“Aku tahu ini sulit, tapi sungguh… aku mencintaimu.”
Kalimat itu selalu terngiang di kepalaku, setiap kali aku mencoba memahami siapa dirinya sebenarnya. Di dekatnya, hatiku terasa tenang seperti tak pernah merasa sebelumnya. Ada kenyamanan yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata—berbeda dari apa pun yang pernah kurasakan, hangat namun terasa begitu rahasia. Cintanya begitu besar, namun selalu terasa berat untuk ia ungkapkan sepenuhnya. Meski begitu, aku yakin hatinya memancarkannya, walau ia selalu berusaha menjauh.
Kenapa kita harus bertemu jika pada akhirnya ia malah menghindar? Seolah ada tembok tinggi yang sengaja ia bangun di antara kita, padahal matanya selalu memohon agar aku tetap tinggal. Ia melindungiku dengan segala cara yang ia miliki, namun tubuhnya seolah tak pernah benar-benar ada di sisiku. Aku merasakannya, setiap detiknya.
Setiap kali ada bahaya mengintai, setiap kali ada orang yang berniat menyakitiku, ia selalu datang menghancurkannya tanpa ampun. Tak ada yang bisa melukai aku selama ia berjaga. Tapi di sisi lain, justru dialah yang tanpa sadar membuat hatiku terluka mendalam dengan sikapnya yang tak menentu. Apakah ia tak pernah berpikir bagaimana rasanya ditinggalkan dalam ketidakpastian?
Aku pernah mencarinya ke mana saja, berharap menemukan jawaban. Namun yang kutemukan hanyalah bayangan tubuhnya—sesosok tinggi yang berjalan perlahan, terlihat sendu, muram, dan patah hati. Bahkan dari balik kegelapan itu, aku bisa merasakan kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Suatu malam yang kelam, kejadian itu terjadi. Sekelepat saja, sesuatu melesat cepat dan cakar tajam melukai bagian bawah pipi kananku. Darah menetes perlahan, dan sebelum aku sempat berteriak, terdengar suara raungan menggelegar membelah sunyi. Suara itu begitu dahsyat, penuh amarah yang meledak seketika. Ia marah, begitu marah—entah pada makhluk yang melukai aku, atau pada dirinya sendiri karena tak bisa melindungiku lebih baik lagi.
Sejak luka itu membekas di pipiku, sifatnya berubah total. Ia sering kali terlihat gelisah, matanya menyala penuh amarah setiap kali melihat bekas luka itu. Kadang aku berpikir, ia benar-benar menyayangiku. Namun semua ini terasa terlalu aneh. Selalu ada bagian dari dirinya yang tersembunyi, rahasia yang tak pernah ia ungkapkan. Apakah selama ini ada kebenaran yang belum kusadari?
Namun satu hal yang pasti: aku selalu terlindungi. Meski ia tak selalu terlihat oleh mataku, kehadirannya terasa nyata. Ia pernah berjanji akan menjagaku, namun pertanyaan selalu berputar di kepalaku—siapa dirinya sebenarnya? Kenapa ia harus selalu murka jika ada yang menggangguku? Mengapa ia tak bisa menjadi biasa saja, seperti kekasih lain pada umumnya?
Kalimat yang pernah ia ucapkan dulu masih terngiang jelas di telingaku: “Aku mencintaimu, lebih dari nyawaku sendiri.”
Namun aku sering ragu. Jika ia benar-benar mencintaiku, kenapa ia selalu menjauh? Akhirnya suatu hari, aku berani bertanya jujur, memandang matanya dalam-dalam.
“Jika kamu benar-benar mencintaiku, kenapa selalu ada jarak di antara kita? Kenapa kamu menghindar seolah takut sesuatu akan terjadi?”
Ia terdiam lama, napasnya terasa berat. Wajahnya terlihat kesakitan mendengar pertanyaanku itu.
“Ada alasannya, Sayang… aku belum siap menjelaskan semuanya padamu. Belum waktunya bagimu mengetahui siapa diriku sebenarnya,” jawabnya lirih, suaranya bergetar menahan sesuatu yang ingin meluap.
Aku hanya bisa terdiam. Bingung, bimbang, namun hatiku tetap memilih untuk percaya. Mengingat kembali masa-masa indah yang pernah kita lewati bersama.
Dulu, kita sering berjalan berjam-jam—menyusuri bebatuan tebing yang berhembus angin sejuk, melintasi hamparan pasir pantai yang hangat. Ke mana pun kaki melangkah, rasanya cinta selalu mengikuti langkah kita. Kita tertawa, bercanda, seolah seluruh dunia hanya milik kita berdua. Ia selalu membela aku, selalu mendahulukan kebahagiaanku, memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tak kusadari sendiri.
Namun semua itu tak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, ia semakin jarang muncul, sampai akhirnya ia menghilang begitu saja seolah ditelan waktu. Begitu cepat, tanpa pesan perpisahan apa pun.
Aku ditinggalkan sendirian, meratapi rindu yang makin lama makin dalam. Tapi anehnya, setiap malam saat aku merasakan kedinginan dan kesepian melingkupi tubuhku, tiba-tiba terasa ada kehangatan memelukku erat. Pelukan yang lembut namun kokoh, seolah melindungiku dari segala ketakutan malam itu. Dalam pelukan itu, aku selalu bisa tidur lelap seketika.
Aku ingat janjinya, saat kita duduk berdua di bangku taman samping rumahku. Cahaya rembulan menyinari wajahnya, dan suaranya terdengar begitu tulus, penuh ketegasan.
“Aku akan menjagamu selamanya. Tak ada satu pun bahaya yang akan menyentuhmu selama aku masih bernapas,” ucapnya waktu itu.
Mendengarnya, aku hanya bisa tersenyum bahagia, lalu melontarkan harapan yang paling dalam di hatiku.
“Kalau begitu… jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah di sini, bersamaku selamanya.”
Begitu kata-kata itu keluar, wajahnya berubah seketika. Ia terdiam membisu, matanya berkaca-kaca seolah menahan tangis yang tak boleh tumpah. Lama ia memandangku, seolah ingin mengingat setiap lekuk wajahku agar tak pernah lupa.
Akhirnya ia hanya menggeleng perlahan, lalu melempar senyum yang manis namun terasa begitu menyedihkan. Senyum yang penuh janji rahasia.
“Aku takkan pernah benar-benar pergi… bahkan jika kau tak melihatku lagi,” bisiknya lembut.
Saat itu aku hanya tersipu malu, membenamkan wajah di dadanya yang terasa begitu hangat. Belum kusadari sepenuhnya bahwa di dalam pelukan itu, tersembunyi rahasia besar: kekasihku yang lembut itu sesungguhnya adalah makhluk yang dikutuk—serigala yang bisa berubah wujud menjadi manusia. Ia menjauh bukan karena tak mencintaiku, tapi justru karena ia terlalu mencintaiku. Ia takut sifat buasnya suatu hari akan melukai orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Dan begitulah kisah kita berakhir. Ia memilih hidup dalam kegelapan, menjadi pelindung yang tak terlihat. Namun cintanya tak pernah pudar. Ia tetap menjagaku, mencintaiku dari balik bayang-bayang, membuktikan bahwa cinta sejati tak butuh wujud untuk tetap ada—ia cukup hidup di hati, selamanya.