Tap!
Sebuah langkah terhenti di dalam sebuah gedung Mall yang sudah tutup. Suara sepatu heels kembali terdengar menggema di dalam Mall yang terlihat kosong itu. Suara heels itu terhenti di depan sebuah ruko tutup.
"Ini lah yang aku perlukan"
Beberapa tahun kemudian, gedung Mall itu terlihat sangat ramai. Banyak orang yang keluar masuk mall itu. Bahkan saat jam ibadah sekalipun.
Zaba menatap mall itu sambil meminum es yang dia beli.
"Sang Greed. Nomor dua ya" Zaba tersenyum penuh arti. Dia membuang bekas minumannya lalu membawa tongkat hitamnya mendekati gedung mall.
Malam harinya, Gaia menatap gedung Mall itu dengan seksama. Dia melebarkan kipas yang dia bawa.
"Zaba? Kenapa aku selalu bertemu dengannya seperti ini?" Gaia menghela nafas lalu memasuki gedung Mall itu.
Prangg
Kaca disebelah Gaia tiba-tiba pecah. Suasana di dalam Mall juga sangat mencekam. Dari lantai atas Gaia bisa merasakan sebuah aura tekanan yang sangat kuat.
"Nomor dua, Sang Greed"
"Malvory!"
Suara berat nan menakutkan itu membuat Gaia bergetar sesaat. Tapi dia tetap naik ke lantai 4 dimana aura itu berasal.
"Beraninya kau menunjukan wajah keserakahan mu di hadapan ku"
Sesosok iblis dengan sebuah mahkota hitam dengan dress merah serta wajah setengah tengkorak berdiri angkuh di depan Zaba. Sedangkan Zaba memegang Aham yang terlihat membara dengan wujudnya setengah nerakanya.
"Zaba, malaikat penghukum. Untuk apa kau melawanku? Kau itu tidak sebanding dengan iblis hebat seperti ku" ujar sosok iblis itu dengan nada sombong, "Aku adalah Sang kekayaan, Sang Keindahan… Sang…"
"Keserakahan tanpa akhir!"
Slash.
"Akhhhhh!" teriak makhluk itu dengan sangat keras saat tangan kanannya terpotong.
Zaba melihat siapa yang melakukannya, "Lama tidak berjumpa Malvory"
"Gaia!" Malvory menatap Gaia dengan penuh kebencian, "Bagaimana bisa kau datang ke dunia fana ini?"
"Aku diutus langsung" Gaia melakukan kuda-kudanya lalu dengan cepat berada di atas Malvory.
Ting
Slash
"Akhhh!" mahkota Malvory yang terhubung dengan kepalanya terjatuh ke lantai lalu terbakar.
Gaia mendarat tepat di depan Zaba, "Kenapa kau berubah?"
"Dia nomor 2" Zaba melihat heran dengan ketenangan Gaia, "Kau tidak ketakutan?"
Senyuman miring milik Gaia membuat zaba menatanya heran, "Untuk seukuran makhluk licik sepertinya harus dibalas kelicikan juga kan?"
Zaba bisa melihat tangan Gaia yang bergetar, dia juga melihat darah Gaia yang bewarna merah, "Merah?"
Gaia melihat arah pandang Zaba dan menemukan darah merah yang mengalir ke Acry. Dia menghiraukan keterkejutan Zaba.
"Manusia? Jadi kau di kutuk jadi manusia?! Lucuu!"
"Diam!" seru Gaia marah.
Zaba bisa melihat darah Gaia yang terus mengalir.
"Kau salah Vory" Gaia menunduk, "Aku bukan di kutuk" gumam Gaia.
Aham yang ada di genggaman Zaba tiba-tiba seperti tertarik kearah Gaia. Dengan tepat dia menangkap Aham.
"Aku di utus untuk membawa mu dan saudara-saudara mu yang lain kembali ke Nereka" ujar Gaia yang membuat Aham terbakar amarah dan Arcy yang bersinar terang.
"Aham dan Acry?" guman Malvory yang baru menyadari pedang milik Gaia.
"Membawa kalian kembali ketempat kalian" lanjut Gaia yang sudah berada di belakang Malvory dengan pedang yang di silangkan.
Pandangan Malvory seketika berputar, "Kau…kau memenggalku!"
Zaba tidak diam saja melihat itu. Dia mengubah wujudnya ke bentuk Neraka sempurnanya lalu membakar tubuh Malvory hingga perlahan berubah menjadi asap.
"Gaia! Aku pasti akan bertemu dengan mu lagi dan disaat itu aku akan mengambil semua sumber pahala dan kesucian mu!" celetuk Malvory dengan marah.
Zaba mendekati Gaia saat Malvory benar-benar sudah menghilang. Perlahan tubuh Gaia juga melemah. Untungnya Zaba dengan sigap menangkap tubuh lemah Gaia.
"Kau memaksakan diri lagi" ujar Zaba yang menggendong Gaia ala bridal style.
"Aku hanya melihat sesuaty yang buruk saat bertwmu dengannya"
Zaba menatap dia yang mulai menutup matanya, "Kau bukan utusan dari neraka ya?"
Gaia tertawa pahit, "Aku manusia. Manusia penuh cobaan"
Zaba tidak menanggapi Gaia sama sekali. Tapi genggamannya menjadi sangat kuat.
"Setiap ciptaannya itu pasti diberikan cobaan"