Di sekolah SMP kelas 2 sahabat Evly bertanya kepadanya "apa kamu memiliki sebuah mimpi untuk masa depanmu?"
Evly bingung kenapa mendadak sahabatnya ini bertanya. Meski bingung dia tetap menjawab " mimpi ya. Entah lah aku tidak tau, mungkin aku ingin membahagiakan kedua orang tua ku" dengan ekspresi berfikir
Sahabatnya itu terdiam sesaat " kalau itu mah aku juga ingin. Yang lain gitu, apa kamu ngak punya? Kalau aku sih ingin berkeliling dunia" kata sahabatnya, sambil membayangkan dirinya mengelilingi dunia dengan wajah tersenyum.
Evly berfikir mimpi apa yang ingin dia wujudkan. Setelah berfikir cukup singkat dan menjawab pertanyaan sahabatnya "tidak" dengan santai. Meski didalam hati Evly masih berpikir. Dia tidak terlalu memikirkannya. Kemudian ia mengalihkan pembicaraannya pada hal yang lainnya.
Tak lama kemudian Mereka pun mengakhiri pembicaraan dan memulai pelajaran karena guru sudah datang. Setelah beberapa hari Evly pun melupakan pertanyaan sahabatnya itu
Waktu berlalu dengan sangat cepat, dan dirinya sudah lupa dengan pertanyaan yang di tanyakan temannya saat masih di kelas 8
Evly kembali teringat akan pertanyaan itu saat ia kelas 12. Dia ingat karena wali kelas nya juga menanyakan hal yang sama . Guru itu bertanya kepada setiap murid yang ada di kelasnya sesuai urutan bangku, dan setiap murid akan menjawab pertanyaan guru tersebut dengan percaya diri. Jawaban dari teman teman sekelasnya sangat beragam saat di tanya pertanyaan itu, ada yang bercanda dan ada yang serius, namun kebanyakan mereka serius menjawabnya.
Karena bangku Evly ada di bagian belakang sendiri jadi gilirannya lama. Sambil menunggu gilirannya, Evly dengan serius berfikir apa yang menjadi mimpinya untuk masa depan. Dia berfikir sangat lama namun dirinya tidak menemukanya. Akhirnya giliran Evly menjawab pertanyaan yang diajukan oleh wali kelas. Wali kelas menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya
"Apa impianmu untuk kedepannya"
"A aku tidak tau" kata Evly dengan suara kecil. Dia masih bingung dengan impiannya.
"Mmnmm apa? Ucapkanlah dengan suara yang keras. Ibu tidak bisa mendengar perkataanmu" wali kelas tidak mendengar ucapan Evly yang kecil. Dirinya menyuruh Evly mengulangi perkataannya dengan keras.
"Jadi apa impianmu Evly" ucapnya kembali
Seluruh murid menoleh kearahnya, mereka penasaran dengan apa yang menjadi impian Evly.
Dibawah tatapan guru dan teman temannya Evly semakin bingung. Dia secara tidak sadar mengucapkan kata kata yang membuat kelas menjadi hening.
"Aku ingin membangun sebuah sekolah untuk mereka yang tidak mampu pergi ke sekolah." ucapnya lantang. Evly berdiri sambil menutup matanya saat dia mengatakan itu.
Suasana kelas yang hening membuat Evly gugup. Dia secara perlahan membuka matanya. Setelah matanya terbuka dia melihat satu kelas dan gurunya menatapnya dengan tatapan terkejut.
A apa yang terjadi, kenapa mereka menatapku begitu? Apakah ucapanku salah?
Suasana hening pecah saat ada seorang siswa laki laki yang tertawa dengan keras.
Siswa tersebut berkata" hahaha kamu ingin membangun sekolah. Itu impian yang konyol"
" Untuk mereka yang tidak mampu lagi, memangnya kamu punya uang?" Siswa laki laki yang lain mengejek Evly dengan suara yang keras dan seluruh kelas itu mendengarnya
Setelah itu ada beberapa siswa yang tertawa mengejek, tersenyum dan juga ada yang Diam seolah tidak peduli.
Evly pun menundukkan kepalanya karena malu. dirinya berfikir kenapa aku mengucapkannya secara lantang, kenapa juga itu yang aku katakan. Aku mengucapkannya secara tidak sadar. Aku jadi malu namun kenapa aku mengucapkannya ya? Apakah ini impianku? Entah mengapa setelah mengucapkannya, aku mempunyai keinginan yang kuat untuk mewujudkan impian ini.
Karena kelas mulai berisik ibu wali kelas pun memerintahkan mereka untuk diam. Kemudian ia menatap Evly.
Dia berkata" itu impian yang bagus, semoga kamu dapat mewujudkannya" dengan senyum diwajahnya.
Setelah itu ibu wali kelas berbalik dan kembali ke meja guru. Evly juga kembali duduk di tempatnya. Kelas menjadi sunyi hanya terdengar suara guru yang sedang berbicara.
Setelah itu beberapa bulan kemudian Evly lulur sekolah. Dia mulai mencari pekerjaan, awal mula ia bekerja di sebuah pabrik. Pada saat saat itu dirinya rajin menabung untuk membuka usahanya sendiri. 2 tahun setelahnya dia merasa tabungannya sudah cukup jadi dia memutuskan untuk keluar dari pabrik dan memulai usaha kecil kecilan.
Karena Evly suka memasak ia mulai berjualan nasi goreng dan makanan ringan buatan sendiri. Dia menjualnya dengan cara berkeliling dan secara online . Awal mula tidak banyak orang yang mau beli karena Evly adalah pedagang baru, namun lama kelamaan dagangan Evly mulai dibeli banyak orang itu semua karena masakan Evly yang enak dan juga karena sikapnya yang ramah terhadap pelanggan yang membuat mereka nyaman.
Meski dagangan Evly tidak benar benar habis setiap harinya, dia tetap merasa sangat senang. Dirinya berharap agar dirinya sukses dan dapat mewujudkan impiannya. Itu benar, impian Evly saat masih sekolah masih melekat dengan kuat di dalam hatinya, dia berharap dapat mencapainya dan untuk mencapainya, Evly akan bekerja keras.
Evly akan berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 3 sore untuk memperdagangkan dagangannya. Saat dagangan Evly masih tersisa, dia akan membagikannya kepada orang yang membutuhkan. Dirinya juga mengunjungi tempat dimana ada anak anak yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak, ia terkadang akan mengajar mereka pelajaran dasar kepada anak yang berminat. Itulah hari hari yang dijalani Evly.
Hingga suatu hari saat dirinya ingin pulang Evly melihat seorang kakek tua yang keadaannya memprihatinnya. Dari yang ia lihat kakek itu sepertinya kelaparan. Karena dagangannya masih ada jadi Evly menghampiri kakek tersebut sambil membawa sebungkus nasi goreng, beberapa makanan ringan dan minuman di tangannya. Kemudia memberikannya kepada kakek itu.
Kakek tersebut menerimanya dan segera memakan. Kakek tersebut mengatakan dengan mulut yang masih makan bahwa nasi goreng ini sangat enak, itu adalah nasi goreng terenak yang pernah ia makan.
Mendengar komentar kakek tersebut Evly hanya tersenyum dan kemudian pergi setelah berpamitan dengan kakek tersebut
Evly hanya berfikir bahwa kakek itu mengatakannya karena dia sudah lama tidak makan atau karena dia benar benar kelaparan.
pada malam hari di hari itu ada sebuah mobil hitam berhenti di depan kakek tua itu. Pintu mobil terbuka dan memperlihatkan pria paruh baya turun dari mobil. Pria itu dengan cepat berlari ke arah kakek tua itu, ia dengan ekspresi penyesalan meminta maaf kepada kakek tua itu. Kakek tua itu hanya melambaikan tangannya dan kemudian memasuki mobil dengan tangan yang membawa makanan ringan yang di berikan Evly tadi sore. Pria itu mengikuti kakek tersebut masuk kedalam mobil, dirinya memperhatikan makanan ringan yang dibawa kakek tersebut, dia merasa heran namun tidak berniat untuk bertanya. Setelah mobil pun pergi
Beberapa hari kemudian saat Evly mau berangkat kerja, ia menerima telepon. Nomer yang ditelepon adalah nomer yang ia gunakan khusus untuk menerima pesanan online. Jadi Evly dengan cepat menerimanya panggilan itu. Ia berbicara dengan pelangan tersebut selama 30 menit
Evly menerima pesanan 1500 makanan ringan dengan berbagai rasa, dan pengiriman akan dilakukan 2 Minggu lagi mulai hari ini
Evly sangat senang saat menerima kabar tersebut. Dirinya tidak takut ditipu karena pelanggan tadi memberikan detail tentang pesanannya.
Kemudian Evly berangkat memperdagangkan dagangannya dan saat pulang, dia akan belanja kebutuhan untuk pembuatan makanan ringannya.
Evly mengajak keluarga dan ke 2 temannya untuk membantu membuat makanan ringan. Tidak mungkin membuat makanan ringan sebegitu banyaknya hanya dengan 1 orang saja.
2 Minggu setelahnya Evly mengirim makanan ketempat pesanan, dia meminjam mobil milik salah satu temannya untuk pengiriman.
Setelah menyelesaikan pesanan tersebut Evly membagi keuntungannya kepada teman temannya secara adil. Keuntungan kali ini lumayan banyak jika ditambah tabungan Evly selama ini, dia sudah bisa membuka toko sendiri.
Evly membuka sebuah toko dengan ukuran sedang, Temannya membantu dalam pembangunan dan juga berinvestasi terhadap usahanya.
Usaha Evly menjadi sangat sukses hanya dalam 5 tahun setelah pembukaan. Ia sudah memiliki cabang yang berada di berbagai tempat.
Karena usahanya sudah maju dan uang yang ia kumpulkan sudah cukup, Evly mulai membangun sekolah impiannya.
Selama pembangunan Evly lebih sering mengunjungi tempat yang biasa ia bertemu dengan anak anak itu. Mereka adalah anak anak yang selama ini diajari olehnya dengan maksud ingin menjadikan mereka murid pertama yang bersekolah di sekolah Evly
Ada anak yang merasa senang dan ada yang merasa senang namun ragu ragu. Melihat anak yang ragu ragu Evly memahaminya, kemungkinan orang tua mereka tidak setuju kalau anak mereka sekolah karena kalau mereka sekolah uang pemasukan mereka akan berkurang dan uang pengeluaran mereka akan bertambah.
Oleh karena itu, Evly memberitahu mereka jika mereka ingin bersekolah dan belajar dengan giat semua kebutuhan sekolah seperti buku tas dan alat tulis akan disediakan oleh sekolah. Seragam juga disediakan sekolah. Dirinya juga mengatakan kalau mereka akan mendapat sebungkus makanan ringan dari toko Evly setiap kali mereka pulang sekolah dan akan mendapat hadiah tambahan jika kemajuan belajar mereka sangat terlihat. Awal pendaftaran, hanya ada 7 murid laki laki dan 4 murid perempuan yang mau mendaftar.
Evly memberi nama sekolah itu dengan nama "Sekolah Impian"
Mereka sekolah pada hari Senin sampai hari Jum'at. Hari Sabtu dan Minggu libur. Berangkat jam 7 dan pulang jam 2 siang.
Semua itu Evly lakukan untuk membantu anak anak yang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan untuk membuat hidup mereka lebih baik untuk masa depan mereka.
Bertahun tahun pun berlalu, sekolah yang tadinya kecil sekarang sudah besar, banyak sekali fasilitas yang ditambah dan di ganti. Membuat sekolahnya menjadi tambah indah dan lengkap. Murid yang awalnya hanya 11 sekarang sudah sangat banyak. 11 murid awal yang bersekolah sudah tumbuh dewasa, dan 7 diantara mereka menjadi orang orang yang terkenal dengan keahlian mereka. dan kehidupan ke4 lainnya menjadi lebih baik.
Hari ini hari ulang tahun Evly. Evly merayakannya di rumahnya sendiri, sebuah rumah sederhana namun membuat suasana hati menjadi nyaman. Di hari ulang tahunnya ini banyak orang yang datang untuk merayakannya. Dari keluarga, kerabat, sahabat,kenalan, dll. 11 muridnya juga datang merayakan ulang tahunnya. Suasana rumah sangat ramai, banyak terdengar suara canda tawa. Evly memandang semua keramaian itu, hatinya bahagia dan dirinya tersenyum lembut.
Hingga tiba tiba terdengar suara yang keras
Di benak Evly.
"Evly bangun, kamu sekolah tidak. Ini sudah pukul 6.15."
Evly terbangun dari tidurnya, menyadarkan diri. Berjalan kearah jendela melihat pemandangan yang ada di luar. Evly tersenyum " Sungguh mimpi yang indah"
Evly segera bersiap siap untuk pergi sekolah dengan semangat. Hari ini Evly menjadi pribadi yang berbeda dari yang dulu. Dan perubahan itu tidak di dirasakan oleh Evly
Tamat.