Bus yang ramai oleh pekerja yang pulang berhenti tepat dihalte tempat Tissa menunggu, Naik dan berdesakan dengan yang lain sudah menjadi rutinitas sehari-hari Tissa saat pulang bekerja. Sebagai seorang lulusan baru yang baru diterima bekerja, ini benar-benar pengalaman yang sangat melelahkan.
Pulang seperti biasa berjalan melewati gang kecil untuk sampai di kontrakannya. Tapi kali ini ada yang aneh, ada seorang nenek yang menjual berbagai macam cermin di tepi gang, ini benar-benar pertama kalinya Tissa melihat orang yang menjual cermin disebuah gang sempit seperti ini.
Karena penasaran, Tissa menghampiri nenek tersebut, melihat berbagai gaya cermin yang dijual dilapak kecilnya. Ada satu cermin yang menarik perhatian Tissa, cermin itu seperti benda kuno dengan corak dan warna yang lebih gelap dari cermin lain. Cermin itu juga berwarna kuning tidak bening seperti yang lain.
Ini mengingatkan Tissa pada cermin di Novel-novel kolosal yang sering Tissa baca. Tisaa adalah seorang penyuka novel kolosal apalagi novel kolosal yanh berasal dari China. Tissa ingin membeli cermin itu untuk dikoleksi. Lagipula harga yang tertera hanya 20 ribu saja.
"Nek, saya mau beli cermin yang ini ya". Tunjuk Tissa pada cermin kekuningan itu. Nenek penjual sedikit mengerutkan kening nya dan kembali normal dalam sekejap. Tissa tidak terlalu memperhatikannya dan tidak mengambil hati hal tersebut.
"Beneran neng mau cermin kayak gini?, yang lain aja neng ada yang lebih bagus" Nenek itu menawarkan Tissa cermin yang lebih bagus.
"Gak nek, yang itu aja mau koleksi soalnya hehehe" Tissa tertawa kecil menyebutkannya. Nenek itu lalu mengangguk kecil dan membungkuskan cermin itu untuk Tissa. Setelah membayar nya Tissa kembali berjalan pulang menuju kontrakannya.
"Ah capek banget, baru kerja tapi udah pengen resign" Tissa sedikit mengeluh sambik tertawa. Tissa meletakan tasnya dan mandi setelah tiba dikontrakan.
Setelah mandi, Tissa mulai membuka cermin yang dibeli tadi lalu meletakannya dimeja kecil disebelah kasurnya.
Seperti rutinitas biasa, Tissa tiduran sambil mulai membaca novel yang belum selesai. Tissa sangat menyukai hal-hal tentang zaman dulu, apalagi jika menyangkut negara China. ini benar-benar sangat menarik dengan sistem kerajaan dan kultivasi yang tidak nyata.
Ketika mulai merasa mengantuk, Tissa menyetel alarm agar tidak telat bangun untuk bekerja besok. Ketika tidur, Tissa merasa dia terbangun, ketika membuka matanya tissa berada di tempat yang sangat gelap. Tissa berpikir "padahal baru juga tidur udah kebangun, kenapa mati lampu sih?"
Tissa berdiri dan berjalan menuju saklar lampu yang ia hafal, setelah meraba-raba Tissa tidak merasakan adanya tembok. Tissa sedikit menyerngitkan dahinya. Tissa terus berjalan hingga dia mulai merasa panik.
"Ini dimana? kenapa gelap banget" Tissa mulai takut dan cemas, tapi ia terus berjalan maju hingga ia melihat cahaya dari kejauhan. Tissa mulai berlari ke cahaya tersebut. Setelah tiba, Tissa melihat sebuah bangunan yang kuno, dengan tulisan Mandarin yang anehnya Tissa bisa membaca dan mengucapkannya padahal ia tidak pernah belajar bahasa Mandarin.
Tissa melangkahkan kaki masuk dengan takut-takut, ia sangat panik apalagi ia tidak melihat satu orang pun selama ia berjalan dan sampai ke bangunan ini. Tissa memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk. Ada orang yang berlalu lalang dan duduk untuk makan.
"Ya tuhan, akhirnya ada orang disini" gumam Tissa. Tapi setelah dia amati orang-orang disini menggunakan baju yang aneh. 'Tunggu sebentar, bukankah ini hanfu, baju tradisional orang China?'
Tissa benar-benar merasa ingin menangis setelah melihat semua hal yang aneh dan asing didepannya. Tiba-tiba seseorang mendekati Tissa, Seperti nya itu pelayan toko ini. "Nona, apakah anda ingin makan atau mengenai disini?" Pelayan itu bertanya dengan sopan setelah melihat gadis ini dengan linglung berdiri didepan pintu masuk.
Tissa terkejut karena orang ini berbicara bahasa Mandarin dan yang lebih mengejutkan dia benar-benar tau dan mengerti arti ucapan pelayan ini. Dia juga bisa berbicara bahasan Mandarin!!!
"Ah ya, tuan aku ingin menginap untuk satu malam disini" Bodohnya Tissa baru sadar jika menginap perlu uang dan ia tidak memegang uang sepersen pun. Tissa sedikit malu dan gelisah lalu meraba-raba pakaiannya siapa tau ia membawa uang saat tidur.
Tapi Tissa kembali terkejut karna sekarang ia tidak memakai baju tidurnya melainkan hanfu dengan kantong kecil tergantung di pinggangnya setelah di sentuh ternyata kantong itu berisi uang. Tissa lega dan memberikan 2 keping perak yang ada di kantong pada pelayan itu.
"Nona itu sangat banyak, menginap satu malam hanya 2 keping tembaga" Pelayan itu sedikit terkejut melihat kemurahan hati gadis ini.
"Oh aku hanya memiliki keping perak, bagaimana jika kamu mengambil satu keping perak saja lalu sisanya bawakan saja makanan ke kamarku" Tissa memberi saran pada pelayan itu. Pelayan itu mengangguk lalu mengantar Tissa ke lantai dua menuju kamarnya.
Setelah pintu tertutup Tissa mulai duduk dan merenung, 'Apa ini mimpi ya? Tapi kenapa terasa sangat nyata. Mungkin mimpi ya gak mungkin aku seperti di novel-novel bertransmigrasi'
Tissa benar-benar tidak bisa mempercayai fantasi seperti itu walaupun ia sering berharap untuk melakukan transmigrasi.
Matahari kembali menampakkan wujud, Tissa terbangun dan melihat langit-langit kamarnya, Ia berpikir ketika ia bangun akan melihat langit-langit kamar kontrakanya yang baru ditempati 2 bulan itu tapi ini benar-benar masih kamar penginapan tadi malam.
Tissa mulai duduk dengan panik dan melihat jendela yang ada dikamar tersebut, Apa yang ia lihat adalah pohon dan tanaman sepanjang mata memandang. Tissa mulai takut dan menangis.
"Ini dimana? Ya tuhan ini kenapa aku bisa sampai kesini?" Tissa bergumam kecil dengan panik. Ia mulai mencoba menenangkan diri. Tissa perlahan keluar dari penginapan itu.
Tissa mulai berjalan lurus kedepan walaupun yang ia lihat hanya tanah luas dan pohon-pohon. Tapi karena ini adalah siang hari Tissa tidak terlalu takut seperti tadi malam.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Tissa melihat sebuah gerbang tinggi yang bertuliskan 'Kota Perang' dalam bahasa Mandarin. Tissa melangkah dengan ragu, dan melihat pos pemeriksaan didepan gerbang yang meminta biaya masuk ke kota. 'Untung saja uang ku masih ada' Pikir Tissa.
"Nona Chen!" Seseorang memanggil dibelakang Tissa, tapi ia tidak tau siapa Nona Chen ini.
Orang yang memanggil Nona Chen tadi berjalan menghampiri Tissa. Tissa ragu apakah ia yang dipanggil Nona Chen. Lagipula ini pertama kalinya ia disini dan tidak mengenal siapapun.
"Nona Chen, apakah kamu pergi bermain ke hutan lagi? Aku mendengar para pelayan dan penjaga mu mencarimu kemaren" Gadis itu berbicara pada Tissa dan memberikan informasi padanya.
Tissa terkejut karena ialah Nona Chen yang dimaksud gadis ini. Tissa dengan ragu melihat sekelilingnya karena takut mengira bukan ia Nona Chen
"Nona Chen ada apa dengan mu?" gadis itu bertanya dengan prihatin. Tissa kembali sadar dan menjawab dengan lambat "Um ya, aku baru kembali dari hutan" Tissa menjawab seadanya.
"Nona Chen, karena kita bertemu disini mari kita pulang bersama" gadis itu menawarkan dengan riang, Tissa mengangguk kecil. lagipula ia tidak tau siapa Nona Chen, tapi tidak ada salahnya ikut gadis ini daripadan ia tersesat didunia aneh ini.
Mereka memasuki gerbang dan mulai berjalan ditemani celotehan gadis itu tentang Tuan muda mana yang bermasalah dan Nona muda mana yang mulai membicarakan pertunangannya.
"Nona Chen, silahkan masuk terimakasi sudah menemani ku" Tissa dengan bingung melihat sebuah halaman yang cukup besar, dengan tulisan "Kediaman Baron Chen". Tissa ingin memanggil gadis tadi tapi ia sudah pergi jauh. Tissa dengan bingung melihat halaman rumah ini yang seperti halaman rumah pejabat di novel atau drama kolosal China yang pernah ia lihat.