Hari ini adalah hari pertama MPLS di SMAN 3 yang sekarang menjadi sekolahku. Aku cukup senang karena ini adalah sekolah impianku. Saat salah satu guru sedang memperkenalkan guru-guru lain dan beberapa staf di sekolah ini, pandanganku bukan ke arah guru itu justru aku lebih memperhatikan kakak kelas yang duduk di luar ruang MPLS.
"Sa, lihat deh kakak kelas itu, kayak nggak asing menurutku" Kataku pada Risa sahabatku yang sedang fokus memperhatikan guru di depan.
"Mana ?" Tanya Risa sembari mencari seseorang yang aku maksud.
"Itu loh yang duduk di luar" Jawabku dengan agak berbisik
"Ah iya mukanya nggak asing, tapi siapa dia ?" Tanya Risa lagi.
Aku hanya mengangkat bahu sebagai isyarat jika aku pun tidak tahu.
Setelah 3 hari aku sekolah dan sudah belajar seperti biasa, ada beberapa kakak kelas datang ke kelasku untuk mengajak kami anak kelas 10 masuk ekstrakurikuler Pramuka, karena sejak SD aku selalu mengikuti kegiatan Pramuka, aku pun masuk ke ekstrakurikuler tersebut. Tak disangka ada kakak kelas yang kulihat saat MPLS waktu itu, dia pun memperkenalkan dirinya dan teman-temannya, ternyata namanya adalah Adyatma Bagaskara atau biasa dipanggil Bagas, dia anak kelas 11 MIPA 2. Aku ingat pernah bertemu dia di kafe dan aku tidak sengaja menumpahkan secangkir kopi ke bajunya, saat itu aku sedang bersama Risa. Selama ini aku tidak pernah bertemu dia, karena kelasnya ada di gedung belakang sedangkan kelasku ada di gedung depan, dan aku tidak pernah ke gedung belakang, setiap berangkat sekolah pun aku tidak pernah bertemu dengannya. Setelah satu Minggu aku dan beberapa anak kelas 10 mengikuti ekstrakurikuler Pramuka, kakak pembina mengumpulkan semua anggota ekstrakurikuler untuk menyampaikan bahwa akan diadakan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu). Kegiatan selama PERSAMI ada HR (Halang Rintang) dan beberapa kegiatan lain. Puncaknya adalah saat api unggun di hari Minggu malam, dan setelah api unggun akan ada penampilan dari band sekolahku. Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu, pasti sangat menyenangkan sekali.
•••••••••••
Hari ini adalah hari Sabtu, itu berarti hari ini adalah hari dimana kami mengikuti kegiatan PERSAMI. Aku diantar oleh kakakku ke lokasi PERSAMI, yaitu di lapangan sekolah. Risa sudah datang lebih dulu dan kebetulan aku satu tenda dengan Risa. Lalu aku, Risa, dan teman-teman satu tenda ku mulai mendirikan tenda. Kami merasa kesulitan untuk mendirikannya, lalu kak Bagas datang
"Kayaknya pada kesusahan nih, butuh bantuan nggak ?" Tanya kak Bagas kepada kami
"Iya kak ini susah banget, tenda nya nggak mau berdiri sendiri sih manja banget" Kataku yang langsung disambut tawa oleh kak Bagas dan teman-temanku
"Ada-ada aja kamu, mana bisa tenda berdiri sendiri" Timpal kak Bagas sambil masih menertawaiku
Aku hanya terkekeh pelan, agak memalukan memang aku ini tapi memang mendirikan tenda bukanlah hal yang mudah.
Akhirnya kami selesai mendirikan tenda dengan dibantu oleh kak Bagas.
"Wah! terimakasih ya kak, akhirnya selesai juga" Kata Risa dengan perasaan gembira karena tenda sudah selesai didirikan
"Iya sama-sama, kalau butuh bantuan panggil aku aja jangan sungkan ya" Kata kak Bagas sebelum pergi meninggalkan kami.
Setelah tenda selesai didirikan kami mulai menata barang-barang kami ke dalam tenda. Saat ini sudah pukul 12 siang, aku dan teman-temanku bergegas menuju masjid sekolah untuk menunaikan ibadah sholat.
Selepas sholat aku berisitirahat di masjid sebentar
"Sa, kak Bagas baik banget ya" Kataku kepada Risa yang sedang merapikan mukenanya
"Iya Rin kak Bagas emang baik sih, tapi aku masih heran deh kayaknya aku pernah ketemu dia tapi dimana ya ?" Kata Risa sembari mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu kak Bagas
"Kamu inget nggak kita dulu pernah ke kafe terus aku nggak sengaja numpahin kopi ke baju orang, ternyata itu kak Bagas, makanya kita kayak ngga asing sama dia" Jelasku kepada Risa
"OH IYA INGET, kira-kira kak Bagas inget nggak ya ? Tapi kayaknya enggak sih karna tadi dia kayak biasa aja tuh" Tanya Risa yang kemudian ia jawab sendiri.
"Sudahlah ayo balik ke tenda lagi, sudah hampir jam 1" Ajakku kepada Risa yang direspon anggukan oleh Risa
Minggu pagi ini semua bersiap-siap untuk senam pagi bersama. Setelah selesai senam bersama kakak pembina sudah menyiapkan sarapan untuk kami sebelum mengikuti halang rintang. Setelah selesai sarapan aku hanya akan cuci muka dan gosok gigi saja, begitu juga dengan teman-teman yang satu tenda denganku. Semua sudah siap dan sudah berkumpul di lapangan, kakak pembina menyampaikan kepada kami untuk tetap kompak dengan tim dan tetap berhati-hati selama halang rintang berlangsung. Kakak pembina memberikan 5 butir beras kepada setiap tim untuk dijaga sampai nanti kembali ke sekolah lagi beras itu harus tetap utuh 5 butir, itu mengajarkan tanggung jawab katanya. Diperjalanan, kakiku sempat terluka dan berdarah, lalu Risa yang menyadari hal itu pun berteriak kaget
"KARINA" Teriak Risa
Aku yang kaget pun menoleh ke arah Risa begitu juga dengan teman-teman yang lain
"Kenapa sih kamu ini bikin kaget aja" Keluh ku kepada Risa
"Kakimu kenapa Karin ?" Tanya Risa dengan nada khawatir
"Aku nggak tau kayaknya kena sesuatu tadi, aku bahkan nggak tau kapan kakiku luka" Kataku dengan masih kebingungan
"Itu harus diobati tuh takutnya infeksi atau kenapa-kenapa" Timpal Winda teman satu tendaku
Tiba-tiba kak Bagas datang dan bertanya kepada kami
"Kalian kenapa malah berhenti di sini, ayo lanjut lagi" Kata kak Bagas
"Ini kak kaki Karin berdarah, nggak tau kena apa" Sahut Winda
"Kok bisa sih itu harus diobati, ini aku bawa P3K sini biar aku yang obatin aja" Kata kak Bagas dengan nada sedikit khawatir
Kak Bagas pun mengobati luka di kakiku. Aku tidak tau kenapa tapi aku merasakan hal aneh di hatiku
"Udah nih, lain kali hati-hati ya, masih kuat jalan kan ?" Tanya kak Bagas setelah selesai mengobati kakiku
"Masih kok kak lagian sebentar lagi kan udah sampai, terimakasih ya kak maaf jadi ngerepotin" Kataku dengan sedikit perasaan canggung
"Iya sama-sama, nggak ngerepotin sama sekali kok, yaudah aku duluan ya masih ada hal yang harus diurus" Kata kak Bagas sembari mengemasi kotak P3K
Akhirnya aku dan teman-temanku sudah sampai di sekolah lagi, dan beras yang diberikan kakak pembina masih utuh 5 butir, walaupun tadi harus melewati persawahan dan melewati sungai tapi kami tetap bisa menjaga beras itu tanpa berkurang satu butir pun.
Malam ini adalah puncak acaranya yaitu api unggun. Kakak pembina dan beberapa kakak kelas sudah menyiapkan kayu untuk api unggun saat siang tadi. Semua berkumpul di tengah lapangan dengan mengenakan seragam Pramuka, kakak kelas yang diutus untuk bertugas membacakan Tri Satya dan Dasa Darma yang untuk selanjutnya mengelilingi api unggun sudah bersiap juga. Semua sudah benar-benar siap, setelah kakak pembina yang terakhir sudah selesai mengucapkan Dasa Darma, kami semua berlari mengelilingi api unggun sambil menyanyikan lagu Api Unggun. Api unggun pun telah habis api nya dan hanya menyisakan arang sisa pembakaran api unggun, dan itu berarti saatnya band sekolah akan tampil. Suara merdu dari kak Mala dipadukan dengan alunan gitar yang dimainkan oleh kak Galang membuat suasana malam itu terasa hangat. Saat aku sedang sendiri kak Bagas datang dengan membawa dua cangkir kopi untuk aku dan dia
"Nih kopi untuk kamu" Kata kak Bagas sembari menyodorkan kopi dari tangannya
"Yang dulu pernah numpahin kopi ke aku di kafe kamu bukan sih kok kayaknya mirip kamu ya haha" Tanya kak Bagas yang diiringi tawanya
"E-eh kakak inget kah, aduh malu banget maaf ya kak waktu itu Karin nggak sengaja beneran deh" Kataku sembari meminta maaf kepada kak Bagas
"Haha iya nggak apa-apa, cuma mau mastiin aja beneran kamu apa bukan karna kayak mirip kamu gitu, aku udah penasaran sejak pertama liat kamu waktu MPLS itu, aku mau nanya sejak lama tapi takut salah orang" Jelas kak Bagas.
•••••••••••
Hari ini tepat dua hari setelah PERSAMI, anak-anak yang ikut PERSAMI selama dua hari diliburkan. Malam ini aku sedang belajar di kamarku karena besok sudah berangkat sekolah lagi. Saat sudah selesai belajar aku hendak tidur tapi aku dikagetkan dengan notifikasi dari handphone ku, kuraih handphone ku yang kutaruh di atas nakas, ada nomor tak dikenal mengirimkan pesan kepadaku, isi pesannya menanyakan kabarku. Aku tidak tahu itu dari siapa, bukannya menjawab pertanyaannya aku justru balik bertanya siapa dia sebenarnya, dan setelah mendapat balasan ternyata dia adalah kak Bagas, aku bingung dari mana dia mendapat nomorku, dan kenapa dia menanyakan kabarku. Aku tidak tahu ada apa dengan aku, aku sedikit merasa salah tingkah saat tau itu adalah kak Bagas. Karena aku sudah ngantuk akhirnya aku langsung tidur saja supaya besok juga tidak terlambat masuk sekolah.
•••••••••••
Satu semester telah berlalu dan hari ini sudah PAS (Penilaian Akhir Semester) tentunya aku sudah belajar di hari sebelum PAS. Hari ini hari pertama PAS dan kami kelas 10 duduk sebangku dengan kelas 11, aku belum tau pasti aku duduk dengan siapa tapi pasti aku duduk di depan karna namaku Adinda Karina diawali dengan huruf A jadi pasti paling depan. Aku pun melangkahkan kakiku menuju ruang 7 karena disitulah bangku ku untuk mengerjakan PAS. Betapa terkejutnya aku setelah kulihat siapa yang duduk bersamaku, dia adalah Adyatma Bagaskara. Aku benar-benar tidak menyangka dan entah kenapa aku merasa senang. Lalu tiba-tiba kak Bagas datang dan mencari tempat duduknya, aku langsung memanggilnya
"KAK" Aku memanggil kak Bagas dengan agak berteriak
"Loh Karin, kenapa ?" Tanya kak Bagas
"Kamu duduk sama aku kak, liat deh itu namamu kan ?" Tanyaku memastikan, padahal aku tau kalau aku memang duduk dengan kak Bagas.
•••••••••••
Tak terasa hari ini adalah hari terakhir PAS dan setelah pembagian rapor pasti akan libur dua Minggu, tapi entah kenapa aku tidak suka libur dan aku sedih jika mengingat bahwa hari ini adalah hari terakhir aku duduk bersama kak Bagas, aku juga tidak tau kenapa aku merasa sedih.
"Rin kok kamu kayak lagi sedih sih ?" Tanya kak Bagas yang baru saja datang
"Eh enggak kok kak, nggak lagi sedih biasa aja ah" Sangkal ku kepada kak Bagas, walaupun kak Bagas seperti tidak yakin namun dia memilih diam dan tidak bertanya lagi.
Bel masuk pun berbunyi menandakan bahwa sudah saatnya masuk kelas. Aku benar-benar tidak fokus mengerjakan, pikiranku memikirkan hal lain, bahkan beberapa kali aku melihat kak Bagas dan sering ketahuan juga.
"Ah aku ini kenapa?" Kataku pada diriku sendiri
Dan akhirnya semua sudah selesai mengerjakan termasuk aku dan kak Bagas, aku semakin sedih tapi aku tidak tau kenapa aku sedih dan aku juga bingung kenapa aku merasa senang saat aku berasa di dekat kak Bagas, atau mungkin ini perasaan suka ?
Setelah selesai PAS, satu Minggu sebelum pembagian rapor sekolahku mengadakan class meeting yang mempertandingkan sepak bola antar kelas. Kak Bagas ternyata mewakili kelasnya.
"Kak Bagas ganteng banget" Kataku pelan namun ternyata terdengar oleh Risa
"Hah aku ngga salah denger nih, kamu suka sama kak Bagas ya ?" Tanya Risa sangat penasaran
"Eh enggak kok Sa, emang apa salahnya memuji orang" Sangkal ku kepada Risa
"Duh aku kayanya beneran suka kak Bagas deh" Kataku pada diri sendiri dalam hati.
Ini adalah hari terakhir class meeting dan hari ini adalah perebutan juara satu antara kelasku dan kelas kak Bagas. Setelah pertandingan aku memberanikan diri untuk mengajak kak Bagas foto bersama.
"Kak itu ehmm duh" Kataku dengan penuh keraguan
"Kenapa ? ngomong aja jangan sungkan" Kata kak Bagas
"Nggak jadi ah lain kali aja" Kataku sambil melangkahkan kaki hendak meninggalkan kak Bagas. Tapi dengan cepat kak Bagas memegang tanganku
"Nggak apa-apa bilang aja nggak usah takut" Ucap kak Bagas sambil masih memegang tanganku
"Mau fotbar boleh nggak kak hehe buat kenang-kenangan aja nggak lebih-lebih kok" Kataku dengan agak canggung
"Oh mau fotbar ya boleh dong, gitu doang sampe gugup kayak aku mau makan kamu aja" Ledek kak Bagas
Aku merasa senang sekali hari ini, dan aku yakin aku memang suka sama kak Bagas. Untungnya kak Bagas tidak punya pacar jadi aku tidak takut jika suatu saat akan ada seorang perempuan yang mendatangiku sambil marah-marah karena aku mendekati pacarnya, kan tidak lucu kalau ada kekadian seperti itu.
Malam ini hatiku dilanda keraguan, aku sudah yakin jika aku mulai menyukai kak Bagas.
"Duh bingung banget kayaknya aku memang udah suka kak Bagas deh, apa aku bilang ke dia aja ya, sebelumnya aku nggak pernah ngerasain kayak gini, tapi kayaknya memang lebih baik aku bilang kek kak Bagas deh supaya hatiku tenang dan nggak akan mikirin ini teru" Ucapku kepada diriku sendiri di depan cermin.
"Eh tapi malu kan aku tiba-tiba bilang suka dia, tapi ya sudahlah aku mau mengatakan ini ke kak Bagas, besok kan pembagian rapor dan itu hari terakhir aku ketemu kak Bagas, jadi pasti nggak akan malu juga kan karena nggak akan ketemu lagi, setidaknya selama dua Minggu ini" Ucapku meyakinkan diriku.
Keesokan harinya saat pembagian rapor ternyata aku mendapat peringkat satu, aku sangat senang, namun beberapa detik kemudian aku terpikir tentang rencana ku semalam.
"Aduh gugup banget, nyatain nggak ya" Kataku pada diri sendiri
Setelah beberapa menit aku masih duduk di taman sekolah, seseorang datang menghampiri aku dan ternyata itu adalah kak Bagas. Dalam hatiku berkata "Ini kak Bagas malah dateng ke sini, nyatain nggak ya"
"Eh kamu kok diem aja" Tegur kak Bagas saat melihatku sedang melamun
"Kak, kebetulan kakak ada di sini jadi aku nggak perlu repot-repot nyariin kakak" Kataku kepada kak Bagas yang bingung dengan maksud ucapanku
"Iya kenapa mau nyari aku ?" Tanya kak Bagas dengan wajah yang sedikit bingung
"Itu kak, ehmm a-aku duh" Ucapku sedikit terbata-bata
"Kenapa, ayo ngomong aja mau foto lagi ?" Ucap kak Bagas dengan nada sedikit mengejek
"Ih bukan, itu aku suka sama kak Bagas" Kataku kepada kak Bagas dan aku langsung berlari meninggalkan kak Bagas yang masih bingung dengan apa yang aku katakan barusan.