Namanya Dini dia turun dari mobil pribadi miliknya.
Saat yang lainnya baru berdatangan.Cewek itu menuju ke kelasnya dengan wajah kusut. Saat Lita dan Mica baru nonggol pula.
"Ada apa tuh sama anak? Wajahnya kusut banget!
"Mana Lit tau, kita tanya aja. "
Dini tidak menyadari saat kedua konconya itu sudah berada di sisinya.
"Eh, kalian berdua. Ada apa? "
Dengan wajah terpaksa memaksakan senyuman itu. Mempamerkan sederetan gigi putih rapi yang di pagari behel itu.
"Kamu tuh ,yang ada apa? "
"Kenapa nanya kita-kita? " Mereka berdua terlihat kepo dan penasaran dengan masalah Dini.
"Panjang ceritanya.Tolong kalian jangan kepo dengan masalah Dini sekarang. Dini terlihat menyembunyikan sesuatu dari mereka. Itulah yang membuat mereka berdua begitu curiga.
"Ayolah cerita sama kita! "bujuk mereka berdua, agar Dini tertarik untuk bercerita.
Tapi kelihatannya Dini tidak peduli dengan ocehan mereka. Mereka melihat Dini menatap kearah pintu keluar kelas. Ternyata Dini lagi memperhatikan Dicky. Dicky si cowok cool itu masuk dengan wajah sumringan.
"Hai Dick!"
Kelihatan Dini bersemangat menyapa cowok itu. Saat Dicky berjalan kearah mereka.
Tapi apa hasilnya? Malahan si cowok itu tak menghiraukan sapaan yang di lontarkan Dini barusan. Mica dan Lita yang melihat hal tersebut, merasa iba dan kasihan. Seraya geleng -geleng kepala yang tak longgar itu. Apa yang dirasakan Dini saat ini, sangat menyakitkan hati menurut mereka. Dini terlihat sedih dan kecewa karena Dicky tidak peduli dengan dia lagi.
"Din, kamu tak apa-apa kan? "Mica menenangkan hati Dini yang lagi sedih itu.
"Sabar ya Din. "Lita ikut menghiburnya pula. Dini terpaksa tersenyum di hadapan mereka.
Walau sekilas dia melihat Dicky berlagak cuek dengan earphone di pojok kiri bersama yang lainnya. Cowok itu memang keras kepala. Tidak pernah peduli dengan orang lain.
♪ ♬ ヾ(´︶`♡)ノ ♬ ♪♪ ♬ ヾ(´︶`♡)ノ ♬ ♪
Hari ini kelas Dini lagi belajar Biologi pratikum di Laboratorium. Mereka lagi pratikum mengenai enzim di dalam tubuh. Rupanya Dini satu kelompok sama Dicky si cowok cool tapi cuek kemaren. Dini mencoba beranikan diri bicara sama cowok itu.
"Dick, aku mau tanya, salah aku sama kamu apa? "
Dini berharap cowok itu mau menanggapi reaksinya barusan. Tapi malah cuek dan tidak peduli begitu. Lita yang berada disisinya hanya diam saja.
Bapak Algy, Guru Biologi itu mendekati mereka. Menilai cara kerja kelompok mereka.
"Kerja kelompok kalian bagus ".
Pak Algy berkomentar pada kelompok mereka.
"Terimakasih pak!"sahut Lita dan Deden. Mereka lanjut kerja kembali.
Selesai belajar Biologi. Mereka berhamburan keluar dari Laboratorium itu.
Ketika jam istirahat, Dini tak mau diajak kedua temannya untuk jajan. Tapi malahan Dini duduk membisu di dalam kelas.
"Kita jajan yuk! Din, lapar ni" Kata Lita dengan semangat.
"Ahk, nggak!kalian duluan aja! "
Dini kembali melamun melihat handphone yang di pegangnya itu. Entah apa yang di pikirkan cewek yang satu ini.
"Oke, kalo begitu Lit akan beliin jajan aja buat kamu. Jadi, kita makan aja disini bareng-bareng".
Lita punya ide yang cermelang.
"Kaka setuju. Ayo! "
"Terserah kalian aja. "
Dini kembali galau.
Mereka berdua keluar dari kelas meninggalkan Dini. Setelah mereka pergi. Kemudian muncul Dayat teman si Dicky.
"Din, kok bengong yang lain pada kemana? Sendirian? ".Dayat menegur Dini sedang bengong begitu.
"Eh, maksud kamu Lita dan Mica .Mereka lagi jajan.
"Kok bengong melulu Din, lagi ada masalah ya? Jangan bilang ada hubungannya dengan Dicky."
Terka Dayat dengan keponya.
"Ada deh ".Dini menyembunyikan masalah yang sebenarnya.
"Cepatlah beritahu! "
Dayat terlihat maksa Dini. Cowok yang satu ini terlihat kepo juga. Mentang-mentang lagi PDKT sama Lita konco Dini yang bermata biru itu.
Beberapa saat nonggol Lita dan Mica diikuti seorang mbak yuk, penjual di kantin membawa 4 mangkok bakso.
"Suprise! "
Mereka berdua terlihat bersemangat. Dayat terlihat senang duduk di samping PDKTnya itu.
"Silakan dicicipi nona! "kata mbak Yuk.
"Terimakasih mbak Yuk."sahut Dini diikuti yang lainnya juga.
Kemudian mbak yuk pergi dan berlalu. Mereka ber-4 pun mencicipinya dengan senang hati kecuali Dini terlihat galau begitu.
♪ ♬ ヾ(´︶`♡)ノ ♬ ♪♪ ♬ ヾ(´︶`♡)ノ ♬ ♪
Hari minggu, Dini dan orang tuanya lagi sarapan di meja makan.
"Mama, Papa, Dini mau nggomong hal penting sama mama dan papa ".Dini membuka pembicaraan pagi itu.
"Mau ngomong apa? Kami siap mendengarkannya" kata si papa.
"Tapi mama dan papa jangan marah ya! Mama sama Papa mau gugat cerai hari sabtu ini ya? Mengapa papa mama tak pernah berpikir lebih dalam dan jauh lagi, apa yang akan terjadi? Bagaimana nasib Dini nanti? ".Dini terlihat sedih dengan keadaan yang dialaminya saat ini.
"Ya mau gimana lagi Din, memang kami tak cocok lagi. Tak sejalan tak satu tujuan."
Mamanya ikut menanggapi dengan alasan yang tepat.
"Buat apa di pertahanan lagi Din. Lebih baik kami pisah aja. "komentar si papa pula.
"Tapi mama, papa, Dini tak pengen mama sama papa cerai. Dini mengingikan kita menjadi keluarga yang utuh, bukannya keluarga Broken home.Buat apa mama sama papa membina rumah tangga yang telah lama utuh, kemudian menjadi terpecah belah. Percuma mama, papa... ".
Dini begitu geram, marah dan bercampur haru serta sedih.
"Din,kamu tak perlu sok ikut campur urusan kami. Itu hak kami mau ngapain? "
Papa terlihat kesal dengan anak semata wayangnya.
"Yang mau jalanin ini semua kami bukan kamu Din, ngerti! "bentak papa kembali.
"Lebih baik kamu diam aja."
Mama ikut menanggapinya pula.
Dini pergi masuk ke kamarnya tanpa mempedulikan ocehan mereka. Dini menyesali dirinya tak bisa mengubah sifat egois dan emosi kedua orangtuanya. Selalu keras kepala.
Siang harinya, Dini terbangun dari tidurnya. Ketika Bik Nunik membangunkannya.
"Ada apa Bik? "
"Di depan ada teman non Dini. Katanya mau ketemu. "
"Siapa Bik? "
"Non Farah."
Kemudian Bik Nunik pun pergi dan berlalu. Dini segera nyamperin cewek itu,pacar Dicky cowok yang cool di kelasnya.
"Ada perlu apa kamu kesini Far? Udah puas kan bikin aku menderita dan dibenci dia. "
Dini begitu marah besar sekaligus kesal plus sakit hati.
"Puas buanget. Thanks ya, dengan begitu Dicky tak akan pernah dekatin kamu lagi. Farah tertawa licik.
"Tunggu dulu! "
"Apalagi Din?kan udah aku bilang semuanya tentang perasaan kamu. Kalau kamu naksir sama dia. Kamu tau nggak apa reaksi Dicky? "
"Apa? "
"Dicky sontak kaget mencaci kamu. Sok cantik katanya. Ingat ya, dia takkan pernah suka sama kamu. Sedih deh. Sungguh malang nasib kamu Din. Dini.. Dini kalau jadi cewek itu nggak usah kege eran ya."
"Far, kan aku dah nganggap kamu sebagai teman, tempat curhat aku. Kamu bocorin segala sih? nyesel aku ".
Dini begitu sedih.
"Teman curhat, mimpi deh kamu. Kalau jadi orang jangan terlalu polos Din, lihat lah akibatnya. Apalagi kamu curhat sama aku, orang yang salah. Mikir dulu dong. "
Farah tertawa menjadi -jadi dengan lirikkan mata yang licik itu.
"Terus mau kamu apa sekarang? Lebih baik kamu pergi dari rumah aku. Terimakasih telah menjadi pecundang dalam hidup aku. "
"Okay! "
Farah pergi dan berlalu dari Rumah Dini dengan wajah licik bercampur senang. Karena dengan memanfaatkan Dini dia bisa pacaran sama Dicky. Cowok yang telah di kejar-kejarnya setahun belakangan ini.
Akhirnya, bisa dia rangkul di pelukkannya. Dengan menggunakan Dini sahabat Smp nya sebagai umpan nya. Farah rela hancur demi mendapatkan Dicky si cowok cool itu.
Dini duduk di ruang tengah dengan wajah bengongnya. Memggadapi semua masalah yang lagi bertumpuk di pikirannya itu. Masalah dengan Dicky, terus bentar lagi orang tuanya yang mau cerai.
Dini tidak bisa rasanya menghadapi dengan kesendirian.Semua orang yang di percayai selama ini tak mau mempedulikan dirinya. Mau mati aja Dini rasanya, dia tidak tak tahan menghadapi cobaan ini.
Sepulang sekolah ada yang sms Dini dari no baru.
"Kita ketemuan di cafe jam 14.30.Ok !
Waiting..
Karena penasaran Dini membalasnya.
"Ok!
Segera Dini meluncur ke cafe itu. Rupanya Lita dan Mica heran melihatnya. Mereka menghentikan mobil Dini.
"Ada apa? "
" Mau kemana Din, terburu banget? "
"Ni acaranya mendadak. Kalian berdua kepo deh. "
"Ya, nggak juga sih. Kalau gitu kami pulang duluan ya. "
Kedua konconya pun berlalu.
Akhirnya, sampai juga di cafe. Setelah memesan makanan pesanannya. Dini menunggu orang tersebut. Dia penasaran siapa orang itu. Setelah di tunggu cowok itu datang juga.
"Hay, dah lama nunggu. Sorry telat."orang itu bicara datar dan cuek. Dibalik kaca mata hitam yang di pakainya. Jadi, Dini tidak mengenali cowok itu dari penampilannya. Siapa sebenarnya?
"Nggak juga. Maaf anda siapa? "terlihat kepo Dini rupanya. Padahal dia tidak pernah ngeliat orang itu sebelumnya.
"Wow, penasaran rupanya, siapa aku? "
Cowok itu membuka kacamata hitam yang di pakainya.
Terlihat lah wajah cowok itu.
Oh,ternyata dan ternyata tak lain adalah Dicky si cool itu.
"Dick, jadi kamu? "
Dini begitu terkejut melihat cowok yang ada di hadapannya itu. Pacarnya Farah sahabat yang jahat itu.
"Ya. Kenapa kamu kaget? "
"Sorry Dick, aku tak bermaksud kok. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. "
Dini bicara ceplos -ceplos begitu saja.
"Minta maaf, buat apa? Emangnya ini hari lebaran ?sampai segitunya. "
Dicky mengerutkan keningnya melihat sikap sungkeman Dini barusan.
"Dick, kamu pura-pura nggak tau kan? Pasti kamu sudah tau kan semuanya dari pacarmu itu. Aku tidak bermaksud ngambil kamu dari dia. Jujur ya, aku sudah lama naksir sama kamu Dick".kata Dini kepada cowok itu.
"Naksir? nggak salah? Siapa juga yang mau sama kamu. Jangan mimpi, ngaca dong"ujar Dicky.
"Aku tau Dick, aku tak sempurna, tak sebohay Farah kan? Aku jelek. Aku kalah akan cewek idaman kamu itu.
"Cewek jelek, sok cantik. Jangan kpdean ya".
"Dah puas caci aku, baiklah aku akan pergi sekarang. "
Dini begitu sedih nerima kenyataan yang sekarang. Berarti apa yang dibilang Farah tidak bohong.
Dini langsung berdiri dan berniat beranjak pergi dari hadapan cowok itu.
"Eits, Din mau kemana? "
Dicky menarik tangan Dini agar tidak terburu-buru untuk pergi .
"Bukannya urusan kita sudah selesai secara tuntas. "
"Tapi, tunggu bentar dong! "
Dicky menyuruh Dini duduk kembali .Dan Dini pun menurut.
"Aku mau nggomong sesuatu sama kamu Din. Dan ini penting. "
"Nggomong aja! "
"Sebenarnya cinta kamu tidak bertepuk sebelah tangan Dini. Aku juga sudah lama naksir sama kamu. Dan diam nya aku dari kemaren itu, aku mau ngeliat juga sejauh mana perasaan kamu ke aku. Dan ini prank. "
"Dasar kamu Dick".
"Sekarang aku mau ada kejelasannya. Kamu mau kan jadi kekasihku? "
"Beneran ni? Terus Farah gimana? " jangan ngeprank lagi Dick, nggak lucu tau. "
"Tenang saja, cewek itu sudah putus dengan ku.Jadi ,gimana jawabanya? "
"Aku mau Dicky. "kata Dini dengan senyuman manisnya.
"Terimakasih Din. Tapi, nggomong -nggomong akting aku bagus juga kan? " tambah Dicky jaim.
"Bagus ikut casting di film layar lebar sana",kesal Dini membalas kata cowoknya itu. Yang sekarang sudah resmi jadi orang yang spesial di hidupnya.
"Jangan marah lagi Dini. Nanti cepat tua".
"Biarin, yang penting menua bersama Dicky seorang".kata Dini lagi. Dicky tersenyum mendengarnya. Dan dia bahagia.
Mereka pun melanjutkan makan kembali dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Dini melihat layar HP, ternyata Papanya sms.
"Din, papa dan mama memilih membatalkan perceraian itu. Kami sayang kamu sampai kapan pun itu. "
Dan Dini sangat senang dan lega rasanya sekarang. Keluarganya bisa utuh kembali.
 ̄ ̄