Ketika jodoh bukanlah takdir
(Akhir Kisah)
Semenjak kepergian Devian,raya telah benar-benar melupakan nya,dia tak ingin mendengar namanya,dan jika ada yang membicarakan tentang Devian ,raya selalu menghindar dan tak ingin mendengar nya..
Dua tahun setelah Devian pergi ke luar negeri, Araya telah menikah dengan Adrian Nugraha,kakak dari Devian,bahkan di acara pernikahan kakaknya,Devian juga tidak hadir dan tidak pernah menghubungi siapapun.
Singkat cerita 5 tahun pun berlalu,kini Araya dan Adrian telah di karuniai seorang putra yang tampan bernama Arvind Rayno Nugraha , Arvind kini berusia sekitar 4 tahun.
Saat ini raya sedang mengajak putranya ke sebuah taman bermain,saat itu putra nya tiba-tiba saja berlari dan menabrak seseorang.
"Maaf om Arvind gak sengaja" kata Arvind sambil melihat seorang pria yang di tabraknya
Pria itupun langsung berjongkok agar tinggi nya sejajar dengan Arvind.
"Kamu tidak apa kan?" Tanya pria itu
Arvind pun langsung menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa om" katanya.
Saat Arvind sedang mengobrol dengan pria itu raya pun datang dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan karena mengejar putranya itu.
"Arvind mama bilang jangan lari-lari kenapa lari kenceng banget" kata raya memarahi putranya
Saat melihat seorang pria yang sedang mengobrol dengan Arvin tiba-tiba saja rasanya jantung raya seperti berhenti berdetak.
Deg.
"De-Devian?"
Nama itupun akhirnya di terucap lagi dari mulut raya.
Hari ini hari dimana raya bertemu dengan seseorang, yang dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang itu lagi setelah 7 tahun berlalu, ya orang itu adalah Devian Nugraha.
Devian pun juga sedikit terkejut saat bertemu dengan raya ,gadis yang memang sengaja di hindari nya selama 7 tahun lamanya.
"Raya"kata Devian
Setelah mengucapkan itu Devian pun berdiri dan hendak pergi namun raya mencegahnya.
"Tunggu ,aku ingin bicara !" Kata raya dengan tegas
Devian pun berhenti sejenak tanpa menoleh ke arah raya.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan, berbahagialah Ray dan lanjutkan hidupmu,anggap pertemuan kita hari ini tidak pernah terjadi" kata Devian sambil melanjutkan langkahnya
Raya yang mendengar itupun hatinya begitu sakit, kenapa Devian tak menjelaskan padanya tujuannya pergi 7 tahun lalu,dan kenapa devian tak ingin menjelaskan apapun padanya.
"Ma, Mama kenapa kok nangis?" Tanya Arvind yang melihat Mama nya meneteskan air matanya
Raya pun segera menghapus airmata nya saat tau Arvind sedang melihat nya
"Mama gapapa kok,ayo kita pulang nak" kata raya lalu menggendong Arvind di pelukannya
"Oh iya Ma,tadi Om itu siapa?" Tanya Arvind pada raya
"Dia paman mu" kata raya tersenyum pada putranya
"Benarkah ma,tapi kenapa om buru-buru pergi?" Tanya Arvind lagi
"Mungkin om sibuk nak,sudah jangan tanyakan tentang om lagi ya." Kata raya
"Kenapa ma?"
"Gapapa sayang,nurut ya kata Mama" kata raya sambil mencium pipi gembul anaknya itu
"Iya ma, Arvind akan nurut"
Sore harinya raya pun menunggu Adrian untuk pulang,lalu ia pun menceritakan pertemuan nya dengan Devian pagi ini di taman.
"Jadi kmu sudah bertemu sama Dev sayang?" Tanya Adrian pada raya
"Tunggu kenapa pertanyaan kamu gitu,apa dev sudah bertemu dengan kamu sebelum aku?" Tanya raya menyelidik
Adrian pun tiba-tiba menarik nafasnya panjang dan mendesah berat.
"Hmmmm sayang ada hal yang ingin aku ceritakan sama kamu" kata Adrian perlahan
"Cerita apa sayang?" Tanya raya balik
"Ini sudah saatnya kamu tau bahwa Devian sebenarnya dia.. sakit " kata Adrian
"Sakit maksudnya?" Tanya raya lagi
"Iya beberapa hari yang lalu aku ketemu dia dan dia cerita ke aku bahwa dia sakit dan 7 tahun yang lalu dia sebenarnya berobat ke luar negeri" kata Adrian menjelaskan
"Aku juga baru tau dia sakit karena selama ini dia tidak pernah menjelaskan apapun ke aku tentang penyakit nya"sambungnya lagi
"Memangnya dia sakit apa?" Tanya raya pada Adrian
"Leukimia stadium akhir" kata Adrian yang mulai meneteskan air mata nya
Raya yang mendengar itupun juga merasa sangat syok karena dia fikir Devian pergi karena memang ingin menjauhinya tapi ternyata ini alasan sebenarnya Devian pergi selama ini.
"Lalu bagaimana dengan tunangan Devian dulu,apa dia tau?" Tanya raya yang tiba-tiba terfikir bahwa sebelumnya Devian bilang dia sudah bertunangan.
"Sayang,ada satu hal lagi yang perlu kamu ketahui bahwa sebenarnya Devian ngak pernah tunangan" ucap Adrian
Raya pun semakin terkejut saat mengetahui itu.
"Apa maksudnya dia ngak pernah tunangan, jelas-jelas waktu itu dia bilang dia sudah bertunangan"kata raya binggung
"Dia ngak pernah tunangan sayang,dan cincin yang dia pakai itu bukan cincin tunangan " kata Adrian lagi
Adrian pun juga menjelaskan bahwa dulu setelah mengantar raya pulang, dia meminta penjelasan soal pertunangan Devian,tapi Devian bilang itu semua hanya kebohongan dan Devian juga berkata bahwa itu yang terbaik untuk dirinya dan raya tapi Devian tak pernah bercerita tentang sakitnya pada Adrian dan Adrian sendiri juga baru mengetahui nya beberapa hari lalu saat bertemu dengan Devian lagi.
Araya yang mendengar penjelasan dari Adrian pun merasa terpukul sekaligus sakit yang luar biasa di hatinya,
dia tak menyangka bahwa Devian berbohong padanya soal pertunangan dan dia juga menyembunyikan penyakitnya dari orang-orang di sekitar nya,termasuk raya dan keluarganya sendiri.
Saat rasa sakit masih ada di hati raya tiba-tiba seseorang menelvon Adrian untuk segera datang ke rumah sakit.
Adrian pun segera memberi tau raya bahwa yang menelvon nya adalah dokter yang saat ini menanggani Devian,dan dia bilang Devian ingin bertemu dengan Araya hari ini.
Awalnya araya tak ingin ikut tapi Adrian memaksanya dan kemudian araya pun mau ikut ke RS menemui Devian.
Sesampainya di RS ternyata kondisi Devian drop dan di perlukan penanganan khusus.
Araya dan Adrian pun masih menunggu di luar bersama dengan mama Linda yang tadi juga diajak oleh Adrian untuk ikut ke RS menjenguk Devian,mama Linda juga sudah tau sakitnya Devian karena selain bertemu dengan Adrian, Devian juga sempat bertemu dengan mamanya.
Saat ini mama Linda sedang menangis di pelukan raya, sedangkan Adrian sedang mengendong putranya yang tadi juga di ajak olehnya.
Setelah menunggu dan menunggu dokter pun keluar untuk memberitahu keadaan Devian.
Dokter bilang Devian ingin bertemu dengan keluarganya,mama,kakak dan juga Araya.
Tapi berhubung karena kondisi Devian saat ini,dokter hanya memperbolehkan mereka menemui Devian bergiliran.
Dimulai dari mama Devian dulu yang masuk, kemudian setelah itu Adrian yang masuk, setelah Adrian keluar barulah araya yang masuk.
Kriet
Araya pun membuka pintu ruang rawat Devian, dia sekuat tenaga berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Setelah masuk tak lupa dia menutup pintunya lagi, setelah itu dia pun mendekat ke arah bangsal Devian.
"A-araya" sapa Devian dengan suara yang sedikit bergetar saat melihat araya.
"Iya Dev ini aku" kata araya yang masih berusaha untuk menahan air matanya.
Saat ini kondisi Devian begitu memprihatinkan apalagi dengan selang infus menempel di hidungnya.
"Bagaimana kabar kamu Ray?" Tanya Devian
"Kenapa kamu tanya itu?" Kata raya
" Gapapa kok Ray,aku seneng lihat kamu baik-baik saja"kata Devian yang berusaha tersenyum ke arah raya.
"Aku baik-baik saja Dev,tapi kenapa kamu gini, kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit?" Tanya raya menatap Devian
"Ray aku gapapa,aku ngk sakit,dan aku bisa sembuh kok" kata Devian yang berusaha terlihat baik-baik saja
"Ngk kamu bohong Dev,semua yg kamu bilang itu bohong kan,dari pertunangan km,terus tujuan km pergi ke luar negeri itu sebenarnya untuk berobat kan,dan sekarang apa?,km bilang km gapapa?,Dev aku bukan anak kecil yang bisa km bohongi,klo km beneran gapapa kenapa kamu di RS sekarang hah?" Kata raya mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di dalam hatinya
"Ray maafin aku,aku ngelakuin itu semua karena aku ngk mau kamu menderita sama aku,aku sayang kamu Ray,aku pengen lihat kamu bahagia meskipun tanpa aku" ucap Devian sendu
"Tapi dengan semua kebohongan km itu malah membuat aku terluka Dev km tau butuh waktu yang lama buat ku, sampai aku benar-benar melupakan km Devian"
Kini tanggisan raya pun pecah karena tak bisa di tahan lagi .
"Ray jangan nangis ray,cowok seperti ku ngak pantes buat kamu tangisin,aku brengsek kn Ray" kata Devian pada raya
"Engga Dev kamu gak brengsek, kamu harus sembuh dulu baru kita bahas ini nanti" kata Araya berusaha menenangkan dirinya.
Devian pun menggeleng pelan.
"Ray aku udah gak kuat,kamu jaga diri baik-baik ya,mungkin ini hari terakhir kita bertemu"kata Devian menatap manik mata raya yang terlihat sembab karena menangis
"Engga kamu ngak boleh ngomong gitu,kamu harus sembuh Dev,apa kamu ngk mau main sama ponakan kamu?"
Devian pun tersenyum..
"Aku ingin Ray,dia sangat tampan seperti kak Rian,aku senang km menikah dengan kak Rian yang bisa menjaga km Ray" kata Devian
"Iya karena itu kamu harus sembuh supaya bisa kumpul bareng keluarga kamu, Arvind juga ingin bermain bersama dengan om nya"ucap raya.
"Jadi namanya Arvind" tanya Devian
Raya pun mengangguk pelan.
"Oh ya Ray kamu bisa tolong ambilkan kotak di nakas itu?" Kata Devian yang tiba-tiba menyuruh raya untuk mengambil sesuatu yang terletak tak jauh dari bangsal nya.
Raya pun segera mengambil apa yang Devian inginkan itu.
"Bisa tolong di buka?" Kata Devian lagi
Raya pun segera membuka kotak itu.
"Ini?" Tanya raya yang heran saat melihat isi kotak itu
"Iya Ray,tolong berikan itu pada Arvind ya,anggap itu hadiah dari ku untuk nya" kata Devian
Raya pun kembali menutup kotak itu.
"Engga kamu yang harus memberikan nya pada Arvind Dev,kamu harus sembuh"kata raya
"Ray aku udah bener-bener gak kuat Ray,maafin aku"
Setelah mengatakan itu tiba-tiba saja kondisi Devian drop dan raya pun panik dan segera memanggil dokter untuk memeriksa Devian.
Semua keluarga pun berdo'a supaya Devian bisa melewati massa kritis nya,
tapi harapan mereka pun pupus seketika saat dokter keluar dan mengatakan bahwa Devian sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
Deg
Tanggisan semua keluarga pun pecah saat mengetahui itu dan mereka pun sama-sama masuk untuk melihat Devian yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya itu.
"Deviannnnnn hiks hiks nak bangun nak"tangis mama Linda yang melihat putranya telah tiada
"Kenapa kamu pergi lagi Dev"kata raya yang juga tak mampu untuk menahan air matanya.
Sedangkan Adrian juga menangis sambil mengendong putranya, saat melihat adiknya yang kini benar-benar sudah pergi meninggalkan nya.
Singkat cerita Devian pun sudah dimakamkan ,banyak pelayat yang datang ke makam Devian termasuk teman-teman klub nya yang juga terpukul melihat Devian yang sudah benar-benar pergi untuk selamanya, mereka masih tak menyangka Devian selama ini ternyata menyembunyikan penyakit nya dari teman-temannya, bahkan yang mereka tau Devian dulu pergi ke luar negeri karena ingin melanjutkan kuliah nya tapi ternyata mereka salah.
Dan kini krakat klub hanya tinggal kenangan,Karena tanpa adanya Devian para anggota merasa ada yang hilang di klub tersebut.
Mereka pun juga sepakat untuk membubarkan klub krakat ,tapi walaupun sudah bubar nama krakat klub akan selalu ada di hati mereka termasuk Devian teman terbaik mereka.
15 tahun kemudian...
Brumm
Suara motor pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah rumah.
Setelah berhenti di halaman rumah tersebut, seorang cowok pun turun dari motor yang di kendarai nya tadi.
"Ma,mama dimana?" Kata cowok itu mencari keberadaan mamanya
Karena tak ada yang menyahut dia pun segera masuk ke dalam kamar untuk mencari mamanya.
"Ma, ternyata mama disini" kata nya lagi
"Vind kamu sudah pulang?"
Ternyata cowok itu adalah Arvind yang kini sudah menginjak usia 19 tahun,Arvind pun segera mendekati mamanya.
"Lihat apa ma?" Tanya Arvind pada mamanya
"Ini foto papa sama om kamu" kata raya yang sedang memegang sebuah album foto
"Om keren ya ma dulu anak motor kaya Arvind sekarang" kata Arvind saat ikut melihat foto itu
"Iya nak,oh iya kamu jaga ya kalung sama kunci motor pemberian om kamu" kata raya pada putranya
"Iya ma,Arvind akan jaga pemberian om Dev"
Araya pun tersenyum melihat putranya yang sikapnya lebih mirip dengan Devian dulu, padahal Adrian adalah papanya tapi entah kenapa Arvind malah mirip dengan Devian.
Saat mereka sedang mengobrol Adrian yang baru pulang bekerja pun masuk dan melihat istri dan anaknya yang sedang melihat sebuah album foto yang berada di tangan istrinya, Adrian pun kemudian langsung bertanya pada mereka.
"Lagi ngelihat foto papa sama om Dev ya?" Tanya Adrian
"Iya pa, Arvind pengen jadi kaya om Dev" kata Arvind pada papanya
"Oh ya,kalau gitu kamu harus bisa jadi anak yang mandiri kayak om kamu" kata Rian menepuk bahu putranya itu.
"Siap pah Arvind akan belajar mandiri hehe"
"Hemm ya sudah kalau gitu,kmu juga harus pinter ya kuliahnya jangan nakal" kata papanya lagi
"Arvind gak pernah nakal kok pah" kata Arvind jujur
"Iya udah kan papa cuma ngingetin,oh iya besok kita pergi ke makam om Dev ya" kata Adrian
"Memangnya besok kamu libur sayang?" Tanya raya yang ikut dalam pembicaraan
"Iya aku libur,jadi kita bisa kesana"kata Adrian
"Oh ya,ya sudah kalau gitu aku ke kamar mama dulu ya,buat ngasih tau mama" kata araya yang kemudian menutup album foto itu dan menyimpan nya.
Sedangkan Adrian pun mengangguk membiarkan araya untuk memberi tau Linda bahwa mereka akan bersama-sama mengunjungi makam Devian.
"Mama semangat sekali ya pah" kata Arvind menyenggol bahu papanya
"Iya vind papa seneng lihatnya " kata Adrian
"Hemm papa gak cemburu?"
"Cemburu buat apa?"
"Ya kan mama kelihatan nya masih sayang sama om Dev?"tanya Arvind
"Papa gak pernah cemburu vind,bagi papa kebahagiaan mama mu yang terpenting,dan om kamu telah membiarkan mama mu bersama dengan papa jadi papa gak pernah cemburu kalau mama mu masih mencintai om kamu,tapi memang jodoh mama mu adalah papa jadi gak ada alasan untuk papa cemburu atau melarang mama mu untuk membahas om kamu vind"jelas Adrian menjawab pertanyaan putranya itu.
"Oo gitu ya pa,iya juga sih kan emang udah takdir jodohnya mama itu papa ya, karena itu om dulu hanya menjaga, sedangkan yang memiliki tetaplah papa" kata Arvind dengan kata bijaknya.
Adrian yang mendengar perkataan putra nya pun tersenyum sambil mengacak-acak rambut putranya dengan bangga,karena sikap dan kedewasaannya.
Sedangkan tanpa mereka sadari,sebenarnya dari tadi Araya masih berada di balik pintu dan sedang mendengarkan pembicaraan mereka dan Kemudian ia pun tersenyum menatap suami dan putranya itu.
_Tamat_.
NB:oh iya buat yang belum tau hadiah yang di berikan Devian ke Arvind,hadiah itu sebenarnya adalah Kalung team KR∆K∆T dan juga kunci motor kesayangan Devian,dan raya memberikan itu pada Arvind tepat di ultah nya yg ke 17 THN.
Terimakasih untuk yg sudah baca cerpen ku,jngn lupa di like ya kakak²🤗