Kamu, Aku, kita semua sama-sama merindukan ibu, Geulis!
Namaku Siti Hanida, Aku biasa dipanggil dengan Nida. Aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak, laki-laki dan perempuan yang berusia lima tahun dan sembilan tahun.
Aku anak sulung dari tiga bersaudara, dua adikku semuanya perempuan, namanya adalah Resti dan Geulis.
Resti sudah berkeluarga, dia menikah dengan pria yang jadi teman semasa sekolahnya, dikaruniai satu orang buah hati berjenis kelamin Laki-laki dan tinggal dirumahnya sendiri.
Hanya Geulis adikku yang masih tinggal satu rumah dengan ku, karena dia belum menikah. Nama adik bungsu ku ini sebenernya adalah Laela Majnun tapi sejak dia lahir duapuluh tiga tahun lalu, ayah dan ibu memanggilnya dengan panggilan Geulis yang dalam bahasa sunda artinya cantik. Dulu lagi kecil, Geulis ini suka protes karena tak suka di panggil Geulis, katanya dia sering diledek sama temen-temennya, namanya Laela kok dipanggil Geulis, tapi sekarang Geulis sudah dewasa, dia tak protes lagi kalo sampe sekarang di keluarga besar lebih menyukai memanggil Geulis daripada Laela Majnun. aku rasa panggilan itu memang cocok untuknya, adikku memang cantik, Lebih cantik daripada aku dan Resti. Kecantikan Geulis turunan dari ibu, melihat Geulis seperti melihat sosok ibu yang sudah tiada.
"Cinta,lemari sama ranjang nya dikeluarkan dulu ya, basah semua ini karena bocor, kamar harus dibereskan" Suara Mas Ade memutuskan lamunan ku.
Mas Ade adalah suami ku, sudah sepuluh tahun kami hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan panggilan mas Ade ke Aku masih belum berubah, Cinta! Mas Ade memanggil ku dengan panggilan khas nya dengan Cinta.
"Rusak kah, lemari sama ranjang nya, Mas? kalo engga rusak biarkanlah di kamar gimana, mas?"
"Rusak ini Cinta, yang lemari jebol malah belakangnya, nanti diperbaiki kalo udah beres di masukkan lagi."
"Oh gitu, yaudah baiknya mas Ade aja, yang penting begitu besok Geulis pulang nih kamar udah beres seperti semula."
"Siap Cintaa, beres laksanakan! Percayakan semuanya sama mas Ade." Mas Ade berseloroh mengedipkan sebelah matanya.
Melihat keisengan mas Ade aku hanya terkekeh geleng-geleng kepala.
"Eh iya Cinta!" Panggil mas Ade lagi keluar dari kamar sembari membawa sesuatu ditangannya.
"Iya kenapa mas?" Tanyaku memperhatikan yang ada ditangan mas Ade yang rasanya aku kenal.
"Ini daster ibu kan, cin?"
"Iya mas, kok jadi kayak gitu? Ini daster kesayangan Geulis loh mas!"
"Maaf cin, tadi lagi mas beli semen, tukang yang beres-beres butuh lap, ini kan basah dikiranya lap, jadi disobek-sobek buat lap." Mas Ade berbicara pelan, Aku meringis.
"Aku bingung mas, mau marah atau tertawa, ini daster ibu yang biasa Geulis pake dari kebesaran sampe kekecilan, daster yang Geulis anggap kalo memakai nya seperti di peluk ibu."
Mas Ade hanya menatap ku dengan perasaan bersalah. aku membuang nafasku pelan.
"Yaudah mas, nanti aku yang ngomong sama Geulis kalo dia nanyain tuh daster."
"Maafkanlah mas Ade yaa Cin."
Mas Ade mengecup keningku sekilas sebelum kembali masuk ke kamar yang sedang diperbaiki itu.
Aku sedang ada di rumah orangtuanya mas Ade saat itu, karena hujan terus menerus mengakibatkan ada batang pohon di samping kamar patah dan jatuh di atap kamar ibu, mungkin batang pohon itu jatuh sangat keras karena genteng nya pecah yang mengakibatkan air hujan masuk membasahi lemari , ranjang dan lantai kamar ibu pastinya. Tiga hari aku dirumah orangtuanya mas Ade dan hujan tak berhenti, bisa dibayangkan bagaimana keadaan kamar ibu yang atapnya bocor karena patahan batang pohon mangga itu.
Keesokan harinya, sudah kebiasaan Geulis setiap hari kamis dan sabtu sore akan pulang, karena perputaran ditempat kerjanya memang Geulis harus kost. Siang Geulis mengirim pesan kalo sore itu tak jadi pulang karena hujan gede di kota tempat nya kost, hujan turun lumayan deras saat Geulis datang dengan motornya.
"Katanya tak pulang Lis, ini hujan-hujanan pulang?" Tanyaku sembari membantu Geulis melepas jas hujannya.
"Iya pengen pulang, kangen tidur di kamar ibu." Jawab Geulis pelan, berlalu masuk dari pintu belakang setelah melepas sepatunya.
Aku membiarkan Geulis membersihkan tubuhnya, sambil menunggu aku membuatkan adikku itu air jeruk hangat kesukaan nya.
Beberapa saat kemudian...
"Mbak Nida kok kamar ibu? Mana lemarinya, mana ranjangnya, kenapa jadi gini?"
"Kamar ibu kebocoran lis, waktu mbai Nida ke rumah mertua mbak, ujan gede, ada batang gede pohon mangga sebelah jatuh di genteng atap kamar ibu, bocor besar, kamar ibu banjir, basah semua. Jadi kemarin dibereskan lis."
"Kenapa tak ngomong sih? terus lemarinya mana?"
"Lemarinya di taruh di gudang sementara, karena kayunya lapuk dan belum di beresi."
Aku menghela nafasku, melihat Geulis mengabaikan ucapanku berlalu pergi, aku sudah menebak kemana dia pergi.
"Daster ibu mana? daster yang ada diatas meja itu mbak, ada dilemari kan?"
"Mbak cuci dasternya masih basah dijemuran." Aku bergumam membiarkan geulis menuju tempat jemuran.
"Mbak Nida tega, kenapa daster ibu jadi seperti ini!" Geulis berdiri di depanku melempar daster yang udah disobek-sobek itu diatas meja. Aku melihat air mata Geulis memenuhi matanya, sebegitu berarti nya kah daster ibu?
"Duduklah, mbak Nida jelasin semuanya ya."
"Males ahh, kesel!"
Brakk
Geulis meninggalkan ku, masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Sebelumnya geulis belum pernah seperti itu dan ini pertama kalinya.
Hatiku rasanya nyeri melihat nya, bukan aku marah sama geulis tapi hatiku nyeri karena melihat geulis menangis, aku merasa gagal membahagiakan Geulis, padahal aku sudah berjanji pada ayah dan ibu sebagai anak sulung aku akan menjaga adik-adikku, membahagiakan mereka terutama Geulis, adik kesayangan ku.
Aku tak bisa melihat Geulis sedih seperti itu, sesorean itu Geulis mengunci dirinya dikamar, aku ingat Geulis belum berbuka puasa juga.
Aku ketuk pintu kamarnya, aku panggil namanya dia mengabaikan ku, rasanya aku ingin menangis, mas Ade yang melihat ku terus mengusap punggung ku menenangkan.
"Coba telefon Resti, mungkin dia masih menyimpan barang-barang peninggalan ibu, bukankah saat ibu tiada kalian juga menyimpan satu satu barang yang di pakai almarhumah ibu, sebelum di bagi ke yang mau?" Ujar mas Ade lembut.
Ahh iya benar juga yang mas Ade omongin, aku bersyukur punya suami seperti mas Ade yang selalu memahami keadaan keluarga ku, mas Ade juga sangat menyayangi geulis, dibandingkan dengan ku Geulis lebih terbuka dengan mas Ade.
Malam itu juga aku menghubungi Resti, kenapa aku bisa melupakan adikku yang satu itu. Begitu panggilan tersambung aku langsung menceritakan semuanya.
"𝘈𝘥𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘮𝘣𝘢𝘬, 𝘫𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘣𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳. "
"𝘐𝘺𝘢 𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘙𝘦𝘴, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘣𝘶, 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘈𝘥𝘪𝘵 𝘢𝘯𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘩, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴 𝘈𝘥𝘦 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭? "
" 𝘮𝘢𝘴 𝘈𝘥𝘪𝘵𝘺𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳, 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘣𝘢𝘬. "
"𝘠𝘢𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘴 𝘈𝘥𝘦 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢. "
"𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨,𝘮𝘣𝘢𝘬! "
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯, 𝘙𝘦𝘴! "
"𝘉𝘪𝘴𝘮𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘣𝘢𝘬, 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘥𝘪𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘣𝘶 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. "
"𝘖𝘬𝘦, 𝘏𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘙𝘦𝘴. "
Setelah memutuskan panggilan ku dengan Resti, mas Ade mengajakku duduk menunggu kedatangan Resti.
"Anak-anak sudah tidur kah, mas?" Tanyaku yang baru mengingat keberadaan kedua buah hatiku dengan mas Ade.
"Alhamdulillah udah tidur baru saja tadi mas tengok."
"Alhamdulillah Syukurlah."
Satu jam menunggu, akhirnya Resti pun datang sendirian, Aku langsung merangkul adik pertamaku itu.
"Terimakasih Res, jauh-jauh, malem juga udah kesini." Ujar ku lirih.
"Jangan berterima kasih gitu mbak, kita ini saudara kan? Ini jariknya."
"Ayo kita panggil Geulis."
Aku membawa Resti ke kamar Geulis membawa jarik dari Resti. Ku ketuk pintu kamar Geulis pelan dan teratur.
"Geulis buka pintunya, mbak Nida mau ngomong, tolong lis sebentar, kamu belum ada makan apapun, buka dulu pintunya, makan, shaum kan? telat makan nanti maag kamu kambuh, jangan bikin mbak sedih lis."
Aku baru selesai ngomong begitu pintu terbuka lebar, geulis berdiri dengan berurai air mata.
"Mbak Nida minta maaf soal daster ibu yang disobek-sobek itu, waktu ada tukang beresin kamar kemaren dikira kain tak terpakai, mas Ade yang tau ini udah disobek-sobek, mbak dan mas Ade minta maaf soal itu."
"Sebagai ganti daster ibu yang rusak, Resti ganti samaa jarik, tak apa yaa lis, ini jarik ibu juga, ciumlah, ini bau khas ibu kan? tolong jangan marah sama mbak lagi lis, mbak sedih kalo geulis diemin mbak gitu."
Tenggorokan ku rasanya tersekat karena menahan tangis, melihat Geulis menciumi jarik milik ibu. tiba-tiba Geulis menubruk ku, menangis.
"Maafin aku mbak, maafin kalo aku kekanakan, aku hanya kangen ibu. di kostan karena capek aku tidur begitu pulas tanpa memimpikan ibu, aku ingin ketemu ibu walaupun dalam mimpi, cuma daster itu kenang-kenangan dari ibu."
Aku tak tahan lagi, akupun menangis memeluk erat Geulis, aku ciumi kepalanya, adikku sayang yang telah dewasa. Di sudut lain aku melihat Resti sudah sesenggukan menutup wajahnya, mas Ade terdiam menunduk melihat pemandangan melankolis Aku dan Geulis.
"Kamu, Mbak Nida, Resti, Mas Ade semua merindukannya lis, percayalah... kita semua merindukan ibu." Aku berbisik masih terus memeluk Geulis.
Terkadang sebagai anak sulung Aku harus selalu terlihat kuat, padahal hatiku juga rapuh, mungkin aku terlalu keras dengan Geulis tapi yang aku lakukan demi kebaikkannya. Aku sudah berjanji pada ibu, aku akan menjadi sosok pengganti nya yang udah tiada untuk adik-adik ku.
Alfatihah teruntuk ibu
Cirebon, 15 February 2024