Hi. Namaku Zeyara Adelina. Orang lain mungkin akan memanggil ku zeya, atau mungkin Yara. Tapi tidak dengan seseorang yang begitu spesial dalam hidupku. Dia adalah teman masa kecilku, matahari terbitku, kenyamanan ku. Aku harap aku bisa kembali di musim semi yang hangat seperti saat aku dengannya membuat semua moment menjadi begitu berharga.
*********
Delapan tahun yang lalu
4 Maret 2016
"Sean!!, Ayun lebih cepat, hahaha"
"Aku sudah mengerahkan semua tenagaku Rara, kau akan terlempar jika aku mendorong lebih tinggi"
Musim semi saat itu sangat indah seperti biasanya. Kupu-kupu beterbangan dimana-mana mengelilingi kami seakan kami berdua adalah bunga yang juga tengah bermekaran di bawah pohon rindang. Umur kami baru menginjak lima belas tahun saat itu, tidak ada beban pikiran, tidak ada skandal hidup apapun dalam hidup kami, semuanya berjalan terlalu sempurna sampai-sampai tuhan mempertemukan aku dengan Sean, pemuda yang dengan tawa ringannya membuat getaran lembut begitu nyaman di telinga. Aku dan Sean sudah berteman sejak kecil, kami selalu bersama hingga seseorang mungkin akan mengira kalau kami berdua adalah pasangan yang di takdirkan. Lucu sekali.
18 Mei 2016
"Awh"
"Kau terluka? Jangan menangis ya, aku akan mengobatinya"
Dia akan terlihat sangat khawatir saat aku terluka, kekhwatirannya membuat jantungku berdegup kencang dan tidak beraturan. Aku pikir hanya dengan rasa khawatirnya saja sudah cukup membuat lukaku sembuh dengan sendirinya. Dulu dia sangat amat lembut, selalu memperhatikan apapun yang terjadi padaku, membuatku merasa hangat dan nyaman. Itulah yang membuatku menyukainya sejak kecil hingga menumbuhkan rasa yang belum pernah aku rasakan. Aku harap dia akan terus memberikan kehangatan seperti matahari terbit.
12 Juni 2016
"Kenapa menatapku? Aku tampan ya? Hahaha"
"Ada sesuatu di gigimu"
"Kau menghancurkan kepercayaan diriku Ra"
Narsis, itulah yang membuatnya terlihat begitu percaya diri. Tapi tidak ada kebohongan dalam kalimatnya, dia benar-benar tampan dengan senyumannya yang sekali lagi aku katakan kalau dia memiliki senyuman yang sangat manis, sangat amat manis hingga membuatku salah tingkah setiap kali melihat senyumannya. Aku tidak bisa memalingkan pandangan ku darinya setiap kali bertemu, sedikit menyebalkan tapi aku suka.
Meskipun senyuman itu tidak selalu hanya untukku, tapi merasa begitu terhormat bisa mendapatkan senyumnya setiap hari. Kapan aku melihatnya menangis atau marah? Aku pikir aku tidak pernah mendapatinya dalam jenis emosi lain selain keceriaan yang selalu ia tampilkan, aku merasa apakah dia merahasiakan sesuatu atau dia memang memiliki kehidupan yang stabil tanpa ada hal yang pantas ia tangisi atau kesali. Aku harap suatu saat nanti aku melihat emosinya yang lain.
23 Agustus 2016
"Sean, perempuan seperti apa yang kau sukai?"
"Seperti apa? Umm ... Seperti musim semi, ceria dan aktif sangatlah cantik. Suhu hari ini rendah, pakailah jaketku jika kau tidak membawa jaket"
"Terimakasih, tapi bagaimana denganmu?"
"Aku bisa memeluk diriku sendiri, lagipula aku adalah seorang pria, mana mungkin membiarkan gadis kecil pendek sepertimu kedinginan"
Sedikit demi sedikit aku mulai penasaran segala hal tentangnya dan menanyakan lebih dalam dan lebih dalam lagi hingga menyangkut privasi apapun yang ia simpan, aku berusaha merebut rahasianya secara paksa, itulah yang ingin aku jajah perlahan. Dan sekarang aku tau gadis seperti apa yang di idamkan oleh Sean, gadis musim semi yang indah seperti bunga yang bermekaran. Apakah aku bisa mencapai tipe yang Sean katakan? Bisakah aku?. Dan juga, perhatian dari Sean membuat ku ingin segera memeluknya, karena aku benar-benar tidak membutuhkan jaket itu, melainkan dekapan dari pelukannya. Biarlah aku hanyut dalam imajinasiku sendiri.
16 September 2016
"Sean, aku menyukaimu!!"
"Maaf, tapi aku tidak mengenalmu, terimakasih sudah menyukaiku, ah ini menjadi sangat canggung"
"Sean, kau menindas penggemarmu lagi, hahaha"
"Tidak seperti itu Rara, kau seharusnya paling tau aku, kau berbicara omong kosong. Ah, ayo bermain sketboard"
Kebaikannya, keramahannya, tampilannya membuat Sean memiliki begitu banyak penggemar begitu juga pembenci, tapi hal itu tidak membuatku cemburu sama sekali karena aku yakin Sean selamanya akan menjadi milikku, aku selalu yakin akan itu karena kita adalah pasangan yang ditakdirkan.
20 Oktober 2016
"Jangan menangis, ada aku disini oke? Semuanya baik-baik saja, percayalah padaku"
Saat Ibuku di masukkan ke ruang gawat darurat karena mengalami kecelakaan, hanya Sean yang terus memelukku hingga aku tertidur. Suara lembutnya membuatku merasa lebih tenang dan percaya apapun yang dia katakan. Seluruh tubuhku yang sebelumnya bergetar menjadi lebih stabil setelah tangan hangatnya meraih punggung ku, detak jantungnya bermelodi seakan menyanyikan lagu tidur untukku, sangat nyaman. Dan untung saja setelah semuanya Ibuku baik-baik saja dan bisa keluar setelah menjalani proses perawatan selama setengah bulan.
30 Oktober 2016
Angin rooftop menghembus kuat menyugar rambut Sean yang tengah menatap lembut ke langit, langit ... Kau harus berterimakasih.
"Kau menyukai seseorang?"
"Benar"
Jawaban Sean membuat ku terdiam sesaat dan ikut menatap langit biru yang begitu indah. Angin kuat juga mengayunkan rambut panjangku hingga terasa begitu sejuk. Aku sama sekali tidak merasa sedih atau apapun, karena aku yakin kalau seseorang yang ia suka adalah aku. Aku sangat percaya diri tentang perasaan yang kita berdua rasakan, aku selalu menunggu waktu untuk sampai ke titik dimana kita bisa disatukan oleh benang merah yang mengikat jari kelingking kita.
28 November 2016
"Rara, perkenalkan ini pacarku, namanya Luna"
"Oh? Hi, aku teman Sean, Zeyara"
Hari itu. Semuanya terasa kosong, semua ingatan tentang hari itu terekam begitu jelas hingga membuat ku hampir menangis setiap kali mengingatnya. Kepercayaan diriku, kebanggaan ku, semuanya ternyata seperti penipu, yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum dan menyapa ramah gadis yang di sebut sebagai pacar oleh Sean. Kosong, itulah yang aku rasakan setelah mengetahui kalau Sean memiliki gadis lain yang ia sukai, semua hal tentang Sean di hatiku mulai terkuras dengan sendirinya, sangat sakit.
Hingga setelah perkenalan singkat itu, dan setelah semuanya kembali menyisakan kita berdua, aku akhirnya bisa merasa lega tapi juga sesak. Karena merasa begitu putus asa, perasaan yang gila itu keluar dengan sendirinya membuat ku mengakui apa yang aku simpan selama ini. Dengan semua usaha yang aku kerahkan aku mencoba untuk tidak menjatuhkan satu tetespun air mata ke pipiku.
"Sean, aku menyukaimu, apa kau benar-benar tidak tau tentang itu?"
"Huh!? Rara? Kau menyukai ku? Sejak kapan? L-lalu ... Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah memiliki kekasih, maafkan aku Rara"
"Bukan salahmu, jangan meminta maaf. Aku hanya ingin kau tau, itu saja. Dan aku akan pindah ke luar kota untuk perjalanan bisnis ayahku, aku, aku hanya ingin kau tau, hiks"
Air mata yang aku tahan akhirnya melewati batas. Semuanya mengalir begitu cepat di pipiku, suara tangisan juga keluar dengan sendirinya membuatku merasa bodoh, seharusnya aku pergi setelah perkenalan yang tidak aku inginkan itu. Dan untuk kepergian ku keluar kota adalah kebohongan, semuanya kebohongan yang aku buat demi membuat Sean merasa lebih baik. Sebagai teman masa kecil aku tentu saja tahu bagaimana sifat Sean dalam menghadapi hal seperti ini, dia akan merasa sangat bersalah dan tidak tahu harus apa, itulah yang selalu ia lakukan saat gugup. Tapi kebohongan itu akan segera menjadi kenyataan yang aku ciptakan sendiri setelah percakapan berakhir.
"Sean, semoga kita bisa ditakdirkan suatu saat nanti, dan kumohon tetaplah menjadi temanku"
Tidak ada balasan yang aku terima saat itu. Hanya pelukan yang ia berikan membuat ku merasa lebih sakit. Akankah gadis itu memiliki pelukan hangat ini juga? Atau bahkan ciuman dari Sean yang tidak pernah aku miliki? Dan apakah gadis itu akan mendapatkan sisi lain dari emosi Sean yang tidak pernah aku dapatkan? Apakah aku harus jatuh dalam harapanku sendiri? Rasa suka yang ku simpan selama bertahun-tahun, apa yang harus aku lakukan pada perasaan ini?. Semuanya berakhir begitu berantakan.
6 Desember 2016
Aku meninggalkan kota yang selama itu aku singgahi dengan penuh kenangan bersamanya. Aku berjalan memunggunginya yang sejak kemarin memohon untuk mengantarku ke bandara. Akankah itu menjadi perpisahan yang tidak akan menjadi pertemuan kembali? Akankah Sean melupakan ku jika aku meninggalkannya begitu lama? Tapi itu pilihanku sendiri untuk pergi meninggalkannya, aku tidak ingin keserakahan ku malah menghancurkan hubungan nya dengan gadis seindah musim semi itu. Aku menyerah untuk sementara, kalaupun aku tidak bertemu dengannya lagi aku harap aku bisa menjadi kekasihnya di kehidupan selanjutnya. Menjadi musim semi yang akan kau peluk dengan kehangatan matahari terbit mu.
"Harapan hanyalah harapan, terkadang semuanya berjalan layaknya sebuah permainan bodoh yang tidak seharusnya diciptakan"
********Next
Aku Zeyara Adeline
Hari ini aku akan kembali ke kota kelahiranku. Aku penasaran apakah semuanya masih sama seperti delapan tahun lalu, dan apakah dia masih mengingatku setelah sekian lamanya kutinggalkan.
"Zeya!!, Welcome back" panggil seorang gadis cantik yang merupakan teman SMP ku, namanya Helga.
Dengan senyum cerianya ia berlari memelukku dengan begitu erat. Apakah dia begitu merindukan ku, aku senang temanku masih mengingat ku setelah sekian lama, aku sangat beruntung.
"Ayo pergi makan, kau pasti lapar setelah perjalan jauh kan? Ada restoran baru di sekitar sini, rasanya sangat enak lho~" ajaknya dan segera aku balas dengan anggukan.
Di sepanjang perjalanan hanya satu orang yang masih berputar diotakku, dia adalah orang yang selalu aku rindukan di setiap tahunnya. Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kabarnya. Aku tidak pernah menghubunginya setelah aku mengganti ponselku tujuh tahun yang lalu. Lebih tepatnya setahun setelah aku pergi keluar kota, moment kebahagiaan barunya yang selalu ia abadikan membuat ku sakit sehingga aku mengganti ponselku dan berhenti mencari-cari tentangnya. Aku tidak tau apakah orang lain akan melakukan hal yang sama?.
Setelah perjalanan yang jauh, dan setelah perutku terisi kini aku kembali ke rumah yang sudah aku tinggal bertahun-tahun. Aku berjalan menyusuri jalan kecil yang dihiasi bunga yang tengah bermekaran di setiap sisinya. Musim semi, itulah musim yang selalu aku nantikan setiap tahun.
Dari kejauhan aku melihatnya. Ayunan itu masih utuh dengan kupu-kupu yang masih suka beterbangan disekitarnya. Perlahan terlihat bayangan ayunan dengan tawa dua insan yang tengah mengayun bahagia dengan tawa riangnya. Kebahagiaan itu, biasakah aku memutarnya lagi? Air mataku mengalir di pipiku tanpa ku sadari. Aku segara berlari meninggalkan ayunan itu dan kembali ke rumah ku yang seharusnya menjadi tempat yang paling ku rindukan.
Rumah itu masih utuh seperti dulu, semua foto kebersamaan kita terpajang di setiap tembok ataupun meja. Bayangan indah yang tidak seharusnya ku ingat terus berputar di kepalaku hingga membuat ku tidak bisa bernafas. Semua tangisan aku limpahkan di atas ranjangku. Musim semi ini terasa seperti musim salju, matahari yang menyinar tepat diatas terasa seperti bulan yang begitu dekat. Aku merasa semuanya menjadi sangat dingin, aku ingin semua ingatan tentangnya menghilang hingga tak tersisa. Moment bahagia ini malah membuat ku sakit hingga aku tidak tahan lagi, aku sangat merindukan sosok hangat itu. Kenapa aku tidak bisa melupakannya setelah bertahun-tahun, kenapa!?.
Dengan air mata yang masih mengalir aku keluar dari rumahku dan berlari tanpa alas kaki kembali menuju ayunan sebelumnya, aku duduk disana dan mengayun diriku sendiri sampai angin menyugar rambut panjangku. Kali ini terasa berbeda, tidak ada senyuman di musim semi, tidak ada kehangatan yang aku rasakan di atas ayunan ini. Rasa sakitnya bahkan terasa lebih dalam dari sebelumnya, ada apa sebenarnya denganku!?.
********
Hari kedua setelah aku kembali. Aku pergi dengan Helga menuju sebuah tempat perbelanjaan. Semua baban dipikiran ku terasa begitu ringan saat ada orang lain di sisiku. Aku berhenti memikirkan hal lain saat ini.
Setelah semua yang ingin ku beli sudah terbeli, aku dan Helga memutuskan untuk duduk dibangku sebuah taman berharap rasa lelah ini terlepas dari tubuhku.
"Zeya?"
Suara itu, dan sosok tinggi di hadapanku. Aku tidak bisa membuka mulutku dan jantungku terasa berhenti untuk berdetak. Wajahnya yang tegas dengan jas hitam panjang dan dasi yang mengikat di lehernya. Dia berubah begitu banyak sejak delapan tahun yang lalu. Tapi, ada apa dengan panggilan itu? Zeya? Kenapa dia memanggilku Zeya dan bukannya Rara? Dimana Rara yang kau kenal?.
"S-sean? Oh, kau disini juga?"
Kegugupan menggerayangiku. Sean menatapku lekat tanpa ada kelembutan di matanya, aku merasa ingin kembali menangis. Semuanya tidak ada yang berubah kecuali Sean. Dimana matahari terbit itu?.
"Kau kembali sejak kapan? Kenapa kau menghindariku? Kenapa kau menghilang bertahun dan tiba-tiba kembali di hadapanku, apa kau bersenang-senang dengan itu?"
Kalimat itu. Apakah kau marah? Apakah kau pantas marah? Apakah itu satu-satunya hal yang ingin kau tanyakan? Tidakkah kau peduli dengan apa yang terjadi? Dimana suara dan kata-kata lembut yang dulu selalu aku dapatkan? Ataukah ini kesempatanku untuk mendapatkan emosimu yang lain? Tapi sekarang aku tidak ingin mendapatkan emosi lain selain emosimu yang dulu.
"Sean? Kau meninggalkanku lagi seperti sebelumnya, ada apa?"
Tampak seorang gadis yang ku kenal berlari menghampiri Sean, Luna tampak lebih cantik dari sebelumnya. Hubungan mereka ternyata bertahan lama sampai-sampai membuatku ingin tertawa atas harapanku yang lagi-lagi menipuku. Sebenarnya untuk apa aku kembali? Untuk melihat kebahagiaan mereka? Apakah begitu?.
"Maaf Luna, aku bertemu teman lama, oh ayo kembali, kau sedang hamil jadi jangan berlarian"
Aku tidak tau apa yang aku rasakan. Tidak ada yang bisa aku katakan lebih banyak lagi. Seluruh tubuhku terasa bergetar. Aku seharusnya siap untuk menerima kepahitan seperti ini, aku seharusnya sudah siap sejak awal, tapi kenapa lagi-lagi aku kalah dengan perasaan ku sendiri. Dimana aku harus membuang perasaan ku.
Pelukan Helga tidak sehangat pelukannnya di masa lalu. Rasa sakitnya merajut di tubuhku, aku tidak bisa menyakitiku diriku lagi dan lagi.
********
Malam harinya aku terus mengayunkan diriku di bawah pohon rindang. Aku melamun begitu lama sampai-sampai aku mengantuk dan tertidur. Suara yang ku kenal terus memanggilku hingga aku terbangun, setelah membuka mataku terlihat sosok yang tidak aku harapkan itu kembali berdiri di hadapan ku. Apakah aku bermimpi? Tidak mungkin dia kembali ke tempat yang seharusnya sudah terlupakan ini. Bolehkah aku memeluknya meski dalam mimpi?
"Rara, tidakkah ada hak yang ingin kau katakan?"
Suara lembut itu kembali meskipun hanya dalam mimpiku. Panggilan yang ku rindukan kembali ku dengar meski palsu. Aku berhenti mengayun dan lagi-lagi menangis seperti orang bodoh.
Aku menatapnya dengan sayu dan mengatakan semua yang ingin aku katakan, aku tidak peduli karena ini semua hanyalah mimpi. Biarkan aku melimpahkannya pada sosok yang ku buat sendiri di dalam mimpiku.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau masih menyukai musim semi ini? Apa kau masih suka bermain sketboard? Hiks, apa kau masih mengingat kenangan kita? Dimana kelembutan mu Sean, dimana itu? Hiks hiks, Dimana kehangatan matahari terbit ku yang dulu? Kembalikan Seanku yang penuh senyuman, kumohon ... "
Tangisku pecah hingga membuat ku tidak bisa berbicara lagi. Tangan itu meraih punggungku dan memelukku dengan lembut. Apakah ini kelembutan terakhir yang kudapatkan? Tidak ada balasan yang ku terima darinya, apakah sosok Sean di mimpiku juga akan menjadi dingin seperti Sean yang sekarang? Tapi biarkan aku merasakan pelukan ini sebentar lagi.
"Maafkan aku Rara, aku sangat merindukanmu sampai emosiku menjadi berantakan. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi, biarkan aku menjadi matahari terbit mu. Semuanya hancur karena aku, bisakah aku memulainya dari awal? Bisakah aku memilikimu seperti dulu?"
Ini terasa sangat nyata. Atau apakah ini benar-benar kenyataan dan bukanlah mimpi? Lalu apakah Sean ku kembali?, Dia perlahan menciumku dengan lembut dan hangat. Aku tidak bisa berfikir hingga perlahan semuanya menjadi gelap dan kabur.
********
Aku terbangun di kamarku. Siapa yang membawaku kembali? Apakah itu tetanggaku?.
"Rara? Kau sudah bangun ya, aku baru membeli bubur untukmu"
Apakah aku tidak bermimpi lagi? Aku yakin aku sudah bangun dari tidurku, lalu kenapa Sean berdiri lagi di hadapanku dengan kelembutan yang sama? Aku tidak bisa mempercayainya setelah apa yang terjadi di taman sebelumnya.
"Sean? Apakah aku bermimpi lagi?"
"Bermimpi? Tidak, ini sudah siang jadi sudah seharusnya kau bangun dari tidurmu"
Aku bergegas turun dari ranjang ku sampai-sampai aku terjatuh dari kasurku. Sean yang tadinya memegang semangkuk bubur langsung meletakkan buburnya di meja dan meraihku memberiku pelukan yang aku rindukan. Apakah ini benar-benar Seanku? Aku ingin menangis lagi? Kumohon jangan hancurkan ini lagi.
"Jangan menangis, kenapa kau selalu cengeng? Hahaha" tawanya terdengar masih sama. Ini benar-benar Seanku.
Aku memeluknya lebih erat dan lebih erat. Aku tidak ingin meninggalkannya lagi, biarkan aku menjadi egois.
"Rara, maafkan aku oke? Aku sudah menghancurkan mu selama bertahun-tahun, maafkan aku"
Sean menangis di pundakku. Aku kaget, ini pertama kalinya aku melihatnya menangis. Apakah aku berhasil memenangkan harapanku?.
Tapi setelah ada bunga bermekaran di hatiku, seketika aku menumpas habis bunga itu setelah menyadari kenyataan kalau Sean dan Luna masihlah sepasang kekasih. Dan lagi Luna masih mengandung, ia tidak ingin menjadi penghancur hubungan mereka. Dengan segera aku melepas pelukan Sean dan memalingkan wajahku.
"Kenapa? Kau tidak memaafkan ku? Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkan ku?"
"Pulanglah Sean, Luna pasti menunggumu" jawabku dengan senyum kecut.
"Luna? Dia sudah bersama suaminya di rumah? Kenapa harus menungguku?"
" ... "
"Ah kau cemburu? Hahaha, Rara, Luna menikah dengan kakakku, kakakku sibuk jadi aku harus mengantarnya berbelanja dan mengawasinya kemarin karena dia sedang hamil, jika tidak kakak pasti akan memarahi ku"
" ... "
Ada seribu bunga bermekaran di hatiku. Aku tidak bisa menahan senyumanku dan segara kembali memeluknya dengan air mata yang mungkin sudah mulai membasahi baju yang ia pakai.
Sean tampak bingung sekaligus terlihat lega. Dia ikut memelukku dengan lembut. Kehangatan Sean lebih hangat daripada hangatnya matahari terbit. Aku menyukainya.
"Buburnya, itu akan menjadi dingin"
Perhatiannya kembali. Tidak tahu bagaimana aku ingin merayakan ini, aku sangat senang. Seanku selamat datang kembali di musim semi.
********
"Rara, aku selalu menunggumu untuk kembali, ayo bermain ayunan"
"Ayo"
"Bisakah aku menjadi matahari terbit mu untuk selamanya?"
"Bisa"
-END-