Pelajaran matematika adalah beban berat yang harus dipikul saat pembelajaran sedang berlangsung. Kepalaku sudah pusing memikirkan rumus- rumus matematika yang tak ada habisnya. Matematika adalah musuh sejati ku diantara mapel lainnya.
Aku menoleh ke arah jendela, mendung. Sebentar lagi pasti hujan akan turun, aku melirik jam kelas, akhirnya jam pulang sudah dekat. Beberapa dari mereka yang tak menyimak pelajaran matematika sibuk membereskan buku-bukunya dan bersiap untuk pulang.
"Jovi, apa kau bawa payung? Sepertinya hujan akan turun."
Aku menoleh ke arah kanan, menatap teman satu bangku. Menggeleng tanda tak membawa payung, padahal sejak tadi pagi aku sudah ingat untuk membawa payung jaga-jaga jika hujan turun. Dan jika tidak aku bisa menaruhnya pada lemari sudut kelas.
"Aku juga lupa membawa. Tapi tak masalah, aku akan bermain hujan-hujanan!" Dia berseru pelan, aku mendengus.
Sungguh gadis yang tak takut dengan petir maupun dingin. Sejak kelas 10 aku kenal Rosie dia selalu saja bersemangat saat hujan turun dan bermain hujan. Aku saja terkadang berpikir dua kali untuk ikut bermain hujan bersama Rosie karena aku alergi dengan air hujan dan takut jika petir menyambar.
Dan benar saja, hujan tiba-tiba turun mengalihkan perhatian guru kami yang sedang menjelaskan tentang rumitnya angka-angka tersebut, suara berisiknya air yang membuatku risih setiap kali hujan turun. Aku kembali menoleh ke arah jendela, hujan turun dengan deras. Dan sekarang kami semua terjebak dalam guyuran air diluar sana didalam ruangan yang gelap.
"Asyik, akhirnya hujan turun!" Rosie bertepuk tangan senang, aku mendelik. Takut jika guru mendengar dan memarahi gadis berambut keriting itu, tapi beruntung air hujan yang berjatuhan hingga berisik itu menyamar suara Rosie pada guru matematika.
"Kau tak ingin ikut bermain hujan-hujanan?" Rosie bertanya kepadaku.
Aku menggeleng, "Tidak. Aku tak ingin berakhir sakit nantinya." Rosie tertawa, dia tahu kalau aku alergi dengan air hujan.
Kring....!!
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring hingga terdengar diluar sekolah sana. Sorakan anak-anak dari kelasku hingga kelas sebelah terdengar bersahut-sahutan. Sungguh, ini adalah kebahagiaan mereka saat disekolah. Waktu yang paling ditunggu-tunggu.
Aku dan Rosie mengemasi semua buku dan alat tulis yang menutupi meja kami berdua. Tak lupa memasang jas yang khusus untuk ranselku, sedangkan ransel Rosie memang tahan air.
Aku pernah merengek meminta kepada mama untuk dibelikan tas itu waktu kelas 11, karena tas itu tak perlu repot-repot untuk memasangkan jas hujan.
Akhirnya mama membelikan ku ransel itu dan ternyata aku tak suka dengan modelnya, jadi hingga sekarang aku tak memakai ransel itu.
Beberapa dari teman kelasku sudah menyelonong keluar kelas dan menembus hujan, itulah preman kelas.
Satu persatu teman-temanku keluar kelas tanpa memperdulikan hujan tak peduli dengan seragamnya karena besok seragam sekarang sudah tidak dipakai, mungkin masih sisa 5-6 anak saja yang sibuk memasang jas hujannya.
Diujung pintu kelas sana ada dua pria yang berdiri menghadap ke arahku dan Rosie. Para pacar- pacar kami ternyata sudah datang. Aku dan Rosie berjalan menghampiri dua pria tersebut.
"Kita terjebak hujan, apa kalian ingin menunggu sampai reda?" Aku bertanya kepada mereka bertiga.
"Mau bagaimana lagi? Hujan diluar sangat deras," ucap Saga pacar Rosie seraya menatap hujan deras.
Saga dan Rosie berpacaran sejak kelas 10, waktu itu aku turut membantu Rosie untuk mencari jawaban iya atau tidak untuk Saga. Semalam kami berpikir di kamarku ketika Rosie menginap di rumahku.
"Aku ingin bermain hujan- hujanan," ucap Rosie yang matanya menatap hujan.
"Boleh saja, aku juga ingin bermain hujan!" Pacarnya Rosie itu juga ingin bermain hujan sore ini. Ia berseru.
Dua pasangan pecinta hujan, keduanya sering kali bermain hujan-hujanan, tak peduli jika hujan itu ada petir atau angin kencang, mereka terjang bersama demi tertawa dan kesenangan.
"Baiklah, bub. Mari kita bermain air!" Belum sempat Saga berkata, Rosie sudah menarik tangannya untuk menerjang derasnya air yang turun di sore hari.
Aku menghela nafas melihat dua anak itu yang berlari-lari bagai anak kecil bermain hujan- hujanan.
"Kau tidak membawa payung?" Aku menoleh menatap Tegar, pacarku. Lalu menggeleng.
Sama seperti Rosie dan Saga, kami berpacaran kelas 10. Hanya saja duluan Saga dan Rosie daripada aku dengan Tegar.
"Baiklah. Kita akan menunggu hujan." Tegar menghela nafas, wajahnya datar dan melipat dua tangannya yang mungkin menahan dingin.
Aku menjadi bersalah karena tak membawa payung, andai saja otakku tak lupa, mungkin sekarang aku sudah pulang bersama Tegar. Tau jika Tegar juga tak suka hujan, dia hanya suka senja.
Biasanya pulang sekolah kami akan melihat sunset yang indah, bukan malah hujan deras begini.
"Tegar, apa kau tak ingin bermain hujan-hujanan?" Tanya Saga menghampiriku dengan Tegar di koridor sekolah yang mulai sepi, hanya tersisa beberapa anak saja.
Tegar menggeleng, "Aku tidak ingin bermain air," tolaknya datar.
"Lupakan kata-kata tidak ingin itu, mari nikmati guyuran air yang dingin ini bersamaku!" Saga berseru seraya menarik tangan Tegar untuk diajaknya bermain air.
Tentu saja Tegar terkejut dengan tarikan yang membawa dirinya hingga sedikit basah, begitupun dengan aku, sementara Rosie malah tertawa.
"Sialan kau!" Umpat Tegar seraya memukul kepala Saga keras, pria itu hanya tertawa setelah mendapat pukulan dari Tegar.
Tegar kembali setelah mendaratkan pukulan keras pada kepala Saga, sekarang tubuhnya dingin akibat bajunya yang sedikit basah.
"Astaga, Saga membuatku ingin melempar pot bunga itu pada wajahnya!" Keluh Tegar menghampiriku dengan rambut yang basah acak-acakan lalu seragam yang juga basah dan sedikit memperlihatkan kaos hitam yang Tegar pakai.
"Sini, aku akan memberimu pelukan hangat," ujar ku seraya mengayunkan kedua tangan kepada Tegar seperti ibu yang ingin memeluk anaknya.
Tegar terkekeh lalu menghambur pada pelukanku. Aku mengelus punggung Tegar yang sedikit basah, hampir semua baju Tegar basah karena dorongan dari Saga tadi.
"Aku merasa sedikit lebih baik," ucap Tegar pelan, berbisik pada telingaku.
"Kau tak ingin masuk kelas dulu agar lebih hangat lagi?" Tawar ku, tapi ternyata Tegar menggeleng. Cukup dengan pelukanku saja, Tegar tak mau lepas.
"Senja sore tak akan datang ...." Aku mengangguk. Benar, hujan kali ini membuat senja hilang seketika digantikan oleh mendung.
"Tapi tidak masalah, karena sekarang hatiku dan tubuhku sudah menghangat karena Senja milikku."
Aku terkekeh. Senja. Panggilan Tegar untukku. Panggilan yang Tegar berikan saat pertama kali dia menyatakan perasaannya padaku. Sore itu aku jelas terkejut mendapati Tegar yang tiba-tiba saja ada di belakangku.
Ingatanku kembali pada waktu sore hari itu. Hal yang tak terduga akan terjadi padaku saat sore itu, bahkan aku menganggapnya seperti mimpi yang terasa nyata. Tapi ternyata ini adalah kenyataan, bukan mimpi.
"Mama, Jovi ingin pergi ke sana." Aku menunjuk arah selatan, alias belakang rumah.
"Ini sudah hampir malam, Jovi," peringat mama yang membuatku melengkungkan bibir.
"Sebentar saja ...." Cicitku pelan.
"Jangan lama-lama," ucap mama yang akhirnya pasrah mengizinkan ku.
Aku kembali mencerahkan wajah yang awalnya sudah cemberut kuatir jika mama tak mengizinkan, tapi ternyata aku masih punya kesempatan untuk melihat sore dan menikmati angin.
Aku berlari keluar rumah menuju belakang dengan sedikit berlari. Di belakang sana ada sedikit halaman luas alias tanah kosong yang entah ada pemilik- nya atau tidak aku tak tahu.
Sebelah tanah kosong belakang rumahku ada sebuah lintasan kereta yang tinggi, biasa aku dengar suara berisiknya ketika dia lewat.
Tujuanku pergi pada tanah kosong yang dipenuhi rumput ini untuk melihat kereta yang biasa lewat di perlintasan sini. Terkadang aku juga menikmati angin sore yang sangat lembut menyentuh kulit.
"Mana keretanya?" Monolog ku seraya melipat kedua tangan dengan kepala yang menggeleng kanan kiri mencari kereta lewat.
Saking senangnya dengan kereta yang melintas aku sampai melihat jadwal di aplikasi kereta yang aku download, melihat kapan jadwal kereta itu melintas di rumahku.
Sejak saat itu aku rutin melihat jadwal dan pergi ke belakang rumah, base camp favoritku. Tidak ada yang pernah pergi ke sini selain aku. Sejauh ini hanya aku saja yang mendudukinya.
Deru mesin kereta dari jauh itu terdengar menggelegar, cepat- cepat aku mendekat ke arah lintasan yang tinggi karena ada semen.
Aku menoleh ke kanan dan kiri, ternyata keretanya dari arah kiri setelah aku amati. Kejauhan aku dapat menangkap siluet keretanya berjalan.
Semakin dekat semakin keras suaranya dan kini kereta itu melintas di depanku, aku mendongak menatap atas dengan tersenyum dan melambaikan tangan kepada siapapun yang melihatku di dalam sana. Lalu perlahan kereta itu menjauh, aku melihat gerbong terakhir keretanya.
"Yes! Akhirnya ada satu!" Aku lompat-lompat kecil merasa senang karena bisa menyapa kereta.
Aku harus menunggu satu kereta lagi yang entah kapan lewatnya, baru setelah itu aku akan pulang. Aku kembali menoleh ke arah kanan dan kiri.
Sibuk melihat kereta jika tak sadar ada pria di belakangku. Aku baru menyadari ketika dia menginjak sesuatu yang membuatku menoleh ke arahnya.
Menatap pria itu yang mengigit bibir, aku mengerutkan kening. Pria yang tak asing bagiku, aku membatin. Entah mengapa aku tiba-tiba malu dengan dia karena pasti pria itu melihat acara loncat-loncat ku tadi.
Tapi dengan pria ini sungguh dia sangat tak asing bagiku, aku pernah melihatnya tapi entah dimana. Aku memang sedikit lupa dengan dia.
Semakin dia mendekat aku semakin yakin jika dia ingin menghampiriku. Dan ternyata benar, dia mengajak aku berbicara.
"Kau Jovi bukan?"
Aku mengangguk patah-patah sembari memperhatikan pria di hadapanku.
"Aku Tegar, temanmu waktu kecil," jawabnya yang membuatku terdiam cukup lama.
Tegar? Kurasa nama itu sangat asing. Waktu aku lahir memang aku masih berada di sini hingga umurku menginjak 6 tahun, tapi mama tiba-tiba mengajak aku pindah rumah yang lebih dekat dengan kantornya sewaktu aku memasuki SD. Lalu pada SMP kami pindah pada rumah ini lagi, rumah pertama kali aku tinggal hingga sekarang aku beranjak SMA.
"Kau sepertinya tak ingat, kalau begitu jangan dipaksakan untuk mengingat hal itu lagi." Tegar terkekeh melihat raut wajahku yang kebingungan menatap dirinya yang sangat asing.
"Okey? Tapi ada apa kamu ke sini?" Aku bertanya, jika dia hanya ingin menikmati sore aku persilahkan saja. Siapa tahu kami bisa menjadi teman lagi setelah asing.
"Aku boleh menyatakan sesuatu padamu?" Tegar menatapku sedikit ragu.
Aku mendadak diam kedua kalinya, sesuatu? Apakah itu penting? Pria ini tiba-tiba datang dan ingin mengucapkan sesuatu padaku.
Aku mengangguk, mempersilahkan Tegar untuk menyatakan sesuatu.
Pandangan Tegar menatap ke arah depan, arah sunset dihadapan kami berdua yang terpampang jelas. Aku ikut menatap sunset itu, meskipun biasa saja sembari mendengarkan Tegar berbicara.
"Aku sering melihatmu di sore hari. Ketika aku duduk di balkon kamar sewaktu ini, aku selalu melihat seorang gadis dengan rambut digerai dan dipasang pita putih pada rambutnya. Loncat ketika kereta lewat senangnya bukan main, gadis yang ceria."
Aku tertegun. Mendadak malu karena Tegar diam-diam melihat kelakuanku saat sore hari. Padahal aku dikenal banyak orang jika Jovi ini adalah gadis cantik dan anggun, tapi seseorang yang katanya teman kecilku ini mengetahui tingkah polah ku yang tak ada akhlak.
"Aku memanggilmu dengan gadis senja, sebelum akhirnya aku tahu namamu. Aku menyadari saat kamu satu sekolah denganku. Aku selalu menunggu gadis senja di sore hari yang menunggu sebuah kereta lewat, barulah disitu hatiku merasa hangat kala melihatmu dibawah sana." Semakin kesini, aku semakin tahu arah pembicaraan Tegar ini menuju arah mana aku tahu.
"Hatiku selalu berdenyut ketika kau muncul di sore hari, sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman simpul kala melihatmu. Dan aku sadar jika aku telah mencintaimu ...." Tegar berlirih, menatapku setelah pandangannya menatap arah sunset.
Aku terdiam tak bergerak bagai patung, begitu juga dengan semua anggota tubuhku bagian dalam, mereka seolah-olah berhenti bekerja. Otakku bahkan sampai tak bisa mencerna perkataan Tegar barusan.
"Alasan aku memanggilmu senja adalah, kamu selalu membuatku hangat, kamu selalu ceria seperti senja, kamu indah layaknya senja yang akan tenggelam saat menjelang malam. Aku mengaku jatuh cinta pada dua senja yang selalu aku lihat di waktu bersamaan."
Apa-apaan ini? Aku bahkan belum mencerna perkataan Tegar yang tadi, ini sudah ditambahi dengan perkara dia jatuh cinta padaku. Aku sendiri tak menyangka jika tingkah minus ku berhasil membuat seseorang jatuh cinta. Lalu, sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tak tahu apa-apa.
"K, kau, jatuh cinta kepadaku?" Aku mengulangi apa kata Tegar dengan sedikit grogi.
Dia mengangguk, wajahnya kulihat terkena pantulan sinar dari matahari, "Aku jatuh cinta padamu dan aku ingin menjadikan kau senja dalam hidupku."
Aku mengerutkan kening, "mengapa harus aku?"
Banyak sekali orang diluar sana yang bisa ia jadikan senja, lantas mengapa harus aku?
"Aku jatuh cinta padamu, bukan orang lain."
Aku terdiam. Jadi, aku harus bagaimana? Sungguh aku sangat bingung dengan keadaan sekarang. Ingin menolak juga aku orangnya tak enakan, ingin menerima tapi aku tak kenal dan bahkan tak suka dengan Tegar.
"Kau bisa lihat bukan, sunset sangat indah, seperti dirimu." Tegar menatap sunset yang ada didepan kami berdua sekarang, aku ikut menatapnya. Benar, sunset itu indah, aku terpana melihatnya.
"Untukmu." Aku menatap Tegar yang tiba-tiba memberiku sebuah satu tangkai mawar yang ia petik di dekatnya. Mawar yang tumbuh dengan sendirinya, kadang aku sering merawatnya.
Aku menerima dengan ragu-ragu, "Terimakasih, Tegar." Sedikit menyunggingkan senyum.
Tegar mengangguk dengan sedikit tersenyum, "Aku menjadi sedikit lega setelah menyatakan perasaanku padamu." Terlihat dia sedikit menghela nafas.
"Tegar, tapi maaf. Aku masih belum bisa membalas perasaanmu, kita saja bahkan-"
"Itu tidak masalah, aku akan menunggu. Tapi tolong izinkan aku memanggilmu dengan sebutan senja," pinta Tegar pelan, wajahnya begitu datar namun sangat tenang. Mengapa aku jadi sedikit salah tingkah sendiri melihat wajah Tegar!
Aku mengangguk, secepatnya aku akan membuat keputusan untuk pria yang mencintaiku ini.
Itulah sebabnya Tegar memanggilku dengan sebutan Senja, pertemuan pertama kita memang tak bisa ditebak. Dia tiba-tiba saja menyatakan perasaannya kepadaku.
Saat malam telah tiba dan aku pulang dengan membawa setangkai mawar yang dipetik Tegar tadi. Mama melihatku membawa mawar itu terkejut dan marah, takut jika itu adalah mawar milik tetangga sebelah yang gila bunga lalu aku mencabutnya.
Waktu itu aku menyembunyikan masalahku tentang Tegar yang sore hari itu pada mama dan meminta pertolongan pada Kak Ricky alias kakakku. Dan berakhir kakakku itu cepu kepada mama, aku menangis satu hari satu malam.
"Hujan sedikit reda, aku masih nyaman berada di pelukanmu, Senja."
Aku menoleh, ternyata Karang begitu nyaman pada pelukan yang aku berikan.
Ngomong- ngomong nama Karang aku berikan kepada Tegar, entah mengapa saat itu hanya nama karang yang terlintas pada otakku.
Tegar setuju-setuju saja jika aku panggil Karang, asalkan jangan sayang. Dia benci panggilan seperti itu, katanya alay.
"Kau tidak ingin pulang? Aku sudah bosen. Hujan juga mulai reda." Aku menatap Tegar setelah melepaskan pelukannya.
"Ini masih gerimis, Jovi. Aku tak ingin kau terkena percikan air itu sedikitpun." Tegar mendekap ku.
Aku menghela nafas lesu, "Tapi aku bosan ...."
"Wah apa-apaan ini kalian malah mesra-mesraan!"
Aku sontak menoleh dan menatap Rosie tiba-tiba menghampiriku setelah memutari sekolah untuk bermain hujan-hujanan.
"Mari kita pulang." Saga mengambil ransel yang tergeletak di koridor sejak tadi.
Maksudnya pulang ke rumah Tegar, rumah kedua Saga. Sama seperti Rosie yang menganggap rumah keduanya itu adalah rumahku.
"Ini masih gerimis." Tegar berdecak setelah melepaskan dekapanku.
"Kau saja yang lebay," ejek Rosie menatap Tegar datar.
Tegar menatap Rosie, "Bukan aku yang lebay, kau lupa jika Jovi sensitif dengan air hujan?" Dia sedikit menaikkan satu nadanya.
"Aku tidak apa-apa, mari kita pulang saja. Saga dan Rosie butuh ganti." Aku melerai perdebatan mereka berdua. Aku tak se-lemah itu yang kena satu titik air hujan saja langsung sakit.
"Tunggu." Tegar mengambil seragam putihnya yang berada di ransel dan melepas seragam miliknya yang basah hingga menyisakan kaos hitam yang dia bawa.
Aku tebak seragam itu milik Tegar waktu kelas 10 yang mendekam lama di lemari Saga. Pria yang gila meminjam baju milik orang lain.
"Pakai ini, maafkan aku karena tak membawa jaket." Pria itu memberiku seragamnya untuk dijadikan jaket. Aku menerima, menempelkan pada tubuhku.
Kami berempat keluar dari koridor menuju parkiran belakang karena Tegar membawa sepeda dan itu adalah jalan alternatif kami jika pulang lewat parkiran belakang.
Kami menyebrang jalanan yang nampak satu dua pengendara lewat hingga akhirnya masuk pada komplek perumahan tempat tinggal ku dengan Tegar, memang sedekat itu jarak rumah dan sekolah hanya tinggal menyeberang saja.
Tegar menuntun sepeda biru muda yang biasa ia pakai bersamaku saat ingin keluar. Sepeda biru muda itu milik ibu Tegar yang dulu memang sering dipakai oleh sang empu.
Sepeda ini juga memiliki model seperti sepeda jaman dahulu. Terkadang aku bersama Tegar sering mengelilingi komplek dengan sepeda biru muda itu atau juga date dadakan.
"Kau tak ada niatan untuk membonceng diriku?" Tanya Saga mendekat ke arah Tegar yang menuntun sepeda biru itu.
Tegar menggeleng pelan, "Yang boleh menduduki boncengan ini hanya Jovi," peringkatnya. Saga terkekeh, tak memperdulikan lagi tentang Tegar.
"Jovi, aku ingin request meminjam baju mu yang oversize," ucap Rosie padaku.
"Kau sudah aku pinjami masih request." Aku mendengus pelan.
"Aku ingin couple dengan Saga nantinya, pasti dia juga pakai oversize." Mata Rosie berbinar- binar.
"Aku tak ikut tanggung jawab jika Saga memakai sweater." Aku berpeace pada Rosie.
"Bub, kau janji padaku untuk meminjam baju Tegar yang oversize!" Pinta Rosie kepada pacarnya itu.
"Kau ini tak tahu diri, aku tak ingin meminjami baju untuk bubub kesayanganmu itu." Tegar menyahut tiba-tiba.
Sebenarnya dia malas jika Saga meminjam bajunya karena hampir setengah baju Tegar berada di lemari Saga
Saking seringnya baju Tegar itu terpakai oleh Saga, membuat Tegar muak meminjami baju untuk teman tak tahu dirinya itu.
"Aku janji, semua baju Tegar aku rampas!" Saga tertawa jahat.
"Aku tak sudi meminjami baju untuk orang tak tahu diri," ucap Tegar datar.
"Kau juga tak tahu diri!" Saga berdecak.
Obrolan tentang baju itu terus berlanjut hingga akhirnya aku dan Rosie harus berpisah pada pacar-pacar kita. Tegar dan Saga berbelok, sementara aku dan Rosie masih lurus jarak dua rumah lagi itu rumahku.
Sampai pada rumahku aku membuka pagar dan melihat jika mobil mama sudah terparkir rapi, mama sudah pulang.
"Jovi, saking sayangnya kau pada Tegar hingga kau lupa untuk mengembalikan seragamnya." Rosie terkekeh, aku seketika baru menyadari jika seragam Tegar masih lengket di tubuhku.
Tak apa, sekalian aku ingin mencucinya dan mengembalikan besok.
"Kau tunggu sini sebentar, aku ingin mengambilkan handuk." Rosie mengangguk patuh.
Aku beralih masuk kedalam rumah, menaruh ransel dan seragam Tegar pada sofa depan lalu mengambilkan Rosie handuk. Kembali dengan handuk putih di tanganku.
"Terimakasih," ucap Rosie seraya menerima handuk itu dan mulai mengusap tubuhnya yang basah hingga sedikit kering.
Aku dan Rosie masuk lalu mengacir pada kamarku untuk melakukan ritual mandi, aku membiarkan Rosie memakai kamar mandi dalam kamarku dan aku memakai kamar mandi di lantai dua.
*****
Mobil sedan putih terparkir didepan rumah Tegar, seorang dengan pakaian hitam itu keluar dari mobilnya lalu mengetuk pagar rumah Tegar yang tertutup. Beberapa saat dua remaja keluar dengan rambut yang basah dan handuk yang masih melingkar.
Tegar sang pemilik rumah pun membukanya, sementara itu Saga berdiri didepan pintu. Ternyata yang datang adalah sopir Saga.
"Saga, sopir mu sudah datang," ucap Tegar membuka gerbangnya.
Pria itu sedikit melebarkan matanya lalu melihat arah depan, "Baiklah, Pak. Tunggu sebentar."
Saga berlari masuk kedalam rumah Tegar dan menyelonong ke kamar Tegar untuk mengambil ransel dan baju kotornya itu, tak lupa dia menelfon Rosie untuk mengajaknya pulang bareng.
Tegar berada dibawah untuk menemani sopir itu hingga Saga keluar dengan membawa barang bawaannya.
"Aku sedang menunggu Rosie yang akan ikut denganku," ucap Saga mendekat ke arah Tegar.
Tak lama kemudian dua gadis datang dengan membawa payung, padahal hujan sudah reda. Aku dan Rosie beralih masuk ke halaman rumah Tegar yang sudah ada sopir Saga di sana.
"Kami pulang dulu," pamit Saga pada dua kawan-kawannya itu.
"Hati-hati," ucap Tegar singkat.
"Terimakasih untuk bajunya, Jovi. Akhirnya aku memakai baju couple bersama dengan Saga." Rosie memeluk dirinya setelah aku pinjami baju oversize milikku warna hijau, sementara Saga terlihat memakai baju oversize warna oranye.
"Kau couple milik orang lain," ujar Tegar yang benar-benar pasrah meminjami temannya baju untuk kesekian kalinya.
"Yang penting couple." Saga terkekeh.
"Baiklah aku dan Rosie pulang dulu!" Saga berseru, melambaikan tangan dan mulai membuka pintu mobil setelah sopir Saga menyalakan mesin.
"Jovi, aku pamit pulang dulu!" Rosie melambaikan tangannya kepadaku, aku membalasnya.
"Kalian hati-hati," ucapku yang di angguki mereka berdua sebelum akhirnya mobil itu berjalan meninggalkan pekarangan rumah Tegar.
Aku menghela nafas melihat mobil Sedan itu pergi. Menutup payung yang tadi aku bawa, hujan tak lagi datang hanya saja mendung masih setia menempel di awan.
"Kau ingin masuk terlebih dahulu?" Tawar Tegar padaku dan aku menggeleng.
"Tegar, maaf aku belum mengembalikan seragam mu, karena tadi aku terlanjur mencucinya."
Tegar menggeleng, "Tidak masalah. Terimakasih." Aku mengangguk. Mendadak aku mati topik dengan Tegar.
"Kau merindukan senja?" Dia bertanya tiba-tiba, aku menoleh.
"Sedikit," ucapku pelan.
"Aku merindukan senja yang terpampang indah di langit, sayang sekali aku tak bisa melihatnya hari ini." Tegar menghela nafas, lesu sekali wajahnya tak ada senja sore ini.
"Tapi tak apa, aku masih bisa melihat senja yang indah ketika dia tak bisa memunculkan dirinya." Wajahnya kembali tersenyum lagi.
Aku terkekeh, "Sayang sekali aku tak bisa melihatnya."
Tegar mengangkat satu alisnya, "Kau bisa melihatnya dengan mengaca. Lalu kau akan nampak senja yang sangat indah."
Aku tertawa. Tegar memang bisa membuatku tersenyum dengan kata-kata sederhananya.
Tegar menggandeng tanganku untuk diajaknya melihat langit setelah hujan di samping rumah Tegar. Tanah kosong rerumputan itu, tempat pertama kali kita bertemu.
Tak ada senja hari ini, tak ada sinar oranye merah yang membuatku jatuh cinta dan ingin menatapnya lebih lama. Semua tertutup oleh aura mendung.
"Senja memang membuatku rindu." Aku menghela nafas, sedikit memeluk tubuhku karena cuacanya yang dingin. Menatap hampa langit tanpa adanya sunset, sama sekali bukan apa-apa.
"Mungkin hari ini kita belum bisa menikmati senja, tapi hari-hari kedepannya senja akan datang membawa kecerahan yang sangat indah. Percaya padaku."
Tegar mengambil tanganku, lalu memegangnya, mengelus pelan. Aku sedikit tersenyum dan menatap Tegar.
"Senja, meskipun dia pergi tapi dia tak akan mengingkari janjinya."