CAHYONO DAN SATU MASALAH.
Aku duduk menghadap camer alias burung camar, calon morotuwo.
“Bagaimana?“ ujarnya penuh dengan kewibawaan yang sangat di paksakan.
“Iya…“ Raja mengangguk secara hati-hati.
“Sanggup kau menyediakan seribu kursi?“
“Apa nggak kebanyakan?“ Raja nampak kebingungan. Menganggukpun pelan, tersenyum hanya semacam cengiran saja.
“Jangan kau atur aku ya!“ Bapak kelihatannya sedikit meradang. “Kalau anda nggak sanggup, ada lo yang sanggup. Iya kan Cahyono?“
Bapak menatap aku. Aku hanya mengangguk dengan pelan sembari tersenyum simpul. Sangat senang sekali aku, nampaknya bapak yang satu begini, lagi sedikit berpihak pada aku.
#
“Hehe bagaimana Cahyono?“ tanya teman-teman yang penasaran akan pembicaraan aku di dalam sana dengan para calon mertua yang sudah sangat cocok dengan kondisiku yang sangat kaya dan mampu menyiapkan seribu kursi saja. Mereka ini menungguku di luar, supaya tidak mengganggu gugat, kala aku tengah melakukan pembicaraan tua dengan orang yang paling di segani sama si cewek, Gima, itu.
“Biasa, kayaknya ada sedikit harapan ini,“ kataku membicarakan bapak yang sedikit memberi angin, angin sepoy yang mampu membuat bulu kuduk berdiri karena meniup kelebatan bayangan putih.
“Wah bagus.“ Teman-teman pada bersuka. Bakalan banyak makanan nanti kalau aku jadian sama si dia, dan melakukan resepsi besar-besaran, tentu mereka akan makan banyak-banyak serta nikmat nikmat dengan hanya memberi amlop kosong saja, atau uang sekedarnya biar kami tak kecewa.
“Tinggal menyiapkan seribu kursi saja.“
“Wah, gampang itu.“
#
“Kita mampir dulu di TPS ini,“ ujar kami kala melewati tempat penoblosan, dimana kita semua sudah mempergunakan hak pilih. Biasa, karena sudah merasa mendapat angin, makanya mending main-main dulu.
“Kenapa?“
“Kan ada yang mati.“
Itu kabar tak mengenakkan yang terjadi sekarang. Dalam tempat itu, suatu lokasi yang tidak biasa di pergunakan sebagai tempat kesibukan, kali ini mesti di gunakan. Karena di pakai untuk pemilihan. Biasa, orang-orang mempergunakannya demi kebaikan Bersama. Memang tidak hanya satu jenis saja, tapi berbagai macam lokasi di pergunakan, dengan patokan ukuran luas antara Panjang dan lebar mencukupi, maka sudah jadi. Sehingga terkadang ada yang di lokasi sekolah, ada yang di Gedung kosong yang banyak cekikikannya, juga ada yang bikin teratag seperti mau sunatan masal, atau perkawinan terlarang. Itulah makanya beraneka lokasi dan bentuk yang tersaji. Dan tak jarang ada yang mau-maunya memberi hadiah buat para pemenang akan kerapian dan kebaikannya dalam mendekorasi lokasi tersebut.
“Ya banyak, kan kelelahan semua.“
Ada kalau cuma 71 saja. Itupun lebih mendingan di banding dengan lima tahun sebelumnya yang sampai 500 orang lebih yang menderita kematian begitu. Ini sedikit lebih mending. Karena porsi pekerjaan juga sama. Dan pengalaman yang hanya sekali buat sebagian panitianya menjadikan masih banyak yang menjadi korban.
“Orang balik sampai subuh.“
“Ya, masalahnya lama.“
“Begitulah.“
“Kita tanya ada yang mati nggak.“
“Ada.“
Kata para panitia menjawab pertanyaan kami.
Disitu selain panitia yang sembilan orang ketambahan peniliknya yang biasanya di rekrut langsung sama panitia kecamatan dan buat mengawasi peroses jalannya pemilihan itu, sembari membantu kalau mengalami kesulitan di lokasi.
“Tuh kan.“
“Akibat kelelahan.“
Kebanyakan memang begitu. Karena kerja yang melebihi jam kerja. Makanya kebanyakan perusahaan hanya mewajibkan delapan jam kerja saja. Di luar itu di hitung lembur. Sebab memang efektif kerja Sebagian besar manusia hanya demikian saja. Kalau di paksakan lembur akan melebihi kodrat manusia untuk terlalu capek. Itulah makanya kegiatan lembur kurang bagus. Walau Sebagian karyawan akan senang jika memperoleh waktu demikian, karena masih merasa sanggup serta tenaga yang besar, tapi tidak demikian secara keseluruhannya, sebab bakalan menjadi sesuatu yang berlebihan. Lama kelamaan akan menjadi penyakit yang jika di teruskan akan semakin parah.
“Siapa?“
“Ya yang bertugas lah.“
“Ini mesti di selidiki.“
“Dari 7. Sama linmas 2. Mesti di tanya-tanya.“ Kami lalu mulai melihat-lihat dengan penuh selidik dan tatapan yang nanar, melihat satu demi satu masing-masing mereka yang bekerja sesuai dengan nomor kepanitiaan.
“Bagaimana sih? Orang kelelahan, malah mau di tanya!“ Para mereka seakan sangat tak mau kalau mesti di tanya-tanya, diinterogasi. Bahkan takutnya kalau sampai di benam-benamkan air supaya mengakui segala perbuatan yang belum tentu dilakukan.
“Kan kita penasaran. Lagipula ada misteri ini.“
“Nggak ada!“ ujar para panitia itu dengan tegas. Tak ingin mereka di tanya-tanya, di interogasi, sementara lagi pusing dan semalaman belum istirahat di tempat.
“Elu ngapain, lu ngantuk.“ Teman-teman masih bertanya. Masih mencoba mengulik kasus yang tak terselesaikan ini.
“Kan kelelahan,“ jawab panitia nomor tiga dengan tatapan sayu.
“Kenapa hidung lu kena tinta?“
“Soalnya kita kan penjaga tinta, jadi saat pingin ngupil jadi ingin membersihkannya,“ ujar nomor tujuh yang sangat suka sekali dengan tinta-tintaan begitu.
Dan itu yang terjadi.
“Payah lu, kan di cuci lima kali dengan sabun bakalan beres.“ Terang teman kami, akan pentingnya sabun.
“Masuk hidung dong, sabunnya.“ Sangat bisa di bayangkan kalau hal ini terjadi, bagaimana hidung akan berbuih penuh dengan gelembung semacam bublle yang sangat mengganggu pemandangan. Itu yang mesti mereka waspadai serta ingin di hilangkan dari ingatan.
Atau memang mereka yang saling bersaing.
Sebab setidaknya ada lima saksi yang mewakili nama atau partai. Jadi mereka akan saling bersaing demi mendapat banyak suara yang membuat hati bangga. Sebab bagi yang di dukungnya itu sudah banyak berkorban. Ada yang memberi batu, ada yang membantu penerangan jalan, supaya pikiran juga tenang, serta hati tidak gelap mata, dan lancar jalannya.
“Cinta-cintaan lu ya!” tanya kami sama panitia bernomor itu dengan sampingnya yang tidak semua petugas laki-laki. Namun ada juga yang perempuan.
“Enggak.”
“Kita sudah pisah.”
Mereka menjawab sekenanya, sembari memalingkan punggung. Saling memunggungi.
#
“Bagaimana, tak ada yang mengaku ini.“
“Ya pasti si petugas.“
“Dia itu merasa kalau cinta terhadap si pelaku sangat di tolak. Sehingga memberi racun yang di celup tinta. Sehingga kala di sentuhkan, akan membuat yang kena pusing. Seperti kurang tidur. Dalam waktu yang panjang membuat reaksinya semakin kuat. Sehingga akan jatuh kala pagi datang seiring lelahnya dia yang semalaman tak istirahat.”
“Begitu.“
“Kira-kira.“
“Lah.“
Semestinya kalau tak ada pasangan seperti calon itu juga wajar saja. Karena bukan itu tujuan utama demi membangun negeri ini. Kalau sudah pisah ya sudah. Tak usah Kembali. Walau jika memungkinkan Kembali juga lebih bagus. Sebab tak usah mencari yang lain. Alias theklek kecemplung kalen, timbang golek aluwung balen, lebih baik balikan daripada mencari lagi yang belum jelas kualitasnya. Namun andai berjalan masing-masing juga tak mengapa. Karena sudah diketahui umum. Walau sendiri akan tetap percaya dan di percaya rakyat.
#
Kami terus pulang.
“Wah ini tak ada isi.“
“Ya sudah, tinggal baca lalu pulang, sudah.“
Memang setelah di pikir-pikir, itu bukan suatu hal yang baik untuk di pikir. Lebih baik jika kita tak usah memikirkannya. Lebih baik melanjutkan yang sudah kami rencanakan saja.
#
“Bagaimana jadi? Biar aku siapkan seribu kursi.“
“Tiga ribu juga nggak papa.”
“Ah sudahah…“ Aku hanya bisa berkata demikian.
“Lo kenapa? Mumpung mereka lagi jadi manusia perak untuk nyari tujuh juta di bundaran lo,“ ujar temanku punya kawan.
“Biar dia mencari pilihannya sendiri.“
Sebab kalau mencari pilihan orang juga bakal sulit, ribet. Makanya mending mencari pilihan tersendiri. Untuk itu akan lebih nyaman. Selainnya itu bisa mencari kesesuaian. Bisa yang sama-sama galak, sama-sama muda, juga sama sama tidak sama. Semua adalah pilihan, Dimana orang akan mempunyai banyak hal, untuk menentukannya. Sehingga akan merasa nyaman bagi semuanya.
“Kau sudah tua lo?“ ujarku yang merasa sudah sangat bangkotan, akan tetapi belum juga mendapat jodoh. Sehingga pada berpendapat kalau jodoh kali ini adalah yang terbaik. Apalagi semua sudah sangat menyetujui. Tinggal melakukan apa yang diinginkan bapak-bapak yang sangat bangkotan itu. Maka segalanya beres. Lagipula bukan hal yang sulit. Sebab orang tua juga paham akan kesulitan calon anaknya, yang mesti di sesuaikan dengan takaran ukuran kemampuan yang dimiliki. Sehingga tak bakalan mencari hal-hal yang sekiranya akan memberatkan si calon.
“Nggak papa, kalau jodoh tak akan kemana. Tapi jika masalah hati mau bagaimana lagi.“
Aku hanya kepikiran, betapa tak bahagianya calon istriku nanti, bila tak menyukaiku, namun di paksakan. Seperti layaknya kasus yang kita tangani itu, betapa sedihnya buat yang tak dapat kursi nantinya, walau aku siap dengan seribu kursi, serta para peserta yang dalam satu tempat begini menderita kekalahan telak yang sangat menyakitkan.
“Gitu ya.“
“Hooh.“
Spontan kami berlalu dari tempat itu sembari cengar-cengir dan saling cubit tulang iga kiri.
“Uhuy…“
#