Yuni Lorenza: Masa SMA Part I (you ugly)
Kata orang masa SMA adalah masa paling indah.
Aku juga setuju dengan hal itu, aku sangat merasakan keindahan saat masa SMA.
Banyak pengalaman yang begitu menyenangkan juga mengesankan.
Dimasa SMA ini juga aku temukan dan sadar akan bagaimana orang menilaiku lebih atau kurang.
Tapi tak sedikit juga pengalaman yang begitu menyakitkan di masa SMA ku ini.
🌻🌻🌻🌻🌻
Ruang Kelas XI IPS 3
" Baik anak-anak seperti yang telah ibuk jelaskan sebelumnya.
Jadi untuk UAS kalian tidak ujian manual di kelas, tetapi ibuk ganti menjadi tugas pembuatan projek film pendek.
Temanya bebas, narasinya bisa dari kalian sendiri ataupun narasi dari internet mengerti........... " jelas ibuk Afnita guru seni dan budaya.
" Mengerti buk........ " sahut semuanya serentak.
Aku Yuni Lorenza, si juara 1 dari kelas X sampai saat ini tapi untuk akhir kelas XI ini aku juga belum tau apakah bisa bertahan atau tidak.
Aku bangga pada diriku yang bisa mendapatkan juara 1. Tetapi selalu saja ada suara sumbing yang terdengar dari temanku, dari anak IPA.
Waktu itu dia pernah berkata setelah pembagian rapor saat kelas X.
" Gimana Yun kamu dapat rengking berapa ? " ucap Lina.
" Alhamdulillah aku dapat rengking 1 " sahutku dengan senyum bahagia.
" Wahhh hebat kamu ya " ucap Lina dengan senyuman.
Tetapi beberapa detik kemudian Lina melanjutkan ucapannya.
" Ohh iya kamukan jurusan IPS hahaha " ucapannya dengan tertawa meremehkan.
Bagiku itu perkataan yang menyakitkan, jika bagi kalian tidak apa-apa.
Sebenarnya disetiap orang, jurusan dan apapun itu pasti memiliki perbedaan dan tidak harus juga dibanding-bandingkan atau saling meremehkan.
Sudahlah biarkan saja kita kembali ke projek film pendek UAS Seni dan Budaya.
Setelah mendapatkan arahan dari ibuk Afnita kami mulai berdiskusi bersama.
Karena projek film pendek ini untuak satu kelas.
" Siapa yang mau buat narasi atau cari narasinya ? " ucap Windi.
" Bisa aja sih kita semua, maksudnya cari aja masing-masing satu narasi nanti kita diskusiin lagi.
Habis itu baru deh kita pilih mana yang bagus, dan mana yang bisa kita mainin " usul lainnya.
" Kayaknya ribet deh nanti, mendingan satu atau dua orang aja yang cari narasinya terus sepakatin aja nanti ga ribet kan " ucap Dea Cantik.
Ya, di kelas ku ini punya 4 si cantik kebanggaan cowo-cowo.
Ada Dea, Rury, Gina dan juga Windria.
Kalo aku sih ga masuk kalah jauh wir, tapi gapapa sih tujuan aku ke sekolahkan belajar buat menuntut ilmu.
" Iya bener tu, usul aku sih Yuni aja ya yang cari narasinya sama misfa juga boleh tu " ucap Gina menunjuk aku juga misfa.
" Bener-bener secara udah pasti bisalah, kita percayain aja ke Yuni yakan " ucap Rury diikuti Windria.
" Yaudah boleh " ucapku mengiyakan daripada harus berdebat lebih lama.
Setelah jam pulang aku pergi ke salah satu warnet disekitar SMA ku.
Kenapa aku ke warnet ? karena waktu itu aku belum punya handphone, jadi harus ke warnet jika ingin membuat tugas atau mencari tugas seperti sekarang ini.
Aku pergi bersama misfa karena kebetulan misfa selalu menumpang ke sekolah denganku.
" Ini ni ada mis beberapa narasi film pendek, coba deh kamu lihat dulu mana yang bagus atau cocok lah buat kita ambil. "
" Aku ga tau juga Yun, kamu aja yang pilih kan kamu lebih tau " tolak misfa dengan gelengan kepalanya.
" Yaudah deh aku pilih dulu habis itu kita print, aku pilih dua deh biar bisa ada bandingan nanti buat dipilih yang lain. "
" Ya terserah kamu aja Yun aku ikut aja. "
Skip>>>>>>>>>>>>
Keesokan harinya terdengar riuh di kelasku.
Teman-teman yang lain sedang berdebat untuk memilih narasi mana yang akan diambil.
Cukup lama berdebat sampai pada akhirnya kami semua sepakat mengambil satu narasi.
Narasi yang menceritakan tentang kisah cinta di masa SMA.
Selanjutnya pemilihan peran pemain, saat itu aku berharap mendapat peran sebagai pembaca cerita alias tidak ikut bermain dalam dramanya.
Sebenarnya bisa saja aku bersikeras untuk memilih peran itu, karena aku yang sudah mencari narasi.
Sewa dan print narasi di warnet itu semuanya pakai uang ku sendiri tak ada yang mau menggantinya.
Aku juga tidak masalah hanya sepuluh ribuan uang yang aku keluarkan.
Tapi tetap saja aku sedih, tidak ada yang menghalangi usahaku tidak ada satupun temanku yang mengucapkan terima kasih.
Mereka malah sibuk menentukan peran, dan yang berkuasa adalah 4 wanita cantik kita ini.
Tidak ada arahan dari siapapun, semuanya patuh pada si cantik.
Sampai pada semuanya sudah mendapatkan peran masing-masing.
Dea memilih sebagai pembaca narasi, pemeran utama perempuan adalah Gina dengan sahabatnya Rury juga Windria.
Pemeran utama laki-lakinya juga sudah terpilih yaitu Hanif dengan beberapa orang sahabatnya dalam drama film pendek nanti.
Dan aku dipilihkan peran oleh Dea sebagai mama dari Gina.
Singkatnya kamipun mulai melakukan latihan disetiap jam pulang sekolah.
Dan waktu pengerjaan projek film pendek ini hanya dua minggu.
Kami semuapun antusias untuk menyelesaikannya secepatnya mungkin.
Dan dalam pembuatan film pendek ini, ada adegan dengan latar rumah pemeran utama.
Jadi mau tidak mau kami harus mengambil adegan itu.
Rumah Gina menjadi tempat untuk pembuatan adegan itu.
Dalam adegan itu yang bermain adalah 4 orang si cantik itu, dan satu orang lagi yaitu aku sendiri sebagai mama dari Gina.
Bisa dibayangkan bukan aku harus sendirian ditengah mereka, suatu perbedaan yang mencolok.
Sampai pada akhirnya kami sepakat untuk pembuatan adegan itu di minggu sore.
Skip>>>>>>>>>>>
Aku datang paling awal ke rumah Gina.
Gina memang anak orang kaya atau paling kaya diantara kami di kelas.
Dia sebenarnya baik dan lembut juga orangnya, hanya saja terbawa-bawa oleh sikap temannya yang sombong.
" Masuk dulu Yun, yang lain belum datang ni lihatkan " ucap Gina sembari mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya.
" Iya gin. "
Aku dan Gina duduk diruang tamunya, Gina juga sudah menghidangkan minuman juga beberapa aneka roti kering.
Dia tengah asik bermain handphone, tetapi dia juga menghubungi yang lainnya agar cepat menyusul.
Aku yang tidak punya handphone akhirnya fokus membaca narasi cerita, dan menikmati hidangan dari Gina.
Beberapa menit menunggu akhirnya mereka datang dia, Rury, Windria juga Dea.
Tanpa menunggu lama langsung saja kami semua memulai adegan.
Kali ini diambil adegan vidio saat Gina pulang dari sekolah, lalu disambut oleh sang mama didepan pintu rumah.
Adegan ini masih aman dan menyenangkan, walaupun sesekali aku melihat lirikan meremehkan dari sorot mata Dea juga Rury.
Mereka juga sesekali tertawanya melihat adeganku didalam rekaman handphone mereka.
Aku hanya diam mengikuti obrolan mereka.
Lanjut pada adegan berikutnya yaitu pengambilan adegan vidio Gina yang bangun tidur dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Mereka berempat sudah masuk kedalam kamar Gina, sebelum itu mereka menyusun semuanya agar terlihat baik di vidio.
Tak lupa juga mereka bercanda dan tertawa lepas bersama-sama.
Dan aku berdiri sendiri diluar kamar mendengar tawa mereka.
Tak sengaja pintu kamar Gina terbuka, dan aku ingin masuk untuk melihat proses perekam vidionya.
" Aku boleh masuk ya mau lihat juga. "
" Ga usah kamu tunggu diluar aja " ucap ketus Rury menatapku.
" Kamu diluar aja Yun, lagian adegan kamukan nanti bersih-bersih diluar nyapu atau ngepel gitu udah sana " ucap Dea mengusirku yang sudah masuk beberapa langkah dari pintu.
" Hehh gapapa juga tau kan Yuni mau lihat gapapalah grils " ucap Windria dengan nada yang baik.
" Ga bisa win, kamu apaan sih kalo ada Yuni nanti susah kita ngambil vidionya udah kamu tunggu diluar aja aja.
Udah keluar Yun kamu tunggu diluar bisakan " Dea mendorongku keluar kamar.
Aku yang tetap kekeh ingin melihat berusaha berdiri didepan pintu.
Dea juga terus mendorong dan menutup pintu itu.
" Udah kamu tunggu diluar sanaaaaa " ucap Dea mengusirku dan menutup pintu itu dengan kencang.
Tanganku yang masih setia ditepi pintu itu hampir saja terjepit oleh tarikan kencang pintu itu.
Aku rasa jika sedetik saja aku terlambat menarik tanganku, maka jari-jariku bisa putus atau paling tidak retak atau patah.
Didalam sana justru mereka tertawa.
Ceklek (pintu kembali terbuka)
" Tangan kamu gapapa Yun " ucap Windria padaku dengan tatapan sedikit kawatir.
" Gapapa kok win. "
" Aduh ngapain ditanya segala win emang tangannya dia kenapa " ucap Dea tanpa rasa bersalah.
" Udah woi lanjut bikin vidio ntar ga siap-siap vidio kita " ucap Rury.
" Yaudah yuk yuk " mereka kembali masuk dan aku tetap sendirian diluar.
Sebenarnya Windria itu baik, tapi ia juga tidak bisa terlalu baik dan akrab denganku.
Bagaimanapun itu ia lebih memilih teman-temannya itu.
Rasanya saat itu aku ingin pulang saja, tapi tidak bisa karena masih harus menyelesaikan vidio.
Ketika semuanya bener-bener selesai aku berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.
Ada yang mendengarkan ada yang tidak peduli dengan ucapan pamitku.
" Yaudah Yun hati-hati makasih udah datang " ucap Gina padaku.
" Iya gin sama-sama lagiankan ini tugas kita sama-sama yaudah aku pulang duluan. "
" Iya Yun hati-hati " ucap Windria padaku.
Selepas aku keluar dari ruang tamu.
" Woii de lo apaan sih tadi hampir aja tangan si Yuni kejepit, mana lo narik pintu kencang banget lagi " ucap Windria menatap Dea.
" Lagian dia juga udah disuruh keluar malah tetap pengen masuk " sahut Dea tak peduli.
" Udahlah ga usah bahas ga penting, kita ngafe yuk " celetuk Rury.
" Yuk aku ganti baju dulu " ucap Gina menuju kamarnya.
Aku mendengar semuanya, yang aku rasakan hanya sakit yang teramat pada hatiku.
Dan mencoba menahan air mataku.
Awalnya aku pikir hal itu hanya ada dalam drama fiktif, tetapi dunia nyata juga dan benar-benar rasanya sangat menyakitkan.
Kalau kalian tak ingin menerimaku atau berteman denganku tak mengapa.
Aku tau aku tidak cantik, aku jelek dan juga tak bisa seperti kalian.
Tapi apakah seperti itu memperlakukan seorang teman atau manusia.
" Jelek itu bukanlah suatu penyakit menular, jadi kalian tak perlu takut padaku " Yuni Lorenza.
Masa SMA memang masa yang paling indah.
Terima kasih untuk setiap kenangan dan pengalaman yang mengesankan.
Terima kasih juga untuk semuanya, semoga kita bisa jadi lebih baik lagi dan selalu bahagia.
🌻🌻🌻🌻🌻