Aku menyebut namamu sekali, tapi kau mengingatku untuk selamanya.
Ada yang bilang jika werewolf tidak melupakan cinta pertamanya, dan selamanya akan abadi.
Kau tau? Aku menyukai itu.
..
“bangun...”
“bangun..”
Mengganggu sekali. Siapa?
Aku membuka mata ku berat. Samar-samar ku liat pemandangan serba biru. Aku tertegun. Sungai?
Aku terlonjak kaget. Kududuk kan diriku, meski kepalaku masih rada berat. Ku pastikan sekali lagi pandanganku didepan. Benar sekali..
Sungai!!
Dan aku berada di atas rel kereta api yang dibangun di atas sungai. Ya ampun.. aku berlari sampai sini?
Buk!!
Aku menoleh, menatap seekor burung hitam besar yang tadi mengejarku. Kali ini burung itu tidak mengejarku melainkan sedang menghajar seorang pria!
“hei! Kemari! Kau menginginkanku bukan?!” teriakku. Si burung menatapku lalu kuambil sebuah besi bekarat lalu kulemparkan padanya.
Burung itu meliuk-liuk dan akhirnya jatuh.
Aku mendekati si pria. Berkata cemas, “kau tidak apa-apa?”
Si pria terbatuk, cairan merah segar langsung mengalir dari mulutnya. “pergilah.”
“tidak! Kau yang menyelamatkanku ‘kan?”
“Pergilah,”
“tidak mau! Kau,”
BUK!!!
“KWAKK!”
Mataku terbuka, aku kaget sekali. Burung itu mendadak melesat, namun mengapa aku tidak terluka? Tentu saja pria ini melindungiku.
Aku menyentuh bahunya namun si Pria langsung melenguh kesakitan.
“oh tidak, bahumu berdarah. Ini karena aku.”
“tidak masalah. Tetaplah disini, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat.”
Aku menurut. Si Pria mendekati burung raksasa itu. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan pisau lipatnya. Dan dengan sekali serangan dan lompatan si Pria langsung menusuk tepat ke jantung si Burung.
Si Burung langsung limbung keatas rel. Sayapnya masih bergerak, sebelum menerkam si Pria, burung itu langsung ditabrak kereta api yang lewat.
Aku terkejut, pria itu...
Dimana?
Oh tidak!!
“bangunlah.”
Aku mendongak. Jantungku hampir meledak sangking takutnya tadi.
“ayo, akan ku antarkan kau pulang.”
Sebelum bibir ku kembali berucap, si Pria mengendongku secara bridal style. Dia berjalan ke tepi rel kereta api.
“jangan bilang..”
“tutup matamu. Ini akan aman, aku janji.”
“apa, jan..” aku memeluk leher si Pria kuat saat kami melompat jatuh ke dalam hutan.
“huaaaahhhhh...” teriakku kuat. Angin menerpa rambutku, aku tidak tau apa tapi sepertinya aku dan Pria ini melesat dengan cepat.
....
“pulanglah.” Aku menatap si Pria penyelamatku. Dia berbalik masuk kembali ke dalam hutan.
“tunggu! Kalau boleh tau namamu siapa?”
Dia berhenti. Terdiam sesaat.
“Harry,”
“aku Ivy, untuk yang tadi terima kasih Harry.”
“jangan pernah datang lagi ke hutan.” Katanya dingin. Dia masuk kedalam hutan.
Aku menghela napas panjang. Segera aku berbalik dan pulang kerumah.
Besoknya, dengan berbekal ransel yang berisi barang-barang penjelajahku, aku kembali ke hutan.
Diam-diam aku melihat kesekeliling. Mencari sesuatu.
“kau tidak mendengarku ternyata.”
Aku mendengar suara. Aku menoleh, menatap Harry yang sedang duduk di tepi sungai.
“sudah kubilang jangan kembali dalam hutan.”
“kau sendiri? Mengapa ada disini?”
“aku tinggal di sini.”
“sungguh?” kataku tak percaya. Ku dekati Harry yang sedang sibuk mengasah pisau lipatnya.
“pulanglah. Disini bahaya.”
“aku tidak bisa pulang. Emh, kau mau tau kenapa?”
“tidak.”
Aku berdecak, “baiklah jika kau memaksa. Aku sedang mencari ayahku. Nenek ku bilang ayahku meninggal di dalam hutan ini. Tapi aku tidak pernah sekalipun melihat jasadnya. Karena itu aku ingin mencari tau kebenarannya.”
“tidak ada orang yang meninggal disini.”
“kau tidak akan tau. Itu sudah lama sekali, saat aku masih berumur 6 tahun.”
“jadi kau mau mencari ayahmu?”
Aku menggeleng. “tidak. Aku mencari ‘Iblis Biru’.”
Tangan Harry berhenti mengasah, “mengapa?”
Kubuka ranselku lalu kukeluarkan buku besar milih ayahku. “aku menemukan ini di ruang kerja ayahku. Didalamnya banyak membahas makluk-makluk immortal. Dan disini ayahku banyak menceritakan tentang Iblis Biru. Aku nyakin, Iblis Birulah yang telah membunuh ayahku.”
“aku ingin melihatnya secara langsung agar aku percaya. Setelah itu aku baru puas menerima kematian ayahku.”
lanjutku.
“kau percaya hal-hal begitu?”
“emh, tidak. Tapi.. sekarang iya.”
Harry bangkit berdiri. Dia menatapku datar lalu berjalan acuh. “pulanglah, kau tidak akan menemukannya. Jangan percaya hal-hal begitu.”
“hei!” aku berteriak. “kenapa aku tidak perlu percaya? Kau sendiri..”
“.. kau sendiri bagian dari ‘mereka’ ‘kan!”
Langkah Harry berhenti. “aku tidak mengerti.”
Telunjukku mengacuh ke Harry. Berteriak, “kau.. werewolf ‘kan!”
Harry tertegun. Dia membuang wajahnya. “konyol sekali.”
“kau marah karena itu benar ‘kan.. ayahku pernah bilang di dalam hutan ini banyak werewolf yang berkeliaran. Tidak ada yang boleh datang ke hutan ini, namun kau bilang kau tinggal disini? Kau juga bisa melompat dari ketinggian sambil membawaku. Huh.. ayo mengaku saja!”
Harry terdiam. Menatapku lama. “terserah. Lakukan yang kau suka.” Katanya sambil berlalu pergi.
Hari kedua, ketiga, dan keempat aku tetap datang ke Hutan. Tetap kulihat si dingin Harry yang sedang sibuk dengan kesendiriannya.
Mengasah pisau sambil sesekali menatapku dalam.
Aku tidak tau, tapi sejauh apapun aku kedalam hutan selalu berakhir dengan selamat. Tanpa tersesat. Seakan ada yang menolongku tanpa kusadari.
“sudah seminggu. Kau menemukannya?”
“apa kau bisa memberiku sedikit ciri-cirinya?”
Harry terdiam. Berpikir sesaat, “dia tampan.”
“kakekku juga tampan, apa dia Iblis Biru? Bukan ‘kan. Oh ayolah lebih spesifik.”
“emh, bagaimana kalau ku bisikkan sebuah kejutan saja.”
Harry mendekat. Aku menelan salivaku susah saat wajah Harry mendekat. Berbisik tepat ditelingaku, “selamat! Seminggu penuh kau hanya berkeliling ke suatu tempat yang sama. Bahkan setengah hutan ini tidak bisa kau jamah.”
“a, apa?! Kenapa kau tidak bilang sejak awal?!”
Harry terkekeh. Senang melihat wajah marahku, “ayo, biar ku bawa kau ke dalam hutan.”
Dia mau?! Semudah itu?!
“kau melihatku kayak orang gila yang hanya berputar-putar! Kenapa kau tidak menawariku sejak awal?!”
“kau tidak memintanya.”
Sialan!!!
....
Sejak hari itu Harry selalu membawaku berkeliling hutan. Ternyata Harry benar, selama ini aku hanya berputar-putar. Hanya berjalan disatu titik.
Tapi sejak Harry bersamaku, aku selalu melihat-lihat hal baru. Tapi meski begitu dia selalu mengalihkan pembicaraan saat aku bertanya tentang dirinya.
Dia juga tidak membantah atau mengakui jika kutuduh dirinya seorang werewolf.
Tapi tak apa. Harry dekat denganku, itu sudah cukup. Dekat dengannya selalu membuat jantungku berdebar kencang. Yah,
Sepertinya..
“jangan menyukaiku.” Kata Harry datar. Tangan Harry masih asik mengasah pisaunya.
“a, apa maksudmu?!”
“sedaritadi kau menatapku. Aku tau kalau aku memang tampan.”
“hanya menatap bukan berarti suka ‘kan.” Kataku gugup. Aku memeluk kedua kakiku, menatap air sungai di depan.
“Harry..”
“hm..”
“aku membaca di buku ayah, makluk-makluk immortal itu berkelompok, ada kaum penyihir, mermaid, peri, elf, dan sebagainya. Mereka hidup dengan klan mereka masing-masing. Dan kau, mengapa tidak bersama klan mu? Menyendiri disini?”
“kau masih menuduhku sebagai bagian dari mereka heh?”
Aku merunduk. “entahlah.”
“emh, kau percaya dengan rekarnasi?” tanyaku kembali.
“tidak tau.”
“itu sesuatu yang hebat, menurutku. Jika malam ini atau besok aku tiada, aku ingin berekarnasi kembali dan kembali kesisimu. Katanya werewolf itu berumur panjang ‘kan.”
“kau tidak akan tiada.” Kata Harry tegas. “Ivy, buka tanganmu.”
Aku tertegun. “Harry, ini pertama kalinya kau memanggil namaku!”
“sungguh? Maka mulai sekarang kau akan mendengarnya. Ambil ini.”
Aku membuka telapakku. Seuntai gelang dengan mutiara biru berada di tengahnya.
“gelang?”
“jimat lebih tepatnya. Ini selalu melindungiku, gelang ini diberikan dari penerusku terdahulu.”
Aku tercekat. “berarti ini berharga dong!”
Harry tersenyum, “katanya jika memberikan sesuatu yang berharga milik kita pada seseorang, maka mereka akan selalu di persatukan kembali. Ivy,”
“...aku ingin kau tetap hidup.” Kata Harry tegas. Aku tertegun.
“besok tetaplah di dalam rumahmu. Jangan bertemu denganku. Jangan ke inti hutan.”
“kenapa?”
Harry menatap ke langit malam, lalu bergulir menatapku. “takdir memanggil. Terima kasih Ivy. Kau tau? Semoga rekarnasi yang kau bilang itu benar.” Kata Harry. Dia mencium keningku lalu berlari pergi.
“apa.. Harry! Tunggu! Harry!!” teriakku memanggil namanya. Tapi dia sudah tenggelam ke dalam gelapnya hutan.
Apa ini...
Perpisahan?
....
Iblis Biru...
“kau Iblis Biru ‘kan!” tuduhku pada orang berpakaian serba hitam yang berdiri tak jauh dari depan rumahku.
“aku selalu melihatmu sekilas! Kau mengikutiku dan Harry ‘kan! Mengakulah! Atau..” aku mengambil stik bisbol. Mengacungkannya orang tersebut.
“ini aku, Raha. Teman sekelasmu.”
“Raha? Kenapa kau disini?”
Raha menghilang, bibirku tercekat. Bagaimana bisa..?
“untuk mengatakan sesuatu yang penting.”
Aku terlonjak kaget, mendadak Raha sudah ada dibelakangku. “kau.. kau bukan manusia!” tuduhku.
“seharusnya kau sudah tau saat kau melihat burung besar hitam itu.”
“apa?! Jadi itu..”
“iya. Aku yang mengirimkannya padamu. Ivy, hutan ini tidak aman untukmu. Aku ingin melindungimu karena itu aku mengusirmu dari hutan dengan burung besar milikku. Tetapi makluk itu datang dan membunuhnya.”
“ma, maksudmu Harry? Sayang sekali, dia sudah membunuh peliharaanmu itu!”
“tak apa.” Raha menyeringai, “aku bisa menciptakannya lagi untukmu, jika kau mau.” Katanya sambil mengeluarkan asap hitam dari tangannya.
“kau sebenarnya apa?! Jangan bilang kau witches!"
“benar sekali. Dan Harry.. adalah werewolf.”
“apa..” aku mendesah pelan. Kini kepalaku terasa penuh. Ada apa ini sebenarnya?
“kau mencari Iblis Biru ‘kan?”
“bagaimana bisa kau tau?”
“aku selalu mengawasi kalian. Ingat?”
Aku terdiam. “apa hubunganmu dengan Harry!”
“tenang Ivy, aku temanmu. Dan sebaliknya, Harrylah musuhmu.”
“aku tidak percaya!”
“yah, kau boleh saja tidak percaya. Tapi Ivy, selama ini Harry telah membohonginmu. Orang yang kau cari selama ini sebenarnya selalu ada bersamamu.”
“apa..?”
“Iblis Biru hanyalah sebuah julukan. Ah, izinkan aku bercerita.” Kata Raha sambil menunjukkan sihirnya dengan tangan. Ruangan disekitar mendadak gelap.
Lalu asap putih datang dan membentuk 10 sosok manusia. Ralat, manusia serigala.
“Harry yang kau kenal adalah keturunan asli dari klan werewolf. Dari kebanyakan klan werewolf, pasukan merekalah yang terkuat. Namun suatu hari Pemimpin Werewolf terdahulu telah berbuat kesalahan pada Dewa. Karena itu Dewa mengutuknya dan kesembilan keturunan yang terpilih agar tidak bisa hidup bahagia.”
Mataku terpaku. Menatap satu persatu 10 werewolf tersebut. Ada Harry dibarisan terakhir.
“setiap bulan Biru mereka akan menjadi setengah serigala. Lebih agresif dan tak segan-segan membunuh. Karena itu mereka harus hidup menyendiri.”
“bulan biru..? Aku ingat, besok malam adalah bulan biru. Aku ingin mengajak Harry melihatnya bersama, tapi ternyata..”
“benar Ivy. Karena kutukan ini, kesembilan keturunan werewolf tidak pernah panjang umur. Mereka membunuh diri mereka sendiri saat Bulan Biru. Melepaskan kutukan dan derita. Sialnya, kaum sejenisnya ikut mendukungnya.”
“dan Harry..? Bagaimana dengan Harry?!”
“dia adalah keturunan terakhir. Hidupnya pasti menderita sejak lahir. Karena kaumnya sendiri menyuruhnya untuk mati. Takut kutukan itu akan menular.”
Mataku memanas. Ku genggam erat jubah Raha. Menahan tangis, “apa Harry.. apa Harry juga akan ma.. mati?”
“apa ia mengatakan sesuatu padamu?”
“dia bilang agar aku jangan bertemu lagi dengannya besok! Aku nyakin dia ingin melindungiku dari kutukannya. Tapi..”
“apa dia memiliki sebuah senjata?”
“senjata? Pi.. pisau..? Harry selalu mengasah pisaunya..”
“sudah kuduga. Dia ingin bunuh diri juga ternyata. Dia hanya butuh seseorang yang menerima dia apa adanya untuk melepaskan kutukannya. Werewolf bodoh.”
Aku terduduk lemas. Ini tidak mungkin.. tidak mungkin.
“Ivy...”
Aku menggenggam tangan Raha kuat, bertekad. “Raha! Bawa aku ke tempat Harry besok! Aku mohon!”
....
Harry POV
Suatu hari, aku melihat seorang anak kecil bersama ayahnya sedang membebat lukaku.
Mereka sangat baik. Terutama gadis kecil itu, dia menyebutkan namanya dan mendekatiku tanpa rasa takut sedikit pun.
Tidak seperti orang lain, dia baik.
Manusia yang baik.
Tapi malam itu adalah malam bulan biru. Kaumku pasti lebih gencar mencariku untuk menyerahkan nyawaku pada bulan biru. Habislah aku.
Tapi ayah si gadis menyelamatkanku. Dan bulan pun berubah biru total. Aku berubah. Kehilangan kontrol, aku membunuhnya.
Dia atas tebing, kulihat anak gadis itu menangis di pemakaman ayahnya. Ini salahku.
Sejak itu aku mengembara tanpa arah. Dan aku mulai di panggil dengan sebutan Iblis Biru karena sudah membunuh banyak nyawa saat di malam bulan biru.
Lalu suatu hari aku bertemu dengannya lagi. Aku membunuh ayahnya, apa aku masih pantas untuk bersamanya?
Lalu kuputuskan hari ini, daripada lebih menyakiti nya aku memilih menghabisi nyawaku sendiri.
Dengan pisau kecilku,
Yah..
“maafkan aku Ivy. Aku menyayangimu.”
“HARRY!!”
Deg.
Aku menggeram. Wujudku memang sudah berubah menjadi serigala total, namun didalam jiwaku masih bisa mendengar suara Ivy. Dimana..?
Bruk!!
Mataku membulat, Ivy datang menyerbuku. Memberiku pelukan hangat.
“jangan pergi! Harry bodoh! Kau ingin mati dan berharap berekarnasi kembali? Bagaimana jika kau malah berekarnasi menjadi ulat? Bodoh sekali!”
Aku menggeram. Tangan berbuluku bergerak perlahan ingin mencakar punggung Ivy. Tapi sekuat tenaga kutahan.
“pergilah...” kataku setenggah menggeram.
“tidak! Aku akan cari cara untuk melepaskan kutukanmu! Kau tau? Aku tidak dendam saat tau kau membunuh ayahku! Karena di halaman terakhir, ayah menulis kalau dia bahagia bertemu dengan seorang werewolf baik! Dia senang bisa memberikan nyawanya untuk menolongmu! Dia tidak menyesal!”
“Ivy..”
“jadi, mari kita laluin ini bersama Harry!”
SRAKK!!
Darah segar mengucur dari balik punggung Ivy. Bersamaan dengan tetesan darah yang jatuh, Ivy ikut roboh. Tubuh Ivy melemah lalu jatuh menyentuh tanah.
Mataku membulat. Ku tatap seekor werewolf didepanku yang telah berani melukai Ivy.
“bulan biru akan segera berakhir! Ini sudah waktumu! Bunuh jantungmu dan pergilah seperti keturunanmu terdahulu!”
“benar! Jangan menganggu kami lagi! Kutukanmu harus berhenti disini!”
“melibatkan manusia?! Tsk! Kau sudah tidak punya harapan bodoh! Matilah bersama manusia itu!”
“GGGGGRRR.. GROARRR!!” mataku memerah, dengan sekali tolakan aku menerjang mereka semua. Tanpa memandang bulu, mau itu kaumku atau bukan, aku mencabik dan membunuh mereka.
Tanpa sisa.
Ivy terbatuk. Matanya mulai berkunang-kunang. Di genggamnya erat kalung pemberian ku.
“Gggrrr...”
Aku mengambil jarak dari Ivy. Takut aku melukainya. Tapi Ivy masih menatapku hangat, meski rupaku begini..
Dengan tertatih, Ivy mendekat, lalu memeluk pinggangku erat. Bercak darah di tubuhku ikut membasahi Ivy. Gadis bodoh, batinku sedih.
“mari berpacaran! Aku.. hah.. aku menatapmu lama, itu berarti aku menyukaimu ‘kan?”
Aku terdiam. Wajah seduh Ivy mulai membuatku gila. Bagaimana jika Ivy..
“ayo pergi. Lukamu harus diobati.”
Ivy menahanku. Tetes-tetes darahnya semakin membuat wajahku pucat pasi. “seorang cewek itu punya harga diri yang tinggi. Aku menembakmu, bukannya.. bukannya itu sangat luar biasa.. eghhh...’kan..?”
Aku tak tahan dengan semua ini! Aku memeluk Ivy erat. Air mataku mengalir. “aku tidak mau berpacaran! Menikahlah denganku!”
Karena saat aku mendengar namamu untuk pertama kali.. maka sejak itulah aku akan mengingatmu untuk selamanya.
“aku mau, aku cinta kamu Harry...”
Dan di samping makam ayah Ivy, seorang Iblis Biru yang sudah lepas dari kutukannya selalu rutin mengunjungi makam gadis yang di cintainya.
Yah...
Kulihat Raha termenung dari kejauhan. Witches itu ikut sedih dengan kematian Ivy.
....
“katanya jika memberikan sesuatu yang berharga milik kita pada seseorang, maka mereka akan selalu di persatukan kembali.”
Aku menatap seorang gadis berseragam sekolah sedang berlarian kesana kemari. Ada Raha yang sedang mengejarnya.
Yah, witches setengah manusia itu ikut berekarnasi juga. Tentu saja, makluk setengah manusia tidak akan sepanjang umur makluk immortal asli.
Aku menangkap bolanya.
“berikan!”
“kau kasar sekali Ivy.”
Alis Ivy bertaut. “aku bukan Ivy! Namaku Hana. Dasar! Sini kembalikan bolaku!”
Aku menghela napas. Sudah 100 tahun lebih menunggu dan ini yang kudapatkan? “yah, ini lebih baik daripada berekarnasi menjadi ulat ‘kan, Gadis kasar..”
Ivy, maksudku Hana hanya menatapku heran.
Tanpa kusadari, senyum ku mulai melengkung kecil.
“menarik.”
Kini sudah kupastikan, hidupku mulai berwarna lagi. Tantangan baru, taklukan, dan rebut hatinya..!
“Hana, kau percaya adanya Iblis Biru?”
“kau ngomong apa sih.”
“bagaimana kalau werewolf?”
“peduli amat untukku! Yang pasti mereka semua bodoh.”
Aku tergelak. “tidak, mereka tampan. Tatap wajahku lama, maka kau akan menyukaiku.”
“apa?!?”
-tamat-
ttd,
Zaitun.