Farah Adelina tidak pernah menyangka kalau dia bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa, seperti dirinya yang bisa melihat hantu-hantu yang berada di sekelilingnya hingga membuat dia mengalami ketakutan setiap waktu sampai harus mencari cara supaya dirinya tidak bisa lagi melihat hantu-hantu tersebut.
Farah Adelina meringkuk di sudut kamarnya, napasnya pendek dan cepat. Matanya yang lebar mengamati kegelapan, mencari tanda-tanda yang tidak diketahui. Inilah kenyataannya sekarang—hidup dalam ketakutan terus-menerus, dihantui oleh hantu-hantu yang seharusnya tidak pernah melintasi dunianya.
Semuanya dimulai dengan cukup polos. Farah adalah seorang gadis biasa, menjalani kehidupan biasa, sampai malam yang menentukan itu ketika sebuah buku misterius muncul di depan pintu rumahnya. Halaman-halaman kuno memanggilnya, menariknya ke dunia yang hanya pernah dia baca di dongeng.
Rasa penasaran mengalahkan kehati-hatiannya, dan dia membuka buku itu. Tapi Farah tidak tahu, dia baru saja membuka pintu gerbang ke alam roh. Sejak saat itu, segala jenis hantu mulai berkeliaran dalam hidupnya, membisikkan rahasia mereka dan mengungkap rasa amannya.
Karena ketakutan dan tersesat, Farah curhat pada sahabatnya, Amelia. Dia memohon padanya untuk percaya, untuk memahami siksaan yang telah menghabiskan keberadaannya. Dengan tatapan skeptis, Amelia menawarkan kenyamanan, berjanji membantunya menghadapi apa pun yang ada di balik tabir kenyataan.
Bersama-sama, mereka mempelajari ilmu gaib, mencari jawaban dan cara untuk mengembalikan kedamaian dalam kehidupan Farah. Teks kuno, mantera, dan ritual menjadi teman sehari-hari mereka saat mereka menavigasi koridor pengetahuan yang gelap dan berbahaya.
Namun dengan setiap upaya baru untuk mengusir roh-roh tersebut, Farah sepertinya malah semakin mendekatkan mereka. Mereka menempel padanya seperti bayangan, kehadiran mereka semakin jahat di setiap pertemuan. Emosi Farah bergejolak, semangatnya yang tadinya penuh harapan perlahan terkikis.
Beban yang ditanggungnya menjadi tak tertahankan, dan Farah menemukan sosok misterius yang dikenal sebagai Oracle of Shadows. Putus asa, dia mencari pertemuan dengan makhluk legendaris ini, berharap mendapatkan secercah bimbingan, cara untuk memutuskan ikatan yang mengikatnya ke alam roh.
Sang Oracle menatap jauh ke dalam jiwa Farah, matanya yang tajam mencuri napas dari paru-parunya. Dengan suara yang sepertinya bergema selama berabad-abad, Oracle mengungkapkan kebenaran yang ditakuti Farah—kebenaran yang terlalu besar untuk ditanggung oleh hatinya yang rapuh.
“Farah Adelina,” sang Oracle berbicara, kata-katanya diwarnai dengan kesedihan, "Kamu berbakat, bahkan terkutuk, dengan kemampuan untuk memahami apa yang ada di luar pandangan manusia. Roh-roh ini, mereka tertarik pada cahayamu, energimu. Untuk melepaskan diri dari mereka, kamu harus belajar memanfaatkan bakatmu."
Air mata mengalir di wajah Farah ketika beban kata-kata Oracle menimpanya. Bagaimana dia bisa menemukan penghiburan dalam kekuatan yang hanya memberinya siksaan? Namun jauh di lubuk hati, secercah tekad muncul, menolak membiarkan rasa takut memadamkannya sepenuhnya.
Dengan tekad baru, Farah memulai perjalanan penemuan jati diri. Dia bertemu dengan peramal kuno dan dukun bijak, mencari pengetahuan dan pelatihan mereka. Melalui bimbingan mereka, dia belajar mengendalikan indranya, melindungi dirinya dari penampakan hantu yang mengganggu keberadaannya.
Waktu berlalu, musim berganti, dan Farah bertransformasi dari gadis ketakutan menjadi kekuatan yang tangguh. Dia tidak lagi gemetar ketakutan tetapi berdiri tegak, tatapannya mantap, pantang menyerah terhadap kekuatan supernatural yang mengelilinginya.
Dan pada suatu malam yang menentukan, ketika para roh mengelilinginya, wujud halus mereka menggeliat dalam tarian yang mengancam, Farah mendapati dirinya berhadapan langsung dengan mereka. Dengan setiap jentikan pergelangan tangannya, setiap mantra yang keluar dari lidahnya, dia membuangnya kembali ke kedalaman tempat mereka muncul.
Seruan ratapan melankolis memenuhi udara, menyatu dengan gema kemenangannya. Farah Adelina telah menaklukkan ketakutannya, menerima kekuatan yang mengancam akan menghabisinya. Dia telah menjadi penjaga takdirnya sendiri, nyonya cahaya di dunia bayangan abadi.
Sejak hari itu, Farah Adelina menjelajahi bumi sebagai mercusuar harapan bagi mereka yang tersiksa oleh hal gaib. Dia mengabdikan hidupnya untuk membawa penghiburan bagi orang-orang yang berhantu dan mengusir kegelapan dari kehidupan orang-orang yang tidak bersalah. Bukan lagi gadis penakut, dia telah menjadi legenda—perwujudan kekuatan dan ketangguhan.
Meskipun jalannya penuh dengan bahaya dan pengorbanan, Farah Adelina tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa dia ditakdirkan untuk memenuhi tujuannya.
Karena dia telah belajar bahwa keberanian sejati bukanlah tidak adanya rasa takut, melainkan kemampuan untuk mengatasi rasa takut, merangkul hal-hal yang tidak diketahui dan menaklukkan bayang-bayang yang berani menghalangi jalannya.