Siang ini, ayah menyuruhku untuk membeli pakan kucing dan kini, aku tengah bermotor menyusuri jalanan raya menuju sebuah pet shop yang lumayan jauh dari komplek perumahan. Bukan lumayan, sih, tapi memang jauh.
Dulu, ketika mempunyai anak kucing yang didapat dari jalanan, ayah selalu memberinya ikan pindang untuk makan kucing. Sekarang pun juga begitu. Jika uang gaji ayah kurang, ayah hanya akan memberi kucing-kucingnya ikan pindang.
Ayahku termasuk dalam orang-orang pecinta kucing. Jika dia melihat kucing di jalanan, ayah pasti akan membawanya. Kalau aku sendiri takut sama kucing, tapi itu dulu, sekarang sudah lumayan dekat.
Di rumah ayah punya sepuluh ekor kucing. Demi rumahnya tidak kotor, ayah pun membuatkan rumah untuk kucingnya. Tidak besar, hanya sepetak tanah di sebelah rumah.
Aku menyambar dua plastik besar cat food tuna dan chicken, tatkala memasuki pet shop.
Aku membayar lalu keluar menghampiri sepeda motor yang terparkir cantik di depan pet shop. Netra ini berkeliling melihat jalanan yang tampak lengang dan juga baru. Aku belum pernah pergi ke sini. Aku terpaksa mencari pet shop sampai sini, karena toko langganan tutup.
Mataku menyipit ketika melihat anak kecil yang berada di seberang jalan di depan minimarket. Ingin sekali menghampirinya dan menanyakan keberadaan orang tuanya, kenapa dia begitu lalai. Lagipula tenggorokanku kering, aku akan membeli minum untuk membasahi tenggorokanku ini.
Aku memarkirkan sepeda motor lalu masuk begitu saja. Padahal niatku ingin menghampiri anak manis itu. Ketika sudah di depan kaca kulkas, netra ini langsung tertuju pada minuman isotonik yang berada di paling atas. Mungkin minuman ini baru dan juga ada potongan harganya, wow!
Kaki ini berjengket, tanganku mencoba untuk meraih botol minuman itu, tetapi nihil. Sependek itukah, tubuhku?
"Makanya minum susu biar tinggi!"
Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba ada suara pria di belakangku. Tangannya yang jenjang di atas kepalaku meraih botol minuman yang akan aku beli. Menyebalkan sekali dia, bahkan dari masih kecil aku minum susu, tetapi masih pendek.
Dengan muka yang biasa saja, dia menyodorkan botol minuman itu dan aku menerimanya dengan senang hati.
Aku keluar dari pintu minimarket. Anak kecil itu masih ada di sana, aku mencoba untuk menghampirinya. Anak kecil itu berdiri dan mundur beberapa langkah, ketika aku berjongkok di sebelahnya.
"Kakak bukan orang jahat kok," ucapku sembari mengulas senyum semanis mungkin.
"Beneran?" Kedua alisnya terangkat, lalu menghampiriku dan kembali mengelus-elus anak kucing.
Aku mengangguk dan tersenyum, lagi.
"Kamu suka kucing ini, dek?" tanyaku. Asyik banget kayaknya, kelihatan dari matanya dia suka banget sama kucing.
Dia mengangguk. "Akak?"
"Suka, banget! Kenapa nggak di bawa pulang?"
“Papa gak suka kucing, dia takut kucing,” ucapnya. Aku hanya ber-oh ria saja.
***
Sesampainya di rumah, aku terkejut melihat ayah yang sedang memindahkan kucing-kucingnya ke dalam pet cargo.
“Kenapa dimasukin ke sana, Yah?” Aku menyimpan plastik besar di meja depan rumah.
Ayahku hanya menoleh, lalu kembali membereskan pet cargo yang masing-masing berisikan satu kucing.
“Ayah mau menitipkan kucing ini sementara, setelah acara selesai,” ucapnya. Ia duduk dan aku mengikutinya.
“Kemana?”
“Bukannya penitipan kucing itu bayar ya?”
“Terus, bakal ada acara apa sih, Yah?”
Ayah hanya menatapku, tapi aku menunggunya menjawab semua deretan pertanyaanku.
“Ibu gak ngasih tau kamu?” Aku menggeleng tak tahu, ibu tak bicara apa-apa tentang acara. Entah acara apa.
“Loh, kok gak dikasih tau, kamu kan mau dijodohin,” ucap ayahku dengan percaya diri.
Aku melotot, tak percaya bahwa aku akan dicarikan jodoh oleh orang tuaku. Padahal kan umurku baru 24 tahun. Jantungku cukup berdebar mendengar pernyataan yang aku tak mau sama sekali, tapi apa boleh buat.
Jika menurut orang tuaku itu baik, aku akan menjalaninya dengan lapang dada dan menurutinya.
***
Satu minggu setelah acara ijab kabul, kehidupanku tampak menjengkelkan. Ternyata, orang yang ayah jodohkan itu adalah Gara, duda satu anak yang aku temui di minimarket, setelah membeli pakan kucing hari itu.
Namun, anaknya cukup lucu, ia menyukai kucing yang ada di rumah ayah. Baru saja kemarin dikembalikan, setelah dititipkan selama kurang lebih dua minggu.
Aku tahu alasan mengapa ayahku menitipkan semua kucingnya, ternyata Gara mempunyai alergi terhadap bulu kucing.
Hari ini, aku dan keluarga kecilku ini akan pergi piknik. Entah, Gara tiba-tiba sekali mengajakku piknik dan … ada aura berbeda dari dirinya. Dia lebih kalem hari ini, tak seperti biasa yang hobinya menggangguku dengan kejahilannya.
Tikar piknik berwarna hijau pastel kesukaanku telah terbentang di tengah rerumputan. Lengkap dengan makanan yang ada di tengah tikar itu. Aku tersenyum senang, sedangkan Dara, jauh lebih senang. Ia berlari menghampiri tikar itu.
***
Tampaknya Dara mempunyai teman baru, ia terlihat senang bermain sepeda dengan temannya. Aku hanya senang melihatnya. Tak kusangka, takdirku akan seindah ini.
Ketika fokus melihat pemandang yang indah, Gara berucap lirih, “Aku menyayangimu, Ciara.”
Aku menoleh dengan wajah polos. Gara menatapku dalam-dalam. Jujur jantungku berdebar-debar, aku takut dia mendengar detak jantungku yang tak karuan.
Aku tersenyum manis, walau ingin menangis. Aku terharu.
Tangan kirinya yang sedari tadi ada di belakang, kini ia gerakan ke depan dengan menggenggam satu tangkai bunga mawar berwarna putih.
“Aku bersyukur punya istri yang mandiri, bisa merawat suami dan anaknya dengan baik, dan aku juga bersyukur, punya istri pendek se-imut dan selucu kamu.
Aku menyayangimu, menyukaimu, mencintaimu sampai akhir hayat ku.”
Awalnya aku terharu, sedikit kesal ketika dia membahas tinggi tubuhku yang pendek, mentang-mentang dirinya tinggi. Namun, aku terharu kembali, mendengar kalimat terakhirnya. Semoga apa yang ia katakan benar dan tidak mengingkari janjinya.