Farrel baru pulang dari sekolah, sekarang dia sedang berjalan untuk pulang ke rumah. Saat di jalan, dia bertemu dengan seorang perempuan berparas cantik sedang duduk termenung di bawah Pohon Beringin. Karena penasaran, Farrel datang dan menghampiri perempuan itu.
“Permisi, boleh saya duduk di sampingmu?" tanya Farrel.
“Silahkan," ucap perempuan itu.
Kemudian Farrel duduk di sebelah perempuan itu.
“Hah, hari ini panas banget ya," ujar Farrel.
Perempuan itu tidak menjawab dan hanya diam seribu kata. Farrel menanyakan apa yang terjadi kepada perempuan itu. Lalu, perempuan itu menjawab bahwa dia sama sekali tidak ingat dengan segala hal-hal di sekitarnya. Bahkan, namanya sendiri pun dia tidak ingat.
“Kalau begitu, kamu tidak ingat di mana tempat tinggalmu?" tanya Farrel.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya untuk menjawab tidak. Farrel segera menarik tangan perempuan itu.
“Kamu mau membawaku kemana?" tanya perempuan itu.
“Kita akan pergi ke rumahku, kau bisa tinggal di sana untuk sementara ini," ujar Farrel.
Akhirnya perempuan itu pasrah dan mengikuti Farrel. Sesampainya di pintu rumah Farrel, tiba-tiba perempuan itu berhenti.
“Aku tidak ingin merepotkanmu," ujar perempuan itu.
“Gak kok, Ayo!" Farrel mengajak masuk perempuan itu.
“Oh iya, bagaimana kalau namamu Aurel saja," ucap Farrel.
“Aurel?" tanya perempuan itu.
“Iya, Aurel adalah nama yang bagus. Untuk sementara namamu Aurel ya," ucap Farrel.
Aurel mengangguk seraya tersenyum senang.
🌸🌸Beberapa Bulan Kemudian🌸🌸
Aurel sedang menyapu lantai, sementara Farrel sedang menonton TV. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aurel segera membukakan pintunya. Terlihat seorang pria tampan berjubah hitam sedang berdiri sambil membawa pisau.
“Maaf, kamu siapa ya?" tanya Aurel.
“Jangan pura-pura tidak tahu, Shinta," ujar pria tampan berjubah hitam tersebut.
“Shinta, siapa Shinta. Namaku Aurel," ucap Aurel.
“Cihh... kau bahkan telah lupa dengan namamu sendiri," ucap Pria itu kemudian mengacungkan pisaunya ke arah Aurel.
Farrel segera berlari dan memukul pria itu. Akhirnya terjadi pertarungan hebat antara Farrel dan Pria misterius itu. Setelah berbalas pukulan, pada akhirnya pria misterius itu yang memenangkan pertarungan.
“Aku gak mau lama-lama meladeni laki-laki lemah sepertimu, ingat Shin aku akan kembali," ujar Pria itu kemudian menghilang secara tiba-tiba.
“Farrel kamu gak papa kan?" tanya Aurel.
“Ngg... enggak papa kok, tapi siapa pria itu?" tanya Farrel.
“Aku juga tidak tahu," ucap Aurel.
Farrel dan Aurel segera masuk ke dalam rumah lagi. Aurel kembali melanjutkan untuk menyapu rumah. Sesekali dia masih mengingat tentang maksud dari perkataan pria misterius itu.
Malam hari tiba, Aurel segera pergi ke ranjang untuk tidur. Tiba-tiba, pria misterius itu berdiri di hadapan Aurel.
“Mau apa lagi kamu?" tanya Aurel gemetaran.
“Aku tidak ingin menyakitimu, tapi coba kau lihat itu," ucap pria itu sambil menunjuk ke arah kanan Aurel.
Aurel segera menengok ke kanan. Aurel hanya melihat seluruh manusia hidup dengan aman dan tentram. Aurel juga melihat Farrel sedang makan bersama perempuan lain.
“Coba kau lihat ke sana," ucap pria itu sambil menunjuk ke arah kiri Aurel.
Aurel kembali terkejut saat melihat seluruh manusia menangis dan ketakutan. Termasuk dirinya dan Farrel.
“Apa maksudmu?" tanya Aurel.
“Ckckck... kau masih tidak ingat juga ya, sudahlah kau cari saja jawabannya sendiri," ucap pria itu kemudian menghilang lagi.
“Haahhh," Aurel terbangun dari tidurnya.
“Ternyata, itu semua hanya mimpi," ucap Aurel.
Aurel menyadari bahwa semua hal aneh yang dilihatnya itu hanyalah mimpi. Mendadak, ingatan-ingatan aneh muncul di pikiran Aurel. Aurel berteriak kesakitan. Farrel segera menghampiri Aurel dan menanyakan apa yang terjadi.
“Kepalaku sakit," ucap Aurel seraya memegangi kepalanya.
“Kalau gitu ayo ke rumah sakit sekarang," Farrel panik.
Karena sudah tidak tahan lagi, Aurel segera berlari keluar. Sementara Farrel juga berlari mengikuti Aurel.
Saat di jalan, Aurel bertemu dengan pria misterius itu lagi.
“Kau," ucap Aurel sambil menahan sakit.
“Bagaimana, apa kau telah mengingat jati dirimu yang sebenarnya, Shinta?" tanya pria itu.
“Apa maksudmu?" Aurel masih tak mengerti dengan maksud dari perkataan Pria itu.
“Aku rasa, aku yang harus membantumu. Kau ini adalah malaikat," jelas Pria itu.
Farrel yang ada di sana terkejut sekaligus bingung.
“Malaikat?" tanya Farrel.
“Kau adalah Shinta, malaikat penjaga kedamaian," jelas Pria itu lagi.
Perlahan, ingatan Aurel tentang malaikat mulai bermuculan.
“Aku Shinta," ucap Aurel.
“Akhirnya kau mengerti," ucap Pria itu.
Aurel menutup matanya sebentar kemudian melihat pria itu. Mendadak tubuh Aurel mematung.
“Apa sekarang kau telah mengenaliku, Shinta?" tanya Pria itu.
“Elen," ucap Shinta dengan gemetar ketakutan.
“Baiklah kau telah mengenaliku. Aku adalah Elen, raja para iblis," ucap Elen sambil tersenyum sinis.
Farrel masih melihat mereka dengan bingung.
“Jadi saatnya telah tiba ya?" tanya Shinta.
“Iya kurasa begitu," jelas Elen.
“Apa yang telah tiba?" tanya Farrel.
Shinta hanya diam sambil menunduk.
“Setiap 1000 tahun sekali, para iblis akan menyerang umat manusia. Dan malaikat penjaga kedamaian akan mencoba untuk menghentikan kita," jelas Elen.
“Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu umat manusia lagi," ucap Shinta.
“Baiklah kalau begitu, mulailah," ucap Elen.
Shinta segera berlari dan menyerang Elen. Akhirnya terjadi pertarungan hebat lagi di antara mereka. Pertarungan ini akan menentukan nasib umat manusia.
“HENTIKAN," teriak Farrel.
Elen tersenyum sinis, kemudian Elen mengeluarkan sebuah sinar ke arah Farrel. Alhasil, sebuah sinar menembus tubuh Farrel.
“Farrel," Shinta segera menghampiri Farrel.
“Aku gak papa kok, aghh," Farrel merintih kesakitan.
“Sudah kubilang, jangan ganggu umat manusia lagi," ucap Shinta.
Kemudian, Shinta mengeluarkan sebuah cahaya dan mengarahkannya kepada Elen. Elen juga membalas dan mengeluarkan cahaya yang sama. Shinta mengerahkan seluruh tenaganya. Pada akhirnya, cahaya milik Shinta menembus tubuh Elen.
“Ini gak mungkin," ucap Elen kemudian tubuhnya menghilang.
“Sudah berakhir," Tiba-tiba Shinta jatuh tergeletak di tanah.
“Aurel," Farrel segera menghampiri Aurel.
“Aurel, katakan kau akan baik-baik saja," ucap Farrel sambil memegangi tangan Aurel dengan erat.
“Aku tidak memliki harapan lagi untuk hidup. Maafkan aku, Farrel," perlahan tubuh Shinta mulai menghilang.
“AUREL," Farrel tidak dapat membendung tangisnya.
“Aku ingin kau selalu berada di sisiku, Aurel," gumam Farrel.
💮💮Keesokan Harinya💮💮
Farrel baru pulang dari sekolah. Seperti biasa, Farrel pulang melalui jalan yang melalui Pohon Beringin. Farrel berhenti berjalan saat melihat seorang perempuan yang tak asing baginya sedang duduk di bawah Pohon Beringin. Ya, dia adalah Aurel.
“AUREL," Farrel berteriak memanggil Aurel.
Aurel menoleh ke arah Farrel sambil tersenyum.
"FARREL," Aurel juga berteriak.
Mereka berdua berlari dan berpelukan.
“Tak peduli kau manusia atau malaikat. Yang pasti, aku mencintaimu," gumam Farrel.
—Tamat—