Penghuni di apartemen ini kebanyakan tak mengenal satu sama lainnya. Hampir setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan dunianya sendiri, lebih tepatnya. Termasuk saya.
Saya sendiri bisa dikatakan demikian. Bahkan, selama saya tinggal sepuluh tahun di apartemen ini, saya tak pernah tahu tetangga saya sendiri. Sebab, saya tak mau tahu. Kalau saya mau tahu atau pura-pura sok akrab, tak mungkin saya tinggal di sini. Mungkin saya akan tinggal di desa atau di kompleks perumahan. Sebab, saya sendiri tak mau diketahui orang. Bukan, saya bukan buronan.
Saya orang baik. Tak ada jejak kriminal dalam kehidupan saya. Siapa pun yang melacak saya, pasti saya sangat bersih. Sungguh bersih.
Jika ada yang melacak saya, tentulah saya ini sangat sempurna tiada cela. Terlalu bersih, bisa dikatakan. Jika ada yang melacak ponsel saya, tentu tempat-tempat yang terdeteksi adalah perpustakaan, museum, masjid, dan apartemen tempat saya tinggal. Jika ada yang melacak kartu debit saya, keterangan yang di dapat hanya tarik tunai dan honor saya sebagai ilustrator. Jika ada yang melacak profil saya, maka keterangan yang didapat adalah saya lulusan sarjana sastra.
Bahkan, jika ada orang yang memaksa berselancar di internet pun, tak akan ada keterangan yang lebih banyak yang bisa didapat dari rekam jejak kehidupan saya.
Saya menjadi seperti ini, semua berawal dari sikap Ibu saya. Tak hanya Ibu, tapi juga kakek dan nenek saya. Mereka sepertinya menginginkan anak laki-laki ketimbang anak perempuan.
Mereka tidak pernah mengatakannya, tapi sikap mereka yang menunjukkannya demikian. Tak hanya itu, yang membuat saya semakin yakin bahwa mereka menginginkan anak laki-laki adalah ketika kakek berkata, ”Jika kelak anak itu menikah, tentulah harus wali hakim.” Kalimat yang demikian sangat mengganggu pikiran saya. Kemudian saya menelusuri bagaimana proses saya lahir. Bukan, bukan proses lahir normal atau lahir caesar, tapi lebih kenapa Ibu bisa mengandung saya.
”Emak tak sanggup lagi jika harus melakukan kebohongan selanjutnya,” kata nenek kepada Ibu.
Bagaimana tidak, kakek dan nenek adalah orang yang taat beribadah. Kakek sendiri tak pernah absen ke masjid untuk shalat lima waktu, kecuali sakit. Ketika tiba-tiba mendapati Ibu hamil sebelum menikah, kakek seperti mendapati ladangnya terbakar habis, tak bersisa. Dan Ibu tak tahu anak siapa saya ini sesungguhnya. Sebab, yang menanam benih di rahimnya tak hanya satu lelaki. Pengakuannya ini membuat kakek bertambah berang.
Tentu saja, semarah-marahnya kakek, ia tak sampai hati mengusir anaknya atau membuka aib anaknya. Sebab, kehormatan keluarganya jauh lebih penting dari apa pun. Untuk menutup aib Ibu, kakek pergi ke luar desa untuk mencari lelaki yang bersedia menutupi aib anaknya. Desa yang kakek pilih tentu saja desa yang tak bisa dijangkau oleh warga di desanya.
Tak tanggung-tanggung, kakek mengambil seorang tunawisma dari Desa Mojosari. Dan Ibu dinikahkan tepat ketika usia kandungannya berusia dua bulan. Sengaja. Agar orang-orang mengira bahwa ibu hamil tujuh bulan. Sampai di sini aib keluarga berhasil ditutupi. Ibu kemudian bercerai setelah saya lahir. Dan mantan suami Ibu kembali ke kampung halamannya.
”Ayahmu tidak bertanggung jawab!” jawab Ibu dengan naik pintam.
Setiap kali saya menanyakan tentang ayah, setiap itu pula Ibu naik pintam. Di mata tetangga-tetangga, Ibu adalah wanita yang suci dan teraniaya. Tak ada satu tetangga pun yang mengira bahwa Ibu hamil di luar nikah. Dan semua tetangga juga merasa kasihan kepada saya, sebab saya memiliki ayah yang tak bertanggung jawab. Bahkan, salah satu dari mereka ada berkata, ”Kasihan anak itu tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah.”
Rumor yang beredar adalah ayah menceraikan Ibu karena ayah selingkuh. Kasihan tunawisma tersebut, pikir saya. Tetangga, kakek-nenek, serta Ibu mengecam perbuatan tunawisma tersebut.
”Bukankah seharusnya Ibu berterima kasih kepada tunawisma tersebut?” tanya saya, yang tak habis pikir bahwa kehormatan tunawisma tersebut juga Ibu jatuhkan.
”Kamu benar, Nak,” jawab Ibu. ”Tapi, bukankah tunawisma tersebut dibayar untuk hal demikian?”
Saya tak berani lagi berkata-kata. Ada hak, ada kewajiban. Untungnya lelaki yang bersedia menutupi aib Ibu itu bukan orang yang punya pengaruh. Tapi tetap saja, saya masih merasa penasaran akan sosok ayah. Terkadang, saya iri jika melihat teman saya berangkat sekolah diantar oleh ayahnya. Atau ketika sang ayah pasang badan untuk membela anaknya. Sangat iri. Sebab, saya tak dapatkan hal itu.
Siapa pun ayah saya, saya kira tak sepenuhnya kesalahannya. Bukan, saya bukan membela ayah saya. Menurut hemat saya, Ibu juga turut andil. Kenapa dengan mudahnya Ibu menyerahkan kemaluannya kepada ayah sebelum menikah? Bukankah ini juga kesalahan Ibu? Tapi tentu saja kalimat-kalimat tersebut tak saya utarakan kepada Ibu. Begitu kakek-nenek dan Ibu meninggal, saya menjadi lebih bebas dan lebih leluasa. Ruang gerak saya tidak lagi dibatasi.
Karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi, saya memutuskan untuk meninggalkan desa ini dan menjalani kehidupan seperti yang saya kehendaki. Di kota, tentunya. Saya menjual semua harta peninggalan Ibu saya. Sebetulnya kurang tepat kalau saya katakan bahwa harta tersebut milik Ibu. Sebab, Ibu juga mendapatkannya dari kakek-nenek. Jadi, yang benar adalah milik kakek-nenek. Semuanya, tanpa bersisa saya jual. Rumah, mobil pikup, juga ladang. Hasil dari penjualan tersebut saya belikan apartemen dan sepeda motor serta biaya kuliah selama saya di Bandung.
Sebelum menjadi ilustrator, saya terlebih dahulu menjadi wartawan. Menjadi wartawan cukup menantang bagi saya. Bagaimana tidak, semenjak menjadi wartawan, wawasan saya menjadi luas. Dari saya yang tak tahu apa-apa menjadi serba tahu. Terkadang saya menulis berita politik, terkadang saya menulis berita ekonomi, terkadang saya menulis berita hukum, terkadang saya menulis berita kriminal, terkadang saya menulis resesi film, dan terkadang juga saya menulis berita seleb.
Entah kenapa, ketika saya menulis berita seleb, yang di mana seleb tersebut tersandung kasus video porno, membuat saya tak bisa tidur dan gelisah. Saban hari sejak saya menulis berita tersebut, wajah seleb itu diam-diam merasuk ke otak saya tanpa saya undang. Tak hanya ke otak saya, tapi juga ke mata saya. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia, tetapi ternyata bukan.
Karena kejadian ini berulang terus, dan menganggu pekerjaan, saya memutuskan untuk berhenti menjadi wartawan. Lalu, selama beberapa bulan, saya jadi pengangguran sebelum akhirnya saya memutuskan menjadi ilustrator. Sebenarnya kurang tepat jika saya sebutkan saya sebagai pengangguran, alangkah lebih tepat jika saya katakan beristirahat.
Kasihan anaknya yang masih berusia lima tahun. Kalau saya punya anak kelak, tak akan saya kawinkan anak saya dengan anaknya, pikir saya pada saat menulis berita seleb tersebut. Bagaimana tidak, seleb tersebut, tak hanya tidur dengan gadis, tapi juga dengan istri orang sekalipun. Seleb tersebut sungguh tak memiliki kompas moral.
Kala itu saya juga ikut-ikutan menghujatnya, dalam hati tentunya. Bahkan, saya menelusuri siapa keluarganya dan kerabat-kerabatnya. Itu saking saya tak mau berhubungan dengan orang yang terhubung dengannya. Sebab, akan menjatuhkan harga diri saya, jika hal itu sampai terjadi. Mungkin itu sebabnya, yang membuat wajah seleb itu selalu berkelebat di otak saya.
Suatu hari, ketika saya berada di taman dan sedang melukis, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak saya dari belakang. Saya menoleh. Dan alangkah kagetnya saya ternyata itu adalah Bi Rini, sepupu Ibu. Lebih dari satu dekade ia mencari saya di desa di Garut, tetapi tak ada yang tahu keberadaan saya.
”Ada soal penting yang ingin Bibi sampaikan,” kata Bi Rini.
”Silakan,” sahut saya.
Dengan membaca ekspresi wajahnya, saya tahu Bi Rini menginginkan pembicaraan ini di tempat tertutup. Maka, saya pun mengajaknya ke apartemen. Lalu, mulailah ia menceritakan perihal siapa sebenarnya ayah biologis saya. Sebelum ia menyebutkan namanya, terlebih dahulu ia menyampaikan pesan Ibu yang pernah berkata: ”Aku tak ingin anak ini dihujat seluruh Indonesia, gara-gara kelakuan ayahnya yang tak bermoral.”
”Bukankah Ibu sendiri pernah mengatakan bahwa yang menanam benih dirahimnya tak hanya satu lelaki?” Saya membantah pernyataannya yang tak masuk akal sebab Bi Rini mengatakan bahwa ayah saya adalah seleb yang terkena kasus video porno.
”Itu semua demi melindungimu. Siapa yang bisa menjamin orang tidak berkomentar yang aneh-aneh? Siapa yang menjamin bisa membungkam mulut orang. Apalagi mulut seluruh Indonesia?” Bi Rini balik bertanya. ”Terlebih jika kakekmu tahu, tak sungkan-sungkan ia akan langsung mendatangi ayahmu untuk segera menikah dengan ibumu dengan dalih bertanggung jawab, tanpa berpikir apakah ayahmu public figure atau bukan. Kalau saja dulu aku tak mengajaknya ke konser ayahmu dan tidak memperkenalkannya, kurasa kejadiannya tak akan begini.”
Bi Rini berhenti selama beberapa detik, menarik napas panjang, baru kemudian melanjutkan, ”Aku sudah berjanji kepada ibumu tidak akan menceritakan hal ini, bahkan jika aku harus disiksa sampai babak belur. Tapi, karena ada penyakit buruk menjalar tubuhku, dan kata dokter kemungkinan hidupku tinggal dua bulan, maka aku berani menceritakan segalanya padamu. Sebab, setelah aku mati, tak ada orang lain yang tahu lagi tentangmu. Bahkan, ayahmu sendiri pun tak tahu bahwa ia peroleh anak dari ibumu. Begitu ibumu telat satu bulan, ia langsung menduga bahwa dirinya hamil. Dan itu memang benar, setelah ibumu memeriksakannya ke dokter. Lalu, ibumu berniat mendatangi ayahmu untuk minta pertanggungjawabannya, tadinya.
Tentu saja, ibumu memerlukan bantuanku. Sebab, walau bagaimanapun, aku dan ayahmu masih punya hubungan kerabat. Walaupun kerabat jauh. Tapi setelah ibumu mengetahui bahwa ayahmu tak hanya tidur dengan satu wanita, itu membuatnya urung meminta pertanggungjawabannya.
Dan ia lebih baik mengaku kepadamu, kepada kakek-nenekmu bahwa dirinya tak hanya digauli oleh satu lelaki. Itu semua demi menjagamu, menjaga dari hujatan anak haram. Perjuangan ibumu itu tak sia-sia. Kamu terlindungi dari kata ‘anak haram’.”
Kini saya tahu tindakan yang Ibu lakukan adalah tepat. Demi melindungi Ibu dari hujatan warga sekampung, Kakek yang dari Desa Kadongdong bela-belain pergi jauh ke Desa Mojosari untuk menutupi aibnya. Sementara Ibu, demi melindungi saya dari hujatan seluruh warga Indonesia, ia tak keberatan dinikahkan dengan tunawisma.
Usai mendengar pengakuan dari Bi Rini, dapat saya simpulkan bahwa saya dan Nabi Isa memiliki kesamaan. Sama-sama tanpa ayah. Bedanya, Nabi Isa lahir tanpa ayah, saya lahir tanpa tanggung jawab ayah.