Ferrel dan Sera, mereka sepasang kekasih yang masih SMA. Sungguh kebetulan yang manis, mereka berulang tahun di tanggal yang sama. Hari ini mereka genap 17 tahun, dan akan merayakannya bersama.
Disekolah.
"Wah selamat ya!"
"Ciee sweet seventeen bareng!"
"Traktirannya jangan lupa!"
Kata teman-teman sekelas mereka ketika sampai di kelas. Mereka sedikit malu. Padahal mereka sudah mengalami ini tahun lalu.
Ferrel menarik tangan Sera. Mengajak Sera ke tempat duduknya. Mereka duduk di bangku masing-masing yang bersebelahan.
Pulang sekolah.
Ferrel dan Sera pulang ke rumah masing-masing. Mempersiapkan hadiah yang nanti akan ditukar ke pasangannya.
Mereka berjalan berlawanan arah. Lalu mempercepat langkah mereka. Berlari sambil tersenyum-senyum sendiri. Tidak sabar untuk merayakan "sweet seventeen" bersama-sama.
Di rumah Sera.
Orang tuanya sibuk menghiasi ruang tamu. Berbagai balon, dan pita warna warni membuat suasana pesta sudah terasa.
"Sera, kamu udah pulang? Kok nggak bareng Ferrel?" Tanya Mamanya.
"Ih, biar surprise dong Ma. Nanti juga malah bocor hadiahnya kayak apa." Jawab Sera. Mamanya hanya tertawa kecil.
Keluarga Sera dan Ferrel memang dekat. Bahkan mereka sudah merencanakan untuk menikahkan anak mereka.
Beberapa waktu berlalu. Menunjukkan pukul 18.30. Jam yang sudah mereka janjikan.
"Kenapa Ferrel belum datang juga ya?" Tanya Sera khawatir.
"Tunggu aja dulu sebentar." Ujar Papanya.
Sekitar 15 menit berlalu.
'Tok..tok..tok!" Suara seseorang mengetuk pintu depan rumah Sera. Segera Mama Sera membukakan pintu.
Ternyata Ibu Ferrel. Wajahnya tampak sedih, matanya sembab seperti habis menangis.
"Lho, Bu Annie kenapa?" Tanya Mama Sera.
"Maaf, saya kesini untuk memberi tahu..." Kata-kata Ibu Ferrel berhenti sejenak. Ia menahan air matanya mengalir.
"Ferrel... Ferrel kecelakaan." Lanjutnya dengan sedikit terbata-bata. Air mata sudah tidak dapat dia tahan lagi, mengalir begitu saja.
Mata Sera terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Ibu Ferrel.
-->✦♡✦<--
Keluarga Sera membatalkan pesta ulang tahun. Mereka memutuskan untuk menjenguk Ferrel di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit.
Sera melihat kekasihnya itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Tante, Ferrel kenapa?!" Tanyanya masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.
"Ferrel, dia koma." Jawab Ibu Ferrel.
"Enggak! Ferrel, bangun! Aku disini!" Teriak Sera sambil mengguncangkan tubuh Ferrel. Berharap dia bangun.
Keesokan harinya.
Setelah pulang sekolah, Sera menjenguk Ferrel. Dia duduk di samping Ferrel, menunggunya bangun.
Hari kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Sera melakukannya setiap hari.
Hingga hampir satu bulan. Ferrel belum juga bangun dari koma. Sera sudah mulai bosan. Tapi dia tetap tidak putus asa.
Sekitar satu tahun berlalu.
Besok Sera akan mengikuti ujian kelulusan. Dia tidak menjenguk Ferrel hari ini. Dia ingin fokus belajar.
'Kreeet..' Mamanya membuka pintu kamar Sera. Lalu berjalan menghampiri Sera yang sibuk belajar. Ia memegang kedua bahu putrinya.
"Mama? Tumben liatin aku belajar." Kata Sera ketika menengok ke arah Mamanya.
"Sera, mama mau masa depan kamu cerah." Ucap Mamanya.
"Maksud nama?" Tanya Sera.
"Um, lebih baik kamu lupain Ferrel. Kamu 'kan masih bisa cari cowok lain." Ujar Mamanya.
Sera tertegun. Rasa sedih kembali memenuhi hatinya. Sedangkan Ferrel selalu saja terngiang dikepalanya.
"Tapi Ma..." Ucapan Sera dipotong begitu saja oleh Mamanya.
"Mama cuman nggak mau kamu nyesel suatu hari nanti." Katanya, kemudian pergi ke luar.
Beberapa hari kemudian.
Sera telah dinyatakan lulus SMA. Dia berniat untuk melanjutkan pendidikan di universitas.
"Mama, Papa... Sera berangkat ya?" Ucap Sera seraya mencium tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati ya sayang." Ujar Mamanya. Sera menoleh, tersenyum sambil berkata
"Iya."
Sera masuk kedalam taksi. Sopir melajukan taksinya. Sera berangkat untuk kuliah di luar kota.
Tapi ia gundah, selama di perjalanan. Merasa tidak seperti ingin benar-benar kuliah. Ia merasa seperti kabur dari seseorang.
-->✦♡✦<--
Sinar matahari masuk ke sebuah ruangan bercat putih. Seorang suster membuka jendela ruangan. Di belakangnya ada seorang laki-laki yang terbaring di atas ranjang.
Laki-laki itu perlahan membuka matanya. Suster itu berbalik. Matanya terbelalak tidak percaya.
"Oh, ya tuhan?! Dokter!!! Dia sudah sadar!!!" Teriak suster itu sambil berlari keluar.
Beberapa menit kemudian.
"Jadi aku koma selama 8 tahun?!" Kata Ferrel yang sekarang adalah pria dewasa. Bahkan dia juga sempat terkejut dengan suaranya yang berat.
"Iya, benar-benar sebuah keajaiban." Ujar dokter disampingnya.
"Lalu, ibu dimana Sera?" Tanya Ferrel. Ibunya tertegun sejenak.
"Apa aku jujur saja ya?" Pikir Ibunya.
"I-ibu juga nggak tau. Pusat rehabilitasi ini ada di luar kota. Kita pindah 5 tahun yang lalu." Jelas Ibunya.
Ferrel kecewa, ia mengepalkan kedua tangannya.
-->✦♡✦<--
Sebulan kemudian.
Ferrel keluar dari pusat rehabilitasi. Sebenarnya dia belum tahu banyak tentang dunia. Waktunya 8 tahun untuk mempelajari kehidupan telah hilang.
"Ferrel? Apa yang kamu pikirin?" Tanya Ibunya.
"Um..." Ferrel tidak bisa menjawab "tidak ada".
"Dulu Sera sering jenguk kamu. Dia selalu nungguin kamu sadar. Tapi, sejak akan kelulusan hingga sekarang ini Ibu nggak tau dia kemana." Jelas Ibunya, seolah tahu apa yang Ferrel pikirkan. Ferrel hanya diam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan lakukan sekarang.
Disisi lain.
Sera berangkat ke tempat kerjanya. Seorang anak magang di perusahaan yang tidak terlalu besar. Dia menunggu taksi di tepi jalan, sambil menengok kiri kanan.
Tiba-tiba sebuah mobil putih lewat. Matanya terbelalak, begitu terkejut.
"Apa? Nggak mungkin, nggak mungkin dia ada disini." Pikirnya. Panik, setelah menatap orang yang ada di dalam mobil putih itu.
Sera melihat taksi. Segera ia melambaikan tangan. Taksi itu berhenti, dengan buru-buru Sera masuk. Sopir bertanya kemana tujuannya.
"Ke gedung Y." Jawabnya.
Sore harinya.
Sera pulang dari tempat kerja. Ia mebuka ponselnya. Melihat jam berapa sekarang. Tapi pandangan malah tertuju pada kalender.
Dia ingat sekarang adalah hari ulang tahunnya. Tidak heran beberapa teman kantornya mengucapkan selamat.
Tapi, kejadian delapan tahun yang lalu seolah selalu menghantuinya.
"Sera!" Panggil seseorang dari belakangnya. Kevin, teman kantornya yang juga masih magang.
"Sera, selamat ulang tahun ya." Katanya sambil menyodorkan sebuah kotak kecil.
"Um, Sera apakah kamu udah punya pacar?" Tanya Kevin dengan gugup. Sera tertegun.
"Maaf..." Jawab Sera. Matanya berkaca-kaca. Dengan cepat dia berjalan pergi, ingin menyendiri.
Sedangkan Kevin hanya menatap Sera pergi. Ia menggenggam kembali hadiah kecilnya.
"Mungkin aku kurang beruntung." Gumamnya.
Sera sampai di taman.
Angin malam menerpa wajahnya. Seolah menamparnya agar bangun dari lamunan. Dengan kesal dia duduk sendirian di bangku taman.
Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis, meluapkan kesedihannya di hari ulangtahunnya ini.
"Kenapa? Kenapa kau selalu ada dipikiran ku?!" Tanyanya dengan kesal.
"Happy birthday..." Kata seseorang didepannya.
Sera menatap laki-laki dihadapannya. Terkejut. Matanya terbelalak tidak percaya.
"Kamu sudah lama menunggu ya?" Tanya laki-laki yang membawa kue ulang tahun kecil yang adalah Ferrel.
"Ferrel?! Bagaimana bisa?" Tanya Sera balik.
"Aku sembuh. Ayo, kita rayakan sweet seventeen kita yang tertunda." Ujar Ferrel. Sera tersenyum, mengangguk iya.
Sepasang kekasih itu saling berhadapan. Memegang kue ulang tahun mereka bersama-sama. Sejenak mereka memejamkan mata, membuat permintaan. Kemudian.
Dalam hitungan, 1..2..3. Mereka meniup lilin bersamaan.
-->✦THE END✦<--