Akhirnya aku sadar.
Jika aku tak berharga.
Kejam kurasa kata itu. Menghujam tepat ke relung hati. Kau campakkan janji yang dulu dengan lantang bersama sama kita ikrarkan. Aneh rasanya saat aku merasakan pedihnya bertepuk sebelah tangan. Mengingat kau dulu berkata bahwa rasa saling bersambut di bawah kalut kelabu langit di akhir April. Hiruk pikuk suasana perpisahan menjelma dalam kalbu. Ingatan akan hari itu terkuak kian dalam seiring dengan bayangmu yang juga kian jauh pergi meninggalkanku yang kini bersimbah darah. Darah segar, hangat mengalir menyusuri dada. Entah dari mana dia berasal. Hati yang terkoyak. Janji yang terhempas. Atau mungkin itu hanya luka lama yang kini menganga kembali. Apa pun itu yang jelas nikmat kurasa kala pedih menjalar di dalam sukma.
Kilas-kilas kenangan juga kini berputar cepat memburu angan yang kian sekarat. Kala tangan yang kuingat melesap di telapak ini. Hangat kurasa genggam itu kala langit kelabu sedang beradu di tengah Rabu. Ah sial, rasanya ingin sekali kudekap sosok indah yang kala itu duduk meringkuk di sampingku. Dirimu yang berjuang melawan dingin. Tak mampu kutahan melihatnya. Bahkan aku tak rela dingin menyentuh kulit indahmu. Kubelai pelan rambut hitam yang tergerai panjang di sampingku. Nyaman yang tak lagi mampu kuungkapkan lewat kata kata. Hanya Tuhan yang tahu apa yang aku rasakan. Aku adalah manusia munafik jika aku berkata aku tak ingin rasa ini. Nyatanya aku sangat menikmati rasa ini.
Bahkan kala cerah langit berarak putih menjelma. Tak akan ada yang kutatap selain senyum kecilmu kala kita saling bercanda di kelas. Tawa kecil yang sangat menawan. Seolah yang sedang tertawa di depanku adalah satu dari jutaan bidadari kahyangan. Tak ada hal lain yang tersirat saat itu di diriku selain keinginan untuk terus mendengar tawa itu. Tak ingin senyum lepas dari bibir tipismu. Barang siapa yang berani membuat senyum itu turun maka kubersumpah atas nyawaku harga dari hal itu adalah nyawanya.
Persetan dengan orang lain. Aku hanya lelaki egois yang tak mau perempuannya terluka. Aku tak mau gadis yang kusayang terluka. Bahkan sekedar tergores angin malam. Tak ingin dirimu jatuh. Tak ingin dirimu hancur. Dosa kah diri ini jika ia menjadi pribadi yang sebegitu protektifnya? Salahkah rasa posesif ini? Jika itu dosa maka kurasa harga yang pantas kubayar dengan hasrat ini adalah neraka yang siap melahap apa pun dengan kobar api tak berujungnya.
Lucu jika aku kembali mengingat apa yang dulu pernah kita lalui bersama. Ya, lucu sekali. Saat aku cemburu kala teman lelaki di kelas kita sangat akrab denganmu. Merah muka ini saat guru memanggil nama kita berdua bersamaan kala membentuk kelompok diskusi. Aku yang belajar menggambar hanya karena kau sangat senang dengan hal itu. Tawa pecah saat hasil gambar yang kukerjakan disandingkan dengan karyamu. Tak akan pernah kulupa dirimu yang kesulitan mengungkapkan apa yang kau pikirkan. Saat dirimu menatap kagum aku yang tengah beradu argumen di depan kelas. Bahkan senyum getir yang kita saling lempar kala seluruh kelas di hukum karena masalah piket kelas. Tak mampu kutahan tawaku saat wajahmu cemberut. Kala kuajarkan dirimu bagaimana cara untuk berenang. Aku hafal betul genggam tangan yang kau cengkeram erat saat perlahan kutarik dirimu di kolam renang. Kontras antara hangat tanganmu dan dingin air kala itu. Kala kugendong dirimu yang takut untuk masuk ke kolam yang lebih dalam. Kau dekap erat tubuh ini. Aku tahu mungkin itu karena kau takut. Tapi yang kutahu adalah degup jantung kita yang seirama saling berdetak seakan ingin terus bersama. Tak ingin ia pergi lagi.
Namun kini semua tak lebih dari kenangan yang terukir indah di dalam raga yang kosong ini. Kau pergi, meninggalkanku seorang diri. Mencampakkan begitu saja janji yang dulu kita jalin. Pelan kurasa. Kini bayangmu perlahan berjalan di lorong waktu yang gelap. Jauh di belakang, aku hanya terduduk. Memeluk sisa kenangan dan bayangmu di sini. Jangan pergi. Teriak hati yang lemah ini. Namun kau tetap berjalan menjauh dari pandangan. Bahkan tak ingin kau berbalik hanya untuk sekedar melihat sosok menyedihkan ini. Kini aku harus menerima satu lagi takdir pilu yang menyerbu tanpa memberi tahu.
Tak mungkin aku marah. Karena ini tak lebih dari kesalahanku. Hanya mampu meratap sebentar luka ini. Dengan harap ia akan segera membaik. Luka yang kini mendekapku dalam genangan air mata dan darah. Hanya mampu berusaha berjalan walau tanpa ada tujuan. Sekali lagi sayapku dipatahkan. Luluh lantah bersama janji yang dulu pernah ada. Kunikmati rasa sakit yang perlahan datang merayapiku. Membunuh dengan manis rasa yang pernah ada. Sambil kudekap erat jepit rambut yang kau berikan padaku. Berharap kau berbalik dan mengambilnya kembali.
Terima kasih karena telah bertahan selama ini. Terima kasih karena mau menemaniku hingga sejauh ini. Terima kasih untuk sembilan bulan yang kita bagi bersama di tengah kegelisahan dan ketidakpastian. Telah bersama memperjuangkan rasa walau akhirnya dunia berkata tidak. Jika bukan dirimu. Mungkin tak akan sepedih ini luka yang kurasa. Tak sedalam ini hati terluka. Kuhargai luka yang kau toreh tepat di relung hati terdalam. Berdamai walau pedih. Karena aku sadar, walau darah ini belum mengering. Walau perih masih basah dan bernanah. Tapi langkah masih harus berlanjut. Walau artinya adalah mati kehabisan darah.
Terima kasih telah menjadi bunga yang menghiasi pohon tua ini.
Pergilah.
Bahagialah.
Walau itu artinya bukan denganku