Suatu sekolah dengan nuansa elite yang segala propertinya berkelas membuat sekolah ini menjadi sekolah nomor satu di negeri Indonesia. Benar ini adalah sekolah elite yang hanya bisa disinggahi oleh siswa pilihan
Dimana sekolah yang hanya bisa menerima murid-murid bertalenta, sehingga untuk bisa masuk ke sini begitu sulit dan harus melalui banyak rintangan, kecuali jika orang tua murid adalah seorang bangsawan maupun sosok penting negeri
Maka untuk masuk sekolah elite ini bukanlah perkara mudah untuk mereka yang tidak memiliki banyak uang.
Namun sekolah elite bukan berarti muridnya pun turut ber attitude, karena banyak murid yang membully ke murid yang mendapatkan jalur beasiswa dari talenta
Dan itu kerap terjadi di sekolah elite ini, walaupun sudah banyak pergerakan dilakukan tetapi susah untuk mencari pelaku dari dalang pembullyan
Karena oknum tersebut begitu lincah dalam bersembunyi, susah untuk mengendus keberadaan mereka karena sang korban pun tidak berani untuk membuka mulut karena takut dari tekanan sang pelaku
Akan tetapi cerita tertuju pada ketua dan wakil ketua OSIS dari sekolah elite untuk mencari pelaku agar masalah internal sekolah dapat terselesaikan
Karena kewajiban ini harus diselesaikan oleh OSIS itu sendiri yang secara langsung berinteraksi dengan sesama siswa
Sulit untuk para guru bisa mencari pelaku yang bersembunyi di balik ribuan murid lainnya, jadi tugas ini harus diemban oleh sang ketua OSIS
Mari perkenalkan ketua dan wakil ketua OSIS, mereka adalah sepasang remaja, sebut saja ketua OSIS bernama David sementara wakil OSIS bernama Tasya
Mereka berdua adalah sosok yang memenangkan pemilihan demokrasi sekolah untuk tahun ini dan tahun kedepannya
Mereka memiliki latar belakang berbeda, David seorang murid dari keluarga sederhana sementara Tasya sebaliknya, dia berasal dari keluarga bangsawan dan dia adalah sosok yang begitu bertalenta
Dia pandai di segala aspek dan pandai dalam segala bidang akademik maupun non-akademik, bahkan dia menjadi primadona sekolah karena bakat dan kecantikannya yang tiada tara
Sementara David. Dia adalah seorang pria yang tidak memiliki bakat yang begitu menonjol tetapi ia memiliki talenta yang begitu besar
Antara lain sebagai seorang leadership, dia adalah seorang pria yang memiliki jiwa kepemimpinan dan sifat pantang menyerah
Dan dirinya memiliki talenta di akademik yang begitu menonjol. Karena selama dua tahun dirinya menjadi seorang pria yang mendapatkan peringkat umum satu sekolah hingga dirinya satu tingkat di atas Tasya
Walaupun mereka bersaing satu sama lain untuk menjadi yang lebih unggul, nyatanya mereka juga bisa menjadi partner yang begitu solid
Jadi untuk menjadikan mereka sebagai seorang ketua dan wakil ketua adalah pilihan yang tepat, dengan Tasya yang memiliki skill diatas rata-rata dan kharisma bangsawan, sementara David memiliki jiwa yang begitu luas layaknya samudra dengan menjadi seorang pemimpin bijaksana untuk memajukan sekolah
Dan salah satu tugas mereka adalah mencari pelaku dari dalang pembullyan sekolah.
Ruang OSIS yang disana terlihat David duduk di kursi kebanggaannya sementara Tasya duduk di sofa dengan menyeruput secangkir teh hangat terlihat memasang wajah tenang
Sehingga wajah tenang itu membuatnya menjadi terlihat begitu anggun dan cantik.
"Huh.. ternyata memang harus kita sendiri yang turun tangan untuk mencari pelakunya" ujar David menghela nafas sadari memperhatikan secarik kertas putih ditangan
"Mau bagaimana lagi, sebenarnya kasus ini sudah lama dan karena OSIS terdahulu tidak membuahkan hasil akhir tugasnya turun pada kita"
"Kamu benar, memang kasus ini sudah lama, tetapi apa yang membuatnya menjadi perkara yang sulit untuk diungkap"
"Aku memiliki dua opsi"
"Apa itu!?" Lanjut david bertanya. Kembali Tasya membalas. "Pertama pelaku dan korban memiliki mitra hubungan yang dekat sehingga sang pelaku memiliki kelemahan dari sang korban, lalu yang kedua sang pelaku tidak bergerak sendiri melainkan ada kelompok yang berada di balik bayangan"
Saat itu David langsung mengernyitkan alis seraya memikirkan ucapan dari Tasya yang terdengar memang masuk akal
"Aku merasa opsi kedua jauh lebih masuk akal, karena korbannya tidak hanya satu dan logikanya jika sang pelaku bergerak sendiri, bukankah itu memudahkan untuk pelaku terdeteksi"
"Aku rasa begitu" ucap Tasya masih menyeruput teh hangatnya. David yang melihat itu segera bertanya kepada Tasya. "Tasya, bukankah aneh jika di cuaca yang terik ini kamu minum minuman hangat?"
"Haha.. kenapa aneh?, lagian memang aku sudah biasa minum teh hangat di waktu apapun"
"Begitu yah" David hanya tersenyum, sebelum ada suara pintu yang digedor dari luar
Karena suara pintu tersebut langsung terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dan satu pria berbeda tegap dan berpostur tubuh tinggi dan kekar
Pria itu bernama Roland sementara wanita yang ada di sampingnya Layla. Mereka adalah anggota inti OSIS yang menjabat dan kerjasama dibawah naungan ketua dan wakil ketua OSIS periode tahun ini
"Senior David, selamat pagi" ucap Layla dengan penuh sinergi
Sementara Roland yang ada di balik punggung Layla hanya terus membungkukkan tubuh berulang kali sebagai isyarat meminta maaf
Tentu David tahu apa maksud dari Roland, karena mau bagaimana pun Roland adalah kakak dari wanita yang antusias itu
"Layla?" Ucap Tasya menatap kedatangan Layla
"Selamat pagi, kak Tasya" seru layla antusias. Layla adalah wanita tipikal ceria dan penuh rasa optimis sehingga hari-hari yang dilalui olehnya terasa begitu berwarna bagi dirinya dan orang disekitarnya
"Bagi Layla" balas Tasya dengan senyuman manisnya
"Roland ada apa?" Kembali David bertanya sedari memperhatikan Roland.
"Tidak ada kok, aku hanya menemani adikku" balas Roland. Berbeda dengan sang adik, Roland memiliki kepribadian yang sedikit pemalu tetapi itu hanya kepada David, jika untuk orang lain David akan menjadi siswa yang superior di kalangannya
Mendengar ucapan Roland, David segera berkata dengan kalimat antusias.
"Baguslah kalau kalian sudah berkumpul" segera ia menyerukannya untuk membuat seluruh siswa yang ada di ruang OSIS memperhatikan ke arah David
"Maksudnya!?" Tentu itulah yang mereka ucapkan melihat ke arah David dengan raut wajah penuh tanda tanya
"Tentu saja memulai menyelidiki kasus yang baru saja diserahkan oleh guru kepada kita"
David memasang tatapan serius dan mulai aksinya bersama dengan ketiga anggota inti OSIS lainnya, dimana Tasya dan Layla akan bertugas untuk blacklist nama-nama dari korban pembullyan sementara David dan Roland akan mencari lewat mulut ke mulut maksudnya mencari tahu langsung ke siswa yang ada di sekolah.
Sehingga pagi itu mereka mulai bergerak ke penjuru sekolah tetapi sebelum itu Tasya mengucapkan kalimat seperti ini kepada David
"Semoga berhasil yah" ucap Tasya di ambang pintu ruang OSIS. David yang mendengar itu seketika bibinya langsung tersenyum dan membalasnya dengan satu kata. "Tentu" balasnya. mereka pun mulai bergerak secara serentak.
Pencarian pertama untuk pihak David tidak membuahkan hasil sementara Tasya kini sudah mengantongi beberapa nama di note terkait nama-nama korban bully
Waktu bergulir cepat, mereka pun kembali ke ruang OSIS.
"Bagaimana?" Tanya Tasya kepada David.
Sementara David hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Tasya.
"Lalu gimana, apa kamu sudah mencari tahu apa yang aku inginkan?"
"Sudah" jawab Tasya kemudian memberikan secarik kertas kepada David. Dan saat itu David mulai membacanya satu persatu nama yang sudah di catat
"Apa kamu sudah sempat menanyakan sesuatu pada korban?" Tanya David
"Sudah"
"Lalu apa tanggapan mereka?"
"Mereka hanya terus diam menutup mulut, semakin aku meyakinkan justru mereka malah tremor"
"Ini sungguh kendala yang membingungkan" gumam David memegang dagunya
"Lalu bagaimana sekarang?" Semakin Tasya bertanya-tanya kepada David mengenai rencana selanjutnya
"Ini aneh, kenapa dari 15 siswa yang di bully tidak ada satupun yang berani buka mulut, logikanya jika mereka di bully oleh orang yang sama seharusnya ada perlawanan dari mereka, kalau begitu clue pertama adalah orang itu adalah orang yang berpengaruh kuat di sekolah ini" batin David menerka semua yang dia lihat dan rasakan
"Tasya, bisakah kamu panggilkan satu siswa dari list ini?" Tanya David
"Baiklah" jawab Tasya kemudian dirinya pergi meninggalkan ruangan dengan diikuti oleh Layla dari belakang.
"Apa kamu memikirkan sesuatu, vid?" Tanya Roland setelah Tasya dan Layla tidak terlihat. "Sepertinya begitu"
Waktu berlalu matahari sudah berada di atas kepala, teriknya matahari pun membuat seisi ruangan OSIS mulai terasa panas.
David tengah menatap seorang wanita yang duduk di sofa, tepat di hadapannya. Wanita itu terlihat sangat kusut, tatapannya datar dan terlihat begitu sayu, David sendiri merasa iba melihatnya
David memandangi wanita itu dengan disisinya sudah ada Layla dan Roland yang berdiri di sisi kanan dan kiri dengan posisi tegak berdiri, sementara Tasya duduk di kursi kerja David
"Bisa kamu beri tahu aku siapa yang mem-bully mu?" David ingin mencairkan suasana tetapi ucapannya justru malah membuatnya bersedih
"Ceritakan saja, kami pihak OSIS akan menjaga dan melindungimu, selama selama kamu berada di sekolah"
Bukannya dia tenang justru malah semakin bersedih dan terlihat begitu terpukul.
"Kalau kamu tidak bisa membicarakannya secara langsung setidaknya beri kami petunjuk agar aku bisa mengusut tuntas kasus ini, aku mohon agar kejadian ini tidak terulang kembali ke orang lain"
David mengatakan hal tersebut sembari membungkukkan tubuhnya, saat itu Layla, Roland dan Tasya sampai terkejut melihat sikap David yang begitu lapang
"Nggak akan terulang lagi" itulah jawabannya. David segera kembali mengangkat pandangannya dan terlihat bingung hingga dia bertanya kepada wanita itu
"Kenapa?"
"Dia sudah pergi" lanjutnya. "Lalu mengapa kamu takut?" David bertanya dengan menaikkan kedua alis
"Trauma" ujarnya
Saat itu David langsung terbelalak kaget ketika mendengar kata tersebut keluar dari mulut wanita karena dia tidak menyangka jika pembullyan ini sampai membuatnya trauma
"Tasya!!" David berpaling bertanya kepada Tasya yang saat itu masih fokus mendengar percakapan dari David dan wanita korban bully
"Apa?"
"Apakah dari list korban itu, ada yang sampai bunuh diri?"
Sesaat Tasya ragu tetapi setelah melihat mimik wajah serius David akhirnya dia menjawabnya dengan mengangguk.
***
Waktu berlalu, kini David beserta teman-teman OSIS nya berada di rumah masing-masing. Tetapi cerita tertuju pada David yang terbaring di ranjang menatap langit-langit plafon
"Sial.. ini ternyata jauh lebih sulit, bagaimana bisa aku memecahkan kasus ini jelas-jelas korbannya sendiri tidak mau buka mulut" gumam David
David meratap dan berusaha untuk berpikir keras untuk bisa memecahkan teka-teki yang ada, tetapi yang jelas dia sudah punya kepingan puzzle yaitu
Clue pertama, sosok yang menjadi pelaku bullying adalah sosok yang memiliki kelompok dan power, sehingga dia bisa menekan korbannya secara psikologis
Clue kedua, pelaku memiliki posisi yang kuat di sekolah, sehingga keberadaannya sulit untuk diungkap karena ketua OSIS terdahulu sendiri pun sampai kesulitan untuk mengungkapnya
Dan clue ketiga, pelaku tidak bisa mengulangi aksinya yang sama untuk kesekian kali, dengan alasan tidak diketahui
Dengan keadaan pikiran yang berada di awang-awang David mulai memikirkan sesuatu yang mungkin bisa menjadi clue keempat
Yaitu menyelidiki OSIS bagian ketua seksi bidang keamanan sekolah, karena kasus ini pernah diusut olehnya
Karena untuk sekarang pun, ketua OSIS terdahulu sudah lulus sekolah.
Keesokan harinya
Di ruang OSIS saat itu aku bersama Tasya duduk di sofa bersebelahan sementara di hadapan kami ada pria berbadan tegap tetapi tidak segagah Roland, benar dia adalah pria yang dulu pernah menjadi OSIS bidang keamanan sekolah
"Ada apa kalian memanggil ku?" Tanya pria itu
"Baiklah aku juga tidak ingin basa-basi, aku akan bertanya kepada mu, mengenai penyelidikan dari kasus bullying yang tidak terpecahkan ini, karena setahu kami kasus ini sudah ditangani oleh generasi OSIS sebelumnya, yaitu masa kalian masih menjadi aset dari organisasi"
"Kalian kan sudah tahu kalau kasus ini tidak berhasil kami pecahkan, lalu mengapa kalian bertanya kepada kami?"
"Tapi kalian adalah orang pertama yang pastinya pernah bertemu dengan bukti itu!" Ujar David kepada pria itu. "Maaf aku tidak tahu apapun" balasnya dengan enteng
"Kami mohon agar kamu mau bersifat kooperatif dengan kami, karena kunci jawaban dari kasus ini ada di tangan kalian yaitu generasi OSIS sebelumnya" seru Tasya
"Namun aku memang tidak tahu" jawabnya tetap ngotot akan prinsipnya
"Kalau begitu apa yang kamu tahu?"
Terlihat dari wajah pria itu kalau dia terlihat kesal tetapi juga berusaha untuk menenangkan diri dan menjawab pertanyaan David, karena terlihat ketika ia menghela nafas panjang
"Apa yang ingin kamu tahu?"
"Apa kamu tahu siapa tersangka, yang pernah pihak OSIS curigai?" David langsung bertanya dengan nada serius
"Tentu saja ada" jawabnya.
"Apakah dia adalah orang yang memiliki power dan kelompok?"
"Tidak, karena yang jelas dia bukan dari kelompok OSIS"
"Aku tidak pernah bertanya kalau dia dari OSIS atau bukan!" Tekan David dari kata OSIS
"Sialan.. aku hanya memberitahumu" hardik pria itu dengan sedikit emosi. "Baiklah aku mengerti, lalu yang kedua
"Apa kamu kenal dengan Sina?" Lanjut ku dengan melontarkan pertanyaan yang kesekian kali
"Tidak"
Saat itu mata David membulat dia seperti mendapatkan pukulan keras, entah apa yang dia pikirkan tetapi ia mulai mengerti akan sesuatu pada saat itu juga
"Baiklah, terimakasih atas semua jawabnya, kamu bisa meninggalkan ruang OSIS" David berdiri dan berjabat tangan dengan pria itu sebagai tanda terimakasih, karena dia telah bekerja sama dengannya
"Apa yang kamu dapat dari perbincangan tadi?" Setelah suasana kembali sepi Tasya bertanya kepada David yang tengah berpikir
"Sepertinya aku sudah tahu jawabannya"
"Benarkah? Hebat sekali kamu, aku yang selama ini berusaha untuk mencari tahu, sama sekali tidak bisa memberikan kontribusi untuk mu, ketua"
"Haha.. biasa saja" tawa David sembari berkata dalam hati. "Selangkah lagi"
Mulai hari itu David hanya berkutat dengan berkas-berkas yang ada di mejanya, pandangannya tidak lepas dari secarik kertas sampai-sampai Tasya heran dengan sikap David yang tiba-tiba berubah
Karena ketika Tasya ingin bertanya langsung, dirinya takut akan mengganggu aktivitas David sampai hari dimana
Pihak sekolah mulai menanyakan mengenai perkembangan sekolah, saat itu kepala sekolah hadir di ruang OSIS dia duduk di sofa menanti kedatangan David
Karena sejak pagi David pergi entah kemana, sementara di ruang OSIS hanya ada Tasya, Layla dan Roland
Mereka menunggu kedatangan dari David yang tak kunjung terlihat.
"Kemana ketua kalian?" Tanya kepala sekolah dengan wajah mengkerut
"Mohon maaf pak, saya juga tidak tahu tapi saya rasa sebentar lagi dia bakal tiba"
"Kalau kalian tidak bisa mengungkap kasus ini setidaknya bilang dari awal, agar pihak sekolah bisa memaksakan diri untuk meminta bantuan pihak berwajib walaupun citra sekolah nantinya akan rusak" gerutu kepala sekolah
Dan benar saja beberapa menit menunggu datanglah David keruangan dengan membawa secarik kertas putih ditangan.
Tentu kedatangannya membuat kepala sekolah berdiri dan menatap kedatangan dari David yang dia tunggu-tunggu
"Kenapa lama sekali?" Tanya kepala sekolah.
Maafkan saya yang sudah membuat bapak menunggu lama, tetapi saat ini saya mengundang seseorang untuk bisa hadir di pertemuan kita kali ini"
Pada saat yang bersamaan dari balik pintu muncul seorang pria bertubuh tinggi dan tampan sementara satu lagi pria tegap dan gagah, benar dia adalah mantan ketua OSIS dan ketua seksi keamanan
"Kenapa kamu mengundang mereka?" Tanya kepala sekolah. Segera David menjawab. "Ada hal yang ingin saya ungkap disini"
Tentu dilain sisi mantan ketua OSIS dan anggotanya langsung bersalaman dengan begitu hormat kepada kepala sekolah layaknya murid biasa
Saat itu suasana kembali tegangan karena saat itu David seperti akan memulai membacakan hasil dari penyelidikannya selama ini
Dan tanpa di duga David menunjuk ke arah mantan ketua OSIS dengan berkata. "Senior lah dalang dari semua ini"
Mendengar ucapan tersebut serasa bagaikan petir disiang bolong, seluruh orang langsung terkejut termasuk kepala sekolah
"Apa maksudmu, David! Bagaimana bisa kamu menuduh seseorang tanpa bukti" cerca kepala sekolah
"Bukan tanpa bukti melainkan bukti yang saya kumpulkan memang sudah kuat dan valid, dimana dalam menyelidiki saya..."
David menjelaskan bahwa dia mengetahui sesuatu mengenai clue yang ada, pertama posisi dari pelaku pembullyan adalah sosok yang memiliki pengaruh kuat dan memiliki kelompok
Tentu kalau hanya sekedar siswa biasa, pastinya tidak akan mungkin kasus ini lama terungkap, dan pastinya orang yang ada di dalam kasus ini menutup dan membungkam segala bukti dan aksi secara rapat
Sehingga korban mengalami tekanan psikologis dan saat itu David menunjukkan satu kertas dimana itu adalah riwayat dari rumah sakit jiwa mengenai seorang siswi yang terkena gangguan mental
Di sana David pun menjelaskan bahwasanya siswi yang tertulis di kertas tersebut adalah murid dari sekolah ini dan jelas sekali kalau dia adalah korban bully hingga mengalami trauma mendalam
Ketika itu juga David menunjukkan biografi dari siswi tersebut di hadapan seluruh orang termasuk kepala sekolah.
"Lalu apa hubungannya dengan ku!?" Tanya mantan ketua OSIS membela diri.
"Hubungannya adalah ketua seksi mu ini tidak mengetahui siapa siswa dari korban bully, sehingga aku yakin kalian pihak OSIS memang tidak menyelidiki kasus ini, dan jika seandainya ada pun dimana data orang-orang yang dibully, karena logikanya begini, bagaimana bisa kalian memecahkan kasus ini jika kalian tidak tahu siapa korbannya"
Seketika saat itu mantan anggota OSIS dan ketua seksi terdiam mematung. "Awalnya aku ragu tetapi setelah mendengar semua yang diucapkan oleh ketua seksi ditambah kesaksian dari korban akhirnya aku mengetahui mengapa kasus ini tidak pernah ada lagi, dan ternyata ini semua karena mantan ketua OSIS tidak ada di sekolah tetapi seluruh korban selalu ditekan olehnya" unjuk David ke arah pria di samping mantan ketua OSIS yakni seksi keamanan
Semua yang mendengar hal tersebut terlihat begitu shock sampai-sampai kepala sekolah memperlihatkan urat nadi di keningnya karena emosionalnya sudah memuncak
"Dasar Bangs*t, ternyata orang yang ku percaya malah mengkhianati ku!" Umpat kepala sekolah dengan emosi
Mantan ketua OSIS dan anggota seksi yang ketika itu panik, mereka hanya berusaha untuk melawan. Dengan melancarkan tinjuan ke arah David tetapi tinjuan anggota seksi tersebut berhasil ditahan oleh Roland yang tubuhnya lebih besar
"Udah ketahuan gak mau tanggung jawab dasar biadab" umpat Roland yang kemudian membalas dan mengunci tangan mantan OSIS tersebut
Hingga kejadian itu membuat satu sekolah gempar, tetapi akhirnya terungkap juga kasus yang selama ini masih menjadi misteri. Seluruh korban mendapatkan fasilitas dan dukungan penuh dari pihak sekolah untuk menebus kesalahan dan kelalaian dari pihak sekolah
Kemudian pelaku yang terlibat kasus ini ternyata lebih dari 10 orang dan semuanya adalah anggota OSIS yang kini sudah tamat sekolah.
Semua pelaku telah diringkus dan diamankan oleh pihak berwajib, dan di lain tempat karena jasa dari David akhirnya David mendapatkan penghargaan dari pihak sekolah sebagai penyelamat sekolah dan murid tertindas
Dan mulai saat itu lah akhirnya nama David mulai terkenal dan menjadi panutan banyak orang di sekolah.
Di ruang OSIS. Terlihat David duduk di kursi kerjanya dengan ditemani di sisinya, seorang gadis cantik nan anggun yang memasang senyuman manis yang sempurna, tak lain dia adalah Tasya yang ketika itu berdiri dengan setia disamping David yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.
"Bagaimana perasaanmu setelah mengungkap kasus ini?" Tanya Tasya
"Cukup lega, karena pada akhirnya masalah ini berhasil kita selesaikan"
“Kita? Aku rasa hanya kamu saja yang menyelesaikannya, David”
“Tentu tidak tasya, karena tanpa kerja sama tim, kita tidak akan bisa menyelesaikannya”
“Haha.. dasar sok bijak, lalu sekarang apa?”
“Terserah author lah, mau melanjutkan kisah kita atau malah ingin cut ceritanya disini”
“Atau mungkin akan di buatkan cerita ini sebagai cerita novel” sahut Tasya. tetapi David tersenyum dan menjawab. “Tiada yang tahu..”
{Tamat}