiri aku tidak ingat
Dam setelah kejadian itu pula aku tinggal sendirian tanpa siapapun.
Hari kembali seperti biasa, seakan tidak perduli dengan kesedihan ku. Aku masih terdiam melamun tanpa memperhatikan apapun, tatapan ku kosong, bahkan disaat guru menjelaskan aku hanya diam tidak mendengarkan
Bahkan ketika aku pulang, aku hanya diam tidak bersuara. Sepertinya mayat hidup yang tidak memiliki jiwanya lagi
Akan tetapi akhirnya untuk pertama kali aku bertemu dengan seseorang yang aku sendiri tidak tahu mengapa dia ingin berbicara denganku, ketika itu aku bertemu dengannya di depan gerbang sekolah.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya seorang wanita cantik dengan pakaian yang sama yaitu seragam anak SMA
Kebingungan melanda pikiran ku saat itu sehingga dengan ketus aku menjawab. "Bukan urusanmu!!" Suaraku membuat wanita itu tersentak kaget sehingga ia terdiam setelah itu
Aku yang tidak ingin ambil pusing segera pergi dari situ meninggalkan wanita yang diam mematung, padahal saat itu ada yang mengajakku berbicara tetapi karena perasaan yang tidak nyaman akhirnya aku dengan tega berbicara hal ketus kepadanya
Akan tetapi karena kejadian itu akhirnya aku mulai menyesal dan memutuskan untuk duduk dan merenungkan kesalahan ku, karena wanita itu tidak bersalah, tetapi mengapa aku menjadikannya sebagai pelampiasan
"Sungguh jahat" gumam ku. Saat itu duduk di kursi taman memperhatikan langit sore yang berwarna orange
Selang beberapa lama, datang lagi wanita itu di hadapanku tetapi kali ini dia membawa kawannya, entah dengan tujuan apa
"Hei.. kamu baik-baik saja?" Tanya wanita itu lagi, dia duduk di sebuah ayunan tidak jauh dari tempat aku duduk
"Mah.. dia kan!, orang aneh yang ada di kelas kita, yang setiap harinya selalu muram"
"Masa iya?” jawab wanita itu kepada temannya. Tidak memperdulikan hal itu aku akhirnya beranjak pergi dari taman untuk pulang, yang lagi-lagi mengacuhkan wanita itu
Seperti biasanya aku sebelum pulang, akan mampir ke mini market untuk membeli sesuatu sebagai keperluan rumah, dan setelah membeli sesuatu aku akan langsung pulang, namun saat itu aku kembali bertemu dengan wanita itu untuk ketiga kalinya
Namun kali ini ia sendirian, saat itu dia berdiri di pinggir jalan yang tidak tahu menunggu apa
Karena merasa tidak berkepentingan aku melangkah untuk menjauh, akan tetapi di waktu yang tidak berselang lama, akhirnya aku mendengar teriakannya yang menjerit minta tolong
Sontak aku terkejut, karena penasaran akhirnya aku memutuskan untuk menyusul sumber suara, dan benar saja teriakan itu berasa dari wanita yang aku temui sebelumnya
Dia ketika itu sedang tarik-tarikan dengan seorang pria asing yang berusaha untuk meraih tasnya, tidak tahu apa yang dia incar tetapi ranselnya saat itu seperti benda berharga
Tapi kembali ke titik awal, aku yang sudah tidak memiliki empati akhirnya mulai mengabaikannya, aku berjalan menjauh namun sebelum jauh aku kembali kepikiran, bagaimana jika terjadi suatu bukankah dia sendiri yang repot jika harus sampai terjadi sesuatu
Walaupun tidak mungkin tetapi ada kemungkinan jika wanita itu terjadi sesuatu ia yang akan di curigai polisi
Lagian setelah ia lihat lagi, sepertinya jalanan ini sangat sepi, bagaimana jika wanita itu menjadi korban. karena perasaan tidak tenang
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali dan menolong wanita itu. Awal kedatangan ku, pria asing itu menodong pisau ke arahku dan berkata
"Jangan mendekat jika kamu tidak ingin mati" kecamnya. Namun karena aku yang sudah bosan hidup akhirnya dengan penuh keberanian langsung menerjang pria asing itu dengan tendangan
Walaupun sudah terkena tendangan pria itu tidak tumbang dia justru malah kembali melawan menggunakan pisaunya, dan saat itu aku terkena sayatan tepat di lengan kanan
Merasa sudah tanggung, akhirnya aku melakukan serangan secara brutal hingga akhir pria asing tersebut berhasil di jatuhkan namun walaupun jatuh pria itu tidak berhasil aku amankan, dia pergi melarikan diri
Dan karena tujuan ku sudah berhasil akhirnya aku membiarkan pria asing tersebut pergi meninggalkan kami, dengan lengan terluka aku berjalan menghampiri wanita itu. Ketika itu sang wanita terlihat begitu cemas, bahkan terlihat jelas telapak tangannya sudah gemetar dengan kuat
Dengan begitu santai dan lembut aku berkata kepadanya. "Hati-hati lain kali" sontak wanita itu tertegun dan menatap ku dengan begitu dalam
"Aku pergi dulu" setelah mengucapkan itu aku berjalan menjauh, tetapi karena wanita itu merasa bersalah akhirnya ia memanggilku dan berkata kalau ia akan mengobati luka ku
Aku yang ketika itu merasa nyeri juga tidak mempermasalahkannya, lagian di rumah juga tidak ada orang yang bisa mengobati ku
Akhirnya lukaku di obati oleh wanita itu dengan begitu hati-hati, terlihat sekali di wajahnya ia begitu khawatir kepadaku
"Terimakasih" seruku. Sementara wanita itu membalas. "Sama-sama" dengan senyum manisnya
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang, ucapku kepada wanita itu"
"Ya, kamu benar" ujar wanita itu. Akhirnya aku membuka handphone dan menekan tombol layar yang ada di sana sebelum kembali berkata kepada wanita itu. "Sudah aku pesankan taxi online, jadi kita tunggu"
Wanita itu mengangguk, kemudian setelah beberapa saat akhirnya taxi datang dan segera untuk membawa wanita itu kembali kerumahnya
Namun sebelum itu. "Namaku Halimah, siapa namamu?" Tanya wanita itu, hingga akhirnya aku mengetahui nama dari wanita itu untuk pertama kali
"Namaku..."
Terlihat wanita itu menunggu jawabanku bahkan ia sampai tidak naik ke mobil karena menunggu mulutku yang ketika itu kalut sekali
"Na-namaku, BENY"
Chapter 01 (tamat)