Semilir angin berhembus menemani sejuk dan dinginnya suhu udara fajar itu. Langit masihlah gelap, karna mentari masih pula malu menampakkan dirinya.
Kanin telah bersiap, dengan dandanan seragam rapi ia segera berangkat sekolah. Padahal kabut masih tebal, bahkan udaranya juga terasa menusuk tulang.
Dengan santai Kinan berjalan pelan menikmati pagi yang indah menurut nya. Banyak ibu-ibu rumahan yang berlalu lalang untuk sekedar berjalan-jalan atau membeli bahan makanan di perempatan gang.
"Eh Kanin pagi-pagi udah berangkat aja." Kanin mengenalnya, biasanya ia memanggilnya buk Ning. Orang ramah yang biasanya menyapa nya.
"Iya buk Ning, Kanin berangkat dulu ya." buk Ning menyambut senyuman hangat Kanin dengan lambaian juga senyuman yang juga sama hangatnya.
"Hati-hati Kanin!" Kanin tak berbalik hanya mengacungkan jempolnya keatas hingga buk Ning geleng-geleng kepala.
Tak sopan memang, tapi itulah Kanin dan segala tingkah ajaibnya yang dikenal banyak orang.
Kanin mengambil jalan setapak diujung kompeks yang jarang di lalui oleh orang-orang, yang dulunya menjadi tempatnya bermain dari ia dilahirkan didunia ini. Terbentang lima meter jauhnya ada sebuah rawa yang dulunya menjadi tempat ia berenang bersama teman-teman seperantaranya.
Kanin berhenti sejenak menatap rawa dengan lamat, ia merogoh tas ranselnya hingga tangannya mendapati kamera mini peninggalan kakaknya.
Ckreekk...
Memang bukan photographer yang handal tapi memotret 2 tahun belakangan ini adalah hobinya. Meski amatir Kanin yakin hasil jepretannya akan menjadi kenangan tak terlupakan. Melangkah ia kembali menyusuri jalanan itu hingga sampai ke depan gang dan melambai pada jalanan yang diujung belokan terlihat angkutan umum.
"SMA Abdi, mas."
.o0o.
Tak butuh waktu lama sampai pada sekolah. Sebenarnya Kanin terbiasa berjalan kaki bahkan selama 2 tahun ia bersekolah ia tidak pernah berangkat dengan Angkot. Dulu sering diantar oleh kakaknya namun setelah kakaknya tiada mau tak mau ia haru jalan kaki.
Dekat benar-benar dekat Kanin naik angkot dua menit sampai. Hanya saja untuk kali ini Kanin ingin berbeda dari biasanya. Dan ya gerbang sekolah masih tertutup meski telah ada pembersih kebun namun masih sangat sepi bahkan satpam yang berjaga saja belum datang.
Langit mulai terlihat terang. Melihat spot foto indah Kanin kembali mengeluarkan kameranya dan memotret gedung sekolahnya paling tinggi dengan fasilitas balkon meski cukup tak terawat.
Cukup disana Kanin melangkah menuju kelas. Membuka gorden jendela dan menatanya rapi, menyambar sapu yang tergeletak disudut kelas dan mulai membersihkan kelas mulai dari menyapu mengepel dan membersihkan debu.
"Assalamu'alikum, eh Kanin tumben berangkat pagi. Emang kamu piket ngapain dibersihin." Erlangga selaku ketua kelas yang memang terkenal disiplin dan biasanya memang dialah siswa kelas ini yang selalu pertama ada dikelas.
"Gapapasih gabut aja." jujur Kanin yang masih fokus dengan kegiatan menyapunya.
"Mending gak usah Nin, nanti anak-anak malah males piket." ujar Erlangga yang memang benar adanya. Terkadang Erlangga harus menyeret mereka apalagi para lelaki yang malas membuang tempat sampah ke tempat pembuangan sekolah.
"Yaudah sih udah terlanjur juga." jawab Kanin singkat menyelesaikan pekerjaannya.
"Nin.."
"Hm, ya kenapa?"
"Kamu baik-baik aja kan?"
"Loh emang aku kenapa?"
"Gapapa beda aja..."
"Ohayoooo masse mbak ee.... Aaaa Kanin udah dateng aja nih." Araya melompat kepelukan Kanin, berputar-putar seperti teletabis ketika bertemu. Memang ada-ada saja tingkah laku Araya ini.
Araya tiba-tiba melesu dan memelas hingga membuat Kanin nyaris panik. Ekspresi Kanin benar-benar mampu dikatakan menggambarkan beruntun pertanyaan.
"Gojo jadi kikooo... Huaaaaa gara-gara sukuna gojo jadi duaa huaaaa Kinan." Araya merengek sedangkan Kanin meringis ingin mengumpat dalam hat.
Erlangga tiba-tiba bangkit dari duduknya bejalan melewati kedua gadis itu "Jangan pernah berpikir bodoh Nin." tuturnya sekilas berlalu menunggalkan banyak pertanyaan pada dua orang itu.
Kinan tertegun, merasa seolah hatinya tertimpa oleh batu besar. Sedangkan Araya melongo menatap Erlangga dan Kinan secara bergantian.
"Udah ku dungong... Angga tuh suka sama kamu." bisik Araya heboh meramal bak roy kiyosi. Kinan memggeleng lemah.
"Nggak Erlan cuma sahabat kecilku." hanya sahabat tak lebih. Tapi...
"Oh ya aku lupa... tumben banget kamu berangkat pagi." celetuk Araya merengsek pada Kanin dengan wajah yang penasaran.
"Gapapa pengen aja."
"Kamu gak papa kan? Mukamu keliatan pucat loh Nin." sergah Araya yang seakan ingin lebih tau kedalam dalam.
Kanin hanya menggeleng dan tersenyum pada Araya. "Kalo aku gak sehat, aku gak akan disini Ray."
.o0o.
Sepoi-sepoi angin berhembus kaki Kanin bergelantungan dibalkon duduk diatas pembatas dengan kamera yang menangkap ribuan potret disana. Bel pulang berdentang waktunya untuk pulang.
Jam terakhir Kanin telah berencana membolos dan ini lah hasilnya. Ribuan
Poto polaroid berserakan di lantai dengan tasnya yang tergeletak begitu saja. Kanin meletakkan kameranya dengan hati-hati. Mengambil polpen juga selembar kertas.
Hari ini terakhir.
Itulah yang sekiranya tertulis di sana, tangannya dengan lihai melipatnya menjadi sebuah pesawat kertas yang siap landas.
Brakk!
"Kanin turun jangan main-main!" Suara Erlangga tiba. Kanin menoleh kebelakang mendapati seorang guru juga Erlangga yang berdiri diambang pintu dan menatapnya.
Kanin terkekeh kecil melandaskan pesawat kecil itu kemudian ikut terjun kebawah.
"NGGAKK KANIN!!!"
.o0o.
Dua jam terlewat setelah pemakaman Kanin. Suara tangisan dari bu Nara, ibu dari Kanin, masih belum mereda. Isakan kecil yang serak menandakan betapa lamanya air itu luruh dari matanya.
Sembari mendekap kemeja putih Kanin yang bernoda darah bu Nara meringkuk diatas ranjang Kanin. Tersedu-sedu mencoba memaksakan kesadaran dirinya.
Melihat hal itu Erlangga yang telah berada dikamar Kanin memandang bu Nara tak tega. Mata Erlangga memutar meneliti seluruh tata letak kamar Kanin.
Masih sama. Masih sama seperti 5 tahun terakhir ia berkunjung. Hanya saja mulai dari jendela plafon dan tembok tertempel pesawat kertas origami yang sering dimainkan Kanin bersamanya.
Dulu masihlah sedikit. tidak seramai ini bahkan dikaca jendela tertempel ratusan sticky notes hingga tampilan luar tidak terlihat sama sekali. Erlangga tidak menyangka bahwa Kanin meninggalkan jejak tulisan sebanyak ini. Dan kini tugasnya hanya memecah permasalahan motif Kinan membunuh dirinya sendiri.
"Ngga, kamu sudah selesai?" pak Bandi selaku ayah Kinan menepuk pundak Elangga yang melamun. Erlangga sedikit kaget namun ia menoleh dengan sungkan menatap pak Bandi.
Pak Bandi menatap bu Nara. Berjalan kearah bu Nara dan memapah bu Nara berjalan keluar kamar. Tanpa babibu
Erlangga langsung membaca sticky note di jendela. Banyak keluhan dan cerita dari sana hinga Erlangga mencari kardus bekas dan segera mencabuti seluruh kertas yang tertempel, tergantung, tergeletak dikamar Kanin.
Erlangga juga mengamankan buku-buku diary milik Kanin, beberapa album polaroid. Erlangga mengangkat kardus yang telah diisi oleh barang-barang Kanin.
.o0o.
Dear Dairy...
Hai aku Kanin. Lesmana Anggun Wijaya Kanin. Namaku bagus ya, tapi nggak sama anaknya. Aku adalah anak jurig, tengil dan imut 'item kumut kumut'. Kata kakak aku adalah mahluk terimut. Jadi aku pede aja kalo dikatain imut. Padahal kayak comberan.
Aku punya temen kecil namanya Sebastian Erlangga. Erlan ganteng banget deh, dari kecil dia sering sikerumunin sama anak-anak lain, sementara aku yang kayak comberan ini nyimak. Erlan adalah satu-satunya orang yang kuajak keduniaku. Dunia ajaib yang penuh suka duka ku selama menjadi seorang Kanin.
Ini lah duniaku...
Welcome to word of Kanin...
Aku adalah seorang gadis dari pasangan Kinara dan Bandi Utomo. Adik dari Kelabu Anggara. Aku punya sahabat yakni Sebastian Erlangga. Waktu berjalan dengan indah kala semuanya masih utuh dan damai. Tapi...
Aku mulai kehilangan mereka satu persatu...
2018 menjadi saksi sahabat terbaikku pergi kesekolah luar kota tanpa pamit tanpa salam perpisahan. Hancur? tentu! Aku kehilangan seseorang yang pernah berjanji untuk kemanapun bersamaku.
Erlan dan aku telah menjadi sahabat sejak kami lahir. 12 tahun tumbuh bersama, bermimpi bersama, dan kemana saja bersama. Sampai suatu ketika aku mendapat kabar dari ibu bahwa Erlan pindah keluar kota dan bersekolah disana, membuat hatiku kian hancur.
Tidak sepenting itukah aku bagimu Erlan? Nyatanya aku sebodoh itu mengharapkan kabar darimu, rindu darimu. Yang nyatanya kudengar bahwa kamu memiliki kekasih disana.
Aku bangkit dari keterpurukan itu berkat kakak. Kakak mengerti bahwa aku mencintai sahabatku sendiri, namun sungguh aku juga baru menyadari kala kakak memberitahuku.
Kakak mulai mengajakku kedunianya. Dunia sense of beauty dengan karya indah nan abstrak tercipta dibali wajah tampan itu. Mulai mengenalkan ku dengan keindahan dunia dalam sebuah potret dan lukisan. Sebuah hal yang mengalihkanku sementara dari pesawat kertas. Origami kecil yang terbuat dari kenangan aku dan Erlan.
Namun...
Kehidupan damaiku kembali terporak porandakan. Perdebatan sering muncul dirumah, hingga kini rumah jarang tenang. Berisik. Kakak akhirnya terseret dalam drama pelik rumah ini. Kakak yang semula tak pernah mambangkang kini jarang dirumah dan mengejar dunianya.
Meninggalkan diriku sendirian...
Lagi, aku kehilangan seseorang...
Ayah jarang pulang, ibu tiada hari tanpa marah. Kakak bahkan pernah berkabar. Aku benci ini. Kalian kemana? Tidak kah kalian peduli dengan gadis kecil yang terpuruk ini?
Keterpurukanku menjadi-jadi kala terdengar kabar kematian kakak ku. Sekarang tak ada lagi seseorang yang kubuat sandaran. Rumah berantakan, ibu dan ayah tak pernah akur. Setiap pagi dilanda keberisikan.
Aku yang disini. Dituntut sebegitu rupa. Menjadi mandiri serba bisa, tak pernah dalam sehari aku pernah tidur nyenyak. Tak ada lagi makan bersama, kecupan hangat, dan pelukan erat. Tak sekali aku memeluk hampa ketika aku mendengar suara bentakan dan bantingan.
Aku sendirian disini disisi kamar menyaksikan hal kelam yang terus menimpaku. Dibawah tekanan ibu dengan perebutan antara ibu dan ayah. Aku tidak boleh bergantung pada mereka. Aku tidak boleh membangkang. Aku harus tetap menjadi Kinan yang sempurna dimata orang lain.
Sampai aku menemukan buku harian kakak dengan keluh kesahnya selama ini. Usahanya membuat orang tua kami percaya kepadanya. Hari itu menjadi titik balik dimana aku melakukan pemberontakan hingga tak dapat terhindar oleh serangan fisik maupun mental dari orang tuaku.
Sekolahku hancur nilaiku menurun ibuku tiap hari mengamuk ayah ku tak pernah ada dirumah. Yang kusebut rumah telah hancur. Makian dan cacian aku terima dari kedua orang itu.
Tiba-tiba, Erlan datang kembali.
Menatapku sebagai orang asing. Memang apa yang bisa diharapkan dariku aku telah hancur. 2 tahun setelah kematian kakakku hidupku bagaikan neraka. Tubuhku mengidap Anemia.
Hari semakin kehari tidak ada perubahan, malah semakin menjadi-jadi. Erlan kini tak lagi bersama ku, tak lagi melindungiku, tak lagi menjadi sandaran ku. Dia kembali dengan sifat yang sangat berbeda.
Namun beberapa hari ini Erlan berbeda. Ia seakan ingin menyentuh ku. Tetap tak bisa. Tembok ku sudah terlalu kokoh dan tebal. Mau seberapa keras ia masuk kedalam hidupku sudah tak berarti lagi. Sebentar lagi aku akan pergi menyusul kakak dengan sendirinya.
Aku ingin tahu bisakan aku membuat mereka menyesali perbuatan mereka? Dengan kematianku apakah mereka akan menangis menelantarkan diriku? Kumohon itu iya biar saja aku jahat mengharap mereka berada dalam lubang penyesalan yang dalam.
Lihat Erlan kamu tak lagi mengenal Kanin. Kanin telah berubah. Salahkan mereka dan dirimu yang terlambat hadir merangkulku. So, good bye?
.o0o.
Tercatat 971kasus bunuh diri disepanjang tahun Januari-Oktober ini. Dan sebanyak 87% akibat depresi. Perumpamaan 3 orang setiap hari bunuh diri. Peningkatan kasus ini terjadi di Indonesia. Padahal menurt Kemenkes, kini sudah terdapat lebih dari 3.000 puskesmas yang dilengkapi layanan kesehatan jiwa.
Lantas apa yang terjadi diindonesia. Banyak dari para pelajar mengakhiri hidupnya. Kesehatan mental seringnya disepelekan oleh orang sekitarnya. Padahal kita bisa perlahan merangkul mereka untuk tetap melanjutkan hidiupnya.
Namun ini pilihan dan tetap tergantung pada diri sendiri. Setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda, tantangan yang berbeda, dan pikiran yang berbeda. Banyak kulihat mereka mengkritik para orang-orang yang membunuh dirinya sendiri. Seperti…
“Hidup masih bergantung pada orang tua sok-sok an mental health lawak!”
“Masih belum ngerasain kerja keras banting tulang sok sok an mental health.”
“Terimakasih mbak-mas pak-buk yang bunuh diri. Setidaknya lowongan perkerjaan bertambah.”
Ya, selalu ada pro kontra atas semua ini. Tetap saja hendaknya kita tak boleh menyepelekan kesehatan jiwa kita. Indonesia bisa bangkit kok tinggal para kita generasi muda yang harus merangkul mereka bergerak bersama kita.
.o0o.
~Rekaman Kanin
“Pagi duniaa…”
“Hari ini aku pergi sekolah pagi hari. Ajaib kan, seorang Kanin berangkat pagi? Karna hari ini hari terakhirku, bye dunia.”
“Ah, aku jadi ingat waktu dulu aku berenang bersama Erlan waktu itu, pulangnya kami dijewer sama ibu kami. Andai waktu bisa di puter kembali ya.”
“Mereka asik baget main nya, kalo aku tinggal mereka pasti gak bakal sedih.”
Tunggu dulu, tunggu dulu
Coba berpura-pura mati
Dari situ mulai bangkitlah kembali
Coba terlahir kembali
Sampai esok, sampai esok
Urungkan niat untuk mati
Mungkin saja hari esok atau lusa
Ada sesuatu yang menarik
Terlalu cepat, terlalu cepat
Untuk menarik kesimpulan sekarang
Kucoba hidup sedikit lebih lama
“Aku gak bisa bangkit. Aku udah capek.”
“Dari video ini aku berterimaksih pada semua orang yang berbaik hati denganku selama ini. Dan maaf untuk kamu Erlan. Aku memang cewek bodoh yang seperti kamu sebutkan.?
“Araya nangisin Gojo aja yah, nanti kalo aku ketemu disana aku bilangin deh suruh hidup kembali.”
“…”
“Maaf Kanin, maaf aku telat memeluk mu.” Dalam kesendirian nya Erlangga meluruhkan air matanya dengan tangan yang menggenggam kamera juga pesawat kertas. Matanya memandang jauh kearah langit. Berdoa apa yang terbaik untuk Kanin. Sekarang semuanya telah selesai.
-Selesai-
Plumpang, 21 Oktober 2023
Tertanda,
-Queen-