“Yang paling erat kau peluk adalah yang paling meremukkanmu.”
“Ga kerasa ya Res ... ini udah foto buku tahunan, bentar lagi udah wisuda aja.” ucap Rania yang sedang duduk di bangku koridor aula.
“Iya, bagus sih, gue jadi terhindar dari orang gila kaya lo.” ledek Ares yang dibalas tawa oleh Rania.
Rania Kaneishia, gadis kelahiran Jakarta yang menyimpan sejuta pesona itu kini sedang menimba ilmu di Sekolah Menengah Atas dan duduk di bangku kelas 12 (lebih tepatnya 12 IPA 2). Rania merupakan anak tunggal yang cukup introvert. Sedari kecil ia jarang bertemu kedua orang tuanya, papa dan mamanya kerja di Pulau Dewata sana dan hanya pulang sekitar empat sampai enam bulan sekali. Rania sangat suka menulis cerita, sejak kecil ia sering menulis beberapa cerita, bahkan ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 7, ia pernah menerbitkan satu novel yang sekarang masih di cetak ulang.
Sehari-harinya Rania hanya tinggal bersama pekerja rumah tangganya yaitu Mba Nita dan Pak Edi sebagai supirnya. Ia juga sering mengajak Zeina Faradhita yang merupakan sepupu dekatnya itu untuk singgah dirumahnya selama beberapa hari. Selain Zeina, Rania juga memiliki teman masa kecil, Naresh Arkatama, yang akrab disebut Ares. Rania dan Ares, sudah tidak ada canggung lagi diantara keduanya, bahkan bisa dibilang mereka bak adik kakak. Mereka juga bersekolah di sekolah yang sama, satu kelas pula.
“WOI, RANIA, ARES, NGAPAIN PADA DISITU?
PADA MAU IKUT FOTO GA?” teriak salah satu teman kelas mereka.
“Ayo lomba lari Ran.” ajak Ares sembari menarik lengan Rania pelan.
“Ngga, ngga ... Nanti kalo dimarahin—“
“Yang menang boleh minta apa yang dia mau.” ucap Ares.
“Okey, siapa berani, tapi kalo gue kesandung gimana? Gue kan pake rok lilit.” balas Rania.
“1, 2, 3.”
“AREEEESSS.” teriak Rania.
Setelah kegiatan foto buku tahunan selesai. Ketika jam digital pada ponsel menunjukkan pukul 16.30, Rania dan Ares segera bergegas menuju parkiran sekolahnya itu. Mereka sedikit lelah dengan kegiatan hari ini, karena rupanya foto buku tahunan memakan waktu yang cukup lama.
Ares yang sedang memainkan kunci mobil di tangan kanannya sambil jalan berdampingan dengan Rania. “Ran, soto Mang Ujang yuk, laper deh.” Ajaknya.
“Dih, gue dijemput Pak Edi.” jawab Rania.
“Yakin ga mau soto Mang Ujang? Seger banget nih sore-sore begini.” ujar Ares sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Yaudah ayo. Gue chat Pak Edi dulu.” jawab Rania.
Di warung soto Mang Ujang.
“Sotonya 2 ya mang, kaya biasa.” ucap Ares.
Rania yang sudah duduk terlebih dahulu memilih untuk memesankan minum untuknya dan teman kecilnya itu. “Nih.” ucap Rania sembari menyodorkan sebotol minuman.
“Thanks.”
“Iya, eh lo mau lanjut kuliah dimana? Jadi di Maheswari?” tanya Rania.
“Gue udah nargetin buat masuk sana, lo juga mau di Maheswari kan?” Ares bertanya balik.
“Iyaa.”
“Ini sotonya, seperti biasa ... ini kenapa pada rapih, pake baju kebaya sama jas gini?” tanya Mang Ujang.
“Makasih, abis foto buku tahunan Mang.” jawab Rania ramah.
“Oalah iya, yaudah dimakan keburu bening lagi kuah sotonya.” ucap Mang Ujang yang langsung kembali ke dapur untuk membuat pesanan soto pelanggan lain.
“Ada-ada aja Mang Ujang.” ucap Ares sambil tertawa.
“Res, lo abis ini ada kegiatan ga? Senja yuk.” ajak Rania.
“Ga ada, boleh ayo, gabut juga gue di rumah.” jawab Ares.
Setelah selesai menyantap soto segarnya, mereka langsung bergegas ke mobil Ares dan Ares langsung melajukan mobilnya menuju Pantai Renjana yang merupakan tempat mereka biasanya melihat Senja.
Di Pantai Renjana. Ketika turun dari mobil, Rania langsung berlari menuju desiran ombak yang seakan memanggilnya untuk mendekat. Rania mendudukkan dirinya di atas butiran pasir lembut yang menyapanya. Langit yang biru mulai merubah penampilannya dengan secercah warna oranye dan merah muda disekitarnya. Di temani sekelompok burung-burung yang terbang bebas dilangit sana, disitulah Rania Kaneishia dan Naresh Arkatama duduk.
“Lo lagi suka sama orang ga Res?” tanya Rania.
“Hah? Apasih tiba-tiba ... gue lagi ga suka sama orang, kenapa emang?” tanya Ares.
“Gapapa, penasaran aja sama tipe cewe lo kaya gimana.” ucap Rania sambil tersenyum.
“Mending lo gue fotoin sini, langitnya bagus tuh.” ujar Ares sembari membuka kamera ponselnya.
Setelahnya, mereka berbincang-bincang singkat dan ringan hingga tidak terasa senja sudah pergi meninggalkan mereka berdua, langit sudah berubah menjadi biru gelap. Dan mereka memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
Hari-hari berlalu hingga tiba saat dimana mereka kembali mengenakan kebaya dan jas nya untuk menyambut hari wisuda.
“Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah besar.” ucap orang tua Rania yang datang di wisuda putri semata wayangnya itu.
“Makasih mah, pah.”
“Oh iya, nanti pulangnya dijemput Pak Edi ya nak ... maaf mama sama papa ga bisa lama-lama, karena masih ninggalin banyak kerjaan.” ucap Papa Rania.
Sebagai putri semata wayang yang jarang bertemu dengan kedua orang tuanya, tentu perkataan papanya membuat suasana hati Rania berubah drastis, yang sebelumnya ia merasa sangat senang ketika tahu bahwa kedua orang tuanya akan datang di hari ia lulus dari Sekolah Menengah Atas, namun setelah mendengar itu, Rania merasa sangat kecewa. Tetapi ia mengerti akan keadaan kedua orang tuanya.
“Iya gapapa mah, pah ... aku juga mau main sama temen-temen kok habis ini.” jawab Rania.
Setelah acara wisuda selesai, Rania dan teman-teman kelasnya termasuk Ares memutuskan untuk nongkrong ke salah satu cozy cafe yang berada di daerah Senopati, Jakarta Selatan.
“Kalian pada mau masuk univ mana?” tanya Zira salah satu teman kelas Rania.
“Kebanyakan pada mau masuk Maheswari ga sih? Secara Maheswari kan kampus favorite.” timpal Gio yang juga sekelas dengan Rania dan Ares.
“Lo mau masuk Maheswari Res?” tanya Jeff.
“Loh, lo ga tau? Ares kan kuliah di—“ belum sempat Gio meneruskan omongannya.
“Iya, gue di Maheswari juga.” kata Ares memotong.
Obrolan mereka pada saat itu cukup panjang, hingga tidak terasa hari mulai gelap dan satu-persatu mulai pamit untuk kembali ke rumah, hingga tersisa beberapa orang saja disana.
“Bareng gue aja pulangnya.” kata Ares.
“Kebiasaan banget sih lo, ngga ah ... lagian apa gunanya Pak Edi kalau gue pulangnya sama lo terus.” jawab Rania.
“Tadi berangkatnya kan udah dianter Pak Edi, sekarang biar Pak Edi pacaran dulu sama Mba Nita, udah ayo.” ucap Ares sambil menggaet lengan Rania. Dan Pak Edi memang suami dari Mba Nita.
Didalam mobil cukup sunyi, hanya ada sedikit suara bising dari luar dan suara lagu yang mereka putar.
“Res.”
“Hm?”
“Tadi kok omongan Gio dipotong, Gio mau ngomong apa?” tanya Rania penasaran.
“Hah? Ngga, ya lo kan tau Gio suka becanda, daripada omongan dia keburu ga jelas mending gue potong.” jawab Ares yang hanya dibalas anggukan oleh Rania.
Tidak lama setelahnya, Rania terlelap. Sepertinya ia terlalu pulas hingga tidak sadar bahwa mobil Ares sudah berhenti tepat di depan rumahnya itu.
“Thanks ya Res, sorry gue ketiduran.” ucap Rania sambil membuka pintu mobil Ares.
“Iya santai aja. Eh iya, besok pagi mau ikut lari pagi ga?” tanya Ares.
“Boleh deh, tapi kalo gue lama berarti kesiangan.” jawab Rania yang sedang menunjukkan deretan giginya.
“Diih, yaudah besok gue kesini.” kata Ares.
Malam itu, Rania tidur sangat nyenyak, mungkin karena hari ini terlalu melelahkan baginya, ditambah besok ia akan lari pagi dengan Ares, membuat Rania berpikir kembali mengapa tadi ia mengiyakan ajakan teman kecilnya itu, tapi yasudahlah sekarang ia harus tidur lebih awal agar besok ia tidak kesiangan.
Pagi datang, pintu diketuk oleh seorang remaja laki-laki.
“Masuk nak Ares, Ranianya masih dikamar kayanya.” ucap Mba Nita.
Tidak lama setelah itu, orang yang ditunggu pun turun dari lantai atas yang merupakan kamarnya itu.
“Eh, udah lama Res?” tanya Rania.
“Sampe lumutan gue disini, lo bangunnya siang banget sih.” jawab Ares bercanda.
“Ya maaf, gue kesiangan tadi bangunnya. Udah ayo, keburu siang.” ajak Rania.
Mereka lari pagi di taman dekat rumah mereka, karena rumah Rania dan Ares hanya berjarak 3 rumah. Setelah lari pagi, mereka memutuskan untuk istirahat sebentar sekaligus mencari sarapan.
“Res, lo udah registrasi snmptn? Maheswari kan?” tanya Rania.
“Hm? Udah kok, udah.” jawab Ares.
“Lo kenapa sih Res? Akhir-akhir ini lo kaya beda deh, lagi ada masalah ya?” tanya Rania lembut.
“Gapapa, cuma agak ga enak badan aja.” jawab Ares. “Nanti sore ke toko buku mau ga?”
“Ayo, gue udah lama ga ke toko buku ... jam 4 an gimana?” timpal Alana.
“Boleh, nanti gue jemput.” balas Ares.
Mereka menyantap bubur goreng sebagai sarapan dan kembali kerumah setelahnya.
Setelah Rania selesai mandi dan merias wajahnya, ia pun langsung berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke toko buku bersama Ares.
Ares datang tepat didepan rumah Rania dan membunyikan klaksonnya, namun kali ini ia tidak menggunakan mobilnya melainkan ia menjemput Rania menggunakan motor xsr 155 nya.
Mereka sampai di toko buku. Seperti biasa, ada dua hal yang membuat Rania berlari kencang, yang pertama adalah senja dan yang kedua yaitu toko buku.
Ares melihat Rania yang sedang sendirian di sofa dekat rak kategori novel fiksi remaja.
“Kebiasaan deh nangis, tentang apalagi itu?” tanya Ares melihat Rania yang selalu menangis ketika membaca novel angst.
“Masa cowonya ninggalin cewenya pas mereka mau masuk SMA, terus mereka lost contact, hiks, terus pas ketemu, cowonya udah pacaran sama cewe lain.” jawab Rania sambil menahan tangisnya.
“Lo mau beli yang itu?” tanya Ares.
“Iya, seru ini.” kata Rania.
“Yaudah ayo bayar, mau makan dirumah gue ga? Mama ngajak makan malem.” kata Ares.
“Ayoo, kangen mama lo deh.”
Setelah mereka membayar buku yang Rania beli, mereka langsung menuju parkiran untuk ke rumah Ares dan makan malam disana.
“Mah, ada anaknya tuh.” ucap Ares.
“Tantee.” sapa Alana.
“Eh Raniaa, tante kangen banget.” ucap Mama Ares.
“Aku juga kangen banget sama tante.”
“Tante baru mau masak, tante pikir kalian masih agak lama.” ucap Mama Ares.
“Gapapa tante, Rania bantu aja.” kata Rania.
Selagi Ares berganti pakaian di kamarnya, Rania dan Mama Ares mulai memasak sambil berbincang seru.
“Rania masuk universitas mana?” tanya Mama Ares.
“Maunya Maheswari tante, Ares juga disitu kan?” kata Rania.
“Ares belum cerita memangnya?” ucap Mama Ares.
“Mah, udah mateng belum?” tanya Ares yang baru saja turun dari kamarnya dan menghampiri Rania dan mamanya di dapur.
“Eh iya, ini udah. Ayo makan, papa sebentar lagi juga pulang.” ucap Mama Ares.
Rania sangat menikmati makan malam bersama keluarga Ares, apalagi masakan Mama Ares sangatlah nikmat surga dunia. Namun ia bingung, mengapa semua orang berkata “loh, memang belum tahu, Ares belum cerita?” Memangnya apa yang belum Rania ketahui? Tetapi sudahlah, Rania pun lupa akan hal itu dan berpamitan dengan keluarga Ares untuk pulang karena sudah malam.
Sesaat setelah sampai di rumah dan sudah siap untuk mengistirahatkan tubuhnya, Rania merasa tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk mengabari Zeina yang merupakan sepupunya itu untuk menginap dirumahnya karena kebetulan orang tua Zeina sedang tidak dirumah.
“Knock, knock ... ran, oi.” kata Zeina yang sudah datang dan berada diluar pintu kamar Rania.
“Masuk Na.” jawab Rania.
Pintu dibuka oleh Zeina.
“Ga bisa tidur ya?” tanya Zeina.
“Iyaa nih, biasa.”
“Sibuk banget kayanya, lagi ngapain sih?” tanya Zeina penasaran.
“Ngga kok, ini Ares ngechat. Besok kan pengumuman snmptn, dia penasaran juga katanya, jadi dia ngajak liat pengumumannya bareng di toko buku depan komplek aja sih.” katanya Rania. “Lo ikut ya besok, kita liat bareng.”
“Ayo deh, penasaran juga gue ... maheswari kan Ran?” tanya Zeina.
“Iyaa.”
Esok hari, sekitar pukul 16.00, Rania, Zeina dan Ares bergegas menuju toko buku yang berada di depan komplek untuk melihat hasil pengumuman snmptn mereka. Sebab Zenia juga seangkatan dengan mereka, dan ia juga mengikuti seleksi snmptn.
“Ini kita liat bareng-bareng ya, Na, Res, ayo buka laptopnya.” ucap Rania excited.
“Iyaa, ini gue buka.” jawab Zeina.
“1...2...3.” kata Rania.
“Congrats ya, lo lolos.” kata Ares semangat.
“HAH SERIUS?? LO JUGA LOLOS NAA.” teriak Rania.
“Iyaa, kita bareng yaa.” timpal Zeina.
“Eh Res? Lo kok ga liat pengumumannya?” tanya Rania.
“Gue udah liat duluan tadi dirumah.” kata Ares.
“Dih, curang ... lolos ga? Lolos lah Ares mah.” kata Rania.
“Lolos lah, gue gitu loh.” jawab Ares tengil.
“YEAY, KITA BERTIGA BARENG.” saking kencangnya, sampai-sampai seluruh pengunjung toko buku menoleh ke arah Rania.
“Loh, Ares di Maheswari juga?” tanya Zeina.
“Iya.” jawab Ares singkat.
Mereka sedikit berbincang lebih lama, dengan suasana hati yang riang tentunya. Setelahnya, mereka kembali pulang. Tentu Zeina tetap pulang ke rumah Rania dan menginap untuk beberapa hari kedepan.
“Seneng banget deh gue bisa satu kampus sama kalian.” kata Rania.
“Seneng karena satu kampus sama Ares kan.” balas Zeina sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Dih, apasi, gue tuh seneng karena sama kalian.”
“Temenan dari kecil kok gengsi.” ledek Zeina. “Lo sama Ares tuh temenan dari orok, kenapa ga pacaran aja sih?”
“Apa si Na ... lagian ya gue deket sama dia kan ya emang purely temen aja, udah anggep gue anggep abang malah.” kata Rania.
“Tapi lo suka kan?” ledek Zeina lagi.
“Ngga lah, ya temenan aja, udah ah ngomongin apa sih ini, ganti topik deh.” kata Rania.
“Hahaha, semoga Rania jodoh sama Ares, aamiin.” ucap Zeina.
“APASI, NA, GAJELAS DEH.”
Sore hari, cerah suacanya. Rania bersiap untuk pergi.
“Mau kemana sih nyonya? Cantik amat.” kata Zeina.
“Mau liat sunset, ikut ga? Ayo ikut.” jawab Rania.
“Sama Ares ya? Ngga ah, gue ga mau ganggu waktu berdua lo sama Ares.” kata Zeina.
“Omongan lo ga jelas, yaudah gue jalan ya.” pamit Rania.
Seperti biasa, di Pantai Renjana dan di bawah menuju tenggelamnya matahari.
“Ada yang mau gue omongin sebenernya.” kata Ares.
“Yaudah ngomong aja, biasanya juga langsung ngomong.”
“Gue ga satu kampus sama lo, Ran.” kata Ares.
Rania kaget bukan main, di dalam benaknya, ia terus bertanya, apa ini? Bukankah Ares sudah lolos seleksi snmptn di Maheswari katanya?.
“Hah? Gimana?” tanya Rania bingung.
“Papa nyuruh gue buat kuliah di tempat abang gue, di London. Tapi jurusannya tetep Arts and Humanities.” jawab Ares.
“Tiba-tiba banget? Bukannya lo udah lolos snmptn?” tanya Rania lagi.
“Nope, Ran. Ini ga tiba- tiba, papa udah ngomongin ini sejak gue masih kelas 11. Dan buat snmptn, i didn't do that. Gue ga ikut seleksinya, gue ga bisa nentang permintaan papa. Maaf, maaf udah bikin lo kecewa, Sorry Ran.” jelas Ares.
Rania, ia merasa sangat amat kecewa. Bagaimana tidak, ia sudah membayangkan akan satu kampus bersama salah dua orang yang ia sayang, Zeina dan Ares, namun ternyata hal itu dipatahkan oleh Ares sendiri. Rania tetap mendukung Ares untuk melanjutkan pendidikannya ke London dan memangnya Rania siapa bisa melarang Ares untuk berkuliah disana, pikir Rania.
“Gapapa Res, gue ngerti kok. Papa mau yang terbaik buat lo, continue your dreams there. I will support u ... from here. Gue kecewa sedikit, kenapa lo ga cerita dari awal dan ternyata ini yang mau Gio omongin ya.” jawab Rania.
“Gue ga mau lo kecewa Ran, gue tau gue salah karena ga ngasih tau lo dari awal, maaf, karena gue terlalu takut buat omongin ini ke lo. Gue sayang sama lo Ran, gue janji kalo gue udah lulus, gue akan langsung balik ke sini dan kita sama-sama lagi—“
“Gausah janji, gue benci janji. Gue juga sayang sama lo.” ucap Rania “Lo berapa lama disana?”
“Sekitar 4 tahunan.”
“Lama ya, lo nikah sama bule aja, kan cantik-cantik, nanti kalo ada brondong yang cakep kenalin ke gue ya.” kata Rania.
“Dih, gue ga mau nikah sama bule. Tungguin gue ya Ran, abis gue lulus, gue pasti langsung balik ke Jakarta.” balas Ares.
“Iya bawel.”
Tak terasa, sudah begitu banyak lembaran cerita yang mereka lewati, dari masa mereka pertama kali menyapa dunia, hingga kini mereka harus dipisahkan oleh pendidikan dan mimpi masing-masing. Cukup berat bagi Rania untuk melepas Ares pergi ke London atas keinginan papanya, namun ia berusaha berdamai dengan dirinya sendiri dan mengakui bahwa hari ini adalah hari dimana ia dan teman kecilnya itu akan berpisah untuk sementara waktu. Atau mungkin selamanya.
Tepat hari ini Ares pergi ke London, Rania memutuskan untuk mengantar Ares sampai bandara Soekarno-Hatta Jakarta bersama papa dan mama Ares.
“Gue pergi dulu ya Ran, gue janji ga akan lama, jaga diri lo baik-baik selama gue ga ada disamping lo ... kalo lo kenapa-napa nanti Mba Nita repot.” kata Ares sambil menunjukkan deretan giginya.
“Dih ... iya, lo juga jaga diri disana, jangan maling Res.” jawab Rania.
Mereka mendekap satu sama lain sebagai sahabat dan Ares mulai menghilang dari pandangannya.
Semenjak itu, Ares menjadi sulit dihubungi, mereka bahkan tidak pernah bertukar kabar, dan semenjak di London, Ares tidak pernah menggunakan media sosialnya. Rania melewati masa-masa maba nya bersama dengan Zeina, sepupunya itu. Hari-hari yang biasanya dilewati dengan ceria oleh Rania, kini berubah. Rania sangat merasa kehilangan dengan perginya Ares ke London. Karena Ares, Rania bisa ceria, karena Ares, Rania bisa easy going dengan semua orang, karena Ares, Rania tidak pernah merasa kesepian, meski rumahnya selalu kosong dan dingin dan Ares berhasil menjadi rumah baru untuk Rania, rumah yang selalu hangat, rumah yang penuh tawa didalamnya. Ares yang selalu mengajak Rania melihat senja di Pantai Renjana kesukaannya, Ares yang selalu mengajak Rania ke toko buku depan komplek walau hanya lihat-lihat beberapa novel, Ares yang selalu mengajak Rania ke soto Mang Ujang, karena Ares tahu teman kecilnya itu tidak akan makan jika berada di rumahnya sendiri.
Kini Rania kehilangan sosok itu, sosok yang menemani Rania hampir di seluruh peristiwa dalam hidupnya, bahkan ketika orang tuanya tidak tahu apa yang dilalui oleh putrinya selama ini, justru Ares lah yang menemani di setiap langkah Rania.
Selama Ares di London, Zeina lah yang selalu menemani Rania, Zeina juga semakin sering menginap dirumah Rania.
Bersama Zeina, Rania melihat senja di Pantai Renjana, bersama Zeina, Rania makan soto Mang Ujang, meski Mang Ujang juga menanyakan kemana perginya Ares karena sudah lama tidak mengunjungi warungnya, bersama Zeina, Rania ke toko buku depan komplek untuk melihat beberapa novel fiksi. Namun, selama tiga bulan kebelakang, Zeina menghilang entah kemana, Rania juga tidak pernah bertemu dengan Zeina, rumahnya pun selalu kosong, orang tua Zeina juga tidak ada. Terakhir kali sebelum hilang, Zeina bilang ia akan pulang sebentar kerumahnya.
4 tahun Rania lewati, meski tanpa Ares disampingnya. Hari ini adalah hari dimana Rania lulus dari dunia mahasiswa yang berjurusan sastra Indonesia karena ia menyukai seni bahasa.
“Congrats Raniaa! Sekarang udah luluus.” kata temannya yang satu jurusan dengan Rania
Hampa, itu yang Rania rasakan. Biasanya ada Ares yang juga wisuda, kali ini berbeda, ditambah orang tuanya yang juga tidak hadir hari ini, Zeina juga menghilang entah kemana. Rania langsung pulang setelah acara wisudanya selesai.
0812345678
Hai Ran, gue Ares
Rania kaget setengah mati saat melihat notifikasi dari layar handphone nya. Nomor yang tidak dikenal ternyata Ares. Rania tidak menyimpan nomor Ares yang sepertinya baru.
Hai Res
Gue seneng banget, akhirnya lo pulang
Iya Ran, gue udah di jakarta, tapi belum dirumah. Lo ada waktu ga Ran? Gue mau ngobrol
Ada Res
Boleh, kapan? Mau dimana?
Di cafe Adipati aja
Besok jam 3 ya
Okey
Rania sangat senang mendengar kabar itu, hari ini menjadi hari terbaik dalam hidupnya selama 4 tahun kebelakang. Rania sangat menunggu hari esok.
Sabtu, 8 Juli 2023. Hari dimana Rania dan Ares kembali bertemu setelah 4 tahun menjalani hidupnya masing-masing.
“Res, udah lama?” tanya Rania ketika melihat Ares sudah duduk dan memainkan ponselnya di meja cafe nomor 8 itu.
“Belum kok, duduk Ran.” ucap Ares. “how are you?”
“I’m fine actually ... lo gimana? London seru Res?” tanya Rania.
“Gue juga baik-baik aja kok, London seru sih ternyata, gue banyak belajar hal baru juga disana. Sorry ya gue jarang ngabarin lo, ga pernah bahkan. Gue terlalu fokus sama kegiatan gue disana.” jelas Ares.
“Gapapa kali, gue seneng kok kalo lo seneng ... eh iya, lo ngajak gue ketemuan kenapa?” tanya Rania.
“Oh iya ... Ran, jangan bosen denger gue say sorry ya.” ucap Ares.
“Apasih, ga perlu minta maaf mulu lah.”
“Gue mau minta maaf buat kesalahan gue yang kesekian kali. Gue ingkar sama janji gue sendiri Ran, gue minta maaf, ini bukan keinginan gue, lagi dan lagi gue terpaksa nurutin permintaan papa.” ucap Ares sambil menyodorkan selembar kertas bermotif.
Kertas itu bertuliskan The wedding of Naresh Arkatama & Zeina Faradhita
Saturday, 15 July 2023, Grand Hotel, Jakarta.
“Minggu depan ... dateng ya Ran.” ucap Ares.
“Res?”
Rania sangat terpukul akan hal itu, rupanya Zeina menghilang karena menyiapkan pernikahannya dengan Ares. Yang membuat Rania semakin terpukul adalah ketika tahu bahwa calon mempelai wanitanya adalah Zeina Faradhita, sepupu kandungnya sendiri. Satu-satunya orang yang ia percaya setelah Ares, ternyata juga menghancurkan kepercayaan Rania. Ia merasa tangisnya akan pecah saat itu juga.
“Gue terpaksa Ran. Papa sama mama udah pisah sejak 3 tahun lalu dan mama kena stroke dan rumah yang disini kosong. Mama tinggal sama tante gue di Alam Sutera, Papa beli rumah di Jakarta Pusat. Makanya gue pulang dari London langsung ke rumah tante buat jenguk mama. Soal pernikahan, papa nyuruh gue buat nikah sama Zei, karena ternyata papa temen SMA papanya Zei dan gue diancam kalo gue mau nikah sama Zei, gue ga akan bisa ketemu mama lagi.” jelas Ares “Gue sayang sama lo Ran, tapi gue ga bisa apa-apa. Maafin gue ya Ran, gue harap kita tetep kaya biasanya, ga ada jarak ataupun canggung setelah ini.”
“Gue gapapa Res. Gue ngerti banget apa yang lo rasain sekarang, gue juga sayang sama lo tapi mungkin kita emang ga ditakdirkan buat bersama Res, buat balik kaya awal sorry Res, gue kayanya ga bisa, kondisinya udah beda sekarang, bentar lagi kan lo juga udah punya sepupu gue, hahaha ... Zeina manis banget anaknya, jangan lo sakitin ya, kalo sampe lo bikin dia nangis, lo berurusan sama gue.
Jaga Zeina baik-baik. Gue support kalian dari sini. Semoga mama lo cepet sembuh ya, gue kangen mama lo. Gue sekarang udah tau nih tipe cewek lo, Zeina ya. Selamat ya Res, gue ikut seneng dengernya, nanti gue dateng kok, tenang aja.” ucap Rania.
“Gue tau lo sebenernya ga baik-baik aja Ran, tapi makasih, makasih buat semuanya. Lo juga jaga diri lo baik-baik ya Ran, maaf gue udah ga bisa selalu ada disamping lo, maaf gue udah selalu bikin lo kecewa.” ucap Ares.
“Udah ah gausah minta maaf mulu, sana prepare ur wedding, kan udah minggu depan. Oh iya, gue duluan ya Res, mau ada acara.” ucap Rania.
“Thanks ya Ran, hati-hati ... sorry gue ga bisa anter.”
Sore itu, dibawah langit senja Pantai Renjana, pantai yang biasa ia kunjungi dengan Ares, kini ia kunjungi sendiri.
Rania merasakan sesak yang luar biasa di dadanya, tangisnya pecah. Minggu depan ia akan menyaksikan janji suci teman masa kecilnya bersama dengan sepupu kandungnya itu. Bagaimana bisa Zeina dan Ares menyembunyikan ini secara rapih dari Rania.
Sabtu, 15 Juli 2023. Hari pernikahan Zeina dan Ares.
Rania datang sebagai tamu undangan. Ia datang dari acara akad dimulai.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Zeina Faradhita binti Arshad Prayyan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” ucap Ares dengan suara tegas dan lantang.
Akad nikah telah selesai dilaksanakan, dan langsung beralih ke acara resepsi.
Rania memutuskan untuk memberi selamat kepada Ares dan Zeina yang berada di pelaminan, meski hatinya terasa sesak dan penuh.
“Hai Na, Res.”
“Raniaa, gue kangen banget sama lo.” ucap Zeina.
“Ya lagian tiba-tiba ilang, taunya nikah sama Ares.” ledek Rania sambil tertawa.
“Sorry Ran ... nanti gue ceritain.” ucap Zeina sambil menundukkan wajahnya.
“Gue udah tau kok, santai aja kali. Ternyata bener ya kalo berdoa buat orang lain pasti doanya balik ke diri sendiri, lo inget ga, lo pernah doain gue jadi jodohnya Ares, doanya malah balik ke lo ternyata, selamat ya Na.” ucap Rania. “Semoga langgeng sampai maut yang memisahkan ya.”
“Tetep kaya dulu ya Ran.” ucap Zeina.
“Maaf, gue udah bikin lo kecewa ... berkali-kali.” ucap Ares penuh penyesalan.
“Bosen ah gue denger Ares ngomong maaf mulu, udahlah sekarang kan yang penting kalian udah happy, gue juga ikut happy kok. Zei, lo pernah bilang kalo lo gamau ganggu waktu gue sama Ares, sekarang giliran gue yang ga ganggu waktu kalian, gue pasti support kalian berdua dari jauh, kita harus lanjutin hidup masing-masing Zei, Res. Kalian harus bahagia, begitupun gue ... eh iya, sorry ya gue ga bisa lama-lama, gue pamit ya.” ucap Rania sambil menuruni tangga pelaminan.
Hari itu mungkin menjadi hari terakhir bagi Rania melihat dua orang yang ia sayang. Dan mulai saat ini, Rania kembali membuka lembaran baru, lembaran yang mungkin tidak akan ada lagi nama Naresh Arkatama dan Zeina Faradhita didalamnya. Rania sudah menutup lembaran lamanya, karena dengan membaca buku yang sama pasti endingnya pun tetap sama.
Rania tidak mau berlarut-larut dalam sedihnya, ia lebih memilih untuk memperbaiki kualitas dirinya dan beradaptasi dengan hidupnya yang baru. Tanpa Ares dan Zeina.
Bahkan mungkin ketika semesta mempertemukan Rania dan Ares kembali, Rania akan menghindar untuk pergi. Inilah saatnya Rania sang penulis novel kembali menyapa para pembacanya, kisah ini ia abadikan di dalam novel keduanya yang berjudul ‘Badai Disaat Senja’.
“Sesuatu yang dilepas secara terpaksa, sakitnya tidak pernah sederhana.”
-Badai Disaat Senja