Cinta, keterpurukan yang membuatku mengerti akan sebuah kehilangan
Sudah 5 tahun kamu pergi meninggalkan aku untuk selamanya. 5 tahun sudah aku larut dalam kesedihan, 5 tahun juga aku tidak bisa melupakanmu. Aku masih mengingat dengan jelas memori memori kita bersama, waktu kamu masih ada, masih bersamaku.aku tidak bisa kulupakan begitu saja. Memori-memori itu selalu ku kenang, selalu tersimpan rapat-rapat dalam hidupku, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa lupa
Aku masih ingat waktu kamu datang pagi pagi ke rumahku, memberikan aku bunga lili dan boneka beruang kesukaanku. Kamu selalu memberikan senyuman itu kepadaku, dan aku juga masih ingat saat kamu pernah bilang padaku dihari itu.
“Kalau suatu saat nanti aku tak ada di sampingmu, jangan pernah lupakan kenangan-kenangan kita yang telah kita lalui. Dan jangan pernah berhenti mencintaiku, walaupun aku tak ada lagi di sisimu, kamu wanita kuat berbahagialah jika bukan bersamaku” ucapnya sambil menggenggam tanganku erat.
“Aku akan selalu mencintaimu, rie.” ucapnya lagi.
Brukkk.
Disaat akan menuangkan air kedalam gelas ku.
Tiba tiba perasaanku tidak enak, aku takut sekali jika dia memang akan pergi meninggalkan aku. Ku beranikan untuk bertanya padanya.
“Kamu kenapa? kamu kenapa ngomong gitu? kamu kan udah janji sama aku, gak akan tinggalin aku.” Dan dia kembali tersenyum. Senyum yang sangat sangat hangat itu.
“Sayang, dengerin aku ya. Setiap manusia, pasti akan kembali pada Sang penciptanya. Walaupun, kita tidak pernah tahu kapan kita kembali padaNya..” Katanya. Aku menghela napas.
“Iya, aku tahu kok. Tapi kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu? kamu gak akan tinggalin aku kan? aku gak mau kamu pergi.” Kataku lagi. Dia menatapku dan mengacak rambutku pelan.
“Iya sayang, aku tidak akan pergi meninggalkanmu, dan aku berjanji akan selalu berada disisimu.”
Dan Setelah itu, dia pun pamit pulang dengan alasan urusan mendadak. Dengan berat hati aku pun merelakannya, padahal aku masih merindukannya.
“Aku pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik ya dan jangan lupa selalu tersenyum.” ucapnya. Dia pun menjalankan motornya. Perasaan tidak enak pun kembali muncul. Hatiku tak karuan. Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Aku pun segera masuk ke rumah. Ingin beristirahat sejenak.
Sudah 5 hari gara tidak memberiku kabar. Bahkan, smsku tidak juga dibalas. Di sekolahpun aku tidak pernah melihatnya. Kemanakah Dia? Apakah Dia baik-baik saja? Dan anehnya,setiap hari ada saja paket untukku darinya. Mulai dari Bunga lili, boneka, foto-foto kita berdua, dan masih banyak lagi. Dan dia juga selalu menuliskan, “Maaf jika aku punya salah padamu. Aku akan selalu mencintaimu, rie.”
Dan esoknya, aku melihat Dia di sekolah. Dia sedang duduk di taman sambil main gitar. Ku datangi dia dengan penuh rasa kesal dan cemberut aku bertanya padanya.
“Aku gak tahu, aku ada salah apa sama kamu. Tapi kenpa belakangan ini kamu gak pernah memberiku kabar? kamu gak tahu aku merindukanmu dan kamu juga gak tahu aku sangat menghawatirkanmu..” kataku, dan dia hanya diams aja sambil mmenatap lurus kedepan.
“Gara, kamu kemana saja? kenapa kamu baru sekolah? kamu baik baik saja kan, apak aku sakit, beritahu aku?” tanyaku lagi. Dia masih saja tetap diam. Menyibukkan diri. Aku semakin kesal padanya.
“Gara!! jawab aku!! kenapa kamu diam aja sih? jawab gara, aku mohon!!” Bentakku sambil menangis. Dan akhirnya Gara menatapku, memberikan aku sebuah cincin inisial GR, yang ternyata itu nama ku dan dia, kemudian dia tersenyum padaku.
“Maaf ya, aku sudah membuatmu khawatir. Tapi, aku baik baik saja kok sayang.” ucapnya.
“Aku ke kantin dulu ya. Nanti kita pulang bareng ya.” ucapnya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan aku sendirian dalam kesunyian.
“Gara..” panggilku. Dia membalikkan badannya, kemudian tersenyum ke arahku. Hatiku semakin tak karuan. Semakin khawatir. Aku takut akan terjadi sesuatu padanya.
Ketika pulang sekolah. Aku sedang menunggu taksi. Aku tidak mau pulang dengannya. Aku masih kesal padanya. Sebuah motor yang ku kenali berhenti di hadapanku. Aku membuang muka.
“Ayoo, kita pulang.” Ajaknya.
“Gak usah, aku bisa naik taksi kok. kamu pulang aja.” kataku dingin. Aku segera memanggil taksi, dan taksi itu kemudian berhenti. Aku segera masuk ke dalam. Dia menyusul dengan motornya, mengetuk kaca taksi itu.
“Cepat pak!” ucapku pada supir taksi itu. Akhirnya, aku terbebas darinya. Tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat keras. Seperti suara motor yang ditabrak. Aku pun menyuruh taksi itu berhenti. Ku lihat ke belakang ternyata itu Gara. Dengan kepanikan yang melandaku, aku segera membayar taksi itu, kemudian segera turun.
Langsung aku berlari ke arah suara itu, dan yang ku lihat Gara dengan tubuh bersimbah darah terkapar di jalan, sontak aku menjerit, menangis, dan pingsan di tempat, ketika ku buka mataku, yang ku lihat hanya Ibuku di samping, dia mengatakan, “Gara sudah tenang di sana, sayang” langsung saja aku menangis histeris. Yang ku tahu aku dipeluk dengan erat oleh Kakakku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengumpat diriku. Aku menyesal. Apakah ini semua arti dari beberapa hari ini? Arti dari perkataan yang pernah diucapkan padanya kepadaku? Dan kado-kado yang diberikan oleh Gara kepadaku? Tuhan, mengapa secepat itu Kau mengambil Dia? Mana janjimu Gara? janjimu yang akan selalu ada di sampingku? Janji yang akan membawa pergi jauh dan janji untuk sehidup bersama.
hari pemakamanmu, aku pun membawa fotonya dan aku pegang erat-erat, di sampingku ada Kakakku yang setia memelukku. Aku tak dapat membendung tangisku ketika peti matimu telah dikubur di dalam tanah, aku pun menaburkan bunga ke atas tanah itu. Aku berlutut dan mencium nisan itu.
“Baik-baik di sana sayang, aku selalu sayang kamu.”