Menunggu...
Sudah cukup lama Winter menunggunya. Sudah dalam jangka waktu yang tidak sebentar ia terus menunggu. Menunggu, bahkan sudah menjadi rutinitas wajibnya. Menanti kehadirannya kembali dengan ketidaksabaran.
"I will always be waiting for you, Kai ! Forever ! Tak peduli selama apa lagi aku harus menunggu, tak peduli berapa ribu tahun aku harus menunggu. Percayalah, aku akan terus menunggumu !" Winter.
***
Sebuah mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu berlantai dua dengan kesan natural yang kental. Hujan deras turun sejak pagi tadi dan masih awet hingga sekarang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Memang belum terlalu sore tapi di luar sudah terlihat begitu gelap seakan-akan malam sudah tidak sabar mendesak menggantikan sore.
Pintu kemudi mobil dan pintu penumpang di sampingnya terbuka bersamaan, disusul payung berwarna hitam polos menyembul keluar kemudian mekar menghalangi tetesan air hujan. Membuat kedua perempuan yang akhirnya keluar dari kedua pintu itu tidak sampai basah oleh hujan.
Keduanya terlihat tergesa-gesa mengambil koper dan barang bawaan di bagasi mobil. Menentengnya dengan salah satu tangan mereka sementara tangan yang lainnya memegang payung.
Pintu rumah yang sejak tadi masih setia tertutup rapat pun telah terbuka dari dalam. Memperlihatkan sepasang suami istri yang telah berumur senja muncul di sana. Senyum lebar menghiasi wajah-wajah penuh kerinduan itu. Mereka saling berpelukan, mencoba mengobati rindu yang telah bersarang di dada mereka dalam jangka waktu yang sudah lumayan lama.
Kerinduan yang telah lama tertanam, dan semakin tumbuh subur oleh jarak dan keterbatasan alat komunikasi. Serta membutuhkan waktu hampir bertahun-tahun lamanya hanya untuk sebuah pertemuan.
Katanya waktu adalah penawar paling mujarab. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk sebuah kerinduan.
Kelak...
Suatu saat nanti, semua akan menyadari bahwa merindukan adalah rasa sakit yang tak mampu tersembuhkan selain hanya dengan sebuah pertemuan. Bahkan waktu sekali pun tak akan mampu hanya untuk sekedar mengurangi kadar rasa rindu itu. Waktu malah menjadi salah satu penyebab kerinduan itu semakin tumbuh dengan suburnya.
"Kakek, nenek ! Kai rindu !" gadis kecil itu memeluk kakek dan neneknya bersamaan.
"Nenek juga rindu sama cucu nenek yang paling cantik ini !" Sang Nenek memamerkan senyum hangatnya yang terlihat semakin termakan oleh waktu.
"Ihh, nenek mah gitu ! Kai kan memang cucu nenek satu-satunya" gadis bernama Kai itu sedikit memanyunkan bibirnya.
Ceritanya ngambek karena kata "paling cantik" yang diucapkan Sang Nenek malah terdengar seperti sebuah ejekan. Kata pujian yang malah terdengar menjengkelkan saat diucapkan pada seorang gadis yang nyatanya hanya seorang saja. Jika itu diucapkan saat ia memiliki saingan perempuan lainnya maka mungkin saja ia akan sangat kegirangan sekarang.
Sang Ibu yang melihat tingkah anak gadisnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Meski tak urun senyum bahagia turut hadir menghiasi wajahnya yang nampak sedikit kelelahan itu. Tidak heran, ia harus mengendarai mobil sendiri dari kota yang jaraknya mencapai ratusan kilometer dari desa itu. Tidak tanggung-tanggung, mereka baru bisa sampai di desa itu setelah menempuh perjalanan selama 8 jam. Padahal mereka sudah berangkat pagi, namun tetap saja mereka baru tiba setelah pukul empat sore.
"Wah, kakek dan nenek hebat ! Rumah ini masih terlihat sama persis seperti terakhir kali Kai datang ke sini !" gadis itu kembali bersorak girang setelah melangkahkan kakinya memasuki rumah.
"Hebat !" pujinya lagi setelah mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu.
Hanya sebentar hingga gadis itu kembali bangun dari duduknya dan berlari-lari kecil ke arah jendela rumah yang masih terbuka lebar. Membuat angin bisa masuk dengan bebas. Menyambut Kai dengan lembut yang kini berdiri tepat di depan jendela. Rambutnya sedikit tersibak karena ulah sang angin.
Senyumnya mengembang dengan kedua mata yang terpejam. Menghirup udara segar yang disediakan alam di sana. Pohon-pohon rindang dari hutan lebat yang mengelilingi desa itu selalu memasok oksigen dengan kualitas terbaik tanpa ragu. Penduduk yang bisa menyatu dengan alam tanpa merusaknya benar-benar membuat desa itu sangat jauh berbeda dengan hiruk pikuk perkotaan. Semua masih lestari dan terjaga.
Sekilas, saat Kai menatap ke luar jendela, netranya seperti menangkap bayangan seseorang. Meski hanya sekilas, namun ia merasa bayangan itu adalah seorang pria bertubuh tinggi berbaju serba hitam. Perasaannya berkata sosok itu menatapnya sejak tadi.
Tak ingin berpikir yang aneh-aneh, Kai memilih untuk berpikir positif. Mungkin ia salah lihat. Apalagi dalam keadaan hujan lebat dan di luar tampak semakin gelap. Ditambah di sekeliling rumah itu hanya ada perkebunan dan hutan.
Yah ! Dia pasti hanya salah lihat !
"Kai ! Ayo sini kita makan, nak !" fokus Kai teralihkan oleh suara panggilang Sang Nenek. Cepat-cepat ia menutup jendela sebelum berjalan menuju ruang makan.
🌳
Suara nyanyian merdu alam membangunkan Kai dari tidur nyenyaknya. Rasanya ia belum pernah tertidur senyenyak itu sebelumnya. Ia bahkan sama sekali tidak terbangun hingga Sang Mentari muncul dengan gagahnya di Ufuk Timur. Seakan-akan seseorang mendekapnya erat dan menghangatkan tubuhnya. Menghalau dinginnya malam yang masih berhias hujan meski sudah tidak sederas kemarin sore.
Wusshh...
Udara segar langsung menyapa lembut tubuh Kai setelah membuka jendela kamar. Senyumnya merekah cerah, mengalahkan Sang Mentari yang masih tampak malu-malu menampakkan dirinya. Di luar masih tampak remang-remang, namun tidak menutupi pandangan Kai untuk bisa melihat pemandangan di luar sana.
Langit sudah tidak menangis lagi. Sepertinya ia sudah mulai lelah menumpahkan air matanya. Hari ini mungkin akan cerah. Langit terlihat bersih dari awan mendung.
Suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin lembut terdengar begitu menenangkan. Nyanyian merdu burung-burung yang diiringi melodi indah jangkrik menambah harmoni nyanyian alam. Memanjakan indra pendengaran Kai. Menembus hingga ke dalam sanubari yang ikut merasakan indahnya lagu dari Sang Alam Semesta.
Rasanya sangat luar biasa. Sejuk dan damai. Seakan semua berjalan sebagaimana mestinya. Seakan semua berlalu sesuai yang direncanakan.
Indah dan harmoni.
Aktivitas Kai yang sedang sibuk menikmati sekaligus mengagumi desa itu seketika terhenti saat lagi-lagi pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok bayangan di tengah hutan di ujung sana. Meski samar namun kali ini sedikit lebih jelas dari yang kemarin. Kai bisa memastikan bahwa bayangan itu benar-benar adalah seorang pria. Dan ia sepenuhnya yakin bahwa pria itu adalah orang yang sama dengan yang kemarin ia lihat.
"Jadi kemarin aku nggak salah lihat ! Tapi dia siapa ? Kenapa dia ada di tengah hutan sepagi ini ? Dan lagi, kenapa dia memakai baju seperti itu ?" gumam-gumam Kai.
Ia seakan bertanya pada dirinya sendiri yang tentu saja jawabannya tidak ia ketahui. Dan anehnya, pria berbaju hitam di tengah hutan sana masih berdiri di tempatnya sambil menatap ke arah Kai.
Tak ingin merusak hari liburannya dengan pemikiran-pemikiran negatif, Kai bermaksud untuk menutup kembali jendela kamar. Namun sebelum ia berhasil merealisasikan niatnya itu, angin tiba-tiba bertiup dengan kencang. Membuat daun jendela yang sudah digenggam Kai terlepas.
Alam seakan tidak setuju dengan niat Kai. Saat ia kembali meraih daun jendela, angin kembali bertiup kencang dan lagi-lagi menggagalkan niatnya. Kai yang heran dengan hembusan angin yang tiba-tiba berubah pun menatap keluar jendela. Mencoba menelisik sesuatu di luar sana meski ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia coba cari.
Angin masih bertiup kencang, seakan sedang bermain kejar-kejaran dengan penuh semangat. Membelai lembut tubuh Kai yang berdiri di depan jendela, serta membisikkan sesuatu di telinganya. Membawa rambutnya yang tergerai ikut terbang melambai-lambai kemana arah angin bertiup.
Suara gemerisik dedaunan terdengar semakin jelas seiring dengan hembusan angin yang lebih kencang dari sebelumnya. Pohon-pohon rindang dan rerumputan tampak bergoyang ke kiri dan ke kanan. Menghasilkan suara aluna musik alam yang terdengar semakin keras dan penuh harmoni.
Kai tidak mengerti, tapi entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa alam semesta sedang menyambut kedatangannya di sana. Dedaunan yang masih bergerak tak tentu arah karena hembusan angin seakan melambai kepadanya. Seperti sedang mengucapkan "selamat datang" padanya.
Dan yang paling aneh adalah sosok pria itu. Penampilannya jelas terlihat aneh. Tatapan matanya yang tajam dengan ekspresi wajah dingin tanpa ekspresi itu terus menatap lurus padanya. Ajaibnya, Kai sama sekali tidak merasa takut sedikit pun. Padahal dia adalah tipe gadis penakut.
"Kai ! Lagi liatin apa, sih ?" tepukan pelan di bahu Kai menyadarkannya dari lamunannya.
"Kakek ? Kenapa, kek ?" tanya Kai sedikit terkejut karena tidak menyadari kehadiran kakeknya.
"Harusnya kakek yang tanya kamu kenapa ? Kakek panggil-panggil nggak kamu jawab. Lagi liatin apa memangnya di luar sana ?" kakek kembali bertanya. Dari ekspresi wajahnya terlihat jelas ia seperti sedang mencemaskan Kai.
Kai diam tidak menjawab. Ia menautkan kedua alisnya dengan ekspresi wajah bingung. Menatap Sang Kakek membuat kakeknya balik menatapnya tidak mengerti. Wajah senjanya yang dihiasi keriput itu jelas mengatakan ketidakpahamannya dengan maksud Kai.
"Kai suka bangat yaa sama hutan sampai memandangnya seperti itu ?"
Kai masih tetap bungkam.
"Nanti kakek ajak jalan-jalan. Mungkin karena sudah lama tidak berkunjung ke desa ini, kamu jadi merasa takjub begitu !" lanjut Sang Kakek.
Kerutan di kening Kai terlihat semakin dalam.
"Kakek, apa kakek tidak melihatnya ?" celetuk Kai.
"Melihatnya ? Tentu saja kakek melihat hamparan hutan itu. Kamu pikir kakek buta, yaa !" Kai tersenyum kaku melihat kakeknya tertawa di akhir kalimatnya.
"Bu-bukankah anginnya lumayan kencang yaa kek ?" tanya Kai lagi. Lebih terdengar seperti meminta persetujuan.
"Angin ? Emang lagi ada angin ? Kok kakek sama sekali tidak merasakannya, yaa ? Pohon-pohon di luar sana juga nggak gerak-gerak kok ! Cucu kakek memang suka bercanda, yaa !" Kai semakin tersenyum kaku mendengar jawaban kakeknya.
Fix !
Kalau sekarang dia tidak sedang bermimpi, berarti Kai sudah gila. Bagaimana bisa ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kakakenya ? Angin bahkan masih bertiup kencang menerpa tubuhnya. Ia bahkan seperti bisa melihat wujud angin itu. Pepohonan di luar sana pun masih asik menari-menari dan melambai padanya.
Dan pria itu...
Pria itu bahkan masih berdiri di sana. Menatapnya tanpa bosan, bahkan seakan enggan untuk sekedar berkedip.
Jantung Kai tiba-tiba berdetak tak karuan saat melihat ujung bibir pria itu tertarik ke atas. Membentuk lengkungan menyerupai senyuman. Ahh, sepertinya kata 'menyeringai' jauh lebih cocok daripada tersenyum. Bibir pria itu bergerak seperti mengucapkan sesuatu.
"Kau milikku !"
Bulu kuduk Kai seketika meremang saat dua kata itu seperti menggema di dalam telinganya. Padahal jaraknya dari tempat pria itu berdiri sangat jauh, tapi anehnya ia bisa mendengar suaranya.
Pandangan Kai tiba-tiba memudar. Dunianya mendadak diselimuti kegelapan. Perlahan, kesadaran Kai direnggut habis oleh alam kegelapan.
Brugh...
Kai jatuh tak sadarkan diri.
"KAI !" suara teriakan kakek menjadi hal terakhir yang Kai ingat.
🌳
Perlahan kedua mata itu terbuka, memperlihatkan sepasang bola mata hazel yang indah. Rambut coklat bergelombangnya yang dibiarkan tergerai sedikit berantakan. Anehnya, bukannya terlihat kucel gadis itu malah terlihat semakin manis.
"Sayang ! Kamu sudah bangun, nak ?" kekhawatiran yang kentara terlihat dari wajah wanita bergelar Ibu itu.
"Mamah kenapa ? Kok nangis ?" Kai bangkit dari tidurnya dan langsung memeluk Zahra, Sang Ibu yang mulai meneteskan air matanya.
"Tidak apa-apa sayang ! Mamah hanya sedikit khawatir karena kamu terus tertidur selama tiga hari dan baru bangun sekarang. Mamah senang kamu baik-baik saja sekarang !" tutur Zahra. Sukses membuat Kai membulatkan kedua matanya sempurna.
Tiga hari ?
For God Sake ! Dia benar-benar tidur selama tiga hari ? Yang benar saja. Padahal Kai merasa hanya tertidur beberapa menit saja.
Kai tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Rasanya ada banyak keanehan menimpanya sejak ia menginjakkan kaki di desa itu. Tapi ia akan memilih untuk mencoba bersikap acuh. Ia hanya ingin menikmati masa liburannya yang hanya beberapa hari di desa kelahirannya dan Sang Ayah yang telah lama tiada. Apalagi sudah lama sejak terakhir kali ia berkunjung ke rumah kakek neneknya di desa itu.
Desa Berkabut adalah salah satu desa yang benar-benar masih sangat menyatu dengan alam. Seluruh penduduk berpenghasilan utama dari hasil kebun dan alam. Karena semua masih dilakukan secara manual, sikap gotong royong di sana pun masih sangat kental. Membuat sikap kekeluargaan seluruh penduduk Desa Berkabut masih sangat terjaga.
Hari ini Kai ikut dengan kakek ke kebun. Salah satu teman kakeknya akan panen buah rambutan, semangka, dan nangka. Meski harus melewati perdebatan panjang dengan Zahra, namun pada akhirnya Kai berhasil meyakinkan Sang Ibu bahwa ia akan baik-baik saja.
Zahra tidak bisa memaksakan kehendaknya. Biar bagaimana pun Kai berhak menikmati masa liburannya yang hanya sebentar itu. Ia pun berhak mengetahui bagaimana desa kelahirannya dan Sang Ayah. Mungkin dengan berkeliling desa bisa sedikit mengobati rasa rindunya pada Sang Ayah yang telah tiada sejak ia masih kecil.
"Bu ! Kai akan baik-baik saja, kan ?" tanya Zahra setelah Kai dan kakek pergi.
"Jangan khawatir, nak ! Kai kita pasti akan baik-baik saja. Meski ia selalu mengalami hal-hal aneh setiap kali datang ke desa ini, tapi apa kamu pernah melihatnya terluka ? Tidak, kan ? Sepertinya, Desa Berkabut begitu menyukainya !"
Zahra tahu Ibu mertuanya itu bermaksud menghiburnya. Namun bukannya tenang, ia malah dibuat semakin khawatir dengan penjelasan Ibu mertuanya.
🍁
Gadis cantik dengan tubuh semampai. Terlihat semakin mencolok dengan style fashion-nya yang jelas tampak berbeda sendiri. Angkle pants berwarna hitam polos dipadukan dengan T-shirt berwarna senada. Tak lupa dengan cardingan oversize berwarna coklat sebagai outer-nya. Rambut coklat bergelombangnya dicepol asal hingga beberapa anak rambutnya tampak terbebas dari cepolan. Namun itu malah membuatnya terlihat semakin manis.
Karena keramahan penduduk dan sikap mudah bergaul Kai, ia bisa berbaur dengan penduduk Desa Berkabut dengan cepat. Semua bekerja saling bahu-membahu, membuat pekerjaan yang berat terasa jauh lebih ringan. Semua tampak salut melihat Kai, si gadis kota yang tidak takut kotor. Tangan lentiknya dengan cekatan memetik buah semangka. Memasukkannya ke dalam keranjang kemudian membawanya ke tempat pengumpulan.
Siang hari semua telah selesai dipetik. Semua beristirahat sambil menikmati makan siang yang telah disiapkan. Pun mencicipi buah-buahan yang telah mereka petik. Beruntung sekali Kai bisa memakan buah-buahan kesukaannya itu sampai puas.
Dalam perjalanan pulang, Kai meminta izin untuk singgah di sebuah taman danau yang menjadi salah satu tempat ikonik di Desa Berkabut. Kai ingin mengambil beberapa foto untuk ia perlihatkan pada teman-temannya nanti setelah kembali ke kota. Ia bahkan sudah menyiapkan kameranya sebelum berangkat tadi.
Kakek akhirnya mengizinkan karena melihat suasana taman sedang ramai. Kai pun berjanji akan segera pulang setelah mengambil beberapa foto. Sepeninggalan kakek, Kai mulai mengarahkan kameranya pada spot-spot yang dianggapnya bagus. Senyumnya merekah lebar melihat hasil potretannya yang dianggapnya sangat memuaskan.
Cekrek...cekrek...cekrek...
Kai menghentikan acara memotretnya saat lensa kameranya tanpa sengaja menangkap sosok seseorang. Dan ia seketika dibuat terkejut saat seorang pria berpenampilan lusuh berdiri tepat di tempat ia ingin mengambil gambar. Tidak sampai di situ saja. Entah Kai yang terlalu fokus dengan kameranya atau bagaimana, tapi ia baru sadar taman sudah dalam keadaan sepi. Hanya ada dirinya dan pria lusuh itu di sana.
"Ka-kamu siapa ?" tanya Kai terbata. Apalagi saat menyadari pria itu terus menatapnya.
"Istri !" katanya dengan senyum misterius. Tanpa mengatakan apa-apa lagi ia langsung memeluk tubuh Kai.
Tubuh Kai membeku dalan pelukan pria itu. Pria itu memeluknya erat seakan sudah lama menanti kehadiran Kai. Kai bisa merasakan ada kasih sayang dan cinta yang mengalir deras dalam pelukan itu.
Nyaman !
"Lepasin ! Siapa kamu, kenapa tiba-tiba memelukku ?" Kai mendorong pria itu kuat. Membuat pelukan mereka terlepas.
"Kamu istri Winter !" kata pria itu sambil menunjuk Kai sebelum menunjuk dirinya sendiri.
"Jadi, nama kamu Winter ? Kok namanya aneh. Winter kan artinya musim dingin. Ehh, tapi cocok sih. Kulit kamu putih seperti salju dan kamu juga memancarkan aura dingin seperti musim dingin. Anehnya, aku seperti mencium aroma hutan lebat dari tubuhmu" Kai bergumam.
"Tapi, tunggu ! Siapa yang kamu sebut istrimu ?" Kai kembali bertanya.
"Kamu" jawab pria itu polos. Sepolos senyumannya yang membuatnya terlihat sepeti anak kecil.
Menggemaskan sih, tapi tetap saja menyeramkan. Mereka baru pertama kali bertemu dan pria itu langsung menyebutnya istrinya. Yang benar saja. Pria itu tampan sih, kulitnya pun putih bersih seperti salju. Tubuhnya tinggi tegap dengan dada bidang. Rambutnya hitam legam, serta sepasang manik indah berwarna hijau bening.
Sangat indah !
Kai seperti sedang melihat hamparan hutan di dalam kedua manik itu.
Hanya saja, pria itu lebih terlihat seperti anak kecil yang polos. Dan lagi, baju kumuh dan lusuh itu. Apa dia tidak mempunyai baju lain selain baju yang melekat di tubuhnya itu ? Ahh, dia bahkan tidak memakai alas kaki. Apa kakinya tidak apa-apa ?
"Ha-ha-haa...Salam kenal Winter ! Namaku Kai. Ohh yaa, kalau gitu aku mau pulang dulu. See you, Winter !" Kai langsung berlari pergi setelah mengucapkan itu. Tak ingin berlama-lama bersama pria aneh yang baru saja ia temui.
"Yak ! Kamu ngapain ngikutin aku ? Pulang sana, jangan ikutin aku, okay !" Kai menatap Winter frustasi. Pria itu terus saja mengikutinya. Kai berlari ia ikut berlari. Kai berhenti ia pun berhenti.
Bukannya menjawab, Winter hanya tersenyum sambil menatap Kai.
"Winter, aku mau pulang jadi sebaiknya kamu juga pulang ke rumahmu ! Lagian ini sudah hampir gelap, sebaiknya kamu cepat pulang !"
Lagi-lagi Winter hanya tersenyum lebar pada Kai.
"Hah ! Kamu sebenarnya siapa, sih ? Kenapa ngikutin aku ? Ahh, sudahlah ! Terserah kau saja mau ikut atau tidak !" kata Kai pada akhirnya.
Menyerah untuk melarang Winter mengikutinya karena sepertinya itu hanya akan sia-sia. Pria itu hanya terus tersenyum dan menatap ke arahnya. Mengikutinya seperti anak ayam yang mengikuti kemana pun induknya pergi.
"Kai, siapa pria itu ?" tanya Zahra setelah Kai baru saja memasuki rumah diikuti Winter yang menempelinya seperti hantu.
"Huh ! Kai nggak tau, mah ! Dia tiba-tiba saja muncul di taman dan mengikuti Kai pulang. Kai sudah melarang, tapi dia tetap saja mengikuti Kai" jelas Kai sambil menghembuskan napas berat.
Frustasi.
Prang...
Sang Kakek yang baru saja muncul dari kamar langsung menjatuhkan gelas yang ada di tangannya. Sang Nenek yang juga baru muncul dari dapur pun tak kalah terkejut melihat Kai pulang bersama seseorang. Mungkin jika itu orang lain mereka tidak akan seterkejut itu. Tapi karena melihat pria beraura dingin itulah yang membuat mereka sangat terkejut.
"Ayah, Ibu ! Kalian tidak apa-apa ?" tanya Zahra khawatir. Meski mereka hanyalah mertuanya, tapi dia begitu menyayangi keduanya selayaknya menyayangi orang tuanya sendiri.
"Ke-kenapa ? Apa Winter orang jahat ?" tanya Kai semakin khawatir.
Ahh, bodoh !
Kenapa juga Kai membiarkan pria itu mengikutinya sampai ke rumah. Bagaimana kalau ternyata Winter adalah orang jahat ? Kalau dia ternyata pembunuh atau perampok ? Bagaimana kalau ternyata dia cuma pura-pura polos untuk menipu Kai untuk bisa mengikutinya sampai ke rumah, terus membunuh mereka terus menjual organ mereka, terus...
Okay, cukup ! Kai kau terlalu berlebihan.
Kakek dan Nenek yang mendengar Kai menyebut nama Winter pun dibuat semakin terkejut. Seakan sebelumnya mereka masih mempunyai secercah harapan namun seketika lenyap setelah mengetahui pria itu memang bernama Winter. Dia benar-benar adalah Winter.
Helaan napas berat terdengar dari kakek dan nenek. Membuat Zahra dan Kai tampak semakin ketakutan. Terlebih Zahra yang sudah mendekap erat tubuh Kai. Mencoba menjauhkannya dari jangkauan Winter yang masih terus menempelinya seperti magnet.
"Tidak, tidak ! Winter bukan orang jahat !" kata kakek kemudian. Ia kembali menghela napas panjang.
Zahra dan Kai menghela napas lega dengan kompak, merasa sedikit lebih tenang mendengarnya.
"Jadi dia siapa, Kek ? Kenapa dia mengikutiku seperti anak ayam ? Dia bahkan memanggilku istri !" Kai menuntut penjelasan.
Hah !
Kakek dan nenek lagi-lagi menghela napas panjang.
"Sebaiknya kamu mandi dan ganti baju dulu, nak ! Nanti kakek dan nenek akan ceritakan semuanya !" pintah nenek. Kai mengangguk mengiyakan.
Kai berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai dua rumah itu. Namun ia kembali menghentikan langkahnya saat menyadari pria aneh itu masih saja mengikutinya.
"Kamu mau kemana ? Aku mau mandi, kamu jangan ikut ! Tunggu di sini !" pintah Kai.
Winter terlihat langsung sedih mendengar kata-kata Kai.
"Istri jangan pergi !" ujarnya dengan raut wajah sedih. Ahh, Kai langsung merasa kasihan melihat wajah itu.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku hanya akan ke kamar untuk bersih-bersih terus ke sini lagi. Kamu tunggu aku di sini, okay !"
Aneh, meski terlihat tidak rela tapi Winter menurut. Ia berdiri di tempatnya sambil menatap ke atas. Menunggu Kai di tempatnya tanpa beranjak sedikit pun. Zahra sudah beberapa kali menyuruhnya menunggu Kai di sofa tapi tak dihiraukan. Ia seperti hanya mendengarkan apa yang dikatakan Kai.
Wajah senduh Winter seketika lenyap digantikan senyuman lebar saat akhirnya melihat Kai turun. Dengan patuh ia berjalan menuju sofa saat Kai mengajaknya duduk di sana.
"Baju-baju papah masih ada, kan ? Sepertinya dia harus mandi dan ganti baju juga, deh !" Kai menunjuk Winter yang duduk di sampingnya. Menatapnya dengan mata berbinar.
Zahra, kakek dan nenek mengangguk sebagai jawaban iya. Meski ayahnya sudah lama meninggal, semua barang-barangnya masih tetap disimpan di rumah itu. Kai mengajak Winter ke kamar yang dulu ditempati ayah dan ibunya saat masih tinggal di Desa Berkabut. Pria lusuh itu setidaknya harus mandi dan ganti baju.
Memangnya dia tidak mempunyai baju lain selain yang ia pakai itu ?
Dia tinggal dimana memangnya ?
Kenapa dia terlihat sangat polos dan seperti anak kecil ?
Selama ini dia tidak tinggal di hutan, kan ?
"Buka bajumu dan mandi !"
"Tidak ! Jangan buka di depanku, bodoh !"
"Kenapa memakai sabun pun kau tidak tahu ? Apa kau akan kecil, hah !"
"Selama ini apa kau tinggal di hutan ? Kenapa mandi pun tidak bisa kau lakukan sendiri !"
"Winter, kubilang jangan lepas handuknya di depanku !"
"Pakai ini dulu, terus ini dan ini ! Badan aja yang besar, tapi pakai baju saja kau tidak tahu"
"Astaga, Winter ! Pakainya bukan begitu ! Harusnya begini !"
Kai terus berteriak frustasi saat membantu Winter membersihkan diri dan mengganti pakaian. Beruntung baju ayahnya masih ada, jadi bisa Winter pakai. Tubuh tinggi Winter pun hampir sama dengan tinggi ayahnya. Jadi, baju-baju itu sangat pas di tubuh tinggi Winter.
"Hah ! Dia benar-benar seperti anak kecil. Bagaimana bisa ia tidak tahu cara mandi dan memakai baju ? Bagaimana ia bisa hidup selama ini ? Memangnya berapa umurmu Winter ?" erang Kai frustasi.
"500.000 juta tahun" jawab Winter polos.
"Hah ! Apa ? Lima-ratus-ribu-juta-tahun ?" beo Kai setengah berteriak.
Terkejut !
Saat ini mereka sedang berada di ruang makan. Sudah waktunya makan malam. Zahra membantu ibu mertuanya menata makanan di atas meja. Sementara Kai, Winter dan kakek sudah duduk di kursi masing-masing.
"Sabar, nak ! Itu wajar, karena dia memang tidak tahu dengan kehidupan manusia" kata nenek yang kini ikut duduk di samping kakek.
"Ma-maksdu nenek apa ?" tanya Kai gelagapan.
Tidak tahu kehidupan manusia ? Jadi, maksudnya Winter bukan manusia ? Kalau dia bukan manusia, lalu apa ? Siluman, drakula, hantu, arwah, vampir atau apa ?
Ahh, yang benar saja !
"Habiskan makananmu dulu, kakek akan cerita setelah makan malam !"
Lagi-lagi Kai hanya menurut karena tidak tahu apa-apa.
Saat makan pun Kai harus cukup sabar menghadapi Winter. Pria itu bahkan tidak bisa menggunakan sendok. Makannya pun sangat berantakan, seperti anak kecil yang baru pertama kali belajar makan sendiri. Ahh, sepertinya lama-lama Kai bisa gila.
Setelah makan malam bersama, mereka kembali ke ruang tamu. Tapi, tentu saja setelah Kai melewati perjuangan panjang untuk mengajari Winter bagaimana cara menggosok gigi yang benar. Ia benar-benar harus super sabar menghadapi segala kepolosan Winter. Tapi meski memiliki sikap yang super duper polos, anehnya Winter sangat penurut.
Lihat saja, dia menuruti semua yang dikatakan Kai.
Benar-benar aneh !
🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳
Ratusan ribu juta tahun yang silam. Manusia dan kaum dari dunia yang berbeda saling hidup berdampingan. Mereka hidup dengan rukun tanpa saling mengganggu. Saling menghargai dan saling membantu satu sama lain.
Manusia biasa, Penyihir, Warewolf, Vampir, Dewa, Malaikat, Iblis, Mermaid, Hantu, dan Alien. Semua hidup dengan rukun. Pernikahan antara manusia dengan kaum-kaum tersebut pun banyak terjadi. Dan itu bukanlah sebuah masalah. Itu adalah hal yang wajar saat itu.
Namun, semua berubah saat seorang manusia membunuh salah satu kaum Warewolf. Semua karena masalah perasaan. Manusia itu menyukai seorang gadis dari kaum Warewolf. Sayangnya, gadis itu sudah mempunyai tambatan hati. Sang manusia yang sakit hati pun membunuh gadis Warewolf itu.
Sejak saat itu, kaum-kaum tersebut membenci manusia. Sang ketua dari kaum Warewolf bahkan dengan tegas melarang kaumnya berinteraksi lagi dengan manusia. Hubungan mereka benar-benar telah berakhir. Dan semua karena ulah manusia.
Saat seluruh kaum memutus hubungan dengan manusia, maka beda ceritanya dengan Kaum Hantu. Sang ketua Kaum Hantu tetap mengizinkan dan memberi kebebasan bagi kaumnya berteman dengan manusia. Apalagi banyak dari kaumnya yang telah menikah dengan manusia. Tentu saja, para Kaum Hantu menyambutnya dengan senang hati.
Kaum lain yang tidak terima dengan ketidaksolidan Kaum Hantu pun berbalik memusuhi Kaum Hantu. Mereka mencari tahu alasan mengapa Ketua Kaum Hantu tetap ingin menjalin hubungan baik dengan manusia. Pada akhirnya mereka mengetahui alasannya. Ternyata Sang ketua sedang jatuh hati pada seorang gadis manusia.
Mereka pun menyusun rencana untuk membalas Kaum Hantu. Melawan Kaum Hantu secara langsung bukanlah sebuah ide yang bagus. Mereka jelas tahu, bahkan jika mereka menyerang secara bersamaan, mereka tetap tidak akan bisa mengalahkan Ketua Kaum Hantu yang sangat kuat. Karena itu, mereka berencana untuk membunuh gadis manusia yang disukainya itu.
Hari itu pun tiba, hari dimana rencana pembunuhan itu akan dilakukan. Salah satu Hantu yang tidak sengaja mengetahui rencana pembunuhan itu pun langsung melaporkannya pada Sang Ketua.
"Lindungi dia !" titah Sang Ketua yang berarti kibaran bendera peperangan.
Para Kaum Hantu yang berada di dekat tempat pembunuhan gadis manusia itu pun langsung melakukan perlawanan. Dan pertempuran pun tak dapat dielakkan. Seluruh Kaum melawan Kaum Hantu. Itu jelas tidak seimbang. Namun kekuatan Sang Ketua Kaum Hantu tidak bisa diragukan. Ia bisa menghancurkan satu kaum sekaligus hanya dalam satu jentikan jari.
Saat semua sibuk bertempur, seorang gadis manusia sedang tergeletak tidak berdaya di atas rerumputan. Darah mengalir deras dari tubuhnya yang penuh luka sayatan. Kesadarannya perlahan-lahan terenggut dari dalam raganya. Alam kegelapan terus menarik paksa kesadarannya.
"Tuan ! Nona terluka parah. Sebaiknya Tuan menemuinya, kami yang akan melawan mereka !" kata salah satu Hantu saat Sang Ketua tiba.
Air mata seketika jatuh membasahi wajahnya saat melihat gadis pujaannya sedang tergeletak tidak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya. Ia duduk bersimpuh di samping sang gadis dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
"Apa ini sakit ?" tanyanya lirih.
Bodoh !
Tentu saja itu sakit. Dia manusia biasa yang lemah. Luka sebanyak itu tentu saja sakit.
"Wi-Winter !" suara gadis itu terdengar sangat lemah.
"Ti-tidak ! Sekarang sudah tidak sakit karena kau ada di sini" lanjut gadis itu membuat hati Winter semakin berdenyut sakit.
"Maaf ! Maaf aku datang terlambat !" sesal Winter.
"Kumohon bertahanlah ! Jangan tinggalin aku. Kumohon !" Winter memohon dengan air mata yang semakin mengalir deras.
"Bodoh ! Bagaimana mungkin Ketua dari Kaum Hantu yang hebat menangis seperti anak kecil begitu ?" ejeknya mencoba bercanda. Padahal kesadarannya semakin melemah.
"Wi-Winter ! Kau tahu aku manusia biasa, kan ? Kami adalah makhluk yang lemah. Umur kami selalu jauh lebih pendek dari umur kalian. Ja-jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri jika aku pergi karena itu bukanlah kesalahanmu !"
"Winter, a-aku mencin-tai-mu. Se-selamanya !"
Dan semua berakhir di situ. Gadis itu tidak bisa bertahan lebih lama lagi dengan luka parah seperti itu. Ia pergi untuk selamanya. Meninggalkan Winter yang mencintainya begitu besar. Padahal dia adalah cinta pertama Winter.
"Kai ! Tidak ! Jangan tinggalin aku, kumohon ! Kai, bangunlah ! Jangan mati, Kai !"
"KAI...."
Berakhirnya hidup Kai menandakan berakhirnya hubungan Kaum Hantu dengan kaum-kaum yang lain. Hari itu, Winter mengamuk. Menghancurkan kaum lain menjadi serpihan debu. Tidak ada ampun bagi mereka. Banyak yang lenyap di tangan Winter di saat itu. Hanya ada sedikit yang bisa selamat karena melarikan diri.
Sejak hari itu, seluruh kaum tinggal dengan cara terpisah. Tidak ada lagi yang hidup berdampingan. Semua pergi mencoba menyelamatkan diri dari amukan Winter. Tidak ada yang berani menampakkan batang hidungnya lagi di depan Winter sejak hari itu.
"I still remember the first day I met you. Don't worry, cause I will be waiting for you !" Winter.
Tahun demi tahun, bahkan ribuan tahun telah berlalu. Dan Winter masih terus menunggu dan menunggu. Menunggu Sang Pujaan Hati kembali dilahirkan ke dunia ini.
Menunggu...
Sudah cukup lama Winter menunggunya. Sudah dalam jangka waktu yang tidak sebentar ia terus menunggu. Menunggu, bahkan sudah menjadi rutinitas wajibnya. Menanti kehadirannya kembali dengan ketidaksabaran.
🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳
"Ja-jadi, Winter benar-benar bukan manusia tapi hantu ? Dan...dan Kai adalah pujaan hati Winter yang terbunuh hari itu ?" kakek dan nenek mengangguk mengiyakan.
"Ta-tapi, bisa saja kan Winter yang kakek dan nenek maksud itu bukan Winter yang ini. Orang lain kan bisa saja juga mempunyai nama Winter !"
"Tidak, nak ! Pemilik nama Winter hanya ada satu. Dan itu adalah dia. Nama Winter adalah nama yang dilarang digunakan oleh siapapun, karena nama itu hanya boleh dimiliki oleh Sang Penguasa Hutan" jawab kakek lagi.
"Tapi..."
"Istri yang kasih nama Winter !" Kai menoleh pada Winter yang duduk di sampingnya.
Pria tampan itu, Kai hampir saja dibuat terpana saat melihat penampilannya setelah mengganti baju tadi. Untung saja kewarasannya beranjak meninggalkannya hanya sesaat, jadi ia dengan cepat menyadarkan dirinya.
Dan sekarang dia lagi-lagi mendengar fakta luar biasa. Pria itu, bagaiman mungkin dia adalah hantu ? Ketua para Hantu pula. Ohh God ! Bagaimana mungkin ia bisa bertemu dengan sosok Sang Penguasa Hutan seperti dia. Tapi dalam wujud yang polos seperti itu.
"Hah ! Aku ? Ha-ha-ha..." Kai memasang wajah dongkol.
"Hey, Winter ! Kamu bisa saja salah orang, kan ? Di dunia ini yang memiliki nama Kai bukan cuma aku, loh. Bisa saja Kai pujaan hatimu itu bukan aku, tapi orang lain. Iya, itu belum tentu aku !" Kai menatap Winter serius.
Wajah Winter kembali sendu. Terlihat jelas bahwa ia takut Kai kembali meninggalkannya.
"Kai adalah istriku !" ucap Winter yakin.
Tentu saja dia tahu siapa istrinya. Karena dia sudah mengawasinya sejak pertama kali ia dilahirkan ke dunia ini. Ia sudah menjaga dan melindunginya dari kaum-kaum lain yang ingin membunuhnya. Sayangnya, ia gagal melindungi ayah dari gadisnya itu. Yang tidak lain adalah salah satu kaumnya sendiri.
"Sayang ! Mungkin sekarang saatnya kamu tahu penyebab kenapa papahmu meninggal" ucap Zahra tiba-tiba. Sejak tadi dia hanya diam saja.
"Maksud mamah ?"
"Kai, sayang ! Sebenarnya papah meninggal bukan karena sakit atau pun kecelakaan. Papah...papah dibunuh, sayang !" jelas Zahra. Air matanya mulai mengucur deras.
"Di-dibunuh ?" beo Kai tidak percaya.
"Dibunuh serigala karena melindungi istri !" celetuk Winter semakin mengejutkan Kai.
Seperti potongan puzzle yang saling menyatu dan melengkapi, tanda tanya di kepala mereka selama ini akhirnya terjawab sudah. Kai akhirnya tahu alasan ayahnya meninggal. Kakek, nenek dan Zahra pun akhirnya mengerti mengapa Kai terus-menerus mengalami hal-hal aneh. Apalagi saat datang ke Desa Berkabut.
Alasan mengapa alam seakan begitu mencintai Kai dan selalu menyambut kedatangannya, itu karena dia adalah pujaan hati Sang Penguasa Hutan. Kai adalah gadis yang telah lama dinantikan kehadirannya oleh Winter.
"Ja-jadi, sekarang bagaimana ?"
"Kai nggak harus menikah dengannya, kan ?" tanya Kai lagi.
"Kai, sayang ! Mungkin sekarang kamu belum suka sama Winter, tapi percayalah nanti kamu juga akan mencintainya. Karena dalam cerita rakyat yang beredar di Desa Berkabut mengatakan bahwa Kai diciptakan memang hanya untuk Sang Penguasa Hutan" jelas nenek.
Kai menghembuskan napas berat.
Tidak ! Bukan karena ia tidak menyukai Winter. Jantungnya bahkan sudah berdetak tidak biasa sejak pertama kali melihat pria itu. Pertama kali Kai melihat Winter bukanlah di danau tadi, tapi sejak hari pertama mereka sampai di desa itu. Kai baru menyadarinya sekarang, bahwa sosok pria berbaju serba hitam yang ia lihat saat itu adalah Winter.
Winter adalah pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata. Bentuk tubuhnya pun sangat bagus. Dia adalah pria yang bisa membuat semua perempuan akan langsung jatuh hati padanya saat pertama kali melihatnya. Tak terkecuali Kai. Entah itu karena dia memang diciptakan hanya untuk Winter atau bagaimana. Tapi detak jantungnya benar-benar aneh sejak pertama kali melihat Winter.
🍁
Masa liburan Kai sudah berakhir. Liburan kali ini benar-benar sangat menyenangkan bagi Kai. Ia sangat menikmatinya. Apalagi ada Winter yang selalu menemaninya. Lebih tepatnya, terus mengintilinya seperti parasit. Anehnya, Kai menyukainya. Hidupnya seperti jauh lebih berwarna setelah ada Winter. Winter seperti penghapus kesedihan di dalam hidup Kai.
Kai...sepertinya dia benar-benar telah jatuh hati pada pria polos itu.
Menggemaskan sekali !
Perjalanan ke kota membutuhkan waktu yang lama. Tapi kali ini mungkin akan sangat berbeda. Karena kali ini mereka tidak hanya berdua saja. Sekarang ada Winter yang menemani mereka. Awalnya mereka berencana untuk meninggalkan Winter di rumah kakek neneknya. Biar bagaimana pun Kai masih sekolah. Ia harus kembali ke kota untuk melanjutkan sekolah. Rencananya, setelah lulus nanti barulah ia kembali ke desa untuk mengambil Winter.
Tapi Winter menolak mentah-mentah. Wajah putihnya benar-benar seketika berubah suram saat Kai mengatakan itu. Ia terlihat begitu ketakutan. Mungkin Winter takut kehilangan Kai lagi. Pada akhirnya Zahra memutuskan untuk membawa Winter. Zahra akan meminta kerabatnya untuk membuatkan identitas untuk Winter. Mungkin ikut bersekolah bersama Kai adalah ide yang bagus. Dengan begitu Zahra tidak akan khawatir lagi jika ada yang mengganggu Kai di sekolah. Karena Winter pasti akan menjaganya dengan baik.
"Winter ! Jadi, kamu benaran hantu ?" tanya Kai untuk yang kesekian kalinya. Dan Winter langsung mengangguk mengiyakan.
"Hantu apa ?"
"Hantu Hutan. Semua hutan adalah milikku !" Kai berdecik mendengar jawaban Winter yang terkesan sombong.
"Hutan ? Pantas saja aku seperti bisa melihat hamparan hutan dari kedua matamu. Kamu juga mempunyai aroma seperti aroma hutan. Auramu juga dingin dan menyegarkan. Wah ! Bisa gitu, yaa !" Kai merasa takjub. Tapi tetap saja masih ada keraguan di dalam hatinya. Seperti tidak percaya bahwa semua itu nyata.
"Katanya Winter Ketua Kaum Hantu. Kakek bilang kamu sangat kuat. Emang sekuat apa ?" tanya Kai penasaran.
"Istri mau Winter melakukan apa ? Winter bisa menghancurkan kuda besi ini menjadi debu. Sangat gampang !" Kai membulatkan kedua matanya sempurna.
"Yaak ! Kamu gila, yaa ? Kalau mobilnya kamu hancurkan, kamu mau kita jalan ke kota !" teriak Kai mendadak frustasi.
Sesaat ia lupa dengan pesan kakek dan neneknya. Bahwa Winter hanya akan mendengar apa yang ia katakan. Dan pria polos itu akan melakukan apapun yang Kai ucapkan. Seharusnya Kai berhati-hati dengan mulutnya. Salah-salah Winter bisa menghancurkan sesuatu jika ia tidak hati-hati.
Zahra yang sedang sibuk di balik kemudi hanya bisa menggeleng kepalanya tidak habis pikir. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat anak semata wayangnya terlihat jauh lebih bahagia sejak bertemu Winter. Kai terlihat lebih ceria dan penuh semangat. Zahra senang.
"Nggak nggak ! Aku tidak menyuruhmu menghancurkan mobil ini ! Ahh, sudahlah ! Aku percaya kamu hantu dan kamu kuat. Cih !" Kai memilih untuk tidak meminta Winter membuktikan kekuatannya sekarang. Bisa berabe kalau ia salah-salah mengucapkan sesuatu.
Zahra melirik kaca spion saat tidak lagi mendengar kegaduhan di kursi belakang. Senyumnya seketika melebar saat melihat Kai yang ternyata sudah tertidur pulas dalam pelukan Winter. Wajahnya terlihat begitu tenang dan penuh kebahagiaan. Ahh, bahkan dalam tidurnya Kai masih bisa tersenyum seperti itu.
Apa dia sebahagia itu bertemu Winter ?
"Alexi ! Lihatlah, anak kita sudah bahagia sekarang !" batin Zahra merasa bangga. Ingin memerkan kebahagiaan mereka pada sang suami yang telah lama berpulang.
"Seharusnya kamu juga ada di sini dan melihat anak gadis kita bahagia !" lirih Zahra.
"Penjaga Alexi tidak sedih karena mati saat melindungi Kai !" ucap Winter tiba-tiba. Zahra menoleh sebentar sebelum kembali fokus dengan jalanan. Seakan bertanya 'maksudnya ?'.
"Dia bukan manusia. Dia adalah Hantu Penjaga !" jelas Winter membuat Zahra cukup terkejut mendengarnya.
"Ma-maksudmu, Alexi bukanlah manusia tetapi seorang hantu sama seperti dirimu ?" tanya Zahra memastikan.
Winter mengangguk polos.
Zahra mengangguk mengerti. Meski cukup terkejut mendengar fakta itu, namun seperti potongan puzzle yang kembali saling melengkapi. Zahra akhrinya paham dengan maksud ucapan Alexi dulu. Kata-katanya yang terdengar aneh, kini Zahra memahami maksudnya.
"Sayang ! Jadi, ini yang kamu maksud dulu ? Cih ! Seharusnya kamu mengatakannya langsung, sayang ! Aku mencintaimu bahkan jika tahu kamu bukanlah manusia sepertiku" Zahra bergumam lirih. Senyumnya terlihat semakin merekah indah.
🌳
Cup...
"Winter ! Kenapa kamu menciumku ?" teriakan menggelegar Kai di pagi buta sudah terdengar memenuhi rumah berlantai dua itu.
"Candra bilang ciuman itu adalah tanda sayang. Winter sayang istri jadi Winter cium istri !" jawab Winter polos. Dia tidak tahu saja bagaimana merahnya wajah Kai sekarang. Jantungnya pun mendadak berdentum upnormal.
"Candra, sialan ! Mulai hari ini jangan dekat-dekat lagi sama anak mesum itu !" teriakan Kai kembali terdengar. Cepat-cepat ia bangun dan berlari ke kamar mandi.
Winter yang sudah siap dengan seragam sekolahnya pun menyiapkan seragam Kai, merapikan kamar gadis itu dan menata semuanya di tempat masing-masing. Kamar yang sebelumnya tampak suram itu kini telah berubah 180°. Kamar itu kini telah menjelma menjadi mini jungle. Entah bagaimana caranya Winter bisa menumbuhkan pohon-pohon indah dengan ukuran yang pas di kamar Kai. Membuat kamar itu menjadi begitu indah dan nyaman. Dan tentu saja sangat menyejukkan.
Kai sangat menyukainya.
Sudah enam bulan sejak Winter tinggal di rumah Kai. Kehidupan Kai yang awalnya flat mendadak seperti pelangi yang penuh warna. Meski awalnya ia kesulitan menjelaskan pada teman-temannya mengenai Winter, namun perlahan semua menjadi baik-baik saja. Winter pun sangat penurut. Jadi, Kai lebih mudah mengajarinya tentang bagaimana kehidupan manusia.
Hari demi hari pun Winter mulai berteman dengan yang lain. Belajar menjadi seorang pria gantleman. Candra yang terkenal sebagai penakluk hati wanita pun dengan senang hati mengajari Winter tentang banyak hal. Tentu saja sekalian mengerjai Kai yang terkenal jutek dengan laki-laki. Candra yang memang sudah lama kenal dengan Kai tentu saja tahu bahwa Winter adalah pacar dan cinta pertama Kai. Sekalian saja ia membantu hubungan temannya itu.
Candra baik, kan ?
Ohh, tentu saja ! Dimana lagi Kai bisa menemukan teman sebaik Candra yang bahkan peduli dengan hubungan percintaannya ?
Sungguh, teman yang sempurna !
"Mamah kita berangkat dulu, yaa !" pamit Kai sambil mencium pipi kiri dan kanan Zahra.
"Hati-hati, sayang ! Winter juga. Mamah titip Kai, yaa !" Winter mengangguk patuh.
Winter mengayuh sepeda dengan mudah. Membawa mereka ke sekolah yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah mereka. Kai yang duduk di belakang memeluk ransel Winter sebagai pegangan. Wajahnya tiba-tiba merona mengingat kejadian tadi.
Ahh, ciuman pertamanya yang berharga !
Ciiittt....
Winter tiba-tiba menghentikan laju sepeda membuat Kai yang sedang melamun cukup terkejut.
"Kenapa ? Kamu kenapa menghentikan sepedanya tiba-tiba ?"
"Aku lupa sesuatu !"
"Lupa ? Kamu melupakan apa ?" tanya Kai mendadak serius saat melihat wajah serius Winter. Tidak biasanya Winter melupakan sesuatu. Dia bahkan memiliki ingatan yang luar biasa bagus.
"Aku lupa memberi istri ciuman selamat pagi !" ucap Winter dengan wajah super polos.
"APA ? Ciuman selamat pagi ? Kau bahkan sudah merebut ciuman pertamaku tadi. Dasar, Winter mesum ! Siapa yang mengajarimu jadi mesum begitu, hah !" wajah Kai tampak semakin memerah malu.
Aaaa...dasar Winter bodoh !
"Itu juga ciuman pertama Winter !" ucap Winter malu-malu. Wajahnya terlihat bersemu merah.
Menggemaskan sekali !
"Mamah, papah ! Winter kok gemesin gitu, sih ? Ini nih yang aku takutkan kalau dia maksa tidur di kamarku. Aku sama sekali tidak takut dia akan macam-macam sama aku. Malahan sebaliknya, aku takut kehilangan akal sehatku dan menyerangnya duluan. Aku takut kalap melihat wajah menggemaskannya itu dan merebut kesucian pria polos itu. Huaa...ini tidak benar ! Sepertinya aku sudah gila !" Kai memukul-mukul kepalanya yang sudah berkelana kemana-mana.
"Istri kenapa ? Jangan memukul kepalamu !" Winter menggenggam kedua tangan Kai. Mencegah gadis itu memukul kepalanya lagi. Wajahnya lagi-lagi terlihat begitu khawatir.
"Jangan menatapku seperti itu !" Kai menoleh ke lain arah, mencoba menyembunyikan wajahnya yang semakin merona merah.
🌳🌳🌳
5 TAHUN KEMUDIAN...
Kai dan Winter telah lulus kuliah. Mereka kuliah di Universitas yang sama, namun berbeda jurusan. Kai mengambil jurusan Ilmu Gizi, sementara Winter mengambil jurusan Pertanian. Bukan tanpa alasan, Kai mengambil Ilmu Gizi karena ia bercita-cita menjadi Head Chef. Winter mengambil jurusan Pertanian pun karena ingin membuka toko bunga dan tanaman hias.
Lucu sekali !
Apalagi saat pria polos itu mengatakan ingin mengumpulkan banyak uang untuk melamar Kai. Semakin lama Winter semakin pandai menggombal. Ia pun selalu bisa membuat jantung Kai hampir meledak dengan segala tingkah romantisnya. Meski sifat polosnya masih lebih dominan, namun Winter telah benar-benar memahami kehidupan manusia dengan baik.
Hari ini, Kai benar-benar sedang sibuk di restoran. Restoran yang ia bangun dari nol bersama Sang Ibu. Hari ini restoran yang merangkap dengan kafe di lantai dasar tampak lebih ramai dari biasanya karena sedang akhir pekan. Kai benar-benar dibuat kelimpungan. Ia bahkan tidak bisa untuk sekedar menerima panggilan telepon. Padahal ponselnya sudah berdering sejak tadi.
"Maaf, Head Chef ! Ponsel Anda berbunyi sejak tadi. Sepertinya itu dari tuan Winter. Tadi saya juga melihat tuan Winter menunggu Anda di luar !" Kai menoleh pada salah satu pelayan yang hendak mengantarkan pesanan pelanggan.
"Ahh, benarkah ? Bisakah kau katakan padanya untuk menunggu sebentar ? Aku akan menemuinya setelah pesanan siap. Ohh, dan tolong antarkan minuman untuknya !" pelayan itu langsung mengangguk.
Kai kembali fokus mengatur dan mengawasi seluruh tugas-tugas dapur. Memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya dengan kualitas masakan yang sesuai. 20 menit kemudian Kai baru selesai dengan tugasnya. Sebenarnya masih ada beberapa pesanan, namun ia mempercayakannya pada Sous Chef. Sepertinya Winter sudah menunggu terlalu lama. Padahal malam ini mereka janjian untuk jalan-jalan. Menghabiskan malam minggu selayaknya pasangan pada umumnya.
"Winter ! Maaf aku membuatmu menunggu lama !" sesal Kai yang langsung duduk di kursi depan Winter.
"Tidak apa-apa ! Aku bahkan sudah menunggumu lebih lama dari ini" senyum menyejukkan terukir menghiasi wajah tampan Winter.
"Jadi, nanti malam kita akan kemana ?" tanya Kai lagi. Ia mengambil alih minuman yang baru saja diminum Winter. Wajah Winter seketika memerah saat bibir Kai menempel tepat dimana bibirnya tadi menempel.
Bukankah itu adalah ciuman tidak langsung ?
"Kemana pun Kai mau !"
Yah ! Perlahan-lahan Winter tidak lagi memanggil Kai dengan sebutan istri. Sekarang ia sudah mulai membiasakan diri memanggil Kai dengan nama.
"Tidak ! Selama ini kita sudah mendatangi semua tempat yang aku inginkan. Sekarang kita mendatangi tempat yang ingin kamu datangi !"
"Benarkah ?" Kai mengangguk.
"Kalau begitu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat !"
Malam pun tiba. Dan disinilah mereka sekarang. Di sebuah danau kecil di tengah hutan. Di sekeliling danau dihiasi berbagai macam jenis bunga dengan warna-warni yang begitu indah. Membuatnya terlihat seperti taman bunga yang begitu menakjubkan. Kai bahkan dibuat terkesima melihatnya.
"Apa kau yang membuatnya ?" tanya Kai dengan mata berbinar.
"Iya. Kai suka taman bunga, jadi aku membuat ini untuk Kai !" jawab Winter malu-malu.
"Winter ! Thank you so much. I love you !"
Cup...
Kai mencium pipi kiri dan kanan Winter bergantian. Kemudian memeluk tubuh tinggi tegap Winter yang tampak kaku karena ia menciumnya secara tiba-tiba. Ahh, Kai sangat mencintai pria polosnya itu. Sangat !
Kai melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. Kedua mata mereka saling terkunci. Wajah keduanya sudah sangat merah seperti tomat. Dan jantung itu masih saja berdetak tidak normal. Padahal mereka sudah bersama selama bertahun-tahun lamanya. Tapi, rasanya mereka seperti baru saja jadian kemarin sore.
"Kai...Will you marry me ?" Winter tiba-tiba berlutut di depan Kai dan menyodorkan sebuah cincin yang luar biasa indah.
"Winter..." Kai membekap mulutnya tidak percaya. Air matanya bahkan mendadak menganak sungai.
Bahagia.
"Kai aku mencintaimu. Dulu, detik ini dan selamanya ! Maukah kamu menikah denganku, Kai ?" Winter mengulangi pertanyaannya.
"Iya, aku mau ! Aku mau menikah denganmu, Winter !" isakan Kai akhirnya pecah. Tak mampu membendung rasa harunya.
Senyum Winter merekah indah. Ia sudah takut-takut Kai akan menolaknya. Meski sudah lama bersama, tapi Winter masih tetap takut jika pada akhirnya Kai menolaknya. Biar bagaimana pun dia bukanlah seorang manusia.
Winter memasangkan cincin itu di jari manis Kai. Mengecup lembut kedua tangan gadisnya kemudian. Ia bangkit dan menarik Kai ke dalam pelukannya. Winter bahagia. Sangat sangat bahagia. Akhirnya penantian lamanya telah berakhir. Akhirnya pujaan hatinya telah ada di dalam pelukannya. Akhirnya, ia bisa memiliki gadisnya dengan seutuhnya.
Angin tiba-tiba bertiup kencang membuat dedaunan bergerak tak tentu arah. Itu sama persis seperti yang terjadi saat Kai berada di Desa Berkabut. Angin seperti berbisik padanya dan dedaunan seakan melambai padanya. Seakan berkata "Selamat !".
"Winter..."
"Kaum Hantu ingin merayakannya dengan cara seperti ini. Mereka ingin mengucapkan selamat kepada kita. Mereka turut bahagia karena sekarang kita bersama !" jelas Winter yang paham dengan maksud Kai.
"Benarkah ?" Winter mengangguk.
Malam semakin larut, namun Kai dan Winter masih setia duduk berdua di taman itu. Kai terus-menerus berdecak kagum melihat keindahan malam di tengah hutan itu. Di sana bahkan sama sekali tidak gelap karena ada begitu banyak kunang-kunang yang berkumpul seakan memang ingin menjadi penerang untuk Kai dan Winter.
Tidak sampai di situ saja. Beberapa Hantu bahkan bisa mengucapkan selamat secara langsung pada Kai dan Sang Penguasa Hutan. Kai pikir wujud Hantu-hantu itu akan sangat menyeramkan, namun ternyata dugaannya salah. Semua Hantu memiliki kemampuan untuk mengubah wujudnya sesuai dengan yang mereka inginkan.
Waktu bergulir pergi. Satu minggu kemudian pernikahan Kai dan Winter digelar. Senyum bahagia menghiasi wajah Kai dan Winter, pun seluruh tamu yang sempat hadir di acara pernikahan mereka. Seakan turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan kedua mempelai itu.
Jika itu adalah sebuah dongeng, mungkin kalimat "Marry and live happily ever after !" adalah kalimat yang tepat untuk mengakhiri cerita mereka. Namun sayangnya, itu adalah kisah KAI & WINTER. Kisah sepasang manusia dan hantu. Manusia adalah makhluk lemah yang akan meninggal setelah durasinya di dunia telah habis. Mereka lemah dan mereka bisa terluka dengan mudah. Berbeda dengan Winter, Hantu kuat yang bisa hidup selamanya.
Tak peduli seberapa besar mereka saling mencintai, suatu hari nanti Kai akan kembali meninggalkan Winter. Dan Winter harus kembali menunggu Sang Pujaan Hati terlahir kembali ke dunia. Namun, tak peduli dengan semua itu. Mereka akan saling mencintai dan saling menjaga selama waktu yang tersisa untuk mereka. Winter akan melindungi Kai dengan sepenuh jiwanya. Ia akan memperlakukan Kai dengan baik. Ia akan membuat Kai bahagia hidup bersamanya.
Pasti !
"Winter, I love you !"
"I love you more, Kai !"
Ciuman lembut di malam pertama pun menghangat tubuh mereka. Menyalurkan cinta yang menggebu setelah sekian lama. Menyatukan jiwa yang saling mencintai dengan tulus. Saling memiliki dengan seutuhnya.
"I will always be waiting for you, Kai ! Forever ! Tak peduli selama apa lagi aku harus menunggu, tak peduli berapa ribu tahun aku harus menunggu. Percayalah, aku akan terus menunggumu !" bisik Winter lembut.
"Terima kasih, Winter ! Aku sangat mencintaimu !" Kai mengecup lembut bibir Winter.
Dan mereka benar-benar telah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka saling memiliki dengan seutuhnya. Kai adalah milik Winter dan Winter adalah milik Kai.
Selamanya akan tetap seperti itu !💑
SELESAI...😉😙😙
🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳