Episode 1 : Dunia baru setelah reinkarnasi
PLAK!!
Ibu tiri menampar wajahku dengan begitu keras, meninggalkan memar di wajahku. "Hei anak durhaka! Apa keistimewaan dari dirimu itu sehingga ayahmu lebih memperhatikanmu daripada istri kesayangannya ini? HAH!?" Teriak ibu tiri.
Aku hanya tersenyum membalas perbuatannya.
"Hei wanita kedua,apakah kau cemburu dengan posisiku sebagai anak kesayangan ayahku saat ini? Cara pengecut ini bukanlah apa-apa bagiku"
Aku pun berdiri dan mulai menunjukkan raut wajah menantang.
Ibu tiri mengggigit bibirnya lalu segera beranjak pergi ke kamarnya sambil melempar-lemparkan barang di sekitarnya.
BRAKK!!
Suara pintu kamarnya yang dibanting terdengar dari kejauhan.
"Hah! Sudah berapa kali pintu itu dibanting oleh penyihir itu? Tunggu saja sampai pintunya roboh akan segera aku tindak lanjuti ke tahap berikutnya"
TOK, TOK, TOK...
Suara ketukan pintu depan rumah sudah terdengar.
"Ayah sudah pulang" ucapku.
aku menyambutnya dengan ramah dan memeluk erat ayah. Wajah ayah terlihat sangat kelelahan kerena kurang istirahat, dan badannya terlihat semakin kurus karena selalu melewatkan jam makannya.
"Ayah, hari ini..." Belum saja aku mengucapkan kata-kata pembuka penuh rasa cintaku kepada ayah, wanita sialan itu kembali menyela pembicaraanku.
Ia berlari menghampiri ayah. Make up nya terlihat begitu tebal.
"Wah, pantas saja uang untuk kebutuhan sehari-hari kita bahkan tidak cukup untuk membeli sabun.Aish, aku sampai-sampai tidak mandi 3 hari, ditambah lagi wangi parfum wanita itu sungguh menyengat". Pikirku.
"Sayang, bagaimana kabarmu hari ini? Baik kah? Aku kangen sama ayah lo"
Ucap wanita itu dengan suara menggodanya, yang menurutku terdengar seperti suara malaikat maut turun dari neraka ditambah suara melengkingnya yang terdengar seperti bebek kurangan asupan nutrisi.
"Baik, hari ini aku mau istirahat dulu setelah itu bangunkan aku jam 2, karena aku masih ada pekerjaan yang belum beres." Ucap ayah.
"Baik sayang, aku laksanakan"jawab si ibu tiri.
"Adik, ingat makan malam ya," ucap ayah kepadaku.
Ibu tiri menatapku dari jauh dan mengancam serta memberi sinyal untukku agar segera minggat dari sana.
"Iya ayah, ayah ingat makan dan istirahat yang baik juga ya" setelah itu aku segera pergi dari tempat tersebut.
Ayah telah tertidur pulas.ibu tiri menemuiku.
"Hei, beraninya kamu coba-coba mencari muka lagi di depan ayahmu! Wanita kesayangannya itu adalah aku, bukan perempuan jelek sepertimu. Lain kali kalau..."
GREB!
Aku meraih kerah bajunya.
"Hei,wanita jalang. Apa hakmu mengurus waktu pribadiku bersama ayah? Ketahui dulu posisimu saat ini. Hah,bahkan ayah tidak pernah memanggilmu dengan sebutan apapun" Aku segera melepaskan kerahnya.
"KAMUU!! Berani- beraninya..hmpphh!!" Aku menutup mulutnya.
"Shhh, nanti kalau ayah terbangun,kan kasihan. Kapan lagi kamu bisa membeli alat kosmetik kalau uangnya tidak ada, benar kan?"
Aku segera pergi dari sana dan bersiap-siap berjalan-jalan di luar rumah. Terlihat wanita itu tersenyum dari kejauhan, menatapku dengan mata yang melotot.
Namaku Nadia, umurku 19 tahun.Ibuku kandungku adalah wanita yang sangat berbeda jauh dengan wanita itu. Dia adalah wanita yang baik, pintar, ramah, dan sebagainya. Kita sebagai keluarga sangat bahagia di masa-masa masih ada ibu.
Di saat itu, aku diajari oleh kedua orang tuaku agar tidak pernah lemah dalam hal apapun dan harus selalu bersikap tegas.
Aku dan ibu selalu menonton drakor dimana penjahatnya adalah sejenis ibu tiri yang suka menindas anaknya, pembullyan di sekolah, atau saudara-saudari yang saling menindas dan mencelakai sesama.
Di saat itu,aku selalu mengkritik orang-orang yang ditindas. Mengapa mereka tidak melawan balik? Mengapa mereka memilih untuk menyerah dan mengakhiri hidup mereka seperti itu?
Aku selalu ingin membalas perbuatannya para pembully itu, dan tidak ingin menjadi pengecut seperti orang yang selalu ditindas itu. Suatu hari, pasti terwujud! Pikirku
Begitu banyak ilmu yang sudah kupelajari bersama mereka. Aku pun sangat senang dan tidak ada penyesalan apapun di dunia indahku saat ini.
Sayangnya, di saat perjalanan pulang setelah aku berbelanja di toko terdekat, aku tertabrak mobil karena tidak melihat-lihat saat menyeberang jalan. Aku pun meninggalkan dunia indah tempat asalku, dan berenkarnasi ke dunia sialan ini.
Disinilah, aku melampiaskan semua kemarahanku dan kekesalanku terhadap orang-orang yang suka membully. Rasanya sangat puas membalas kekejaman mereka dengan membalikkan serangan yang mereka buat untukku.
Masalahnya, hari ini setelah aku pulang dari berjalan-jalan serangan dari musuhku tak bisa ku lempar balik. Ibu tiri telah menjebakku, dan kali ini dia berhasil meyakinkan ayahku itu.
Episode 2 : Melepaskan dia yang bukan lagi bagian dariku
"Adik, ayo duduk sebentar sama ayah disini" ucap ayah.
Terlihat ibu tiri menyengir bahagia dari belakang ayah. Kali ini, aku tidak menuruti ayah sedikitpun.
"Tidak. Aku ingin segera mendengar ceramahmu disini" ucapku dengan tegas.
"Beraninya kamu tidak menuruti perkataan ayahmu! Tuh kan yah, sudah aku bilang anak ini suka memberontak.Dia bahkan sering melukaiku karena alasan yang tidak jelas".
Wanita itu mulai menunjukkan wajah menyedihkannya dan berlinangan air mata palsu.
Ayah terdiam sejenak lalu bertanya kepadaku.
"Kenapa kamu melakukan hal tersebut kepada ibumu? Apakah perhatian yang kuberikan kepadamu kurang cukup? Apakah ini yang aku ajarkan kepadamu sejak kecil?" Tanya ayah.
Aku mengangkat kepala ku lalu mengelak pernyataannya.
"Tolonglah yah, aku tidak ingin membuatmu semakin kelelahan kerena masalah sepele istri tercintamu itu karena aku juga sangat menyayangimu. Tetapi tidak ada pilihan lain lagi". Ayah kebingungan mendengar hal tersebut.
"Apa maksudmu?" Tanya ayah sekali lagi.
"Kalau ayah bertanya apakah itu ajaran darimu,mungkin aku akan mengatakan itu salah. Tapi, ayah selalu mengajarkanku untuk tidak memaafkan orang yang suka berbohong demi hal negatif, serta agar tidak mudah dibohongi oleh orang. Faktanya,ayah sudah dibohongi terlebih dahulu jadi ayah sudah tidak layak lagi kusebut sebagai pedomanku. Hari ini aku hanya ingin mengatakan pada ayah bahwa aku akan pergi dari rumah ini." Ucapku.
Ayah terkejut mendengar hal tersebut.
"Sejak kapan aku memiliki anak sepertimu? Apakah selama ini aku salah menghakimimu? Apa gunanya aku membesarkan orang sepertimu jika pada akhirnya kamu seperti ini?" Tanya ayah
"Ayah,aku tidak pernah diajarkan untuk menghakimi seseorang sekalipun aku kenal baik dengannya. Sepertinya, ayah sudah buta dan tuli semenjak dikendalikan oleh seseorang."
Ibu tiri mengerutkan alisnya lalu menggoda ayah lagi.
"Sayang, jangan biarkan anak tidak tahu terimakasih ini pergi begitu saja! Beri dia hukuman sayang"
Aku mengambil koperku.
"Pesanku? Selamat tinggal ayah, semoga hidupmu bahagia dan suatu hari ketika kamu sudah menemukan jalan yang benar, jangan cari aku dan jangan panggil aku anakmu lagi. Karena kau bukanlah ayahku lagi."
Suasana rumah terdengar begitu sepi ketika aku pergi, namun aku tidak peduli.
Episode 3 : Bertemu dengan belahan ke 2
Di tengah perjalanan, tiba-tiba aku mendengar suara seperti anak anjing.
Nguk,nguk...
Suara tersebut terdengar sangat lemah dan tak berdaya. Akupun terus mencari-cari sumber dari suara tersebut.
Memang benar, aku melihat seekor anak anjing yang sedang di lempari batu oleh sekelompok anak remaja berumuran sekitar 16 tahun. "Wah, waktunya bersenang-senang" aku menjilati bibirku dan bersiap untuk bermain.
"Hahahaha! Terima itu! Anjing murahan itu tidak pantas tinggal di tempat sebagus ini" ucap salah seorang anak.
Mereka terlihat begitu gembira menjahili anak anjing tersebut. Aku mendekati anak-anak itu.
"Hei, para anak mama, tolong jangan halangi jalanku" mereka melihat kearahku lalu mulai mengejek dan merendah-rendahkan diriku.
"Wanita lemah sepertimu memangnya bisa apa?" Aku hanya tersenyum geli, tidak sabar memulai permainan.
"Benda yang kalian lempari batu disana itu milikku. Sebaiknya kalian segera kompensasi atau bersiap untuk berterima kasih kepadaku setelah melepaskan kalian semua"
"Wanita gila ini mau cari masalah,ayo kita tangani. Bukan salah kita juga dia terluka, melainkan keinginannya sendiri." Mereka mulai berpencar dan mengerumuniku.
Masing-masih dari mereka mulai melompat menyerangku dari segala arah.
"Wanita sombong, inilah akibatnya bila kau berani-berani ikut campur urusan orang lain!"
Aku menangkap tangan salah seorang anak yang merupakan bos mereka. Lalu mengancam para bawahannya.
"Hei, anak-anak nakal. Kalian sudah mau dewasa tapi sikap masih di bawah rata-rata, begitu kekanak-kanakan.Apakah kalian rela membiarkan pemimpin kalian ini terluka di bawah tangan wanita sombong dan gila sepertiku ini?" Tanyaku.
Mereka semua akhirnya kabur setelah aku melepaskan pemimpin mereka. Akupun memungut anjing kecil yang sudah sekarat itu.
"Kau harus lebih tegar dan kuat kalau ingin hidup di dunia yang kejam ini."
"Aku akan membawamu pergi dan merawatmu, jadi sebagai gantinya kamu harus menjadi lebih kuat agar bisa kembali membalasnya semua perbuatan orang-orang jahat itu" aku membawa anak anjing itu dan merawatnya hingga ia kembali pulih.
Setelah itu aku selalu melatihnya, sehingga ia menjadi anjing yang kuat dan selalu membawanya kemanapun aku pergi, memberantas para orang-orang jahat yang ada. Aku dan dia telah menjadi 1 dan tidak dapat terpisahkan sedikitpun.
Episode 4 : Aku dan dirimu, adalah satu
Aku Rehan, seorang anak laki-laki yang tidak memiliki keluarga. Teman-teman di sekolahku semuanya membenciku karena aku anak yatim-piatu dan akhirnya aku selalu dibully oleh mereka.
"Orang miskin tidak berhak sekolah, lebih baik kamu pergi dan tinggal saja di pinggir jalan"
BYURR!!
Tas sekolahku dilemparkan ke kolam ikan, baju kemejaku dicorat-coret, guru-guru tidak ada yang peduli dengan murid sepertiku.
"Budak tak berguna, untuk apa aku memungutmu di jalan kalau kamu bahkan tidak bisa menghasilkan uang!?"
Aku diusir dari panti asuhan dan pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan melompat ke bawah jembatan di umur 18 tahun.
Saat aku terbangun, tiba-tiba aku telah menjadi hewan kecil yang lemah, dan sekarat ini. Kehidupanku tetap saja sama seperti sebelumnya, aku hanya bisa mengembara tanpa henti, tanpa makan, minum, bahkan beristirahat sejenak tidak bisa.
"Ughh, sakit sekali, perutku lapar."
Aku mencoba untuk mengambil sepotong kue yang ada di bak sampah,tiba-tiba sekelompok anak remaja mengerumuniku. "Lihat, ada mainan" kata salah satu dari mereka.
Pada akhirnya aku tergeletak tak berdaya di tempat tersebut. Walaupun begitu, di dalam hatiku aku bersumpah akan membalas semua perbuatan orang-orang brengsek ini!
Setelah itu, aku mendengar suara seorang wanita yang menasehatiku. "Jadilah kuat, dan balas mereka" bisiknya.
Saat aku terbangun, aku telah berada di tempat tak dikenal ini dan menemukan seorang wanita cantik yang tidur disebelahku.
"Hmm? Sudah terbangun anak anjingku?" Tanyanya sambil tersenyum dingin.
"Siapa kamu?" Ucapku.
"Hmmm... Apakah kamu seorang perenkarnasi juga?" Wanita itu bertanya balik.
"Iya" jawabku.
"Menarik sekali," seketika mata wanita itu berbinar bersamaan dengan senyumnya yang terlihat seperti seseorang yang bersiap-siap untuk memulai peperangan.
"Karena sekarang kamu telah bangun, bersediakah kau memberikan segalanya untuk majikanmu ini?" Tanya wanita itu.
Awalnya aku bingung dengan sikapnya, namun demi membalas perbuatan para manusia tak beradab itu, aku menuruti semua perkataannya dan pada akhirnya kami berkerja sama membasmi setiap para pembully yang kami temui.
Kami pun menjadi partner tak terkalahkan, tak terpisahkan yang dikenal dengan julukan yang sudah kami peroleh yaitu MAWAR HITAM di kalangan para penjahat dan masyarakat di sana.
Episode 5 : Aku mencintaimu, aku juga membencimu (part 1)
"Datanglah ke gang kecil dipinggir jalan itu hari ini pada pukul 00.00 AM. Aku menunggumu" Kubaca surat yang diberikan oleh sang pembully.
Kali ini kami akan melawan seorang anak SMA yang suka mengambil uang dan menindas orang-orang berstatus rendah.
BEBERAPA HARI SEBELUMNYA...
"Rehan, hari ini kamu tidak usah ikut pergi bersamaku" ucapku sambil mengenakan seragam siswa SMA.
"Kenapa? Bukankah kita biasanya pergi bersama?" Anjing itu terlihat heran.
"Kamu masih muda dan misi kali ini akan lebih berat dari sebelumnya. Juga aku tidak bisa membawamu dalam misi penyamaranku kali ini".
"Kenapa kau berkata begitu? Umurku sekarang sudah satu tahun lebih tua darimu, juga bukankah biasanya kita melalui misi lain yang lebih berat dari kasus anak SMA?"
Aku menghelas napas panjang lalu membelai kepalanya. "Maka dari itulah kamu harus diam dirumah, aku tidak ingin kamu terluka di kasus kali ini."
"Mereka cukup cerdik melihat sosokmu itu, bagaimana kalau mereka mengetahui bahwa kamu adalah siluman anjing?"
Anjing itu terdiam lalu menyetujui permintaan ku
"baiklah, tapi kamu harus pulang sebelum makan malam"
Aku pun pamit lalu menyiapkan senyum iblisku. Kulihat status SMA yangbkumasuki adalah SMA tempat dimana terjadinya banyak kasus pembullyan dan korbannya berakhir dalam kondisi yang tidak baik.
"Hahaha, saatnya makan siang. Perjalanan kali ini akan lebih pedas dari sebelumnya"
"Baiklah anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru" pak guru pun menyuruhku untuk memperkenalkan diri.
Para murid laki-laki di belakang sudah menunjukkan tampang seperti macan yang kelaparan ingin segera memakan mangsa barunya.
Para murid perempuan terlihat seperti akan bersiap-siap untuk menyergapku setiap saat.
"Hai teman-teman, perkenalkan namaku Mia, salam kenal ya"
Orang-orang itu tidak sekalipun membalas perkenalanku dan hanya berbisik satu sama lain.
Pak guru pun menyuruhku untuk duduk di bangku kosong di pojok kelas. Bangku itu terlihat begitu menyeramkan. Mejanya berisi banyak coretan kata-kata kasar, berantakan, lusuh, dan kotor.
"Hmm, seperti nya sudah ada yang pernah memakan mangsanya disini" aku segera duduk dan mengikuti pelajaran sampai jam istirahat tiba.
"Hei anak cantik, ayo main bersama kami" ucap sekumpulan anak laki-laki yang
sudah tak sabar mengerjaiku. Para murid perempuan sudah memelototiku dari kejauhan.
"Maaf ya,kakak-kakak.Aku masih ada pekerjaan yang belum beres" ucapku lalu melanjutkan menulis di buku catatanku.
Para siswa laki-laki itu memulai aksinya. Mereka mendorongku dari kursi lalu menjambak rambutku dan salah satunya berbisik di telingaku.
"Hei, cantik, jangan sekali-sekali kamu berani menolak ajakan kami, hanya orang miskin tak tahu diri saja sombong sekali"
Aku berpura-pura takut dan berakting menangis. "Maaf ya kak, aku senang sekali jika bisa menemanimu bermain tapi saat ini aku benar-benar sibuk. Lain kali ya"
Setelah aku mengatakan itu mereka melepaskan rambutku lalu tersenyum puas.
"Perempuan yang cukup menarik". Mereka pergi ke luar kelas.
NEETTT!!!
Bel masuk kelas telah berbunyi. Pak guru menyuruh murid-muridnya untuk segera duduk di bangku masing-masing.
"Bapak ada pengumuman.tolong anak-anak segera duduk"
"Tina, bapak dengar kamu membully temanmu lagi. Kenapa kamu melakukan hal tersebut?" Tanya bapak.
"Memang saya yang begitu pak? Mana buktinya?"
Pak guru mengeluarkan secarik kertas berisi surat pernyataan dari korban bullying serta flashdisk verisi rekaman pembicaraan mereka.
"Kamu dihukum untuk menuliskan 100 lembar kertas permintaan maaf. Kumpulkan dalam waktu 3 hari" Perempuan itu lalu menahan amarahnya dan menerima hukuman tersebut.
JAM ISTIRAHAT KE 2
"Siapa yang berani-beraninya melaporkanku HAH!!!???" Semua murid terdiam.
Tina lalu melirik ke arah perempuan berkacamata.
"APAKAH KAMU MELAPORKAN PERBUATANKU??" Tanya Tina.
Perempuan itu mulai gemetaran ketakutan. Tina segera menghampiri perempuan itu. Tiba-tiba perempuan berkacamata itu menunjuk ke arahku.
"D-dia yang melaporkan nona Tina" katanya.
Tina segera memelototiku dan berjalan ke arahku.
"KENAPA KAU MELAKUKAN ITU? APAKAH KAMU ANAK MISKIN TAK TAHU POSISIMU DI SINI SEBAGAI APA??" Dia berteriak kepadaku lalu memanggil anak buahnya.
Aku berpura-pura menjadi murid lemah yang menerima berbagai perbuatan mereka. Kulihat perempuan berkacamata itu menunjukkan tampang wajah bersalah karena telah memfitnahku.
Selama beberapa hari ini, sekumpulan pembully wanita itu menyiksaku di tempat itu, tanpa ada yang memperdulikanku.
PLAK!!
Salah satu dari mereka menampar wajahku begitu keras sampai-sampai aku terjatuh ke lantai. "Wanita murahan" ucapnya.
BRAK!
Mereka menarikku untuk duduk di kursi, lalu Tina menjambak rambutku.
"Wajahmu bahkan lebih jelek dariku, hahahaha"
Siksaan mereka berlanjut selama 1 minggu berturut-turut."heh,saatnya aku bertindak. Puncak nafsuku sudah terlalu tinggi untuk segera membalas mereka"
Saat Tina dan anak buahnya sedang ngerumpi di kamar mandi, aku mengunci semua pintu di sana.
"Baiklah, anak-anak tak beradab, cara seperti apa yang kalian semua inginkan agar bisa membalikkan semua perbuatan keji kalian selama ini?"
BERSAMBUNG