Hai guys, uhm.. Kenalin nama aku Putri Ariswari bisa kalian panggil uti. Ini baru pertama kali nya aku buat cerpen disini, semoga kalian suka sama cerpenku tapi kalau cerpenku kurang menarik bagi kalian tidak apa-apa. oke, aku akan menceritakan tentang kisah ku. Selamat membaca!!
Aku lahir pada tahun 2010, aku tinggal di kota Denpasar dan aku memiliki 4 keluarga besar 3 keluarga besar dari ayah dan 1 keluarga besar dari ibu. Sejak aku kecil aku memiliki banyak teman, tetapi aku terkadang bosan dengan mereka. Pada suatu hari teman ayahku datang ke rumah ku untuk menemui ayahku, di sela-sela perbincangan ayahku mengatakan bahwa bulan maret tanggal 26 aku akan berulang tahun yang ke 6 tahun nya. Ayahku mengundang anak dari teman ayahku untuk datang ke acara ulang tahunku yang ke 6 tahun. Temanku sangat senang mendengar berita tersebut dan mereka pun melanjutkan berbincang.
Pada saat hari dimana aku berulang tahun, bibi dari keluarga besar ibuku sedang mengenakan sedikit make up di wajahku. Pada pukul 18:00 WITA, semua teman-temanku datang dan berkumpul termasuk anak dari teman ayahku. Pada saat jam menunjukkan 19:00 WITA, acara pun di muali dengan meriah. Setelah membagikan kue ulang tahun, aku melihat anak dari teman ayahku sedang duduk sendiri di tangga rumahku. Aku pun berinisiatif untuk mengajak nya berkenalan dan mengobrol. Aku menjabat tangannya dan dia membalas jabatan tanganku, dia bernama Tisa. Pada saat itu lah kami sering bermain bersama.
Di saat aku berumur 7 tahun, aku sudah duduk di kelas 1 SD. Banyak teman-teman yang aku kenal, termasuk Tisa. Aku tidak percaya jika dia akan bersekolah di Sekolah Dasar yang sama denganku. Aku dan Tisa selalu bermain, tertawa, mengobrol, sembahyang, kadang juga berdebat hanya karena hal sepele. Tapi, karena ajaran orang tua kita pun saling bermaaf-maafan. Dia sangat pintar menari, sedangkan aku pintar dalam olahraga basket. Kami saling berbagi ilmu saat itu. Kami selalu bersama dimanapun kami berada, maupun di rumah, di sekolah, ataupun di tempat suci. Semua orang memberikan kami sebutan "prangko dan lem" Aku adalah prangko dan Tisa adalah lemnya. Tisa sudah kuanggap sebagai saudara ku sendiri.
Di kenaikan kelas 4 SD, aku, Tida, dan teman-teman yang lain saling berbincang satu sama lain. Aku bertanya " Uee, kalian mau dimana nanti SMP nya? Kalau aku mau di SMPN 12 DENPASAR, kalau kalian? Tisa menjawab " Wahh uti! Aku juga bakla di sana!! Kita bareng ya! Semoga kita satu kelas dan kita duduk bareng lagi!" Aku menjawab " Benaran Tisa mau disana sama Uti? Yeayy Uti ada Tisa!! Jangan bohong ya, Tisa. Janji ga milih SMP lain, kita harus bersama!" Tisa menjawab " Iya, Tisa janji! Kita itu satu desa dan kota!". Kami tertawa, bermain dan berbincang bersama yang lain.
Pada tahun 2020 bumi sedang terancam adanya virus yang bernamanya virus Corona. Gara-gara virus ini, seluruh sekolah harus di tutup dan semua murid belajar daring. Aku sangat kesal dan sedih dengan virus Corona ini, sebab virus ini membuat diriku dan Tisa tidak bisa bermain dan bertemu lagi. Kami hanya berbincang di Chat, itu pun di saat kami menggunakan nomor ibu kami untuk berbincang di Chat. Tahun demi tahu berlalu, pada tahun 2021 Corona sudah mulai menurun. Semua sekolah sudah mengumumkan bahwa para murid-murid sudah bisa sekolah kembali, tetapi menggunakan sesi dan tidak saling bersentuhan, berdekatan, berpegangan dengan siswa-siswi lain. Karena oeraturan itu membuatku senang dan sedih. Yang membuatku senang yaitu aku bisa bertemu dengan Tisa dan teman-teman yang lain, untuk rasa sedih aku sedih sebab peraturan sosial distancing.
Pada tahun 2022 corona sudah semakin menurun semua murid-murid di persilahkan sekolah seperti biasa tanpa adanya sesi. Aku dan Tisa sangat senang dan bermain, berbincang, tertawa bersama lagi walaupun harus mengenakan masker. Di saat hari akan ulangan akhir semester 2, Tisa datang menghampiriku yang sedang duduk di depan kolam ikan. Tisa berkata "Uti, aku mau ngomong kalau kita bakal ga bisa bareng lagi" Ucap Tisa dengan sedih. Uti menjawab "Lho!? Kok gitu!? Kita bukannya bakal sekoakh di SMP yang sama?" Tisa menjawab "maaf... Aku ga bakal sekolah di SMPN 12 DENPASAR, aku bakal sekolah du SMPN 3 DENPASAR. Kamu tahu kan kalau kita itu satu desa, satu jalur pulang rumah, apalagi kakek kita bersahabat. Tolong maafin aku, aku bakal main sama kamu lagi kok. Janji" Uti hampir menangis dan menjawab "uhm, tidak apa-apa aku pasti senang jika kamu mendapatkan teman baru juga. Kenalkan teman barumu saat nanti kepada ya! Kita akan bertemu kembali!" Untuk menghilangkan rasa sedih itu, Tisa dan Aku memilih untuk mendengarkan gosip dari guru kita.
Pada saat angkatan ku sudah lulus dan sekarang mencari SMP masing-masing, dan itu benar-benar terjadi... Tisa dan Aku beda sekolah. Di hari pertama sekilah di SMP aku mendapatkan teman baru, tetapi tidak semenyenangkan itu. Setiap malam aku memikirkan Tisa, bagaimana kondisinya saat ini, bagaimana kabarnya saat ini, apakah dia sudah bertemu teman barunya atau tidak, apakah dia merindukanku.
Berbulan-bulan kemudian, aku melihat sroty ig Tisa. Aku sangat senang akhirnya dia membuat story ig, tetapi story itu sedikit menyakiti hatiku. Dia membuat gelang couple untuk teman barunya dan case hp couple. Di posisi itu lah aku langsung merasa down dan murung, aku selalu memikirkan nya, merindukannya, dan mengkhawatirkan kondisinya. Aku takut dia terluka, tetapi aku terlanuur sakit hati.
Setelah beberapa minggu, aku menceritakan hal tersebut kepada oamaku dan pamanku bertakata " Sudah tidak apa-apa, yang penting di jalan, di pura, di tempat les selalu bertemu. Jangan seperti itu, maafkanlah dia walaupun dia bersalah maafkan saja dia. Jangan oernah membenci seseorang, jika kamu benci maka hidupmu akan di penuhi kebencian, kesengsaraan, nafsu, dan egois. Bersahabat lah yang benar, berdebat boleh itu wajar tetapi jangan sampai membenci. Itu sudah terlewwt batas" Pamanku tersenyum dan aku menjawab " Iya, kalau begitu Uti sudah naafin Tisa. Memang benar kata paman, walaupun dia akrab dengan teman barunya dia pasti akan merindukanku dan akan mencariku"
Setiap tahun adanya upacara adat, Tisa selalu berlari dan memlukku dengan erat. Dia sangat senang, tetapi dia selalu menyngkal bahwa dia tidak merindukanku. Pada saat itu lah kita tetap menjadi sahabat walaupun berbeda sekolah. Kita harus saling mengikhlaskan apa yang kita relakan harus pergi.