Gadis penggambar komik dan cowok pemalu part 2.
catatan: ini kelanjutan dari cerpen Gadis penggambar komik dan cowok pemalu. Tapi timeline nya mundur ke sebelum Sinta dan Ali akrab di part 1.
Pada suatu jam istirahat, siswa-siswi SMP tengah asyik bermain bersama teman-temannya diluar kelas.
Tapi itu tidak berlaku untuk Ali.
Saat ini dia masih tidak mengerti apa itu hari Valentine karena di Indonesia dan bahkan di sekolahnya tidak ada yang namanya perayaan tersebut.
Ali lebih suka menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan, membaca buku-buku ilmiah dan teknologi yang menantang pikirannya. Dia tidak tertarik dengan hal-hal remeh seperti cinta atau pacaran. Baginya, itu hanya mengganggu konsentrasinya dalam belajar.
Tapi ada satu hal yang membuatnya penasaran. Di sudut perpustakaan, ada seorang gadis yang selalu duduk sendirian, sibuk menggambar di buku sketsanya. Gadis itu bernama Sinta, teman sekelasnya yang jarang berbicara dengan siapa pun. Ali pernah melihat hasil gambarnya, dan dia terkesan dengan bakatnya. Sinta menggambar komik dengan gaya Jepang, yang disebut manga. Ali tidak tahu banyak tentang manga, tapi dia merasa ada sesuatu yang menarik dari cara Sinta bercerita melalui gambar.
Suatu hari, Ali mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Sinta. Dia sedang berjalan menuju perpustakaan, ketika dia melihat Sinta hendak terjatuh di tangga. Ali dengan sigap segera menangkap SInta dan membantunya berdiri. Buku-buku dan alat gambar Sinta berserakan di lantai. Ali segera mengumpulkan barang-barang tersebut dan membantu Sinta.
"Kamu... Kamu tidak apa-apa?" tanya Ali dengan khawatir.
Sinta menatapnya dengan mata yang lebar. Dia tampak kaget melihat Ali yang menolongnya. "Eh, iya, aku baik-baik saja. Terima kasih ya," jawabnya dengan suara yang pelan.
Ali memberikan buku-buku dan alat gambar Sinta kepadanya. Dia melihat ada beberapa kertas disekitar clipboard, dan dia melihat gambar Sinta di dalamnya. Dia terkejut melihat gambar itu. Di halaman itu, ada gambar seorang cowok yang mirip dengan dirinya, sedang memberikan coklat kepada seorang cewek yang mirip dengan Sinta. Di atas gambar itu, ada tulisan "Happy Valentine's Day".
"Woah... Bagus sekali" Ali terpukau melihat hasil gambar tersebut.
Sinta memerah. “T-te-terima kasih!” ucapnya terbata-bata.
Ali semakin bingung. Dia tidak mengerti mengapa Sinta menggambar seorang cowok yang mirip dengannya dan dirinya sendiri ke dalam situasi romantis. Apakah itu yang disebut Valentine? Apakah itu yang diinginkan Sinta sebagai seorang gadis remaja puber?
Ali ingin tahu jawabannya. Dia ingin tahu lebih banyak tentang Valentine, tentang manga, tentang Sinta, dan tentu saja tentang cinta. Dia merasa ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Sesuatu yang aneh, hal yang baru tapi juga menyenangkan.
"Bolehkah aku melihat ini?" tanya Ali dengan hati-hati.
Sinta menatapnya dengan tak percaya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa malu, tapi juga senang.
Sinta mengangguk, kini mukanya memerah dan hati berdegup kencang, wajah mereka sangat berdekatan saat ini.
Ali tersenyum. Dia mengambil beberapa kertas itu dari clipboardnya Sinta, dan membaliknya lagi halaman per halaman. Dia melihat gambar-gambar lain yang digambar Sinta, yang semuanya berkaitan dengan cowok yang mirip dirinya dan Sinta. Dia merasa senang, tapi juga heran. Dia ingin tahu apa arti semua ini.
"Kamu... suka gambar seperti ini ya?" tanya Ali dengan polos.
Sinta menjerit. Dia buru-buru merebut kertas-kertas itu dari tangan Ali dan memeluknya erat.
"I-i-ini bukan apa-apa! Ini hanya imajinasiku saja! Ka-kamu jangan salah paham ya!" ucapnya dengan panik. Dia berlari menjauh. Dia merasa malu, tapi juga bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Ali mengejarnya. Dia ingin mendengar jawabannya. Dia ingin mengatakan sesuatu padanya. Dia ingin memberikan sesuatu padanya.
Tapi dia tidak tahu apa.
Ali tidak tahu apa itu Valentine. Dia tidak tahu apa itu cinta. Dia tidak tahu apa itu coklat.
Dia hanya tahu bahwa dia penasaran.
Dan dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan jawabannya.
Beberapa waktu yang lalu Ali bertemu dengan Vita, salah satu teman gadisnya di kelas. Vita adalah seorang gadis yang ceria, ramah, dan suka membantu. Dia juga suka membaca manga, dan sering berbagi cerita dengan Sinta. Ali berpikir bahwa Vita mungkin bisa memberinya saran tentang masalahnya dengan Sinta.
"Vita, aku mau tanya," kata Ali dengan ragu.
"Ya, apa itu, Ali?" tanya Vita dengan senyum.
"Kamu tahu tentang hari Valentine enggak?" lanjut Ali.
"Valentine? Oh itu ya? Tentu saja. Itu kan hari di mana orang-orang memberikan coklat kepada orang yang mereka sukai. Emang kenapa? Oh, jangan-jangan..." tanya Vita dengan penasaran, “Lo udah punya gebetan ya sekarang?” sorot tajam matanya menuju ke Ali.
"EH, ENGGAK GITU LAH!” dengan spontan Ali menjawabnya, kemudian dengan jujur Ali melanjutkan, “Sebenarnya... aku.... Aku sama sekali ga tau apa itu Valentine. Aku gak tau cinta tuh yang kayak gimana," jawab Ali dengan jujur.
Vita terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Hah? Masa sih? Cowok sekeren seganteng kayak kamu ini gatau? Seriusan, Li?" tanyanya dengan takjub.
"Ya beneran, aku bingung, emangnya Valentine tuh apaan sih? Bantuin gue dong, VIt.," kata Ali dengan memelas.
Vita menghela napas. Dia merasa kasihan pada Ali, yang tampak begitu polos dan bodoh. Dia berpikir bahwa Ali mungkin membutuhkan sedikit pendidikan tentang hal-hal romantis. Dia memutuskan untuk membantu Ali, dengan harapan bahwa Ali akan menjadi lebih pintar dan lebih berani.
"Oke, Baiklah, gue bakalan bantuin Lo. Tapi dengerin baik-baik soal saran-saran gue ya, oke?" kata Vita dengan tegas.
"Oke, siap, komandan! Udah kuduga kamu tuh orang yang bisa aku andelin," kata Ali dengan bersyukur.
Vita tersenyum. Dia merasa senang bisa membantu Ali, yang tampak begitu lugu dan manis. Dia berpikir bahwa Ali mungkin bisa menjadi cowok yang baik, jika dia mau belajar dan berusaha.
"Oke, pertama-tama, coba lo cari tentang Valentine di buku-buku yang ada di perpustakaan. Gue bakalan kasih lo beberapa judul buku-buku yang bagus buat pelajari itu semua," kata Vita sambil menuliskan beberapa daftar tersebut kedalam bukunya Ali.
Ali sangat memperhatikan Vita. Dia berharap segera bisa menemukan jawaban yang dia cari.
***
Setelah membaca beberapa buku tentang Valentine, Ali merasa lebih paham tentang hari itu. Dia mengetahui bahwa Valentine adalah hari di mana orang-orang memberikan coklat kepada orang yang mereka sukai, sebagai tanda cinta atau pengakuan. Dia mengetahui bahwa di Jepang, ada dua jenis coklat yang diberikan pada hari itu. Satu adalah coklat wajib, yang diberikan kepada teman, keluarga, atau rekan kerja sebagai tanda hormat atau persahabatan. Yang lain adalah coklat istimewa, yang diberikan kepada orang yang disukai secara romantis, sebagai tanda cinta atau pengakuan.
Ali merenung. Dia bertanya-tanya, apakah Sinta ingin ada cowok yang memberinya coklat istimewa? Apakah Sinta menyukainya? Ali memutuskan untuk mencari tahu. Dia memutuskan untuk memberikan coklat kepada Sinta, dan melihat reaksinya.
Tapi dia juga tidak mau teman-teman gadisnya di kelas berfikir bahwa Ali orang yang tidak adil yang mungkin juga berharap mendapatkan coklat darinya. Dia memutuskan untuk memberikan coklat wajib kepada mereka semua, sebagai tanda persahabatan. Ali pergi ke toko coklat, dan membeli banyak coklat dengan berbagai macam rasa dan bentuk. Dia memilih yang terbaik khusus untuk Sinta, yang berbentuk hati dan berwarna merah muda. Dia menyimpannya di dalam kotak khusus, dan menulis nama Sinta di atasnya. Dia berencana untuk memberikannya pada hari Valentine, yang jatuh pada tanggal 14 Februari.
***
Hari itu tiba. Ali membawa coklat-coklatnya ke sekolah, dan meletakkannya di meja masing-masing siswi yang ada diseluruh kelas di sekolahnya, kecuali coklat untuk Sinta. Dia menunggu saat yang tepat untuk memberikannya kepada Sinta. Dia berharap Sinta akan menerimanya dengan senang hati, dan mungkin juga memberinya coklat istimewa balik.
Tapi rencananya tidak berjalan mulus. Saat jam istirahat, dia melihat ada banyak siswa yang sudah berkumpul di depan kelas masing-masing. Mereka tampak heboh dan riuh. Ali heran, ada apa gerangan?
Ali mendekati kerumunan itu, dan mencoba mencari tahu. Dia mendengar beberapa percakapan dari beberapa siswi yang membuatnya kaget.
"Wah, kamu dapat coklat ya? Dari siapa tuh?" tanya seorang siswi kepada temannya.
"Gak tau. Aku dapet ini dari laci meja aku. Kamu juga dapat?" jawab temannya.
"Iya, gue juga. Tapi isinya beda, kelihatannya lebih mahal dari punyamu deh. Nih lihat, ada tulisan 'I Love You' di atasnya. Kira-kira dari siapa ya?" kata siswi itu sambil menunjukkan coklatnya.
"Wow, beruntung banget!” suara siswi lainnya yang mendapatkan hal yang sama.
“Kamu dapet juga ya? Apa jangan-jangan itu dari pacar kamu?” tanya siswi lain yang juga mendapatkan coklat.
"Enggak, enggak mungkin pacarku bisa beli coklat mahal begini." kata cewek itu dengan malu-malu. “Menurutmu siapa ya yang bisa beli coklat semahal ini?”
"Hm... Siapa ya?" Ucapnya sambil menatap mengarah ke Ali dari kejauhan.
Mendengar percakapan itu, Ali cukup kaget dan merasa bingung. Dia tidak tahu bahwa ada beberapa cewek yang suka sama dia. Dia tidak tahu bahwa ada cewek yang mengharapkan coklat darinya. Dia tidak tahu bahwa dia telah membuat kesalahan besar.
Ali baru saja menyadari bahwa ini adalah tindakan fatal yang mengakibatkan seluruh siswi di sekolahnya menjadi salah paham. Karena pada pagi hari ini, dia tidak hanya telah menaruh sebuah surat di laci meja Sinta, tapi juga menaruh coklat di laci meja semua cewek di kelasnya. Dan tidak hanya itu, dia juga menaruhnya di laci meja semua cewek di sekolahnya, termasuk meja ketua OSIS. Dia telah melakukan sebuah kesalahan besar selama hidupnya.
Ali merasa panik. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Ali berlari menuju kelasnya, berharap bisa mengambil kembali coklat-coklat yang tersisa sebelum diambil siswi-siswi di kelasnya dan berusaha meletakkan coklat spesial khusus untuk Sinta. Tapi ternyata, dia sudah terlambat. Ketika dia sampai di kelasnya, meskipun Ali berhasil meletakkan coklat untuk Sinta tanpa dicurigai, dia melihat ada banyak cewek yang sudah masuk. Mereka tampak senang dan girang. Mereka menemukan coklat-coklat yang mereka dapatkan dari laci meja mereka.
Ketika Ali kembali ke tempat duduknya, dia melihat Sinta sedang dikerumuni oleh beberapa cewek dan cowok dari kelas lain, yang memuji keahliannya menggambar. Sinta tampak senang, tapi juga malu. Ali merasa kagum, dan juga iri. Dia ingin mendekati Sinta, dan memberinya pujian juga. Tapi dia juga tidak berani.
Dia memutuskan untuk menunggu sampai Sinta selesai berbicara dengan mereka, dan kemudian mendekati Sinta. Tapi sebelum dia bisa melakukannya, dia dihentikan oleh beberapa gadis dari kelasnya.
Tamatlah riwayat Ali, sepertinya siswi-siswi dikelasnya mulai menaruh curiga kepada Ali dan mencoba mulai menginterogasi Ali dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan perihal coklat tersebut.
Sinta juga melihat Ali. Dia melihat Ali yang diberi perhatian oleh banyak gadis. Dia merasa sedih, dan juga kecewa. Dia berpikir bahwa Ali adalah seorang cowok yang tidak setia, yang suka bergaul dengan banyak gadis. Dia berpikir bahwa Ali tidak peduli padanya, dan hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Dia berpikir bahwa Ali tidak pantas mendapat coklat istimewa darinya.
Sinta memutuskan untuk mengabaikan Ali, dan menerima pujian dari cewek dan cowok lain. Dia berpura-pura tersenyum, dan mengucapkan terima kasih. Dia berpikir bahwa mungkin ada cewek atau cowok lain yang lebih baik daripada Ali. Dia berpikir bahwa mungkin dia bisa melupakan Ali, dan mencari teman yang baru.
Tapi dia salah. Dia tidak bisa melupakan Ali. Dia tidak bisa mencari teman yang baru. Dia hanya bisa menyukai Ali.
Dan dia tidak tahu bahwa Ali juga suka padanya.
***
Keesokan harinya, Ali masih merasa bersalah dan sedih karena telah membuat kehebohan di sekolah dengan membagikan coklat kepada semua gadis, bahkan dia juga kena ceramahi oleh ketua OSIS karenanya. Ketua OSIS sempat salah mengira bahwa Ali adalah seorang playboy. Kini dia masih merasa cemas dan takut karena telah diinterogasi oleh para gadis yang merasa perasaannya telah dipermainkan. Dia masih merasa malu dan bodoh karena telah diberi julukan "Alibaba" oleh para gadis yang menertawakannya. Dimana menurut gadis-gadis disekolahnya Ali cocok mendapatkan gelar itu karena Alibaba cukup terkenal suka menggoda wanita-wanita dalam cerita dongeng. Dia masih merasa menyesali perbuatannya yang membuat Sinta yang perlahan mengabaikannya.
Ali ingin memperbaiki semuanya. Dia ingin meminta maaf kepada semua gadis yang telah dia sakiti. Dia ingin menjelaskan kesalahpahaman ini kepada semua gadis yang telah dia kecewakan. Dia ingin menghapus julukan "Alibaba" yang telah dia dapatkan.
Ali melihat Sinta dari keajuhan. Dia melihat Sinta masih membawa coklat yang paling besar dan paling indah. Dia melihat Sinta membuka coklat itu, dan menemukan sebuah surat di dalamnya. Dia melihat Sinta membaca surat itu, dan menatapnya dengan mata yang berbinar.
Ali merasa lega. Dia berpikir bahwa mungkin Sinta akan mengerti maksudnya. Dia berpikir bahwa mungkin Sinta akan menerima coklatnya. Dia berpikir bahwa mungkin Sinta akan menyukainya.
Tapi ternyata, dia salah. Sinta tidak mengerti maksudnya. Sinta tidak menyukainya.
Sinta membaca surat itu, dan merasa marah. Dia membaca surat itu, dia merasa sakit dan merasa kecewa.
Memang Surat itu berisi kata-kata manis dan membuat gadis lain mungkin akan luluh padanya. Namun itu tidak berefek pada Sinta.
Surat itu berbunyi:
"Halo, Sinta. Aku ingin memberimu coklat ini, sebagai tanda terima kasih dan penghargaan atas karyamu. Aku suka gambarmu, dan aku ingin tahu lebih banyak tentang manga. Aku tidak tahu apa itu Valentine, tapi aku banyak belajar itu dari kamu, yah selan dari internet dan buku-buku juga sih. Aku berharap kamu suka coklat ini, dan mungkin juga aku. Tapi jangan salah paham ya, bukannya aku suka sama kamu. Aku hanya penasaran dan ingin berteman denganmu. Aku hanya ingin belajar banyak soal cinta dan perasaan darimu. Aku hanya ingin menikmati sekolah ini denganmu. Aku hanya ingin bercanda denganmu. Aku hanya ingin menggodamu. Aku hanya ingin..."
Surat itu tidak ditandatangani. Surat itu tidak menyebutkan nama pengirimnya. Surat itu bahkan kesannya seperti cowok tsundere ketimbang cowok yang benar-benar suka padanya.
Sinta merasa tersinggung. Dia merasa direndahkan. Dia merasa diolok-olok.
Sinta menatap Ali dengan tatapan yang tajam. Dia menatap Ali dengan tatapan yang dingin. Dia menatap Ali dengan tatapan yang membunuh.
Sinta berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju Ali. Dia membawa coklat dan surat itu di tangannya. Dia mendaratkan tangannya beserta surat itu ke wajah Ali. Dia berteriak dengan keras.
"Dasar MESUM! Kamu! Ka-kamu, Kamu yang memberiku coklat ini kan? Kamu yang menulis surat ini, bukan?"
Saat Sinta dan Ali bertengkar hebat, Vita memperhatikan mereka dan merasa cukup menyesal telah mengajarkan Ali akan hal tersebut.
Kelas saat ini menjadi riuh dan ramai karena keributan pasangan ini.
(TAMAT?)