Sikap Baik Suamiku Menyimpan Rahasia Besar
Mala dan Galih sudah bersiap hendak berangkat ke dokter untuk memeriksa keadaan Mala. Sampai di teras rumah Galih kembali ke dalam untuk mengambil ponsel yang tertinggal, kebiasaan lelaki berhidung mancung selalu lupa dengan benda pipih tersebut. Belum sampai kembali ke teras, sayup-sayup Galih mendengar tangisan bayi juga suara Mala yang mencoba mengajak bicara bayi tersebut. Rasanya mustahil baru menerka Mala hamil tiba-tiba melahirkan.
"Mas, sama Mbak Mala langsung diam." Ghea bisa bernapas lega melihat putri kecilnya tidak lagi menangis.
"Itu karena kamu yang enggak bener gendongnya. Coba lihat Mbak Mala. Dedek Fika begitu nyaman dan comel. Jadi pengin nyubit yang gendong." Selesai berucap Galang langsung mendapat serangan dari berbagai penjuru. Ghea tidak memberi ampun sampai telinganya juga menjadi sasaran kekesalan.
"Baru datang main nyosor istri orang. Enak aja, ini bidadariku dan membuat ia selalu cantik butuh modal, bukan hanya modal dengkul, apalagi modal-madul." Galih yang baru kembali dari dalam rumah tentu tidak terima dengan ucapan sang adik.
Dipeluknya Mala yang sedang menimang bayi mungil itu. Ada binar bahagia disorot matanya, rasa ingin memiliki buah hati juga begitu kuat terlihat.
"Kalian sudah punya anak tingkah nggak berubah. Lama-lama anak jadi korban lempar-melempar orang tua."
Galih kembali berucap melihat adiknya masih saling beradu. Tanpa mempedulikan keduanya, Galih membawa Mala masuk menjauhkan anak dari orang tuanya yang sedang bergulat. Mala pun menurut dan menahan tawa dengan kelakuan dua adiknya yang absurd.
Setelah beberapa saat Galang dan Ghea menghentikan aksi saling serang, keduanya menyadari, lalu mencari di mana keberadaan kakak yang membawa anaknya kabur. Mereka memasuki rumah tanpa salam langsung menyusuri ruangan mencari keberadaan pemilik rumah. Sampai akhirnya bertemu di ruang tengah.
"Tamunya nggak disuguh minum?" Galang yang suka ceplas-ceplos langsung pada tujuan meminta keinginannya. Hasil beradu dengan sang istri meninggalkan rasa dahaga.
"Suruh istrimu yang bikin! Apa nggak lihat istriku lagi gendong anak kalian. Bertamu tapi main nyelonong aja." Tingkah Galih berubah ketus menghadapi Galang yang pandai merangkai kata menjadi gombalan. Selain kesal sang istri selalu menjadi topik utama, terbesit rasa cemburu dalam hatinya.
Ghea pun langsung menuju dapur karena tidak memungkinkan menunggu Galih membuatkan minum sedangkan Mala sibuk dengan Fika yang masih nyaman berada digendongnya. Baru beberapa langkah, Ghea berhenti mendengar ucapan sang suami, hatinya makin dibuat kesal olehnya.
"Dek, gulanya sedikit saja, karena manisnya ada di Mbak Mala." Galang terus menjadikan Mala sebagai tameng seraya mengedipkan sebelah mata ke arah istri tercinta. Ghea hanya mengentakkan kaki kesal dan melanjutkan tujuan utamanya.
Galih yang tidak terima melempar bantal tepat di wajah sang adik. Lagi-lagi Galang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan membuat Galih makin geram dengan tingkahnya. Keduanya sama-sama lelaki idaman, tetapi Galang lebih banyak tingkah dan tebar pesona.
Bertepatan Ghea muncul membawa nampan berisi minuman, Ratna datang dengan kipas kebesarannya. Ia langsung memosisikan duduk berhadapan dengan Mala memperhatikan Fika yang nyaman dalam dekapannya. Pasalnya, belum lama tiba di rumah langsung menangis dan digendong oleh siapa pun tetap tidak kunjung berhenti membuat kedua orang tuanya membawa Fika ke rumah Galih.
"Apa nggak kebalik tamu yang menjamu tuan rumah?" Ratna berucap tanpa beralih memandang Mala sambil memainkan kipas di hadapannya.
Mala yang mendengar penuturan Ratna merasa tidak enak apalagi ucapannya lebih pada menyindir. Beruntung dua lelaki ganteng dan satu perempuan cantik membela, meski masih di singgahi rasa kurang nyaman di hati. Kebencian Ratna pada Mala sudah tidak rahasia lagi. Beruntung suami dan adiknya selalu memberi pengertian ketika Ratna terus memojokkan. Di situlah Mala merasa tidak sendiri dan mampu bertahan meski kebencian mama mertua tidak kunjung meredup.
Kedatangan Ratna selain ingin memastikan keberangkatan Mala untuk periksa juga ingin melihat keadaan cucunya. Kedatangan yang sudah lama dinanti justru tidak nyaman berada digendongan sang Oma. Membuat Ratna makin kesal karena Fika justru diam bersama Mala.
"Bukannya mau periksa? Fika biar sama Mama saja. Kalian pergi, nanti keburu malam."
Kalimat perintah terlontar jelas dari mulut Ratna. Mala yang tidak mau ribut, bangun dari duduknya menyerahkan Fika yang baru berusia tiga bulan pada mama mertuanya. Mala tidak ingin sampai membuat murka apalagi ada saudara kandung suaminya, meski mereka sudah memahami kebencian Ratna terhadap Mala. Namun, Mala tidak mau memperkeruh suasana.
Ratna langsung menimang-nimang Fika sambil mengajak bicara agar cepat besar dan menemani hari-harinya. Seandainya bukan karena tuntutan pekerjaan Galang dan Ghea masih berada dalam satu atap bersama Ratna. Ratna tidak akan merasa kesepian apalagi ada Fika yang makin hari makin menggemaskan.
Galang dan Ghea pun memahami keinginan Ratna dan memberi anggukan kecil pada sang kakak, sebagai isyarat tidak masalah bila harus ditinggalkan. Keduanya tidak ingin bila Ratna terus tersulut emosi mengingat usia makin bertambah dan kesehatan harus benar-benar dikontrol.
Baru saja Mala hendak mengambil tas yang ia letakkan di atas sofa. Fika kembali menangis dalam gendongan Ratna karena tidak kunjung berhenti diserahkan pada Ghea. Dalam gendongan Ghea pun Fika terus menangis sampai akhirnya berpindah pada Mala dan seketika terdiam.
Tingkah Fika benar-benar membuat geleng kepala. Kejadian barusan menandakan bahwa Fika lebih nyaman berada dalam dekapan Mala, membuat Ratna makin tidak menyukai Mala. Bagaimana mungkin Fika tidak mau diajak siapa pun? Sedangkan ia masih balita, harusnya mau diajak apalagi sama Omanya.
Dengan kipas kebesarannya, Ratna kembali ke rumah tanpa permisi meninggalkan banyak tanya untuk kedua anak dan menantunya. Karena tidak ingin membuat hati sang mama merasa tersisih. Akhirnya memutuskan menyusul Ratna dengan Fika tetap berada dalam gendongan Mala.
Setibanya di rumah sebelah, Ratna sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan kipas kesayangannya. Raut wajah masih sama penuh kekesalan dan kebencian. Ratna tetap bersikap cuek dengan kedatangan anak dan menantu. Hatinya masih dongkol pada Mala sampai berimbas pada semua.
Galih dan Galang mencoba mencairkan suasana agar lebih nyaman dalam berinteraksi. Galang yang selalu ada cara berhasil membuat suasana menjadi riuh oleh tawa. Belum lagi kelakuan Ghea sang istri yang cemburuan selalu dibuat kesal oleh suaminya dengan membuat Mala sebagai umpan.
Tanpa disadari Ratna tersenyum seorang diri, melihat keluarga anaknya begitu harmonis, tanpa ada rasa saling benci dan mengolok kekurangan satu sama lain. Melihat candaan terus tercipta, sejenak Ratna lupa akan tuntutan yang sudah mengakar di otaknya, tetapi belum kunjung terkabul.
Mala beranjak menuju kamar untuk menidurkan Fika ditemani Ghea. Mengingat waktu beranjak malam, Mala tidak ingin mengganggu waktu untuk beristirahat apalagi mereka baru sampai sore tadi dan jarak yang ditempuh lumayan jauh.
Galih dan Mala berpamitan pada Ratna yang masih duduk di sofa ditemani Galang. Langkah keduanya terhenti ketika hendak menuju pintu utama setelah mendengar ucapan Ratna. Lagi-lagi ibu mertuanya kembali memberi luka di hati Mala.
"Jangan lupa besok periksa! Kalau perlu ke dokter kandungan biar jelas. Mama nggak mau menunggu terlalu lama bila akhirnya akan sia-sia." Ratna berucap seraya menggerakkan kipas yang berada digenggaman, lalu melenggang masuk ke kamar tanpa peduli dengan ucapannya menyakiti hati Mala atau tidak.