Aku tau ini sulit, tetapi aku mencintaimu. Aku merasakan kenyamanan di dekatmu. Entah nyaman seperti apa. Yang jelas ini berbeda. Cintaku adalah sulit kuungkap padamu. Namun, aku yakin kau merasakannya. Kau selalu menghindar. Bagaimana kita dapat bertemu. Kau pasti berusaha menjauhiku. Tapi aku ingin mendekatimu. Kau melindungiku dengan segala caramu. Tetaplah, kau tidak ada di dekatku. Itu kurasakan sekali. Serangan yang ingin membunuhku, akan kau lenyapkan. Kau tak pernah mencintaiku.
Siapapun yang menggangguku, kau akan hancurkan. Dilain hal kau telah menghancurkan hatiku. Kau masih tak perduli. Tidakkah kau memikirkan itu? Kumencarimu ke mana-mana. Yang kutemukan hanya bayanganmu. Bayangan hitam yang sendu, muram dan terlihat patah. Aku merasakannya.
Sekelebat, wajahku terkena cakaran. Lalu suara menggelegar terdengar. Kau begitu marah. Entah pada siapa. Aku memang tak pernah tau. Kau tak memberitahuku. Cakaran itu membekas di bagian bawah pipi kananku. Sejak itu kau menjadi sering geram dan murka. Jika melihat luka di pipiku. Aku kadang berpikir kau menyayangiku. Tetapi semuanya aneh. Apakah ada satu hal yang belum kusadari?
Aku terlindungi olehmu. Meski kau tak nampak olehku. Kau pernah bilang kalau kau akan menjag dari siapa? Kau siapa? Kenapa kau selalu murka? Jika ada yang menggangguku? Masih saja aku memikirkannya. Aku belum temukan titik terangnya.
"Aku mencintamu," itu katamu. Masih mengiang di telingaku.
Tetapi aku merasa kau tidak mencintaiku.
"Jika kamu mencintaiku, kenapa kamu selalu menghindariku?" Tanyaku suatu hari.
"Ada apa?"
"Aku, aku belum siap jelaskan semua ini padamu," ucapmu.
Aku terdiam. Aku sebenarnya bingung. Tidak tau harus berbuat apa lagi.
Aku sering bersamanya dahulu. Kami berjalan menyusuri bebatuan, kadang pasir. Ke manapun kami melangkah, selalu ada cinta di dalamnya.
Bercanda, tertawa. Seolah saat itu, tempat kami berdiri adalah hanya milik berdua. Dia selalu membelaiku sesekali. Menunjukkan perhatian penuh padaku.
Beiringnya waktu. Walau kebersamaan kami tidak berlangsung lama. Kamipun terpisah. Semuanya tiba-tiba. Kau menghilang bagaikan ditelan waktu. Begitu cepat.
Aku sendirian. Hanya meratapi nasib kerinduanku yang amat mendalam, padamu.
Sering aku merasakan kedinginan. Disetiap malam hari. Lalu kurasa seolah kau ada di sampingku. Memelukku. Dan aku begitu cepat tertidur.
"Aku akan menjagamu selamanya," itu katamu suatu hari sewaktu kita duduk di taman samping rumahku. Nadamu begitu amat tulus. Sehingga aku mengira kau serius.
"Kalau begitu, jangan pernah tinggalkan aku," kalimat yang terlontar dariku, membuatmu terdiam membisu. Entah apa yang tengah kau pikirkan. Jawaban untukku kah?
Kamu hanya menggeleng lembut, sembari melempar senyum manismu. Aku tersipu.