kilas balik dimulai.
Secercah cahaya matahari menembus tirai jendela kamar. Membuka pintu kesadaran ku, aku terbangun dari lelapnya tidur. Aku beranjak dari tempat tidur dengan langkah kaki mungilku. Aku keluar dari kamarku yang begitu berantakan, entah apa yang telah aku lakukan kemarin malam. Samar-samar rupanya penglihatan ku, aku mengusap wajah dan mata dengan tangan yang begitu lembut dan halus.
Ngiiiiingggg!!!!
Suara nyaring mengganggu pendengaran ku,dari dapur asalnya. Aku mendekati sumber suara. Hanya terlihat sebuah teko air yang telah mendidih, tak ada bayangan ibuku disana. Aku meninggalkan tempat itu, mencari keberadaan wanita yang menjabat sebagai ibu rumah tangga itu di setiap ruangan. Namun,aku tak kunjung menemukannya.
Aku menyerah, tak akan ku cari lagi. Aku melangkah menuju kamarku, namun suara tangisan menyelimuti telingaku. Suara itu bersumber dari kamar Ayah. Pintu kamarnya sedikit terbuka, memberi celah padaku untuk melihat. Apa dayaku melihat seorang wanita paruh baya tengah memejamkan matanya yang mengguyurkan air mata di pipinya sembari memeluk sebuah gaun pengantin, dia adalah Ibuku.
Tanpa berpikir panjang, aku mendekatinya dengan perlahan lalu memeluknya. Ia tersadar dari lamunannya, melepaskan pelukan dan menatapku dengan tatapan sendu.
"Mama, mama kenapa menangis?"
Mendengar ucapan ku, Ia segera menghapus air matanya. Lalu memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.
"Apa? Mama gak nangis, cuma sedikit kelilipan debu." jawabannya berbohong.
Aku menerawang ke sekitar, terlihat ruangan itu sangat berantakan. Gaun pengantin Ibu robek, lemari pakaian Ayah kosong, dan foto pernikahan mereka pecah.
"Apa dia menyakitimu?" tanyaku dengan kecurigaan besar.
"Tidak Arka sayang, tidak terjadi apa-apa. " Ia mengelus puncak kepalaku, mencoba meyakinkanku.
Aku memeluknya lagi, kali ini lebih erat. Aku ingin menyalurkan semua tenagaku padanya.
"Ma, Aku ada di sini. Mama jangan takut, Alka akan jaga mama. "
Mendengar ucapanku, ia kembali menangis. Ia membalas pelukan ku.
"Ternyata kamu sudah tumbuh besar Arka, mama bangga padamu." ujarnya.
Untuk anak laki-laki berusia 5 tahun, aku sudah mengerti perasaan yang dialami Ibuku. Kejadian itu sudah terekam jelas dalam memori ku. Tak ku sangka, dia berhasil membuat berlian berharga itu jatuh sia-sia dari mata Ibuku. Aku menyesal dengan diriku, kenapa tubuh mungil ini tidak berguna.
***
Seratus tiga puluh dua bulan tak terasa bagiku dan ibuku. Hidup tenang, itu yang ku inginkan. Aku dan Ibuku sama sekali tidak membutuhkan keberadaannya. Tapi apakah ini nasibku yang sial atau takdir hidupku yang tak beruntung. Manusia hina itu kembali, menghancurkan seisi rumah, mengambil barang yang ia inginkan, dan mencoba menyakiti ibuku.
"Dimana kamu menyimpan semua uang itu?" ucapnya sembari menyekik leher ibuku.
Kini aku tak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. Aku mendekatinya, menarik kerah bajunya dan kali ini aku tak ingin banyak berdebat. Aku meremukkan rahang bawahnya, tak peduli Ibuku setuju atau tidak.
"Dasar bedebah!! Beraninya kau menampakkan dirimu di sini!!" Ucapku penuh amarah.
Ia ku jatuhkan, ia terkulai lemas tak bisa melawanku. Namun aku lengah, Ia mengambil sebuah pot bunga dan melemparnya pada ibuku. Ibuku terluka, aku melepaskannya dan menghampiri ibuku yang sudah tak sadarkan diri.
"MAMA!!!"
Diriku mencoba menyadarkan ibuku, sementara dia tersenyum penuh kemenangan di atas penderitaan ini.
"Dasar bocah! Kau pikir, kau bisa menjatuhkan ku dengan mudahnya? Sepertinya kau sedang bermimpi." ujarnya mencoba berdiri sembari mengusap darah di bibirnya.
"Lain kali aku akan datang lagi. Jadi tolong siapkan jamuan yang terbaik untuk ku." sambungnya lagi dengan mengambil tas berisi hasil rampasannya dan pergi begitu saja.
Aku menangis dalam diam, sejujurnya menangis adalah hal memalukan bagiku. Tapi aku menangisi ibuku yang terkulai lemas dengan darah yang mengucur deras. Sesegera mungkin, aku akan menyelamatkannya.
***
Hanya dalam hitungan tujuh puluh dua jam, aku kehilangan satu dari tiga pelita dalam hidupku. Hari ini, tepat di hari ulang tahunku. Aku mendapat kado yang sama sekali tak pernah aku impikan seumur hidupku. Aku kehilangan Ibuku. Seandainya aku bisa memutar waktu, akan ku habisi nyawanya sebelum ia merenggut nyawa ibuku.
Suasana pemakaman, bukanlah hal yang aku sukai. Aku benci setiap tetesan hujan yang jatuh. Kini aku tak ada tenaga untuk melanjutkan hidup.
"Kak Arka, kita pulang ya? Sebentar lagi gelap." Seseorang merangkul tanganku. Ia menarikku, mengajakku untuk pulang.
"Ran, apa aku harus menghancurkan hidupnya? sama seperti dia yang menghancurkan hidupku dan merenggut mama?" tanyaku dengan air mata yang mulai membendung.
"Aku sama sekali tidak berharap agar kamu melakukan itu. Ibumu tidak akan tenang jika melihat putra semata wayangnya membalas dendam pada ayahnya sendiri. "
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa hanya dengan berdiam diri semuanya akan baik-baik saja? begitu?!" ucapku lagi yang tak bisa menahan keluarnya air mata.
"Membalas kekerasan dengan kekerasan, bukanlah hal yang tepat." sambungnya.
Kini pikiran dan tubuhku tak bisa ku kendalikan lagi. Aku memukuli kepala ku sendiri sekeras mungkin, berharap aku bisa menyusul ibu.
"Itu artinya aku yang salah! aku yang bodoh! aku yang lemah!" ucapku yang tak henti memukuli kepala ku.
Ranti menahan tanganku, ia mendekap ku. Mencoba menenangkan ku dengan sepenuh hati.
"Hentikan itu Kak! hanya dengan memukuli dirimu sendiri tidak akan bisa mengembalikan semuanya. Cobalah untuk tenang. " ucapnya sembari mendekap ku.
Tangisku benar-benar pecah, tak bisa ku tahan lagi. Ranti bagaikan tempatku menampung duka. Ia mungkin bukan saudara kandungku, tapi ia juga korban dari kelakuan keparat itu.
Kini aku terlihat lemah, bukan lagi pria kuat yang akan melindungi semua orang yang aku sayangi. Bagiku semuanya berakhir. Dan itu adalah salahku.
***
Kilas balik berakhir.
Entah angin apa yang membawaku ke tempat ini. Kini aku tengah duduk di hadapan manusia keparat yang sama. Apa aku harus tertawa atau tersenyum. Ia terlihat sangat payah, mengenakan baju tahan. Tangannya diborgol, badannya tidak sekekar dulu. Hanya menyisakan tubuh kurus yang tak terurus. Dia menatapku penuh harapan, tapi aku menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.
Apa aku terlihat seperti anak durhaka? Aku tidak menentangnya,karena itu memang benar adanya. Aku hanya bisa tersenyum ke arahnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku menunggu keluarnya sebuah kalimat dari bibirnya.
"Arka, maafkan Ayah nak." ucapnya.
Sontak hal itu membuatku sedikit geli mendengarnya, ingin aku tertawa. Tapi kutahan dengan senyuman.
"Apa kamu mau memaafkan Ayah?" tanya nya lagi. Namun aku tak menghiraukannya.
Aku teringat sebuah kata yang sedari dulu ingin ku ucapkan padanya. Aku memberinya isyarat untuk mendekat. Lalu ia mengerti dan mendekatkan dirinya. Aku mendekatkan wajahku sedikit.
"Kau mau tahu jawabannya?"
Dengan cepat ia menganggukkan kepalanya. Lalu aku mendekatkan wajahku ke telinganya.
"Maafkan aku Ayah, tapi bagiku bedebah sepertimu tidak pantas untuk menerima kata maaf dari wanita mulia seperti ibuku dan anak laki-laki lemah sepertiku. Bukan begitu? Ayah. " bisikku.
Ku lihat dirinya membeku, tak bisa berkata apa-apa lagi. Sebuah senyum kemenangan bisa ku tunjukkan dengan mudah. Tapi aku bukan dia. Akan kulakukan apa yang sebaiknya aku lakukan.
"Akan kumaafkan, tapi mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Baik itu hubungan darah, ataupun hubungan antara ayah dan anak." sambung ku.
"Waktu habis!" Ucap seorang polisi pengawas. Ia lalu membawa Bedebah sialan itu pergi menuju tempat seharusnya. Jeruji besi.
"Arka!! Tolong bebaskan ayah nak! Arka!!" Teriaknya saat dibawa menjauh.
Kau tahu apa yang aku lakukan? Melambaikan tangan dengan hiasan senyuman manis di wajahku.