Tidak seperti biasa, senja hari ini begitu sendu, mendung menggantikan posisi awan-awan,menutupnya perlahan menjadi gelap gulita diantara pergantian petang dan akan hujan. Aku bersandar dibilik yang terbuat dari papan,duduk sambil menikmati suguhan roti berbalut kacang,menatap kosong halaman yang dipenuhi dedaunan diterpa angin malam, lalu membawaku ke suatu hayalan.
Plakkk! Suara itu yang pertama ku ingat, saat aku memukul keras pundaknya dengan buku pelajaran yang ku bawa,
"Aliiiiii.....bagi jawaban dong" ujarku kepada ali yang sedang sibuk dengan buku cerita nya.
"Ambil aja" balasnya, menggunakan isyarat mata menunjuk buku tulis berwarna biru tebal di atas meja.
Aku langsung sigap menggambil buku itu lalu membawanya ke meja ku. Ali menatap sejenak dengan senyum lalu menatap kembali buku ceritanya.
Sore itu, aku tampak risau, menunggu ojek yang tidak juga nampak batang hidungnya,
"biasanya jam segini lewat kok"gumamku.
Diwaktu bersamaan Ali muncul dengan motor crf miliknya yang hitam merah,menggunakan jaket hitam panjang menutup badannya. Dia tergolong cowok keren dan cuek di sekolah kami, banyak cewek-cewek membicarakannya, tapi rumornya Ali tidak pernah tertarik dengan salah satupun diantara mereka. Aku tidak peduli, dan aku juga merasa biasa aja dengannya, entahlah, mungkin karna dari smp kami sudah berteman dan sampai sma sekarang.
"Yuk" ujrnya singkat sambil memberhentikan laju motornya.
"Duluan aja" jawabku
"Mau ujan tuh" jelasnya lagi.
Benar saja, baru selesai berucap rintik-rintik muncul menetesi buku yang ku rangkul ditanganku, hingga kemudian kumasukkan kedalam tas, dan sigap menaiki motor Ali. Diperjalanan kami hanya diam, tak ada pembahasan apa-apa, aku sudah terbiasa akan hal ini, hingga tiba-tiba hujan deras mulai mngguyur badan kami.
"Lii,berteduh dulu tu di pos" ujarku
Ali hnya diam namun menuruti.
"untung gk sempat basah" ujarnya mmbuka percakapan
"iya"ujarku.
"Dir" lnjutnya kemudian setelah keterdiaman kami yang cukup panjang.
"Dar dir dar dir! Diraaaaa liiii diraaaa" bantahku yang tak suka dengan sebutan itu, sedang ia hanya tertawa kecil dan kemudian diam.
"Apa?" aku bertanya
Kemudian ditaruhnya tasnya lalu duduk disebelahku.
"Sejauh ini,kenapa kamu gak pernah tau si"
"Hah? Maksudnya?" jawabku nampak heran
"Kamu gak curiga aku selalu baik sama kamu padahal aku gak pernah gitu ke orang lain?, aku hanya ngomong ke kamu jarang ke orang lain. Dan satu lagi, aku selalu perhatian sama kamu, kamu gak merasa ada yang aneh? "jelasnya, Ali menatapku cukup lama, membuatku akhirnya ikut menatapnya. Tapi aku lebih dulu memalingkan kepalaku dan berdeham pelan untuk memecahkan kecanggungan yang tiba tiba merayap di antara kami.
"Biasa aja" jawabku singkat namun bingung.
Selama 4 tahun kami berteman baru kali ini dia bertanya? aneh!.
"dira, kenapa ibumu berpisah dengan ayahmu?" pertanyaannya membuat aku sedikit tersentak. Aku terdiam tidak ingin mengatakan apapun untuk pertanyaan ali. Tapi pada akhirnya aku tetap menjawab.
"bapakku main gila di belakang ibuku li, selama tiga tahun ibu gak pernah sadar kalau dia dikhianati, dan lebih sakitnya dia lebih dulu punya anak dengan istri mudanya" jelasku dengan nada sedih, aku menatap ali yang yang ternyata juga tengah menatapku, dengan kedua matanya yang berubah sendu. Tapi aku memilih untuk tersenyum tipis dan melanjutkan.
"padahal waktu itu aku baru berusia 1 tahun, tapi ibu tetap kekeh ninggalin ayah hehe, " lnjutku lagi, sengaja terkekeh di akhir kalimat agar ali tidak terlalu merasa kasian padaku.
"Dira....maaapin aku ya" ali mengatakannya dengan nada yang tak pernah kudengar sebelumnya. kemudian memelukku dengan erat dan melepas tangis dipundakku, aku bingung, bahkan sangat bingung.
"Kenapasi?" tanyaku kebingungan.
"Aku kakak mu dir, aku Ali bin Rahmad, ayah kita"
Penuturan Ali seperti membuat kerja jantungku berhenti, kepalaku pening dan Aku merasakan nafasku yang berubah sesak. Ku dorong Ali dari pelukanku, menatapnya tidak percaya.
"Jangan becanda li!" bantahku, aku menjauh dari tubuhnya.
"aku gak bohong, Dira! "jawabnya tegas sambil memegang kepalanya. Ia menatapku begitu sendu, kedua matanya berair dan aku tau dua obsidian kelam itu berubah redup.
"Pergi dari sini!, pergi!!, jangan pernah lagi temui aku!!" aku berteriak, mendorong tubuhnya yang bergerak mendekat untuk mendekapku.
"gabisa diraaa, aku sayang sama kamu, ini perintah ayah sebelum dia meninggal, dia sayang kamu, maapin dia ya" jawabnya sambil mengusap matanya yang merah akibat menangis.
Hujan menjadi saksi, kala aku terdiam mendengar penuturannya perihal ayah yang sudah meninggal.
"Ayah meninggal li? " tanyaku, aku menatapnya kaget sekaligus sedih.
"Iya diraa, mama juga, 3 tahun yang lalu mereka kecelakaan, aku gak pernah berani untuk bilang ini ke kamu, waktu itu aku masih kecil dira, aku belum punya keberanian, sebelum pergi ayah cerita semuanya" Ali menarik tanganku lantas mengenggam jari jemariku, aku tidak bisa mendorongnya sebab aku merasa segala kesadaranku terbang jauh.
"Katanya, ibu kamu tidak pernah mnghormati ayah, selalu pergi sama teman-temannya, jarang dirumah kalau ayah pulang, maafin aku dira, tapi ini ayah yg crita. Saat kamu ada, ibu kamu jadi berubah, tapi terlambt..karna ayah bertemu ibuku. Ibuku yg menemani saat ayah sdg terpuruk dira, maafin kami..."
Penjelasan Ali membuat aku shock, aku jatuhkan tasku dan menangis sejadi jadinya. Kepalaku pening atas segala kebenaran yang baru saja terungkap.
"ibuku juga sudah meninggal li, 4bulan yg lalu" aku berucap dengan terbata, menatap gengaman tangan besar Ali yang meremat jemariku.
"Dia tidak pernah ceritakan apapun tentang kebaikan ayah, dia hanya bilang kalau ayah jahat, dan dia benar. Jadi ini ceritanya? kamu kakak ku li?" ujarku, menatap wajahnya yang penuh air mata. Ali mengakuk perlahan dan bergerak mendekat untuk mendekapku, memecah tangisku kala ia menciumi kepalaku. Saat itu semua rasa bercampur,tidak bisa dijelaskan.
Aku meraung begitu hebat meskipun suara guntur yang mengelegar jauh lebih nyaring meredam tangisku.
Dalam pelukan ali hari itu aku merelekan semuanya, aku membiarkan segalanya berjalan dengan sendirinya untuk kedepannya. Sebab Ali juga tidak bersalah atas semua yang terjadi di antara kami. Aku tidak ingin menjadi jahat dengan membencinya, maka hari itu aku membalas pelukannya tidak kalah erat. Membiarkan hujan menjadi saksi atas segala hal yang akhirnya aku maafkan.
Setelah hari itu aku tidak melihat Ali, ia tidak masuk sekolah dan tidak ada kabar apa apa darinya. Sampai ketika pulang sekolah aku mendapat pesan dari Ali dirumah sakit, katanya dia sakit, dan ingin dijenguk. Perihal kejadian di hari berhujan kala itu, aku sudah memilih untuk memaafkan. Aku memilih melupkan masa lalu kelam ku, dan melangkah pasti untuk masa depan baruku yang semoga saja berjalan baik. Juga yang terpenting sekarag adalah masa depanku dengan Ali, atau lebih tepatnya Kak Ali.
Sesampainya di rumah sakit, ku dapati kak ali yang pucat, tampak banyak selang ditangannya. Tapi ia tetap memberiku senyum kecilnya saat aku memasuki ruangan tempat ia di rawat.
"jadi ini alasan ka Ali ngak sekolah?" tanyaku, sembari mendudukan diri di kursi yang berada di sebelah ranjangnya.
Ia hanya terkekeh pelan sembari terus memperhatikanku.
"Dira"
Panggilnya kala aku meletakan buah buahan yang ku bawa ke atas meja. Aku menoleh menatapnya dengan raut bertanya.
"aku rasa sudah cukup untuk aku menjaga kamu, aku sudah memenuhi janjiku pada ayah untuk kasih tau kamu semuanya. Kalau semisal aku pergi tolong iklasin aku, ya?. maafkan mamaku juga, ya?" ujarnya sambil membelai tanganku, aku terdiam ku tepuk tangannya tidak kencang lantas menatapnya garang.
"kakak ngomong apa si!, bahkan sebelum kakak minta maaf aku sudah memaafkan semuanya. Kakak harus sembuh supaya kita bisa tinggal bareng!" tegasku, ia justru tertawa dan itu membuat hatiku serasa di tikam lara.
"hehehe iyaa" jawabnya dengan terkekeh.
Matanya nampak sayu, rasanya sedih ketika melihat ia yang biasanya tersenyum cerah, terbaring sakit seperti ini. Aku jadi merindukan candanya yang garing namun membuat tertawa lepas, bahkan walau dia cuek sekalipun, dia tetap begitu perhatian.
Setelah lama menemaninya dirumah sakit, aku berpamitan kepada tantenya untuk pulang. Sesampainya dirumah aku merebahkan diri dikamar, membayangkan betapa rumitnya hidupku. Namun aku bahagia bersama ka Ali, dan aku membayangkan esok hari Akan sangat bahagia bersamanya setelah ia keluar dari rumah sakit.
kira-kira setengah jam aku merebahkan diri di kamar sembari menatap langit langit kamarku melalang buana,hingga sebuah panggilan menjeda kegiatan melamunku, aku mendapat telpon dari tantenya ka ali.
"dira...Ka ali sudah gak ada nak"
Itu adalah kalimat pertama yang ku dengar ketika mengangkat telepon.
Aku tersentak, hp ku jatuh aku terpaku, pandaganku kosong. air mata mngalir begitu saja membasahi pipiku.
"Ka ali? " gumamku, berbisik di antara sunyinya keadaan saat itu.
Saat itu juga aku langsung menuju kerumah sakit, sesampainya disana ku dapati ka Ali sdh tertutup kain putih. Aku terdiam sedang air mata tidak berhentinya mengalir. Ku dekati sosok yang terbaring kaku itu lantas membuka penutupnya. Detik itu juga aku menangis sejadinya, tante ka Ali bergerak mendekat untuk menenagkanku, namun tangisku semakin kencang mengema di rumah sakit yang saat itu terasa begitu sepi.
"ka ali bangun kaaa!" aku berteriak berharap sosok itu terbangun lalu membawaku pada dekapannya. Mengatakan padaku bahwa ia tidak akan pergi, tapi tidak. Sosok itu tetap ada di tempatnya, terbaring kaku tertutup kain.
"Kak, kamu bahkan sudah berjanji mau tinggal bareng nanti. Tapi kenapa pergi?!!. Kenapa ingkar janji?!, kenapa meninggalkan setelah aku sudah menata masa depan kita bersama?!. Ka Ali bangunnn!!" aku hancur saat itu, kehilngnnya tidak pernah ada di dalam kepalaku. Sekarang aku kehilangan semua org terkasih ku. Bahkan sampai diperistirahatannya yang terakhir aku masih belum percaya dia sudah pergi. bahkan sampai saat ini, 3 tahun bukan waktu yang cukup untuk aku merelakan kepergiannya, bukan waktu yang mudah ketika setiap kalinya aku selalu menemukan tentangnya di mana mana. Ka Ali, sekalipun kamu sudah pergi aku akan selalu mengingat tentangmu di kepala.
I love you ka Ali, dira disini menyayangimu.