Entah takdir baik atau tidak, tapi waktu sudah mempertemukan keduanya. Perbedaan yang sangat jauh dan besar membuat keduanya bersatu, akankah Taehyung bisa membawa Sana ke dunia nya atau bisakah Sana membuat Taehyung menetap di dunia nya?
****
Hari ini Sana akan pergi berkelana untuk mencari inspirasi lukisan dia selanjutnya. Memang menjadi seniman itu sangat melelahkan dan banyak dianggap pekerjaan yang sangat membosankan dan tidak ada apa-apanya, tapi bagi Sana hidup tanpa seni itu seperti kanvas tiada warna, buram nan kusam. Sebagian besar manusia berpikiran bahwa apa yang terkenal dan sangat menghasilkan uang maka itu tidak boleh di sia-sia 'kan melainkan harus diikuti dan dikerjakan maka kepuasan pun datang. Namun bagi Sana itu sebuah pemikiran yang sangat dangkal dan tidak memiliki akal sehat sama sekali. Kenapa harus uang yang membuat semua mahluk di bumi bahagia? Kenapa tidak ada hal lain, ya seperti seni mungkin? Atau ada yang lain selain kedua ini? Ck, memikirkannya saja membuat hati bercampur aduk dan muak apalagi membicarakannya.
Dan di sini lah dia sekarang berada, di negara yang terkenal dengan pemandangan malam yang tidak boleh di abaikan sedikit pun. Kanada, pemandangan aurora dan beberapa tumbuhan yang sangat langkah dan menarik ada di negara ini. Jangan sia-sia 'kan tentunya, pohon maple yang memiliki daun unik itu sangat menarik perhatian banyak orang-orang terlebih turis seperti dia.
"Wah, akhirnya sampai juga." Seru Sana mengeliat ke segala arah dan pemandangan langit malam yang sangat menghangatkan hati dan memberikan asupan matang bagi sepasang netra cokelat miliknya.
"Sana sampai kapan kau akan duduk di sini saja?" Tanya Asahi. Pria yang di panggil adik oleh Sana ini selalu berbicara non formal dengannya, itu juga karena dirinya membiarkan pria berkebangsaan Jepang itu menganggapnya sebagai teman jadi jangan salahkan Asahi.
"Aku suka bintang di langit malam ini." Jawab Sana tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Kau sudah mendapatkan ide untuk tema lukisan mu selanjutnya?" Sana mengangguk cepat dan tersenyum lega.
"Baguslah kalau begitu, jadi mau sampai kapan kau di sini?" Ulang Asahi bertanya dan sekilas ia melihat jam yang terpakai biasanya di tangan kirinya.
"Ini sudah hampir larut malam dan kau bahkan tidak ingin kembali atau berjalan ke tempat lain lagi." Ucap Asahi melanjutkan.
Sana menghela napas dan dia tahu bahwa pria bermarga Hamada itu sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Kau tenang saja, aku sudah besar dan aku tidak akan di culik ataupun menghilang. Kau paham itu?" Balas Sana sembari memegang pundak Asahi mengisyaratkan bahwa dia akan baik-baik saja.
Pria itu tersenyum kecut namun detik berikut dia tersenyum tipis.
"Baiklah kalau begitu aku kembali ke hotel duluan, kau jangan lama-lama di luar. Aku dengar di padang rumput ini juga sering di datangi hewan buas dan liar, kalau memang tidak sabaran lagi untuk melihat aurora maka itu terserah padamu tapi aku memang tidak mau kau kenapa-kenapa." Ucap Asahi diiringi senyuman manis yang jarang ia perlihatkan ke orang-orang sekitarnya.
Sana balas tersenyum manis juga, "Baik aku paham, sekarang biarkan aku di sini untuk menunggu pemandangan langkah itu oke." Kata Sana sambil memberikan kedipan mata, Asahi tertawa kecil karena merasa gemas.
"Ya sudah aku pergi dulu, sampai jumpa di hotel nanti." Asahi bangkit dari duduknya dan langsung beranjak pergi sebelum melambai singkat pada Sana.
Sana tersenyum melihat sahabatnya itu, lalu dia kembali mengarahkan pandangannya ke langit. Sesekali jam yang di tangannya ia sesuaikan untuk menunggu pemandangan tersebut.
"Harusnya sebentar lagi aurora akan muncul." Gumam Sana dengan sorot mata yang lurus menatap ke atas langit malam berkabut bintang.
Tapi tiba-tiba ada sebuah benda jatuh dari atas langit membuat Sana terahlikan, cahaya yang begitu menyilaukan mata.
"Apa itu aurora?" Sana berusaha untuk melihat dengan jelas namun sangking silaunya membuat dirinya harus setengah bersembunyi dibalik tangannya.
"Wah, seputih salju? Ini kah aurora?" Sana seketika kagum saat netra hazel miliknya berusaha menembus bayang-bayang kilauan itu. Tapi tunggu, kenapa sepertinya dia bergerak mendekat dan akan jatuh?
"Hah, apa aurora hidup?!" Pekik Sana tak percaya dan langsung spontan berdiri dari yang tadinya posisi duduk.
Sana menutup kedua matanya dengan telapak tangan yang semakin menutup penglihatannya.
Ingin berteriak tapi sepertinya Sana kehilangan jalan, seperti bola cahaya yang menutupi sekitaran tempat dia berada.
"Apa ini? Asahi tolong aku!" Teriak Sana namun hawa di sekitarnya mendadak dingin, apa lagi ini?
Salju turun di saat musim semi?! Apa yang sudah terjadi pada dunia?
Sana membuka perlahan matanya, dengan takut-takut ia sedikit mengintip dibalik kelopak mata yang tampak masih tertutup. Dan betapa terkejutnya Sana, sekarang dia seperti dikurung oleh cahaya tadi, ya dia di dalam bola besar yang bercahaya bercampur salju yang turun dengan warna putih kebiruan di dinding-dinding atas kulit bola.
Sana dikurung bagaimana ini? Apa dia akan mati?
Sana berteriak histeris berusaha untuk memanggil orang yang bisa membantunya saat ini.
Namun ada sebuah benda bercahaya yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Sana dibuat penasaran, lantas saja dirinya melangkah maju dan mendekat ke tempat benda tersebut tergeletak indah.
"Sebuah kalung?" Sana mengernyit heran dan bingung, kenapa sangat bercahaya?
"Cantik sekali, tapi siapa yang meninggalkannya di sini?"
"Apa tidak ada pemiliknya? Kalau tidak ada, sayang sekali jika tidak ku ambil.." Sana tersenyum lebar seperti dapat hadiah dadakan ia reflek mengambil kalung tersebut dan langsung memakainya, ternyata sebuah permata yang sangat indah.
Sana tersenyum kembali, ada rasa senang bercampur takut yang ia rasakan saat ini. Salju semakin turun, rerumputan yang tadinya hijau kini berubah warna menjadi putih aluminium.
"Mimpi buruk apa aku semalam?" Rahang Sana hampir saja jatuh melihat rumput yang ia pijak bergerak, ada rasa takut dan juga penasaran.
"Kembalikan kalungku!" Suara seseorang? Sana takut, ia semakin takut saja saat sebuah suara tiba-tiba menyadarkan dirinya.
Orang itu laki-laki?
Sana tidak mampu berbalik untuk menoleh, ia lebih memilih untuk mati saja saat ini.
Hari hallowen belum tiba tapi kenapa aura orang itu terasa seperti hantu hidup saja?
"Ahhh...tolong aku!" Teriak Sana yang menutup kedua matanya kembali dan terjongkok di atas rumput dengan kedua tangan yang ia silangkan di depan dadanya seperti perisai sebelum di terkam oleh sosok yang mengerikan.
"Kau bukan manusia, hei kau hantu apa mau mu?!" Tanya Sana dengan nada berteriak namun bergetar karena bertambah ketakutan.
"Kau mengambil kunci portal ku." Sahutnya membalas, Sana yang mendengar suara itu merinding seketika.
Mampuslah dia kali ini.
"Apa mau mu? Aku tidak tahu apa yang kau katakan!" Seru Sana dengan tubuh yang bergetar hebat, oh tidak, suhu tubuhnya serasa ingin membeku saat ini.
"Kembalikan padaku gadis kecil." Ucapnya lagi namun terkesan memaksa.
"Arghh, aku tidak tahu apa maksudmu dan lagi jangan panggil aku gadis kecil kau mengerti itu!" Lelaki itu berdesis pelan namun dapat tertangkap oleh pendengaran Sana.
"Jelas-jelas kau sudah mengambilnya dan lagi hanya kau yang berada di bola cahaya ini bersama ku."
Sana terdiam, entah apa lagi yang harus dia katakan tapi rasanya itu sia-sia saja dan lelaki itu semakin memaksanya. Langkah kakinya juga dapat Sana dengar semakin mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat, menjauhlah dariku!" Teriak Sana tanpa henti dan tidak peduli jika setelah malam ini mungkin dia tidak akan bisa bicara normal karena kehilangan suara uniknya.
"Heh, manusia seperti kalian memang menyusahkan kami ya. Dasar tidak berguna." Umpat lelaki itu dan Sana tidak percaya, apa benar yang ada bersama nya sekarang manusia atau mahluk aneh? Atau jangan-jangan alien kah?
"Serahkan kalung itu padaku atau tidak?"
Ya, Sana terjatuh dan tubuhnya sudah terbalik menghadap ke atas langit.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Sana karena dirinya baru saja ditarik secara paksa dan lagi ditindih dengan mengunci pergerakannya.
"Dasar mahluk brengsek kau!" Mustahil alien dapat berbicara seperti layaknya manusia nyata, itu hanyalah opini dari para ahli angkasa dan Sana yakin bahwa yang sedang ia hadapi itu adalah manusia namun gila, menurutnya.
"Kenapa kau harus menutup mata?" Bodohnya mahluk itu bertanya tanpa berpikir membuat Sana ingin mencekik lehernya saja saat ini, kalau iya dia punya leher.
"Kau itu hantu! Aku takut bodoh!" Ucap Sana berteriak dan langsung saja sebuah tindakan mengejutkan membuat Sana terbungkam habis tak bisa bernapas normal lagi bahkan dirinya mati rasa sekarang.
Cup
Mahluk aneh itu menciumnya tanpa izin dan aba-aba. Dan lagi ini, ini adalah ciuman pertamanya.
Cukup lama bibir keduanya menyatu dan detak jantung Sana berhenti namun detik berikutnya ia langsung tersadar.
"Tidak!" Sana membuka matanya spontan dan langsung mendorong keras mahluk itu dari atasnya.
Mahluk itu berhasil terdorong namun mendarat dengan bokong yang terduduk tenang di atas rumput lalu tatapan apa itu?
Benar-benar manusia, Sana di cium oleh manusia dan itu orang yang tidak dia kenal.
"Heumph, manis." Astaga betapa brengseknya lelaki itu menatap Sana tanpa rasa bersalah sembari memegang bibirnya dengan penuh sensual.
"Argh! Kau, kau, kau mencuri first kiss ku keparat!" Bentak Sana dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah mahluk yang ada di depannya itu.
Lelaki itu terkekeh menyerigai, respon apa itu? Sana tidak terima.
"Kenapa kau masih bisa terkekeh gila seperti itu!" Bentak Sana lagi dan lelaki itu lantas berdiri dan kembali mendekat.
Oh tidak, jangan lagi! Jangan bilang kalau lelaki itu ingin menciumnya.
"Siapa nama mu gadis kecil?" Lelaki itu membungkukkan badannya 90° ke arah Sana.
Tampan. Ya, Sana melihat wajah itu yang sangat dekat dengannya, bahkan deru napas pun dapat terdengar olehnya.
"Hazel? Matamu indah sekali, boleh aku mencobanya?" Pisikopat gila! Sana tidak berani lagi dia ingin pergi menjauh tapi satu pergerakan saja lelaki itu dapat menyadarinya, matilah dia sekarang.
"Ampun..ampun..ampun, aku minta ampun. Maaf ya, tapi jangan ambil mataku, Kumohon." Aish, kenapa Sana jadi ciut seperti ini setelah dia sudah mendorong lelaki itu tadi.
"Aku tidak mau mengambil matamu apalagi itu mata manusia. Tapi jika kau berpikir seperti itu, bagaimana-__" Jedanya dan membuat Sana meringkuk ketakutan.
Tatapan keduanya bertemu untuk beberapa detik.
Lalu sekon kemudian.
"Bagaimana dengan melahirkan anak untukku?"
Jleb
Memang mahluk aneh. Sana pingsan di tempat.
Helaan napas terdengar.
"Heuh, manusia lemah sekali!" Lelaki itu mengumpat tidak percaya bahwa manusia yang ada di hadapannya itu tiba-tiba berhenti bergerak, bukan mati tapi tidak sadarkan diri saja.
"Gadis kecil, ingat ini namaku-__"
Tersenyum penuh nakal lelaki itu mengambil kesempatan, dengan gerakan cepat ia langsung mengecup bibir lembut Sana. Lalu beralih mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu.
"Vincent, dan panggil aku V."
* * * *
END