"Aku ingin tinggal sendiri di rumah. Aku tidak mau tinggal bersama kedua orang tuamu."
"Baik. Tapi rumah kita masih dalam tahap pembangunan, jadi untuk sementara kita tinggal di apartemen ya?"
"Terserah. Aku juga tidak mau satu kamar denganmu. Tidak mau tidur satu ranjang. Kau tidak boleh menyentuhku sembarangan."
"Kalau begitu aku akan tidur di kamar tamu. Jika orang tuaku datang, aku akan tidur di sofa kamarmu."
"Aku tidak bisa bangun pagi, aku tidak bisa memasak, menyapu, mencuci, aku tidak bisa melakukan pekerjaan rumah apapun."
"Sampai kita menemukan pembantu yang bisa dipercaya, aku yang akan melakukan semuanya."
Viola kehabisan kata kata. Ia sengaja ingin membuat laki laki yang dijodohkan dengannya ini ilfeel, membuat image seperti dia adalah gadis manja yang tidak tahu diri. Tapi melihat senyuman tulus di wajah tampan Marcel, keinginannya membuat laki laki itu benci padanya seperti sangat tidak mungkin terjadi.
Gadis cantik dengan rambut panjang sepinggang itu menghela napas putus asa. Menidurkan kepalanya di atas lipatan tangannya di meja. Meski ia gadis yang tidak pernah memiliki pacar selama 20 tahun ia hidup, entah kenapa Viola merasa tatapan Marcel padanya adalah tatapan penuh cinta.
"Aku tidak tahu dengan motif apa kau mau menikah dengan gadis cacat sepertiku. Apa kau punya semacam fetish tertentu? Jujur saja padaku. Aku tidak akan marah ataupun menolakmu, lagipula aku tidak punya pilihan." akhirnya Viola memutuskan untuk terang terangan. Ia memindai niat busuk apa yang disembunyikan laki laki kaya raya itu.
Marcel memperbaiki posisi duduknya. Melepas jas hitam yang ia kenakan. Menyisakan kaos putih pendek. Laki laki dua puluh empat tahun itu berjalan ke belakang Viola, menggunakan jasnya untuk menutupi punggung gadis di depannya. Sudah hampir malam, udara semakin dingin.
Di depan sana, suara ombak terdengar menenangkan. Lembut, menyambut senja yang menyiramnya dengan sinar jingga.
"Aku hanya mencintaimu. Itu saja alasannya." jawab Marcel dengan tenang.
"Omong kosong!" Viola mendelik, melempar jas hitam Marcel ke lantai. Kemudian memutar kursi rodanya, pergi meninggalkan laki laki itu seorang diri.
Marcel tersenyum lembut. Mengikuti sang gadis di belakang. Kemudian membantu mendorong kursi rodanya melewati pasir yang agak tebal.
"Kenapa kau terlihat begitu membenciku? Aku pikir aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun yang bisa menjadi alasan kebencianmu itu."
"Jangan mengikutiku. Pergi sana." Viola menepis tangan Marcel dengan kasar. Tidak memperbolehkan laki laki itu membantunya.
"Pasirnya tebal, aku akan membiarkanmu melakukannya sendiri begitu sampai di jalan yang mudah dilewati."
Viola berhenti memutar roda. Tangannya mencubit lengan Marcel hingga laki laki itu menarik tangannya.
"Aku bukan gadis lemah yang membutuhkan bantuanmu. Aku bisa sendiri!" teriak Viola dengan mata memerah.
Marcel mengangkat tangannya. Baiklah, ia berjanji tidak akan mengganggu. Memutuskan untuk mengikuti dengan langkah pelan di belakang.
Melihat Viola yang berusaha keras, membuat Marcel terkekeh kecil. Entah kenapa gadis dengan rambut panjang dan mata coklat itu terlihat sangat lucu. Tubuhnya yang kecil tapi perangai galak membuatnya persis seperti seekor kucing oren.
Jalanan mulai gelap, sementara panti asuhan dimana Viola tinggal masih jauh. Gadis itu merasa tangannya pegal. Viola menoleh ke belakang, Marcel masih setia di sana. Berjalan pelan menyesuaikan dengan kecepatan gadis itu.
Marcel tersenyum penuh arti. Meski tidak mengatakan apapun, ia tahu bahwa Viola membutuhkan bantuannya. Ia pun mendorong kursi roda Viola dengan senang hati. Tidak mengejek ataupun mengatakan hal yang bisa membuat Viola merasa malu.
"Sepertinya ibu panti asuhan akan memarahiku karena membawamu begitu lama." kata Marcel, sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Viola menggeleng. Ibu panti tidak akan marah. Malahan ia yakin ibu panti akan sangat senang karena berfikir bahwa ia dan Marcel sedang mengakrabkan diri.
"Kapan pernikahannya?" lirih Viola menunduk. Melihat kedua kakinya yang lumpuh. Marcel berhenti sebentar, meletakkan jas hitamnya di atas paha Viola yang terbuka. Ibu panti sengaja memberikan gadis itu baju yang seksi untuk membuat Marcel tergoda.
"Pernikahan kita satu Minggu lagi. Aku akan menjemputmu sehari sebelum upacara pernikahannya. Karena kau bilang tidak mau yang mewah, kita tidak mengadakan pesta dan hanya mengundang kerabat saja."
Viola mengepalkan tangannya, kemudian mengangguk patuh. Iya, ia tidak punya pilihan. Seharusnya anak yatim piatu dan cacat sepertinya bersyukur mendapatkan seseorang yang bersedia menanggung hidupnya.
Tapi bukan itu yang Viola pikirkan, ia merasa Marcel sangatlah aneh. Bagaimana mungkin hanya karena perjanjian konyol tiga tahun lalu antara kedua orang tua mereka, Marcel sungguhan mau menikahinya?
Bahkan ayah dan ibu Viola sudah meninggal satu tahun yang lalu, orang meninggal tidak bisa menagih janji. Bisnis keluarganya juga sudah habis dimakan para kerabatnya. Viola sekarang hanyalah gadis cacat yang nasibnya malang dititipkan di panti asuhan.
Kenapa?
Kenapa seorang pria muda, tampan, cerdas, kaya raya, dan pastinya didambakan semua wanita ini malah memilihnya?
Terlalu banyak kejanggalan. Viola tidak tahu apa yang akan Marcel dapatkan dari menikahinya.
Marcel menggendong tubuh Viola dengan sangat lembut ke dalam mobil. Memberikan bantal dan selimut yang sengaja ia siapkan agar gadis itu merasa nyaman.
Kemudian melipat kursi rodanya, ia simpan baik baik di jok belakang.
"Aku bisa memasang sabuk pengamannya sendiri." seru Viola dengan nada sinis.
"Baiklah." Marcel tersenyum lembut. Masuk ke dalam mobil, mulai menyalakan mesin. Parkiran sudah sepi, hampir seluruh orang sudah pergi dari pantai ini. Hanya tersisa mobil dan motor para pelancong yang menginap di hotel dekat pantai.
"Sekarang apa boleh gantian aku yang bertanya?" seru Marcel tiba tiba.
Gadis itu mengangguk. Melihat wajah Marcel dari samping. Ah itu sangat sempurna.
"Apa yang paling kau suka di dunia ini?" tanyanya.
Kedua alis Viola tertaut.
"Makanan, tempat wisata, atau apapun. Apa yang paling kau sukai?"
"Laut, aku suka laut."
Marcel mengangguk angguk.
"Begitu ya. Kenapa?" tanyanya lagi. Ia tertarik dengan apa yang calon gadisnya ini sukai.
"Tidak tahu. Hanya suka saja."
"Kalau begitu, setelah kita menikah nanti aku akan membawamu pergi bermain mengunjungi seluruh pantai di dunia ini."
Mendengar kalimat ngaco Marcel membuat Viola reflek tertawa. Pria yang aneh.
***
"Beruntung sekali kau Viola. Akan dipinang dengan pria setampan dan sekaya Marcel. Lihat, dia rutin sekali menyumbang makanan dan pakaian baru untuk panti ini setelah bertemu denganmu." ibu panti berseru gembira, membuka lima kardus besar berisi bahan makanan seperti beras, mie, gula, dan banyak lagi. Sementara pakaian dan mainan di kardus lain juga dibongkar oleh anak perempuannya.
Bahkan kardus berwarna merah muda yang di atasnya jelas tertulis 'untuk Viola' pun diembat semua.
Viola hanya disuruh ke depan untuk memberikan tanda tangan telah menerima paket. Setelah itu ia tidak diperbolehkan untuk sekadar melihat paket yang ditujukan untuknya. Semua sudah dikuasai oleh ibu panti dan anak perempuannya. Sementara Viola dan anak anak panti lain akan diberi sisa, itu pun kalau ada sisa karena barang yang Marcel berikan adalah barang barang mahal berkualitas.
Ya sudahlah. Lagipula Viola juga tidak menginginkan baju ataupun perhiasan itu. Baginya tidak penting.
"Ibu, aku nanti juga mau dong dijodohkan sama laki laki kaya kak Marcel. Kak Viola yang cacat saja bisa dapat pria sekeren itu, aku yang sempurna pasti bisa dapat lebih kan?"
Ibunya tertawa. Mengangkat tinggi tinggi kalung emas. Mengangguk angguk. Ia setuju. Kalau mendapat mantu seperti Marcel hidupnya pasti bergelimang harta.
"Nanti kalau kau sudah menikah, jangan lupakan kami yang sudah merawatmu. Ingat balas budi. Kalau bisa carikan laki laki kaya untuk putriku." ujar ibu panti. Sembari melemparkan baju kecil ke arah Viola. Itu baju yang tidak bisa dipakai oleh anaknya yang gendut.
Viola memungutnya. Sebuah gaun biru muda yang panjang. Ia suka ini.
"Kak Vio kak Vio, ada telepon." seorang gadis kecil 8 tahun memanggil. Kemudian membantu Viola dengan mendorong kursi rodanya.
Viola tidak memiliki ponsel. Tidak ada anak panti yang memilikinya. Maka jika ingin menghubungi, harus menggunakan telepon lawas yang hanya satu di panti ini.
"Halo Viola, apa kau sudah menerima paketnya? Yang warna merah muda untukmu." seru suara di seberang telepon. Suara itu terdengar lebih rendah.
"Sudah."
"Apa kau suka dengan isinya? Aku yang membelinya sendiri. Aku harap kau memakai baju dan kalung itu saat kita bertemu nanti."
Kalung apa? Viola tidak tahu karena semua sudah dikuasai anak perempuan ibu panti.
"Oh, ponselnya, aku harap kau mau menggunakannya. Itu baru. Tapi sudah aku buka untuk memasukkan nomorku. Jadi, ketika senggang, aku harap kau mau mengangkat teleponku."
Ponsel? Marcel membelikannya ponsel?!
Viola yakin bahwa ponsel itu tidak akan pernah menjadi miliknya.
"Iya." Viola menjawab pendek.
"Sudah kau lihat? Apa kita bisa berpindah telepon di sana saja? Aku tidak nyaman bicara lewat telepon umum begini."
"Tidak bisa sekarang. Aku sedang sibuk."
Di seberang sana Marcel terdiam sebentar.
"Oh begitu ya... Kalau begitu aku minta maaf sudah mengganggu waktumu." nada Marcel terdengar sedih.
"Iya. Aku tutup ya." tanpa menunggu persetujuan, Viola menutup teleponnya.
Ia merasa muak berlama lama di luar mendengar teriakan anak perempuan ibu panti menemukan hadiah milik Viola. Ya ponsel itu tidak akan pernah diberikan padanya.
Seperti inilah kehidupan Viola. Semua sumbangan yang ditujukan untuknya akan diambil oleh ibu panti.
Ibu panti yang jahat. Viola sudah merasakan ketidakadilan ini sejak satu tahun yang lalu ketika tantenya mengirimnya kesini. Ke sebuah panti asuhan yang berada di desa. Ia selalu pasrah diperlakukan buruk, diberi makanan sisa, selalu menjadi tempat mengeluh dan dibilang sebagai beban.
Bahkan sekarang, ketika Viola dijual di perjodohan ini, demi tantenya memiliki relasi dengan perusahaan Delima, Viola juga pasrah.
Ia yang malang, dan akan memberikan nasib malang juga kepada orang yang dijodohkan untuknya.