CAROK
Carok adalah ritual pemulihan harga diri ketika di injak-injak oleh orang lain, yang berhubungan dengan harta, tahta dan Wanita.
Terjadi antara kelompok Matta dan Hans.
Hans menggebrak. Langsung menyerang Matta. Dan Matta jatuh kemudian.
Hans dibantu adiknya Mawar. Seorang adik yang gagah berani. Pernah bekerja di Malaysia sebagai karyawan. Pernah nyantri dan guru taekwondo. Jadi saat membantu sang kakak seakan sangat piawai, dengan waktu singkat langsung merobohkan tiga lawannya.
Sedangkan Matta di bantu murid-muridnya. Sebagai anggota perserikatan silat yang terkemuka di pulau yang keras dan penuh jiwa keberanian.
Jadi 2 lawan sepuluh. Sangat mengerikan. Seakan jagoan itu adalah sangat pemberani dan gagah perkasa dengan mampu mengalahkan keroyokan lawannya.
Katanya berawal saat Hans mau tahlilan. Dia duduk di pos simpang tiga di suatu keramaian jalan besar. Menunggu temannya.
Tapi datang Matta dari arah dalam dengan sorot lampu yang sangat terang sehingga menyilaukan mata.
Lalu dia di tegur, mau kemana. Tapi marah. Dia dan adiknya sewot. Karena teguran yang tidak berkenan tadi. Kemudian menghentikan kendaraannya. Lalu menampar. Sebagai bagian dari keberanian yang membuat kebanyakan lawannya menjadi kecut. Adiknya memegang tangan dan mengancam pakai clurit yang sudah di bawa dari rumah. Menuju tambak tempat mereka bekerja.
Mendengar tantangan itu, serta sebuah tamparan tangan yang menyakitkan hati, seakan sebuah tamparan keras buat nyali seorang pendekar kenamaan. Lalu pulang untuk mengambil clurit itu dan supaya lawan disuruh menunggu. Di jalan dia ketemu adiknya, Mawar. Dan di ajak membantunya. Kalau-kalau ada pengeroyokan. Dengan dua celurit yang di ambil, dia pamitan dengan umi nya.
Dan terjadilah carok yang sangat mengerikan. Dua melawan sepuluh orang. Dengan kemenangan yang dua. Saat datang dengan motor yang di kendarai Mawar, Hans langsung menyerang lawannya, walau kendaraan belum berhenti. Dengan cepat dia menerjang. Langsung mengarah pada Matta sebagai bagian dari suatu tantangan yang mengarah pada sosok yang paling dia cari. Sementara yang lainnya di hadang oleh adiknya, supaya tidak mengganggu pertarungan akhir itu. Bacokan yang terarah ke Matta rupanya langsung mengenai tangan. Dan di tangkis supaya tidak kena badan. Matter membacok dengan celurit dari belakang. Karena melihat kakaknya kerepotan. Sabetannya mengenai jaket dan pakaian yang dikenakan Hans. Luka itu merobek pakaian yang sangat Panjang, tapi tak melukai badan. Hans membacokkan senjatanya, membuat putus tangan Matter. Lalu berputar membalik. Kemudian dia kembali melancarkan serangan pada Matta, sehingga bacokan yang jitu langsung melukai musuh. Karena terdesak itu, membuat Matta muncur. Tapi ini berakibat vatal. Hans memburunya, serta menyabetkan senjata itu ke tubuh lawan, dan langsung tumbang di depan warung. Sementara Mawar, membacok Haf, hingga jatuh terduduk. Dan menerjang lawan-lawannya. Melihat Mawar, Matter mengambil senjata yang jatuh akibat tangannya putus, dengan tangan kiri, serta melanjutkan serangan. Tapi Mawar lebih cepat, dengan menebas tubuh Matter, hingga jatuh untuk kedua kalinya. Dan Najeh yang mencoba menusuk dengan pisau dari belakang, mendapat hadangan dan langsung jatuh.
Jadi carok sangat mengerikan, dan di larang. Walau mendengarnya sangat menyenangkan. Terutama bagi mereka yang menyukai kekerasan. Sehingga solusi akhir dari penyelesaian masalah adalah dengan carok. Jadi tak terbayangkan, bila hal demikian terjadi secara terus menerus. Sebab sang anak nanti yang akan menuntut balas, dan berikutnya di teruskan oleh keturunan lawan. Maka seperti sebuah rantai yang tak terputus dan berlangsung terus menerus.
Dalam waktu satu menit itu Hans sudah bisa menumbangkan keroyokan sepuluh murid dari lawannya.
Lima tak ikut menyerang. Dan kabur.
Namun jika melihat rekaman dan kenyataan kalau tak ada yang mau jadi saksi, kelihatannya yang bukan korban serta satu yang dilepas adalah orang-orang yang cuma ikut menonton dan tak ada kaitannya dengan perkelahian itu.
Terlihat satu yang berpakaian putih dan menolong Haf ke puskesmas. Nyatanya itu adalah orang kampung yang kebetulan ada di lokasi.
Sebab dalam waktu singkat, rasanya sulit untuk memanggil para murid yang berjumlah sepuluh itu. Yang bisa jadi karena di telepon, sehingga dalam waktu singkat langsung terkumpul. Sehingga sepuluh orang yang berdatangan melebihi kecepatan si Hans yang rumahnya tergolong dekat.
Dan Matta sendiri rasanya tidak siap menghadapi gempuran lawannya. Sebab daerah situ sangat lama tidak pernah terjadi carok. Walau istilah carok adalah sesuatu yang melegenda, akan tetapi daerah tersebut tidak pernah. Jadi dalam pikirannya, mungkin tidak akan kembali, seperti di ungkap oleh saksi mata.
Dan banyak yang menganggap kalau mereka tak membawa celurit. Hal ini terlihat akibat sedikit sekali benda itu di lokasi.
Hanya ada tiga bilah clurit dan satu pisau. Yang mengherankan pusaka itu sama seperti alat sabit biasa yang sudah berkarat, beda dengan pemikiran orang kalau senjata itu demikian tajam, dan menebas kertas dan plastik saja sangat mudah. Sehingga Nampak jika benda tadi adalah sebuah koleksi seperti kebanyakan orang dari suku tersebut yang terbiasa memajangnya sebagai bagian dari kebiasaan adat yang sudah mengakar semenjak dahulu, tanpa pernah menggunakanya. Serta patahnya benda tersebut, selain mengenai benda keras kemungkinan karena telah rapuh dan belum di perbaiki, sehingga tidak siap dengan benturan pada benda yang jauh lebih kuat. Dengan ini tentunya menunjukkan kalau pusaka tadi kurang perawatan serta hanya bagian dari sebuah koleksi yang merupakan kebiasaan dari suatu suku tertentu untuk melestarikan benda budaya.
Ini juga seperti yang di ceritakan pelaku. Walau dalam video slow motion tampak jelas ada benda mengerikan itu, nyatanya di lokasi tak ada, sebagai barang bukti. Makanya hal itu kiranya hanya bayangan yang jika di pelankan akan terlihat demikian. Tentu saja berkaitan dengan barang bukti yang ada, serta sangat cepatnya mampu mengkandaskan para jawara.
Sedangkan dia mengaku sendiri jika tak mempunyai ilmu kebal. Dengan demikian, bisa saja kekalahan itu terjadi karena kelompok tersebut tak membawa senjata semacam yang di perkirakan.
Dengan pemikiran kalau sudah membawa senjata tersebut yang oleh adik Matta, yang seperti awal di kisahkan, kalau mau ke tambak dengan senjata di bawa tadi. Si Matter memang sudah membawa benda tersebut.
Itulah carok yang mengerikan. Makanya lebih baik untuk tidak ikut yang seperti itu. Tapi ini tentang keberanian. Ada kalanya banyak yang menganggap jika kemenangan dari pertarungan adalah satu sikap Jantan. Makanya era dulu banyak yang memperoleh banyak istri dengan salah satu usahanya karena menang perang.
Sebab dari legenda tentang suku itu juga banyak orang populer. Sebut saja ada Trunojoyo, Diponegoro, serta Cakraningrat. Mereka ini tokoh nyata yang mampu memberi teladan akan keberanian menentang para lawan.
Di samping itu keberhasilannya membantu pendirian Majapahit, menaklukan Blambangan, serta beberapa kali membantu pemerintahan penguasa dan berhasil. Membuat citra sebagai sang pemberani turut melekat.
Trunojoyo ikut perang dan berhasil merebut tahta Mataram. Tapi karena populer akan pemberontakannya maka dia hampir lenyap dari silsilah Sultan Agung. Barulah setelah pemerintah resmi mengangkat dia menjadi pahlawan, ada titik pertemuan yang menghubungkan dirinya dengan Sultan Agung yang merupakan kakeknya. Tapi keberanian dan sikap membangkang terhadap penguasa, membuat dirinya identik dengan orang sabrang yang berbeda dengan perilaku setempat.
Demikian juga Diponegoro ternyata juga merupakan keturunan Madura. Yang dengan keberaniannya mampu melawan penjajah serta gabungan Kerajaan di jawa. Bahkan merupakan perang Jawa terbesar yang di alami pemerintah kolonial.
Begitupun saat Arya Wiraraja menjadi bupati Sungeneb, maka raden Wijaya berhasil membangun majapahit. Walau belum tentu Banyak Wide orang madura, akan tetapi pengikutnya turut serta dalam menumbangkan serbuan Mongol, kejatuhan Jayakatwang, serta bangkitnya majapahit. Sehingga setelah Wiraraja mendapat tanah di Lamajang, sampai sekarang banyak warga Madura yang mendiami sekitar daerah itu.
Begitupun saat warga Madura membantu Mataram dalam menghadapi daerah Blambangan, maka tak sedikit juga warna itu yang kali ini berdiam diri di sana untuk mengolah tanah serta kehidupan yang tujuannya memakmurkan daerah tersebut.
Tapi carok yang popular seringkali mengingatkan keberanian Sakerah yang berani membela rakyat kecil sebagai pekerja pabrik tebu yang tersingkir.
Namun di era sekarang, pandangan tersebut mestinya sudah terpupus. Dan akan di rasa lebih Jantan jika mampu membina keluarga yang bagus, memberi nafkah yang memadai bagi anggotanya, serta mencukupi apa kenginan dari sang istri.
Makanya tak jarang sampai tua pun jika punya banyak harta, akan mempunyai istri yang banyak dengan kualitas yang baik pula.
Tentunya sedikit menyimpang jika teori kejantanan adalah dengan mematuhi aturan serta norma yang berlaku. Dengan memiliki satu istri dan anak-anak yang cukup bekal masa depannya, serta tidak menyimpang, dialah yang pantas mendapat predikat tersebut. Dibandingkan dengan memiliki banyak harta, banyak Wanita, tetapi ada batin yang tersakiti.
Itu sebabnya sudah banyak warga madura yang lebih memilih mengikuti jalur norma sebagai bagian dari perjalanan kehidupan yang baik. Logika tentang mereka yang kasar dan memilih jalan kekerasan dalam menyelesaikan Keputusan sedikit banyaknya sudah mulai di tinggalkan. Makanya banyak yang sudah jadi profesor, jendral, maupun politisi lain yang mengedepankan jalur hukum di bandingkan dengan sebagai hukum itu sendiri.
Tentang hukuman itu, apakah perlu. Atau memang mesti bebas, seperti keinginan banyak orang akan sosok jagoan yang mampu mengalahkan musuh. Sehingga nanti bisa membina generasi berikut supaya bisa menjadi jagoan pengisi pulau yang penuh kejantanan itu.
Jika mengingat bahwa nyawa di ganti nyawa, mata berganti mata. Niscaya hukuman mati lebih tepat. Apalagi sampai empat nyawa yang melayang. Dan bisa saja carok adalah sebuah kata mengerikan. Kalah menjadi abu, menang jadi arang. Ini yang di rasakan keduanya. Juga bila melihat banyaknya warga yang juga turut hadir dalam setiap Kumpulan doa, untuk memperingati waktu tiadanya, serta tangis pilu keluarga saat pekuburan yang dilakukan, niscaya masih banyak warga yang kehilangan. Jadi apa yang tersaji tentang keangkuhan, sok jumawa serta menang sendiri, mungkin bisa di kurangi atau bahkan di hilangkan dengan sikap sebaliknya yang pernah di lakukan semasa hidup, juga sebagai guru silat, yang pasti membagi ilmu kepada para siswa didiknya supaya orang banyak itu juga memberi keteladanan yang baik, khususnya akan harga diri sebagai seorang yang beradab.
Untuk itu kiranya lebih tepat bila hukuman yang berlaku adalah apa yang tertulis dalam kitab hukum yang di gabungkan dengan segala sisi baik yang patut di pertimbangkan. Jadi jika itu hukumannya maksimal, mungkin untuk selanjutnya masih ada grasi amnesti serta kebijakan para penguasa yang memang meringankan para orang baik yang Tengah menghadapi masalah.
Daftar Pustaka:
1. Tersebar video. Youtube
2. Hasil autopsy…. Youtube
3. Saksi di TKP …. Youtube