Bagaimana jika seseorang dihadapkan dengan kebencian dan cinta, apakah orang itu bisa memilih diantaranya atau tidak bisa memberi pilihan yang pasti?
Terkadang kita tidak tahu apa isi pikiran seseorang tapi kita dapat melihat perbuatannya.
Tidak bisa menghindar karena kesalahpahaman namun jika tetap ditempat maka hati akan semakin gelap, tak ada ruang maaf ataupun kepedulian lagi.
Sana memutuskan untuk membujuk pemuda bermarga Kim itu, ia rela mati-matian berdiri di bawah langit yang sedang menangis. Hujan sejak tadi sudah mengguyur permukaan bumi dan kota Seoul itu.
Flasback On
"Apa kau tidak ingat Tae, malam itu tepat hari kau dipukuli oleh paman dan aku membujuk paman untuk tidak memukulimu lagi." Ucap Sana diiringi isak tangis, Taehyung mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan. Sana mendatanginya tengah malam begini ke ruang kerja hanya untuk memohon agar ia bisa berjumpa dengan ibunya.
"Kenapa kau sangat suka mengingat masa lalu?" Balas Taehyung bertanya dengan tatapan tajam, Sana takut ia tak berani melihat gelagat Taehyung yang seperti ini. Dia tidak suka.
"Aku akan berdiri di bawah dan meminta pengampunanmu sama seperti paman yang dulu aku minta dan dia mengabulkannya, kau juga akan begitu bukan." Ucap Sana sambil tersenyum penuh arti, tapi butiran bening itu belum berhenti mengalir.
"Jangan gila, aku tidak seperti ayahku yang mau mengiyakan apapun juga." Sahut Taehyung dengan kesan yang tidak ada kepedulian sedikitpun.
"Tidak tidak, aku akan tetap berdiri sampai kau mau memaafkan ibuku." Ucap Sana lagi. Taehyung menghela nafasnya.
"Ibuku sedang sekarat dan kau masih belum puas untuk menyakitiku.." lirih Sana kemudian, ia sudah tidak sanggup menghadapi Taehyung dengan perbuatan-perbuatan kejinya itu, butiran bening itu masih mengalir membasahi kedua pipinya.
"Hah? Apa kau bilang? Kau tahu ibumu itu sangat penting bagiku, dia yang tau mengapa ayahku bisa meninggal." Bentak Taehyung sambil berjalan mendekat ke arah Sana, gadis itu mundur perlahan karena ketakutan.
"Dia orang yang terakhir bicara dengan ayahku. Minatozaki Reina, ck ibu sama anak sama-sama tidak tahu berterimakasih." Sana sangat membeci perubahan Taehyung, kenapa semakin hari Taehyung semakin membenci dirinya? Tidak adakah rasa cinta di dalam diri pria itu untuknya? Iba saja tidak usah cinta, apa tidak ada sedikitpun Taehyung iba pada ibunya dan dia? Sana tidak percaya bahwa Taehyung bisa menyimpulkan dirinya dan ibunya yang menjadi dalang kematian ayahnya, Kim Soenhoo.
"Terserah apa katamu, aku akan melakukan hal yang sama seperti di masa lalu." Sana mundur dan pergi beranjak keluar, Taehyung ingin menghentikan Sana tapi segera ia sadar dan kembali dingin.
Taehyung tidak bisa melihat Sana menderita tapi dia juga tidak bisa menghentikan penyelidikan atas kematian ayahnya yang sangat mendadak.
Dia dilema dan tidak yakin akan keputusan yang ia buat untuk Sana.
Flashback Off
"Aku akan berdiri di sini, kau pasti akan mengiyakanku. Seperti paman yang mau menuruti kemauanku, aku akan bertahan disini." Batin Sana berucap dengan tubuh yang mulai menggigil kedinginan. Sana menyilangkan kedua tangannya untuk memeluk tubuhnya yang mulai tidak tahan dengan hempasan hujan kencang.
Taehyung melihat dari jendela ruang kerjanya, ia bisa melihat Sana yang sangat bersikeras untuk berdiri di luar rumah dengan baju tidur berbahan tipis, gadis itu masih tidak mau mendengarkan dirinya.
Jika Sana tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya mungkin keadaan mereka tidak akan seperti ini, hubungan mereka juga tidak akan seburuk ini, tidak ada kebencian maupun ketidakpedulian. Tapi Taehyung tidak bisa mengungkapkan niat dibalik perbuatannya ini, dia masih belum yakin.
Hampir sejam Sana berdiri di luar dan hujan masih lebat belum ada tanda-tanda akan reda. Taehyung khawatir pada Sana, pikirannya selalu terusik oleh gadis itu, ia takut kalau nanti Sana akan demam setelah perbuatannya itu.
Dokumen yang ia kerjakan tadi ia tinggalkan begitu saja dan memilih untuk menghentikan Sana. Taehyung sampai di teras rumah dan langsung saja saat itu Sana tersenyum ke arahnya lalu tubuh gadis itu terjatuh ke atas tanah dengan mudahnya.
"Sana." Seru Taehyung tanpa berpikir lagi langsung menerobos hujan dan menghampiri Sana yang sudah menutup kedua matanya. Taehyung menangis dan langsung menggendong gadisnya itu masuk ke rumah.
Setelah sampai Taehyung langsung memanggil Bibi Hwang untuk mengganti pakaian Sana dan menghidupkan penghangat ruangan.
Taehyung melihat wajah pucat pasi gadis itu, dia sebenarnya tidak bisa mengakui bahwa dirinya masih mencintai Sana tapi untuk saat ini dia dibuat bingung semenjak kematian ayahnya yang sangat mendadak.
****
Keesokan harinya Sana terbangun dari tidurnya dan saat itulah Taehyung juga sudah membawa nampan yang sudah tersedia obat dan segelas air putih.
"Kau sudah bangun ternyata." Taehyung mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur, Sana ingin mengubah posisinya menjadi duduk dan Taehyung langsung membantunya.
"Minum ini." Taehyung mengeluarkan obat dari dalam botol lalu memberikannya pada Sana.
Sana memalingkan wajahnya ia tidak mau berbicara bahkan menuruti perintah Taehyung lagi.
"Jika kau tidak meminumnya kau akan terkena demam." Kata Taehyung menarik paksa wajah Sana menghadap ke arahnya.
Sana bersikeras untuk menolak obat tersebut tapi sebesar apapun tenaganya untuk mengelak obat itu tapi tetap saja Taehyung lebih kuat darinya, pria itu sangat memaksa.
"Kalau kau mau berjumpa dengan ibumu jangan biarkan kau mati duluan dari pada dia." Ucap Taehyung lantas beranjak pergi meninggalkan Sana yang tidak menelan obatnya sama sekali, ia pura-pura menelannya tadi agar Taehyung tidak memarahinya.
Tetesan air mata itu kembali turun dari pelupuk matanya. Sana memejamkan kedua matanya berusaha untuk melupakan masalah untuk saat ini.
Setelah itu Sana berencana untuk pergi ke pameran seni, mungkin dengan cara itu dia bisa menenangkan pikirannya.
Beberapa jam ia menyiapkan dirinya akhirnya Sana turun dari kamarnya ke lantai utama.
"Sana, kau sudah merasa baikan nak?" Bibi Hwang yang melihat Sana menuruni anak tangga langsung menghampirinya dan memegang jidat Sana.
"Eum.." Sana bergumam pelan dan mengangguk lemah.
"Sepertinya kau belum sehat." Bibi Hwang tahu bahwa Sana sedang membohonginya.
"Aku sudah sehat Bi.. Bibi tidak usah khawatir padaku, aku bisa menjaga diriku." Ucap Sana diiringi senyum manisnya.
"Kau akan kemana?" Tanya Bibi Hwang yang menyadari penampilan gadis Kim itu sangat rapi.
"Aku ingin pergi ke pameran seni Bi." Jawab Sana yang menunjukkan sebuah kamera ditangannya.
"Taehyung nanti akan mencarimu jika kau tidak ada dirumah." Sana menghela nafas panjang, dia tahu itu.
"Sebentar saja, aku tidak akan lama." Bibi Hwang tampak berpikir lalu detik kemudian ia mengiyakan permintaan Sana.
"Ya sudah pergilah jika itu membuatmu bahagia." Sana tersenyum lebar, setidaknya ada orang yang masih peduli dan mengerti dirinya.
"Terimakasih Bi, aku pergi dulu.." Sana memeluk tubuh wanita itu lalu berlari kecil keluar rumah. Hwang Hara tersenyum melihat tingkah Sana.
"Semoga mereka bisa kembali bersama lagi seperti dulu." Lirih Hwang Hara penuh harapan.
Sana memilih untuk berjalan kaki saja karena tempat yang ia tuju juga tidak terlalu jauh untuk dijangkau.
Seorang pria yang mengendarai mobil tampak memperhatikan sosok gadis yang sangat familiar baginya.
"Sana?" Jungkook, pria itu meminggirkan mobilnya ke tepi lalu berlari keluar mengejar gadis yang sangat ia kenal itu.
Sana berbalik untuk melihat siapa yang sudah memanggilnya.
"Jungkook?" Pria itu tersenyum manis lalu berlari kecil menghampiri Sana.
"Kau mau kemana?" Tanya Jungkook saat melihat Sana dengan pakaian yang sangat rapi dan juga memakai tas mini kecil dipunggungnya.
"Aku akan ke pameran." Jungkook hanya ber oh ria saja lalu kemudian ia tersenyum penuh harapan.
"Aku temani ya?" Sana berpikir sejenak.
"Memangnya kau tidak kerja?" Jungkook menggeleng cepat.
"Tapi kemarin kau bilang baru masuk ke perusahaan ayahmu?" Jungkook menghembuskan nafas jengahnya saat itu juga.
"Aku meminta cuti satu hari."
"Untuk?" Tanya Sana heran.
"Tadinya aku ingin datang ke rumahmu untuk pergi sarapan bersama." Sana tertawa terkejut.
"Kenapa kau malah tertawa?" Sana menggeleng cepat lalu kembali serius.
"Aku sudah sarapan, maaf." Ucap Sana setelahnya. Jungkook tidak menunjukkan raut kecewa tapi malah tersenyum lebar.
"Bagaimana kalau kita pergi ke pameran bersama, aku ingin menghabiskan seharian ini bersamamu."
"Yak kau!" Sana memukul lengan Jungkook, pria itu langsung meringis kesakitan.
"Kenapa kau memukulku?"
"Sudahlah sana pergi kembali bekerja, aku ingin sendiri." Jungkook cemberut saat itu juga, Sana tidak tega melihat kekecewaan pria itu.
"Baiklah baiklah kau boleh ikut bersamaku." Sana pasrah dan ia membolehkan Jungkook untuk menemaninya.
"Naik mobilku saja." Sana mengangguk dan tersenyum begitu juga dengan Jungkook.
Keduanya lalu pergi ke tempat pameran seni yang berada di tengah kota Seoul. Seharian penuh mereka habiskan waktu bersama dan Sana sangat senang karena Jungkook dapat menghibur dirinya dengan banyak candaan. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang dengan Sana yang tertidur pulas di kursi penumpang sebelah Jungkook.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Jungkook dan Sana sampai di rumah tapi Sana belum juga bangun.
"Sana-ya.." panggil Jungkook pelan, dengan ragu-ragu menepuk bahu Sana. Dia sebenarnya tidak tega membangunkan gadis itu tapi tidak baik untuk Sana tidur dengan keadaan duduk bisa-bisa besok hari badannya akan kesakitan.
"Jika aku menelepon Taehyung pasti dia akan memarahi Sana." Jungkook berpikir sejenak lalu kemudian dia memutuskan untuk menggendong Sana masuk ke rumahnya.
"Maafkan aku Sana." Jungkook membuka pintu mobil perlahan kemudian mengambil tas Sana dan menaruhnya di bahu setelah itu barulah dia menggendong Sana ala bridal style menuju ke rumah.
Saat itu juga mobil milik Taehyung baru saja tiba di rumah.
"Berikan dia padaku." Taehyung langsung berlari keluar dari mobil dan menghampiri Jungkook saat itu juga tanpa aba-aba pria Jeon itu menyerahkan Sana padanya.
"Apa yang terjadi dengan dia?" Jungkook langsung mengerti maksud Taehyung bersikap agresif meminta Sana darinya.
"Dia tidak apa-apa, hanya tertidur saja karena kelelahan." Ucap Jungkook sembari melihat wajah pucat gadis yang sedang digendong oleh pria di depannya itu.
"Kenapa kalian bisa bersama?" Tanya Taehyung yang sedikit kesal dan ada rasa khawatir sedangkan Jungkook hanya tersenyum masam karena merasa dicurigai seperti orang jahat.
"Tidak ada yang terjadi apa-apa di antara kami, kau tenang saja tadi kami hanya kebetulan jumpa di tengah jalan." Bohong Jungkook demi Sana agar tidak di marahi oleh Taehyung nantinya.
"Ya sudah kau bisa pergi." Taehyung masih menggendong Sana ala bridal style, Jungkook paham dan langsung kembali masuk ke mobilnya lantas pergi dari rumah Taehyung.
Helaan nafas tak normal lolos keluar, entah kenapa ada rasa cemas yang menghantui dan kekhawatiran yang sangat mendalam di diri Taehyung sekarang. Melihat wajah gadis yang ia rengkuh itu tampak pucat pasi dan sedikit berkeringat, ya keringat dingin.
Apa Sana terkena sakit setelah berhujanan sepanjang malam kemarin? Taehyung takut dan saat sampai di kamar Sana, dia langsung menaruh gadis itu ke atas tempat tidur dan menyelimuti setengah badannya serta mematikan ruangan pendingin dengan mengganti suhu ruangan menjadi normal.
"Sana? Kau dengar aku?" Taehyung duduk di sebelah gadis itu, sedikit tempat ia sisakan untuk tetap berada di samping si gadis.
"Ummhh, eomma..appa.." Sana menyerukan kedua orang tuanya dengan keadaan mata terpejam dan kening yang berkerut. Taehyung yang melihat hal itu lantas semakin mendekatkan dirinya dan langsung menggenggam kedua tangan Sana untuk memberikan ketenangan bagi perempuan itu.
"Kau bermimpi buruk? Sana apa kau baik-baik saja?" Bisik Taehyung dan tanpa ia sadari kedua matanya tampak berkaca-kaca sekarang. Ada rasa penyesalan dan bersalah yang menghampiri dirinya saat ini ketika melihat orang yang dia cintai merasa tertekan oleh beban yang sangat susah untuk diungkapkan pada siapapun.
Taehyung, pria itu sangat mengenal Sana. Baginya gadis itu sangat berbeda dengan gadis pada umumnya, jika ada masalah maka perempuan akan mencari teman bicara dan meminta pelindung sedangkan Sana, perempuan itu tidak dia justru lebih memilih untuk memendamnya sendiri dan berusaha memberikan senyuman seperti tidak terjadi apa-apa.
Sana mulai berkeringat dingin, seluruh wajahnya sekarang hampir tidak terlihat baik. Sekujur tubuhnya tiba-tiba bergetar bahkan berkeringat, tangannya juga dingin dan Taehyung bisa merasakan itu.
"Sana bangunlah, buka matamu aku di sini." Lirih Taehyung tidak tahan melihat penderitaan gadisnya itu secara langsung, tapi Taehyung tidak bisa lemah dan hatinya meleleh begitu saja hanya karena orang yang dia cintai sedang merasa kesakitan saat ini.
"Taehyung-ah maafkan aku..hiks..hiks.." Sana tiba-tiba menangis namun kedua matanya tak kunjung terbuka, sepertinya mimpi buruk menghampiri dirinya.
Taehyung semakin khawatir dan ia memegang badan Sana yang terasa panas lalu beralih ke atas keningnya, gadis itu demam.
"Aku akan panggilkan dokter. Kau tunggu di sini, bertahanlah." Taehyung panik seketika dan semakin dilanda kecemasan.
Namun saat akan berdiri untuk menyuruh pelayan rumah memanggil dokter, Taehyung terhentikan oleh pergerakan Sana yang tiba-tiba langsung memegang lengan kanannya.
"Kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku.." Sana semakin terisak dan Taehyung kembali duduk dan langsung memeluk tubuh Sana.
"Sudah jangan menangis, aku di sini. Sana kau jangan sampai sakit jika tidak aku tidak akan bisa memaafkan diriku. Maaf Sana, maafkan aku karena tidak bisa menjagamu." Sana tak kunjung membuka matanya dan mendadak diam tidak bersuara lagi. Taehyung langsung berteriak memanggil pelayan rumahnya.
"Bibi Shin! Bibi Shin! Bi!" Teriak Taehyung tapi pelukannya semakin ia eratkan.
"Ya Tuan Muda ada apa?" Bibi Shin langsung berlari ke atas dan menuju kamar Sana, wanita itu mendapati kedua majikannya itu sedang berpelukan namun dengan keadaan yang tidak dapat di mengerti.
"Bi cepat telepon dokter, Sana pingsan." Teriak Taehyung keras dengan suara yang bergetar sangking khawatirnya.
"Ba-baik Tuan Muda." Bibi Shin terkejut dan lantas berlari turun ke lantai bawah untuk menelepon seorang dokter yang sangat dekat dengan keluarga Kim. Wanita paruh bayah itu langsung mengambil telepon rumah dan menekan nomor yang tidak asing itu lagi.
Taehyung menunggu dan masih setia memeluk Sana, tubuh gadis itu semakin dingin. Deru nafasnya juga panas dan sesekali terhembus keluar.
"Sana kumohon jangan seperti ini..hikss..hikss..hikss." Baru kali ini Taehyung dibuat sangat khawatir dan ketakutan oleh seseorang terlebih lagi itu adalah orang yang sangat penting baginya.
Taehyung menangis tidak tahan lagi ingin langsung membawa Sana ke rumah sakit.
"Tae-taehyung.." Sana kembali sadar namun tak ada tenaga untuk membuka mata, bahkan bersuara pun hampir tidak terdengar jelas. Tubuhnya sekarang sangat lemah.
"Iya aku di sini Sana." Taehyung menangis sambil mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku, bisakah kita melupakan itu semua dan kembali bersama?" Dengan tenaga yang masih sedikit tersisa dan sangat lemah, Sana masih ingat untuk mengatakan hal itu di saat tubuhnya sendiri tidak dapat begerak lebih banyak lagi.
"Stsshh diam, jangan bicara lagi. Dokter sebentar lagi akan datang, jangan buang-buang tenangamu lagi." Taehyung tidak sanggup, dia sudah terkalahkan. Yang tadinya tidak ada cinta dan kepedulian lagi karena sudah terganti oleh rasa dendam justru kembali ke awal dan semakin mencintai gadis yang berada di dekapannya sekarang.
"Taehyung, aku mencintaimu.. Ayo kita berdamai, tersenyum dan saling menyanyangi.. Jangan saling membenci lagi.." Perkataan terakhir namun sangat dalam artinya dan penuh pengharapan, Sana kembali diam setelah mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan untuk keterakhir kalinya.
Taehyung mengeratkan pelukannya, semakin erat membuat kepala Sana tertanam di dalam dadanya.
"Sana, kumohon jangan tinggalkan aku." Taehyung merasakan tubuh yang sedang ia rengkuh itu mulai tak ada tanda kehidupan lagi, nafas gadis itu tidak terdengar lagi.
Dingin dan panas, Taehyung tidak tahu.
Kapan dokter sialan itu sampai? Kenapa lama sekali? Haruskah hari ini? Haruskah hari ini orang yang dia cintai pergi seperti ini? Apa dirinya tidak bisa bergerak cepat untuk menolong Sana?
"San? Sana? Kau mendengarku?" Taehyung membisik tepat di telinga Sana, tangannya mengusap rambut sang gadis, bening-bening kristal itu keluar dengan seenaknya, menangis dalam diam. Taehyung memejamkan matanya, dia tidak tahan lagi ingin sekali berteriak meminta penjelasan pada takdir yang suka sekali mempermainkan hidup seseorang.
Dalam sekejap Taehyung kehilangan Sana.
Taehyung tahu bahwa Sana akan tiada jika panas tinggi menyerang tubuhnya. Taehyung tahu riwayat penyakit Sana, gadis itu sudah banyak menyembunyikan rahasia darinya, Sana bukan hanya phobia terhadap hujan tapi trauma membuat gadis itu tidak bisa mengalami sakit sedikitpun.
Bisakah Sana kembali hidup? Seperti sepuluh tahun yang lalu? Saat seorang anak kecil hampir mati karena penyakit tidak jelas yang bertinggal dalam tubuhnya?
Kenapa harus Sana? Kenapa harus dia yang terluka dan menderita? Taehyung bertanya selalu bertanya tapi jawaban tidak kunjung ia dapatkan hingga sampai sekarang dokter yang ahli dalam bagian organ dalam tubuh tidak bisa memecahkan jawabannya. Dunia tidak kejam hanya saja takdir dan nasib yang sangat kejam.
Kenapa keduanya itu harus ada di dalam hidup manusia? Seperti roda berputar namun tidak bisa diperkirakan kapan suka dan duka akan datang.
Taehyung tidak ingin melepaskan Sana. Dia membuat gadis itu seolah-olah masih hidup dan bisa di selamatkan seperti sepuluh tahun yang lalu.
Mustahil atau sudah gila, Taehyung tidak peduli karena sekarang dia hanya menginginkan Sana ada untuknya, sampai maut yang sebenarnya memisahkan keduanya.
Ini belum berakhir bukan?
* * * *
END