Marsyanda Hermawan adalah seorang gadis cantik dan pandai. Dua tahun lalu dia menikah dengan seorang direktur sekaligus pemegang saham terbesar di kota. Marsaya begitulah orang sering memanggilnya. Dia terpaksa menikah dengan orang yang tak dia kenal karena ingin membantu perusahaan ayahnya yang hampir saja kolep karena kariawan yang culas. Dengan menikah dia mendapatkan bantuan dari kakek suaminya. Suami yang bahkan tak pernah menganggapnya ada. Hans Imanuel itulah nama pria yang menikah dengan Marsya. Mereka menikah tanpa melihat satu sama lain karena Hans yang di paksa oleh kakeknya. Bahkan Marsya melihat wajah suaminya dari media sosoial.
Setelah selesai menikah Marsya pun melanjutkan kuliahnya di Jerman karena dia ingin membantu ayah nya mengurus perusahaan yang baru di bangun dengan susah payah.
Setelah lulus dengan nilai terbaik Marsya pun kembali kenegaranya. Dia ingin mencari pengalaman kerja di kota asalnya.
Di pagi hari itu Marsya mulai bekerja di bekas perusahaan milik ayahnya yang dulu di jual untuk membangun perusahaan yang baru.
"Hai... Kamu kariawan baru ya". Seorang gadis cantik menyapanya. Marsya hanya mengangguk dengan pelan. " Aku Fera kita sekarang rekan kerja". Kata gadis cantik itu sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Marsya... Senang berkenalan dengan mu". Jawab Marsya sambil menjabat tangan teman barunya. " Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik". Imbuh Marsya.
"Marsya kamu sudah datang, semoga kamu betah bekerja di sini". Kata seorang pria yang usianya tak jauh darinya, kalau di lihat dia berumur 30 tahun.
" Ya pak, terimakasih sudah memberikan ku kesempata untuk bekerja di sini". Jawab Marsya sambil membungkukkan badan.
Roy andreas adalah pemilik perusahaan yang kini sedang berbicara denga Marsya. "Kamu lukusan terbaik tahun ini, saya sangat mengandalkanmu". Begitulah bosnya yang begitu merendah kepada Marsya. "Jadi selamat bekerja, dan semoga kamu betah di sini". Imbuh bosnya sambil tersenyum. Setelah itu bosnya pun pergi. Dan Marsya pun duduk dan mulai bekerja.
"Apa proyek kita kali ini? ". Tanya Marsya kepada rekan kerjanya.
" Ini ada beberapa kliennya yang harus kita rayu". Mendengar kata rayu dari Fera sontak Marsya pun membulatkan matanya.
"Apa kita harus merayu klien kita? ". Tanya Marsya dengan bingung kepada Fera.
" Ah.... Bukan merayu yang seperti itu Marsya, maksud ku merayu agar dia mau menjadi klien kita, ya seperti meyakinkan orang agar percata sama perusahaan kita". Fera menjelaskan kepada Marsya yang masih bengong.
"Ah... Aku kira merayu yang begituan". Kata marsya sambil tersenyum kepada Fera.
" Ya sudah kita mulai bekerja, Aku akan membuat rancangan untuk klien baru kita". Kata Marsya dengan semangat.
Mereka pun bekerja bersama. Hari pertama bekerja tidak ada kesulitan, hingga jam kantor pun selesai. Marsya membereskan barangnya untuk bersiap pulang.
"Marsya tunggu sebentar". Mendengar suara bosnya Marsya dan fera pun menghentikan langkahnya.
" Ada apa pak". Tanya Marsya dengan penasaranya.
"Kalian berdua bisa mewakili perusahaan dalam pertemuan bisnis nanti malam, mungkin saya tak bisa datang, kalian saja yang datang ya..!". Pinta bosnya kepada Marsya dan temannya.
" Baik lah pak ". Jawab Marsya dengan santainya. Tetapi temannya agak kurang setuju karena dia tak pernah menghadiri pesta pertemuan yang seperti itu.
" Oke... Ini undangannya, kamu jangan terlambat,". Pinta bosnya kepada Marsya.
Setelah memberikan undangan bosnya pun pergi meninggalkan marsya dan temannya.
"Sya.. Kamu yakin mau hadir di pertemuan itu, karena yang aku tahu akan banyak pengusaha kaya yang datang". Kata Fera dengan cemas.
" Yakin dong, kalau gitu kita cari gaun pesta yuk, pasti kita akan terlihat sangat cantik". Kata Marsya dengan menarik Fera.
Marsya menarik Fera ke parkiran. "Kamu tadi naik apa fer...?". Tanya Marsya sambil toleh sana sini, karena dia hanya melihat mobilnya di sana.
" Aku naik taksi". Jawab Fera dengan pelan.
"Oke, kita kebutik yuk nanti aku antar kamu pulang setelah dari butik". Kata Marsya Sambil membukakan pintu mobil untuk Fera .
Fera melihat mobil Marsya yang terlihat sangat mewah. " Mobil mu bagus Sya...!". Kata Fera sambil kagum.
"Mobil pinjaman kok, biar kelihatan keren aja, kerja pertama bawa mobil mewah". Bohong Marsya kepada temannya, Marsya tak ingin temannya merasa minder karena setatus sosial yang berbeda.
Marsya pun melajukan mobilnya menuju butik yang tak jauh dari perusahaan. Sesampainya di butik Marsya pun memilih baju untuk Fera. Dia pun menyuruh Fera untuk mencobanya.
"Sya ini gak perlu, ini terlalu mahal". Kata Fera sambil melihat bandrol yang ada di gaunnya.
" Gak papa, kamu pakai ini nanti malam biar terlihat cantik". Marsya membelikan gaun untuk temannya, tetapi dia tak membeli apa pun.
"Kamu gak beli untuk dirimu Sya". Kata temannya yang merasa tak enak kepada Marsya.
" Tenang saja aku masih punya di rumah, nanti aku pakai yang ada saja". Kata Marsya sambil tersenyum kepada temannya.
"Makasih ya Sya". Kata Fera dengan senyum manis kepada Marsya.
" Ya sudah aku antar kamu pulang ya,". Kata marsya sambil menggandeng Fera.
Marsya pun mengantarkan Fera pulang. Cukup jauh dari butik tepatnya di pingiran kota. Disanalah Fera menujukkan arah kepada Marsya. Marsya pun di suruh berhenti di depan rumah sederhana.
"Ini rumah ku Sya". Kata Fera sambil membuka pintu mobil. " Ayo mampir dulu". Kata Fera dengan canggung.
"Lain kali saja Fer, sudah sore nih, kita harus bersiap untuk ke pertemuan itu, nanti jam 7 aku jemput ya". Kata Marsya sambil senyum manis.
Fera pun mengangguk dan setelah itu marsya pun pergi. Marsya pun sampai di apartemen nya. Dia merebahkan diri karena sangat lelah, hari pertama dia kerja langsung membuat disain yang rumit.
Malam harinya Marsya pun bersiap untuk pergi ke pesta pertemuan itu. Tak lupa dia menjemput temannya yang sudah menunggunya di depan rumah.
"Aku takut Sya, nanti aku harus gimana disana". Fera agak cemas karena tak pernah mengikuti acara yang seperti itu.
" Diam saja nikmati hidangan yang ada, dan dengarkan saat acara di mulai". Marsya menjelaskan seperti seorang yang berpengalaman.
"Kamu seperti suhu saja lah". Canda Fera kepada marsya.
" Aku sering menghadiri acara seperti ini saat kuliah dulu". Marsya tak ingin temannya mengetahui kebenaran tentang dirinya.
Tak lama pun sampai di tempat pesta, dan terlihat begitu banyak orang di sana. Marsya pun menggandeng Fera. Pesta yang di adakan di sebuah hotel bintang lima itu terlihat sangat meriah dan elegan. Marsya yang telah dan Fera masuk dengan undangan yang di berikan oleh bosnya tadi.
"Banyak orang kaya di sini Sya". Kata Fera sambil melihati tamu yang sudah datang.
" Carilah satu untuk tambang emas di rumah fer... ". Canda Marsya kepada temannya.
" Apaan sih..!". Kesal Fera sambil menyenggol tangan Marsya dengan pelan.
Tak lama pun datang seorang peria tampan, dia memiliki tubuh tegap dan tinggi, semua barang yang dia kenakalan terlihat mewah dan mahal.
"Itu Tuan Hans, dia susah datang". Kata salah satu tamu yang tak jauh dari tempat Marsya berdiri. Mendengar itu pun sontak Marsya menatapnya dengan tajam. Itulah tampang suaminya. Suami yang tak pernah menganggapnya ada. Hans yang tak mengenali istrinya pun tak tahu kalau istrinya berada di tempat yang sama dengannya.
Hans pun duduk di sofa sambil minum. Tak lama pun ada seorang gadis yang mendekatinya.
"Halo tuan Hans, anda terlihat sangat tampan". Kata gadis itu sambil duduk di samping nya.
Hans cuek dan tak menghiraukan apa yang gadis itu bicara kan. Sementara itu Marsya yang masih memandang suaminya yang sedang di goda seorang gadis pun tiba-tiba di sapa seseorang.
"Hei... Marsya, aku gak salah lihat nih, kamu kemana saja?, kaburya karena menjadi orang miskin? ". Sapaan dan hinaan ya bersamaan membuat Marsya mengepalkan tangan.
" Ah... Nona Gebby ya, dulu teman sekarang menghina, sungguh orang yang cerdas". Jawaban Marsya yang begitu santainya.
"Marsya.... Marsya, pertemanan itu dulu, sekarang kamu sudah tak selevel dengan ku lagi, kamu cuma pantas menjadi pembantu di rumah ku saja". Gebby masih saja menghina Marsya.
Marsya yang tak mau membuat keributan pun mencoba mengalah. " Nona Gebby sepertinya senang sekali menghina ku ya, sebenarnya apa mau mu?".
Gebby yang juga bersama teman-temannya pun tersenyum seringai seperti merencanakan sesuatu. "Minum lah ini". Pinta Gebby sambil menyodorkan segelas minuman bening berwarna merah cery kepada Marsya. Marsya yang enggan berdebat lagi dengan Gebby pun dengan cepat mengambil gelas itu agar Gebby pergi dengan puas hati.
Benar saja setelah Marsya menerima minuman itu Gebby pun pergi. Teman Marsya yang bingung pun cuma melihat saja.
"Tadi teman SMA ku, dulu dia dekat sekali dengan ku, sekarang ya kayak gitu...!". Keluh Marsya kepada temannya.
" Ya setatus sosial sangat beeepngaruh pada zaman sekarang ini, sungguh di sayang kan". Fera pun memahami hal itu.
Marsya pun meminum minuman yang tadi di berikan oleh Gebby kepadanya, setelah beberapa menit menegaknya Marsya pun merasakan pusing.
Gebby yang merencanakan sesiatu kepada Marsya pun segera mendatangi Marsya yang sudah terkena obat,
"Marsya kamu gak papa". Fera panik melihat Marsya yang mendadak terhuyng.
" Biar saya yang membantunya". Tiba-tiba Gebby menarik Marsya yang sudah terhuyung. Gebby dan temannya pun membawa Gebby ke arah kamar hotel. Marsya yang menyadari bahaya akan datang kepadanya pun segera mendorong Gebby dan temannya. Alhasil mereka bersua pun terjatuh, kesempatan itu di gunakan Marsya untuk melarikan diri dari mereka, dengan terhuyung Marsya pun menjauh dari mereka. Obat yang sudah berekasi di dalam tubuhnya pun membuat kesadaranya semakin berkurang.
Disaat kesadaran tinggak sejengkal tiba-tiba ada yang menarik Marsya dan membawanya masuk kedalam kamar.
"Ah.... ". Teriak Marsya karena terkejut. Marsya di tarik seorang peria dari kamar.
" Tuan... Aku mohon jangan macam-macam". Pinta Marsya kepada pria itu. Pria itu sepertinya tak ingin mengabulkan keinginan marsya. Marsya pun di lempar di atas kasur. Kesadaran marsya yang sudah menipis pun mulai melakukan hal yang membuat sipria makin panas.
Marsya dengan tidak sadar merayu sang pria. Sang pria pun melakukan apa yang biasa di lakukan seorang pria normal. Meraka pun melakukan hubungan ranjang dan saling menikmati malam bersama.
Setelah efek obat menghilang Marsya pun terbangun. "Akkh... Sakitnya tubuh ku serasa remuk". Saat membuka mata Marsya merasakan tubuhnya yang semuanya terasa remuk dan sakit semua.
" Ah... Dimana pakaian ku?". Marsya pun menyadari dirinya yang sudah tak mengenakan pakaianya. Menyadari sudah terjadi hal yang di luar nalar dia pun menoleh di sebelahnya. Marsya pun melihat seorang pria di sampingnya yang masih tidur dengan nyenyak.
"Hans...kenapa aku bisa tidur dengan dia sih... ". Marsya tak mau banyak berfikir dia pun segera bangun dan mengenakan pakaiannya lagi. Walau pun merasakan perih Marsya mencoba bergegas pergi dari kamar itu.
Disaat mau membuka pintu tiba-tiba ada yang berbicara. " Mau pergi tanpa meminta uang kompensasi dari ku?". Tanya seorang pria yang masih duduk di atas kasur.
Marsya menghentikan langkahnya karena mendengar suara dari belakang, dia pun berbalik badan dan menatap pria itu. "Tuan maaf ini salah faham". Katanya sambil tersenyum canggung kepada Hans.
" Set... Aku tak mau meneriam sesuatu dengan cuma-cuma". Mendengar perkataan itu, Marsya pun mengerutkan alisnya.
Hans pun melempar kartu kredit tepat di kaki Marsya. "Itu kompensasi untuk mu". Melihat hal itu Marsya merasa kesal. Karena dia merasa di hina suaminya sendri.
"Tuan Anda salah faham, saya di jebak teman saya". Marsya pun menjelaskan kepada Hans. Hans tak mempersulikan apa yang di katakan Marsya karena mendengar HP nya berdering.
" Ya.... Halo". Hans mengangkat telfon, disaat yang bersamaan Marsya pun keluar dari kamar karena teringat dengan temannya.
"Sial..kenapa aku merasa terhina oleh suami sendri". Racau Marsya sambil berjalan kearah luar hotel.
Di kamar Hans melihat wanita yang tadi sudah menghilang dan melihat kartu kredinya masih tergeletak di lantai.
" Wanita tadi tak mengambil kartu dari ku". Kata hans sambil menoleh ke arah kasur.
"Tuan.. Tadi wanita yang mengerjai anda?". Tanya asisten Hans sambil melihat kearah yang sama dengan bosnya.
" Bukan dia,yang mengerjai ku anak dari Hendra Wijaya, aku mau kamu menghancurkan perusahaan Hendra dalam waktu seminggu". Titah Hans kepada asistennya.
"Siap Tuan, perintah anda akan segera saya laksanakan". Kata asisten Hans dengan begitu tegas.
Asisten Hans melihat bercak merah di separai. "Tuan haruskah aku menyelidiki gadis yang bersama anda tadi?". Pertanyaan asisten Hans di jawab dengen gelengan kepala saja.
Asisten itu pun mengerti, dia pun segera keluar dari kamar dan pergi. Sementara itu Marsya menuju mobilnya dan melihat temanya yang masih di sana menunggunya.
" Fera, kamu menungguku?". Tanya marsya sambil berjalan mendekat kearah Fera.
"Ya, aku cemas, kamu dibawa teman mu pergi dan tak kunjung kembali". Kata Fera dengan cemas.
" Aku gak papa, ya sudah ayo aku antarkan kamu pulang". Kata Marsya sambil membukakan pintu untuk Fera.
Marsya pun mengantarkan Fera pulang kerumahnya, setelah itu ia pun pulang ke apartemen nya. Marsya merebahkan diri karena sangat lelah karean di hajar suaminya habis-habisan.
Pagi harinya marsya pun bangun karena alaram yang berbunyi begitu keras. "Ah... Cepat sekali sih, sudah pagi saja". Marsya pun segera bangun dan segera mandi.
Setelah itu dia pun pergi ke kantor dengan taksi onlen yang sudah di pesannya.
Sesampainya di kantor Marsya duduk termenung di di tempat kerjanya. " Marsya, bagaimana semalam? ". Suara bosnya mengagetkan nya. " Bos... Bikin aku kaget saja sih". Jawab Marsya sambil cemberut.
"Maaf lah kalau gitu, bagaimana acara semalam?". Tanya bosnya lagi.
" Lancar kok bos, senyanya berjalan dengan baik, aku dan Fera cuma mengikuti aja, gak ada yang menarik ". Jawab Marsaya sambil melirik kearah temannya. Memberikan isyarat agar temannya tak menceritwkan apa yang terjadi dengannya semalam.
" Ya bos semuanya biasa saja kok". Tinpal Fera. Bosnya pun mengangguk. Setelah itu bosnya pun pergi.
"Fer, kamu jangan bilang sama bos soal masalah semalam ya?". Pinta Marsya kepada Fera. Fera pun hanya mengangguk saja.
" Ah ya Sya tadi ada klien baru, katanya mau membuat Vila di pinggir kota dekat pantai". Sambil meyodorkan berkas Fera menjelaskan kepada Marsya.
Marsya pun mempelajari semuanya. "Kita harus bertemu dengan kliennya dulu ini Fer, nanti aku akan tanyakan hal ini sama bos dulu". Kata Marsya sambil melihat berkas dari klien barunya.
Setelah itu dia pun melaporkan semuanya kepada bosnya. " Bagaiman menurutmu bos? ". Tanya marsya dengan Hati-hati.
Klien beratas nama verdan Jerfis, adalah sahabat dari Hans suami Marsya. Bos yang mengenali sapa kliennya itu pun sangat berhati-hati.
" Nanti aku akan menghubungi dia, setelah itu kamu temui dia". Jawab bosnya dengan wajah cemasnya.
Marsya bingung kenapa bosnya begitu cemas. Hanya seorang klien baru bisa secemas itu. Marsya kembali ketempat kerjanya dengan bingung.
Di saat sedang memikirkan masalah otu HP marsya tiba-tiba berbunyi. Marsya pun mengangkat dengan cepat.
"Halo ayah.. Ada apa menelfonku? ". Sanbil memainkan pensil yang masih ada di tangannya Marsya beebicara dengan ayahnya.
" Kamu tidak pulang?, kenapa bekerja di perusahaan bekas milik kita dulu?, Kenapa gak di perusahaan sendri saja sayang..! ". Begitulah pertanyaan ayahnya yang begitu memburunya.
" Ayah aku mau cari pengalam kerja di tempat lain dulu, nanti kalau sudah puas aku pulang". Begitulah jawaban marsya yang membuat ayahnya kecewa.
"Kemarena kakek Surya mencarimu kerumah, beliau mengira kamu pulang ke rumah". Mendengar perkataan papanya Marsya pun langsung menampakkan wajah kecewanya.
" Ah... Ya, aku bwlum bilang sama kakek kalau aku gak pulang dulu, nanti aku akan kerumah kakek saja". Perkatsan Marsya membuat papanya lega.
Papanya pun mengahiri pembicaraan. "Ya sudah, bekerjalah dengan bertanggung jawab, jangan membuat masalah dengan klien". Begitulah pesanpapanya kepadanya.
" Ya yah... Aku akan mengingat pesan ayah". Setelah memberiakn salam perpisahan ayahnya pun mematikan telfon.
Setelah itu Marsya pun kembali bekerja, dia yang bertugas membuat disain pun harus memutar otak untuk memenuhi keinginan dari kliennya.
Seminggu pun berlalu kini Marsya menangani klen yang ingin membangun viral di dekat pantai. Klien yang termasuk teman dari Hans itu pun mengajak Marsya untuk berbicara di sebuah klub malam. Tanpa berfikir panjang marsya menyetujui hal itu, karena klien menyewakan ruan VIP untuk membicarakan hal itu.
Marsya pun datang sendirian. Dia berjalan sambil memainkan HP nya ke arah ruang VIP. "Buk..... ". Tak sengaja Marsya bertabrakan dengan seseoarang.
" Ah... Maaf tuan". Kata Marsya sambil menatap orang yang sudah di tabraknya tadi.
"Kamu..!". Marsya dan orang yang di tabraknya pun mengatwkan hal itu bersamaan. Ya ternyata orang yang di tabrak Marsya adalah Hans suaminya dan orang yang telah menidurinya pada malam itu.
" Kamu ngapain disini?". Tanya Hans dengan penasaran. Karena tempat hiburan malam malam biasa di datangi para wanita malam dan pria hidung belang.
"Aku ada orang yang harus aku temui di sini". Jawab marsya dengan santai kepada Hans. Hans pun mengerutkan alisnya. " Apakah dia akan menemui orang yang menjadi pelanggan nya". Begitulah pikir Hans saat ini.
"Kamu sendiri mau ngapain?". Tanya Marsya dwngan agak canggung kepada Hans.
" Ini tempat umum ya, siapa saja boleh datang kesini". Kata Hans dengan sinis. Mendengar jawaban dari Hans Marsya pun kesal dan meninggalkan Hans dan masuk ke ruang VIP. Hans pun ingin masuk di ruang yang sama.
"Maaf apa saya salah masuk ruangan? ". Tanya marsya kepada beberapa pria di dalam sana.
" Kamu marsya?".Tanya seorang pria yang berdiri saat melihat Marsya datang.
"Ya aku marsya, ini disain yang saya buat untuk anda, sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.
" Aku verdan, sebenarnya disain itu untuk teman ku, tapi dia belum datang, kamu tunggulah dulu ". Sambil menyuruh Marsya duduk bergabung dengan teman-temannya, dengan terpaksa Marsya pun menyetujui hal itu, dia pun duduk dengan canggung dan membuat jarak dari beberapa pria yang sedang minum bersama verdan.
Tak beberapa lama Hans pun masuk dan melihat Marsya yang sedang duduk danberbincang dengan verdan.
"Ah... Hans kamu sudah datang?". Verdan melihat Hans yang hanya bersiri di depan pintu saja.
" Seperti nya aku mengagu kalian, aku ada pekerjaan penting". Hans pergi dan meninggalkan mereka. Verdan yang melihat sikap sahabatnya itu merasa aneh.
"Kenapa dengan anak itu, aneh sekali". Kata verdan sambil menatap kepergian Hans.
" Dia teman mu yang mau membuat vila ?". Tanya marsya yang juga melihat ke arah pintu.
"Ya, tapi dia sudah pergi, kamu bisa tinggalkan disain itu, nanti aku akan kasih kan ke dia". Begitu lah verdan menawarkan diri. Marsya pun menitipkan disain kepada verdan setelah itu,ia pun pergi dan pulang ke apartemennya.
Verdan yang kesal dengan sikap Hans pun datang ke apartemen Hans. " Hans.. ". Teriak verdan sambil menekan bel rumah. Tak lama Hans pun membuka pintu.
" Kamu katanya ada pekerjaan penting, kenapa malah pulang?". Kesal verdan kepada Hans sambil masuk ke dalam rumah Hans.
Verdan pun langsung duduk di sofa dan menatap Hans dengan sinis. "Aku gak mau mengagu kesenangan mu, masak satu cewek untuk banyak orang sih". Hans yang salah faham membuat verdan tersenyum.
" Kamu kenapa senyum gitu? ". Hans heran melihat verdan yang senyum aneh kepadanya.
" Kamu pikir cewek tadi mau kita pakai?, kamu salah faham Hans, dia di sana untuk memberikan disain ini untuk vila yang mau kamu bangun". Mendengarkan perkataan verdan Hans pun tersenyum.
"Lah... Malah senyum gak jelas sekali". Kata verdan sambil mengerutkan alisnya karena merasa aneh dengan Hans.
Hans dengan cepat mengambil desain yang masih di tangan verdan. Dia pun melihat desain yang di buat oleh marsya.
" Di sana ada nomor telfonnya, kamu hubungi saja dia langsung". Sambil berdiru verdan melihat Hans yang tersenyum sambil melihat gambar disain dari marsya.
Verdan pun pergi meninggalkan Hans yang masih senyum gak jelas. Hans pun segera mengambil HPnya dan menekan nomor yang ada di balik gambar disain.
Dari sebrang pun menjawab. "Ya.. Halo". Terdengar suara seorang pria. Hans yang mendengarkan suara seorang pria pun membulatkan matanya.
Hans pun langsung mematikan telfon nya seketika. " Kok laki-laki sih, apa suaminya atau pacarnya?". Begitu banyak pertanyaan di pikiran Hans.
Karena kecewa Hans pun melakukan gambar disain itu di meja, setelah itu dia masuk ke dalam kamar.
Tiga hari berlalu, Hans masih saja memikirkan tentang siapa yang mengangkat telfon itu, bahkan di kantor pun Hans masih memikitkannya.
"Tuan, kenapa anda dari kemarena selalu kurang fokus, apa ada masalah?". Tanya asistenya.
" Kamu ingat gadis yang waktu itu keluar dari kamar yang sama dwngan ku?". Asisten Hans pun mengingat kembali kejafian minggu lalu.
"Ya tuan saya mwngingatnya, apa anda mau saya untuk menyelidiki nya?". Tanya asistennya kepada Hans.
" Gak perlu, saya sudah tahu siapa dia, kamu selidiki nomor ini saja". Kata Hans sambil memberikan sebuah nomor trlfon kepada asisitennya.
"Aku akan segera menyelidikinya, secepatnya tuan akan mengetahunya". Jawab asisitenya sambil keluar dari ruang kerja Hans.
Tak butuh waktu lama asisten Hans pun sudah mengetahui siapa pemilik nomor itu. " Tuan nomor itu milik Roy Andreas dia yang membeli perusahaan tuan Hermawan yang dulu sudah bangkrut". Begitulah asisten nya menjelaskan dengan singkat.
"Jadi apa Roy itu suaminya gadis itu?". Tanya Hans dalam hati. Tanpa menyelidiki lebih lanjut Hans pun langsung kecewa begitu saja.
Disaat Hans kecewa tiba-tiba ada yang masuk ke dalam ruangannya. " Hans... Kenapa kamu tak menjemput ku sih.. ". Kata seorang gadis dengan nada manja.
" Amanda pekerjaan ku sangat banyak kamu jangan menambah pekerjaan yang gak penting untuk ku, supir kan sudah menjemput mu". Kata Hans kepada gadis itu dengan malas. Amanda adalah wanita yang mengaku teman kecil Hans.
Hans sangat menghormati Amanda sebagai temannya, bahkan Hans hampir menikahi Amanda kalau saja kakeknya tak memaksanya untuk menikah dengan Marsya. Walau pun Hans sedikit risih dengan sikap Amanda yang berlebihan, Hans tak keberatan karena Amanda pernah menyelamatkannya nyawanya waktu Hans masih kecil dulu.
Bertahun-tahun Hans mencari gadis yang menyelamatkan nyawa nya itu, dan dia menemukan saat duduk di bangku kuliah. Karena merasa berhutang budi Hans selalu menuruti apa yang Amanda inginkan.
"Nona Amanda sebaiknya anda pulang dulu, tuan sedang banyak pikiran, nanti kalau dia marah dengan anda bisa kacau". Mendengar perkataan asisten Hans Amanda pun pergi karena takut.
" Tuan, apa anda yakin kalau dia penyelamat anda, bahkan dia sudah tak memiliki bekas luka yang anda maksud itu, dia beealasan sudah di oprasi plastik, di lihat dari sikapnya tidak mencerminkan seorang yang penolong". Kata asisten nya yang meragukan Amanda.
Hans hanya diam saja, dan menatap laptopnya saja. Sebenarnya dia juga meragukan itu semua, tetapi dia tak berani menyelidiki lebih lanjut karena takut Amanda kecewa.
"Tuan, bagaimana kalau saya saja yang menyelidiki nona Amanda, soalnya aku curiga sekali". Kata asistenya d ngan begitu semangat.
" Selidiki lah dengan hati-hati, jangan sampai dia tahu kalau kamu menyelidikinya". Begitulah perintah Hans yang langsung di setujui asisten nya dengan senang.
Sore harinya saat Hans pulang dari kantornya di jalan dia melihat Marsya yang bengong di jalan. Hans pun menghentikan mobilnya di depan Marsya.
"Hai... Tungguin taksi". Kata Hans sambil menurunkan kaca mobilnya. Marsya pun mendekat. " Ah.. Tuan Hans kebetulan sekali, bisakah anda memberikan tumpangan pada ku?". Tanya marsya dengan senyum manisnya.
"Masuk lah, aku akan mengantarkan mu pulang, sambil membicarakan soal gambar disain kemaren". Mendengar perkataan Hans marsaya pun langsung masuk ke dalam mobil.
" Makasih ya, anda sudah mau memberikan tumpangan untuk ku". Kata Marsya lagi-lagi dengan senyum manisnya.
Hans pun menjalankan mobilnya. Sambil menyetir Hans mulai berbasa-basi untuk menyelidiki Marsya.
"Kemarena aku menelfon tapi suami mu yang mengangkat nya". Mendengar pertaan Hans marsya pun membulatkan matanya.
" Oh.. Itu bukan nomor saya tuan, itu nomor bos saya, tapi memang sebenarnya saya sudah menikah, tapi bukan dengan pak Roy". Jawaban marsya membuat Hans tambah kecewa.
"Sudah menikah tapi masih perawan, apa suami lu belum sempat menyentuh mu?". Pertanyaan Hans yang terang-terangan membuat Marsya kaget.
" Itu... Soalnya aku baru saja menikah dan suami ku langsung pergi keluarnegri setelah menikah, jadi ya belum sempat mwnyentuh ku". Sebenatnya Marsya merasa anah dengan kata-kata nya, tapi dia tak mau Hans mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Karena dari awal hans tak mau menerima pernikahan itu.
Hans pun mengangguk saja dan menerima kebohongan dari Marsya. Setelah itu Hans hanya diam saja sampai Marsya menyuruhnya untuk beehenti.
"Tuna... Berhenti, di sini rumah ku". Mendengar perkataan Marsya Hans pun mengerem mendadak. Marsya pun segera keluar dari mobil.
" Tunggu aku betikan nomor mu, biar kita lebih mudah untuk membicarakan soal disain vila yang akan kita kerjakan". Kata Hans sambil menyodorkan HP nya.
Marsaya pun mengambil HP Hans dan menekan nomornya dan menyimpannya di HP milik Hans. "Sudah aku simpan, kamu telfon lah kalau ada keluhan soal gambar yang aku buat".
Hans pun tersenyum tipis sambil mengambik HP nya kembali. Setelah itu Hans pun pergi. Hans lagsung pulang ke apartemen nya.
Sesampainya di apartemen Hans terkejut melihat kakeknya berdiri di depan apartemen miliknya. "Kakek kenapa datang tak bilag pada ku dulu? ". Kata Hans sambil membuka pintu apartemen.
Setelah pintu terbuka kakek pun langsung masuk begitu saja. "Hans bukannya kamu susah aku nikahkan dengan gadis pilihan ku, kenapa sampai sekarang mau masih mengabaikannya". Kata kakek seambil susuk di sofa.
" Kek, menikah dengan gadis mata duitan itu bukan kemauan ku, kakek lah yang memaksa ku untuk menikah dengannya". Hans selalu saja menghina istrinya mata duitan, karena setahunya kakek memberikan bantuan untuk memulihkan perusahaan tetapi setelah menikah perusahaan itu malah di jual dan mereka pergi entah kemana.
"Jaga mulut mu Hans, kalau kamu tau sipa dia sebenatnya, kamu akan menyesalinya, dia gadis baik-baik kakek menyukainya". Kakek selalu membela istri Hans yang bahkan Hans pun belum pernah melihatnya.
Kakek pun berdiri dari duduknya dia pun melangkah keluar apartemen, "mau kemana kek?". Hans yang haya memiliki kakeknya sebagai keluarga satunya nya itu pun tak ingin terjadi apa-apa dengan kakek yang sangat di sayanginya itu.
" Aku mau tinggal di hotel saja, aku malas yinggal sama cucu surhaka seperti mu". Setlah mwgucapkan itu kake pun pergi.
Kakek menuju apartemen milik Marsya. Sampai di sana dia lamgsung menekan bel. Marsya langsung membuka pintu karena di kira itu ayahnya.
"Kakek?, kok disini? ". Begitulah marsya yang kaget melihat kake mertuanya tiba-tiba datang ke apartemen nya.
" Ya aku ingin bicara dengan mu, apakah kakek boleh menginap di sini". Pinta kakek dengan wajah melanya.
"Kakek bilang ap sih, tentu aja kakek boleh tinggal di sini, ayo masuk kek". Kata marsya sambil menggandeng tangan kakek.
Kakek pun duduk di sofa sambil mengamati apartemen milik Marsya. " Kamu tinggal sendrian, apa tidak takut ada penjahat yah mau menjahati mu?".
Marsya yang mendengar pertanyaan dari kakek pun tersenyum. "Kakek aku kan bisa bela diri walu pun sedikit, di apartemen ini sangat aman kok kek, kakek tenang saja".
" Kamu punya suami seperti masih lajang saja, harusnya kamu tingga bersama Hans". Dengan wajah kecewanya kakek terlihat saat mengatakan hal itu.
"Kek, lebih baik gita gak membahas soal Hans ya, kita makan dulu saja, aku tadi baru selesai memasak loh...!". Rayu Marsya kakenya agar dia tak lagi mebahas soal Hans.
Kakek pun dengan senang bersri dari duduk nya. Marsya menggandeg kakeknya ke ruang makan untuk makan bersama.
Kakek pun menikmati makanan yang di buat oleh Marsya. "Masakan mu ini mirup sekali dengan mendiang putri ku". Begitulah kata kakek dengan sesih mengingat putrinya yang sudah tiada.
" Kakek aku kan cucu menantu kakek, anggap saja aku menjadi pengganti mama yang sudah tiada". Dengan tersenyum Marsya menghibur hati kakek yang sedang ber sedih.
Setelah makan Marsya pun mengantarkan kakek ke kamar tamu untuk beristirahat. "Kakek istirahat lah dulu, aku juga capek mau istirahat kek".
Setelah mengantarkak kakek Marsya pun masuk ke dalam kamarnya dia pun merebahkan diri di kasurnya. Disaat Marsya mau terlelap tiba-tiba HPnya pun berdering.
" Ya... ". Marsya mengangkat telfon dengan cepat.
" Marsya ya?". Kata orang dari sebrang. Marsyaengenali suara itu, itu adalah suara Hans suaminya.
"Ya aku marsya, anda kenapa tengah malam begini menlfon ku". Kata mata Marsya dengan kesal.
" Aku haya memanstikan saja, karena foto profil mu hanya sebuah gambar disain saja". Kata Hans dengan suara tegasnya.
"Oh... Ya tuan, aku tidak suka berfoto jadi aku gak memasang foto ku". Alasan Marsya agar Hans tak lahi bertanya.
" Ya sudah, aku hanya memastikan saja besok pagi bisa ke kantor ku untuk membahas kerja sama kita". Hans beralasan karena dirinya ingin sekali melihat Marsya. Entah kenapa sejak malam itu dia selalu ingin dekat dan bahkan ingin mengulang kejadian itu lagi.
"Ya tuan, anda kirim saja alamat perusahaan anda nanti saya akan kesan". Kata marsya, marsya sebenarnya sudah tau benar dimana perusahaan suaminya itu.
" Baik lah, nanti aku kirim alamat untuk mu". Kata Hans lagi.
"Say tunggu tuan, kalau begitu aku matika dulu ya, aku capek mau istirahat dulu". Marsya yang benar-benar capek pun ingin segera mwmatikan telfon dan segera tidur.
" Oh.. Ya, sampai jumpa besok". Kata hans. "Ya.. Sampi jumpa". Jawab marsya sambil mwmatikan telfon.
Pagi harinya Marsya pun pergi ke kantor Hans setelah beepmitan dengan kakek mertunya. Kakek mertua pun senang karena Marsya akan datang ke kantor Hans dan dia berharap hubungan mereka akan segera membaik. Karena kakek sangat mengnginkan cicit dari cucunya itu.
Sesampainya marsya di kantor Hans dia pun lagsung menuju ruang direktur katena sudah membuat janji sebelumnya. Pada saat Marsya mau masuk ke dalam ruang direktur dia melihat Hans yang sedang di dekati seorang gadis cantik. Tapi sayang Hans seperti alergi dengan gadis itu dan menghindar beberapa langkah.
Marsya menguping pembicaraan mereka. "Hans kenapa sih kamu itu selalu menolak ku, aku ini penyelamatmu waktu kecil dulu, harusnya kamu menghargai ku". Kata gadis itu dengan kesal karena di tolak oleh Hans.
"Maaf, suda aku bilang pada mu, aku tak biasa di sentuh oleh wanita, itu membuat ku merasa rish dan jijik". Kawab Hans dengan tegas. " Lebih bik kamu pergi saja aku banyak kerjaan". Alsan Hans agar Amanda menjauh darinya.
"Tok.. Tok.. ". Marsya pun mengetuk pintu untuk membantu Hans yang hampir setres gara-gara Amanda.
Amanda yang mendegar ketukan pintu pun menolehbke arah pintu. " Masuk lah.. ". Hans menyuruh Marsya masuk. Amanda pun pergi melewati Marsya dan menyenggol pundaknya.
" Apan sih gak jelas banget". Kesal Marsya kepada Amanda.
"Pacar mu kasar sekali". Kata Marsya sambil duduk di samping Hans yang suda susuk di sofa.
" Jangan bahas dia, mendingan kita bahas kerja sam kita saja". Hans tak ingin Marsya membahas Amanda yang benar-benar membuatnya kesal.
"Baik lah.. Aku ada gambar baru untuk mu". Sambil meletakkan beberapa ganbar di meja.
Hans pun mengambil dan melihatnya. " Marsya gambaran disain mu terlalu moderen, aku mau yang agak kalsik di padu engan gaya moderen, itu pasti akn indah.
"Oh... Itu akan saya pertimbangkan, akan aku buatkan disannya untuk mu". Jawab Marsya denga tegas.
"Marsya kamu bisa memijit?". Pertanyaan Hans mwbuat Marsya kaget dan mwmbulatkan mata eketika.
" Busa sih, tapi kenapa harus aku, kenpa gak gadis tadi saja". Jawab Marsya dengan bingung.
"Aku tak suka di sentuh sembarang orang, tapi dengan mu tubuhku tak menolknya, jadi aku mau kamu membantuku, aku benar-benar sangat capek, pekerjaan begitu mmbuat ku lelah". Kata Hans sambil menggerakkan bahunya.
"Baik lah.. Tapi sebentar saja ya, aku harus ke kantor, bosku pasti menunggu". Marsya sebenarnya malas beeurusan dengan suami yang tak menganggapnya itu, tapi apa boleh but, seorang istri tak boleh membantah.
Marsya pun memijat pundak Hans dengan dengn lembut. Hans merasakan pijatan lembut dari Marsya tiba-tiba teringat kejadian pad malam itu.
"Marsya... ". Hans menyentuh tangan Marsya yang masih berada di pundaknya. Dengan cepat Marsya menarik tangannya kembali.
" Marsya kita sudah beehubungan badan, apa kamu tidak takut hamil?, sedangkan suami mu saja belum pernah menyentuh mu, kalau dia tahu kamu sudh tak perawan lagi pasti dia aka marah". Kata Hans sambil berbalik menatap Marsya yang menundukjan wajahnya.
"Itu urusan ku tuan, aku harap tuan tidak ikut campur degan masaah ku". Jawaban Marsya benar-benar membuat Hans ke cewek. " Kalau sudah tidak ada yang kita bahas lagi aku pergi dulu, aku hatus bekerja". Imbuh Marsya sambil berdiri dan menjauh dari Hans.
Marsya pun pergi tanpa berbalik badan, marsya keluar dai ruangan Hans dan beepapasan dengan asisten Hans.
"Tuan... Kenapa dengan gadis tadi?, kelihatan kesal seperti itu". Tanya asistennya dengan bingung.
" Namanya Marsya, dia ternyata anak buah Roy, entah kenapa aku selalu merasa ingin deket dengannya terus. Asisten yang mendengar ucapan Hans pun tersenyum simpul kepada bosnya.
"Tuan suka sama nona Marsya?". Tanya asistenya dengan terang-terangan. Hans yang mendegar itu pun begong dan berfikir, dia tak pernah merasakan hal itu sebelumnya.
" Aku tak tahu, bisa jadi aku suka sama dia, tapi sepertinya dia sangats etia dengn suaminya, bahkan bekerja keras seprti itu.". Asistenya pun hanya mendengrkan ap yang di ktakan bosnya.
"Menurutmu kenpa dia setia walau pun di tinggalka suaminya begitu?". Tanya Hans kepada asiatennya.
" Bagi wanita yang sudah menikah itu biasa nya memang akan setia, tapi ya nanyak juga wanita yang selingkuh karena sebuah materi dan setatus sosial ". Begitulah menurut asisten Hans.
" Tuan nanti malam perusahaan tuan Hendra Wijaya akan di lelang". Kata anak buahnya yang mengakihkan topik pembicaraan.
"Jam berapa lelang itu di adakan?". Tanya Hans kepada asistennya.
" Mulai jam 7 malam tuan dan ada juga di bwei undangan kusus dari dia, sepertinya dia merencanakan sesuatu". Asisten menyampaikan kecurihaannya.
"Ya... Kita lihat, apa yang akan dia lakukan dengan lelang itu, saya akan memastikan apa yang akan di rencanakan olehnya gagal-gagal total". Begitulah kata Hans dengan begitu tegas.
Malam harinya Hans pun datang di acara Hendra Wijaya. Dia di sambut dengan hormat bahkan anaknya pun berpenampilan cantik. Dan berbicara lembut kepada Hans. Asisten yang curiga pun selalu mengawasi gerak-gerik mereka. Bahkan hungga acara leleng di mulai. Anak Hendra selalu menempel dan dekat dengan Hans.
"Tuan hans ini minum dulu, dari tadi tuan diam saja". Kata anak dari Hendra Wijaya menawarkan segelas minuman.
" Anda juga minum lah, gak enak dong kalau saya minum sendirian". Hans pun menawarkan minuman juga kepada lawan bicaranya.
"Baik lah, kita minum bersana". Mereka pun minum bersama. Minuman yang dari Hans sudah di berikan obat oleh asisten nya dan anak Hendra pun langsung meminumnya tanpa curiga sedikit pun.
Setelah itu asisten nya pun mengawasi nya dan Hans pun pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen Hans merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dia merasakan panas yang aneh hingga tubuh nya berkeringat.
Hans yang menyadari dia sudah terkena obat pun menelfon Marsya. Dari sebrang marsya pun mengangkat telfon dari Hans. "Ya tuan, ada apa menelfon ku malam-malam begini?". Marsya mendengar syara yang aneh dari Hans. Dia pun mulai sesikit cemas. " Tuan, apa yang terjadi?". Tanya Marsya dengan cumas.
"Datang ke apartemen ku sekarang, aku buth bantuan mu". Setelah mengatakan itu telfon pun terputus. Hal itu membuat Marsya makin cemas. Dengan mengendarai mobilnya Marsya melaju dengan kencang ke arah apartemen milik Hans.
Sesampainya di apartemen milik Hans, Marsya pun langsung masuk kedalam rumah karena pintu tak di kunci.
"Hans...!". Panggil marsya sambil mencari keberadaan Hans. Tiba-tiba Hans memeluk Marsya dari belakang.
" Ah....!". Marsya berteriak karena kaget. "Tuan Hans apa yang anda lakukan?". Dengan takut marsya sedikit meronta.
" Marsya bantu aku, ada yang memberikan obat kepada ku". Hans mengatakan hal itu sambil meraba tubuh Marsya. Marsya yang merasa kasihan pun membiarkan Hans melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Hans pun melakukan hubungan suami istri lagi dengan istri yang tak pernah di anggap olehnya.
Karena bantuan dari Marsya Hans pun mulai sadar dan efek obat itu pun hilang. Hans pun bangun dan melihat Marsya yang sedang tidur membelakangi nya. Hans pun melhat bekas luka di punggung Marsya.
"Marsya..., kenapa punggungmu ada bekas luka seperti itu, pasti sakit sekali". Kata Hans yang begitu penasaran dengan luka yang ada di punggung Marsya.
Marsya pun berbalik badan dan melihat Hans yang masih menatapnya dengan penuh penasaran. " Luka itu aku dapat kan waktu aku masih kecil,aku menyelamatkan seseorang anak yang sedang kabur dari penculikan, Penculik yang jahat itu mau menusuk anak itu dan aku menghalanginya jadi aku yang terkena pisau itu, untung saja polisi cepat darang kalau gak mungkin aku juga sudah mati dan teman ku itu pun pasti di bunuhnya juga". Begitulah Marsya beecerita dengan Hans, mendengar cerita itu Hans pun teringat kejadian penculikan waku dia kecil dulu, dan hal itu membuat dirinya tak bisa di sentuh oleh sembarang orang.
"Gadis hero... ". Tiba-tiba Hans memgatakan hal itu.
" Kok kamu tahu, anak itu selalu memanggil ku gadis hero". Marsya penasaran bagaimana Hans bisa tahu tentang panggilan itu.
"Aku anak yang kamu selamatkan, kalau gak ada kamu aku pasti sudah tinggal nama, pantas saja tubuhku tak menolak sentuhan dari mu, ternyata dari sentuhan mu yang selama ini aku cari". Perkataan Hans di dengar Marsya sangat aneh, Marsya pun tertawa lepas.
" Ha.. Ha.. Ha.. Kamu lucu sekali, Kata-kata aneh". Tawa Marsya membuat Hans pun tersenyum.
"Marsya kali ini aku tak akan menyia-nyiakannya, aku akan membalas semuanya". Hans mengatakan hal itu dengan ekspresi wajah yang serius.
" Hans andai saja kamu tahu aku ini istri yang tak kamu ingin kan, pasti kamu tak akan mengatakan gal itu". Kata Marsya dalam hatinya.
"Tuan aku pulang dulu ya". Sambil mengenskan kemabali pakaiannya. Hans melihat marsaya yang mencenakan pakaiannya dengan begitu cepat.
"Kenapa gak menginap di sini saja". Pinya Hans karena jujur saja dia tak ingin berpissh dengan marsya secepat itu. Apa lagi Hans baru mengetahui kalau Marsya lah gadi penolong yang selama ini dicarinya.
" Aku tak bisa tuan, aku harus pulang ada yang menunggu ku di rumah". Perkataan Marsya mengingatkan akan setatus Marsya yang sudah ber suami. Hans pun seketika kecewa saat mengingat hal itu kembali.
"Pulang lah, lain kali kamu jangan memanggil ku tuan lagi, aku tak suka hal itu". Marsya pun meyetujui hal itu dengan anggukan saja. Setelah itu Marsya pun pergi meninggalkan Hans dalam kekecewaannya.
Sebulan pun berlalu, Hans masih dalam mode yang sama. Di kantor Hans tidak bisa fokus pada pekerjaannya. "Tuan kenapa Anda sepertinya kurang bersemangat". Asisten menyadari kegalauan bosnya.
" Kamu benar, ternyata Amanda berbohong, dia bukan anak yang menolongku waktu itu". Perkataan Hans membuat asisten nya pun kesal. "Aku mau kamu menghabisinya, berani-beraninya dia mengambil kesempatan dari ku". Kesal Hans dengan kebohongan Amanda.
" Apa tuan sudah menemukan anak itu?". Tanya asistenya dengan penasaran.
"Ya... Dia Marsya". Jawab Hans dengan singkat. Asisten yang mendengarkan hal itu pun terkejut.
" Marsya dia memiliki luka yang sama seperti yang aku maksud kan, dan memiliki cerita yang sama, sedangkan Amanda kalau di tanya selalu berdalih kalau dia sedikit lupa". Begitulah penjelasan Hans kepada asisten nya.
Asisten yang mendengar pun merasa kesal, dia pun ingin sekali segera menghabisi Amanda. "Aku bereskan dia sekarang tuan". Perkataan asisten di tanggapi dengan anggukan dari Hans. Setelah itu asisten pun pergi.
Hans yang lama tak bertemu marsya pun merasakan rindu kini tak bisa di tahan lagi. Sedangkan Marsya yang masih sibuk dengan pelanggan lain pun masih sibuk membuat gambar disain.
Di saat menggambar Marsya merasakan benar-benar pusing dan lelah. "Ah... Kenapa rasanya aku lelah sekali sih". Gumam Marsya sambil menggambar.
" Sya kamu kerja terlalu berlebihan, itu akan membuat mu sakit nantinya". Kata Fera yang cemas melihat wajah Marsya yang pucat.
"Aku cuma kecapean kok, aku kan cuma membuat disain saja, dan kamu yang pergi menemui klien kita". Sambil mengatakan itu Marsya sebenarnya bingung dengan dirinya, biasanya dia tak selemah itu.
" Terserah kamu lah, aku mau menemui klien dulu ya, sudah di tunggu soalnya". Kata Fera sambil berjalan meningalkan ruang kerjanya.
Marsya yang masih sibuk menggambar pun tiba-tiba HP nya berbunyi. "Ya.. Halo". Marsya Menjawab dengan suara yang berat.
" Marsya ada apa?, kenapa suaramu terlihat aangat berat, apa kamu sakit?". Tanya seseorang dari sebrang.
"Gak kok kek, aku baik-baik saja, aku hanya sedikit lelah". Jawab marsaya dengan mengatur nada bicaranya.
" Jangan terlalu lelah, nanti kamu bisa sakit".Kata kakek dengan cemas. "Marsya apa lusa kamu bisa datang ke rumah ku?". Tanya kakek dengan enuh harap.
" Ya kek aku akan datang, lusa kan aku libur, aku akan mengunjungi kakek beaok lusa". Kakak senang mendengar itu. Setelah itu kakak pun mematikan telfon setelah salam perpisahan.
Setelah menelfon Marsya kakek pun menelfon Hans dia pun mengatakan hal yang samadan Hans pin menyetujui keinginan dari kakeknya.
Karena perasaanya dwngan Marsya sudah sangat berlebihan. Sia pun sebenarnya ingin meminta izin kepada kakek untuk menceraikan istrinya dan akan menikahi Marsya.
Setelah malam harinya Marsya yang awdang lwlah dan beriatirahat pun si kagetkan dwngan HP nya yang berbunyi. "Ah... Siapa sih aku capek gini pakai nelfon segala". Kesal marsya dwngan orang yang menelfonnya.
" Ya... ". Jawab singkat dari Marsya. Hans pun diam saja karena nada Marsya yang bwgitu ketus saat mengangkat telfonnya.
" Marsya ini aku, lama tak mendengar suaramu, kenapa kamu sangat emosonal gitu, apa ada yang membuat mu kesal?". Hans sesikit kesal karena nada bicara Marsya yang ketus.
"Akh... Pak Hans aku kira pengagu yanggak jelas, ada apa bapak menelfon ku?, bukan kah urusan keeja sama kita sudah beres semua?". Kata Marsya sambil meminit kepalanya.
" Masih ada yang kurang, kamu datang lah ke rumah ku". Pinta Hans dengan nada yang sedikit memaksa.
"Besok saja pak, aku lagi kurang enak badan". Tolak Marsya, Hans yang mendengar alasan Marsya pun sesikit cemas.
" Sudah dulu ya pak aku mau tidur, aku capek sekali, selamat malam pak". Marsya mematikan telfon setelah mengatakan kata perpisahan.
Hans yang cemas pun segera pergi mengendarai mobilnya dan menuju ke eumah apartemen milik Marsya karena dia benar-benar sangat cemas.
Sesampainya di depan apartemen dia pun menekan bel, tak lama Marsya pun membuka pintu. "Pak Hans kenapa datang?". Pertanyaan Marsya di balas dengan pelukan dari Hans. Sambil menutup pintu Hans mendorong Marsya masuk kedalam.
" Pak ada apa?, kenapa anda sangat aneh?". Marsya mulai takut dengan sikap Hans yang sangat berlebihan. Swdangkan Hans masih saja memeluk Marsya tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Marsya aku merindukan mu". Marsya pun berusaha meronta agar terlepas dari pelukan dari Hans. Hans yang memiliki tubuh lebih besar dan lebih kuat pun makin mengeratkan pelukannya.
" Pak aku sesak, pelukan mu terlelu erat, aku tak bisa bernafas". Dengan suara yang sedikit lemah Marsya ingin melepaskan diri dari pelukan hans yang begitu kuat.
"Maaf aku tak sengaja". Hans mulai melepaakan Marsya dari pelukannya. Marsya pun menjauh dari Hans. " Marsya, maaf aku datang kerumah mu malam-malam begini".
Marsya yang merasa pusing pun tak menghiraukan perkataan Hans. Dia pun duduk di sofa. Hans pun mengikuti Marsya dan duduk di samping Marsya.
"Marsya kalau sakit kenapa tak pergi ke dokter saja, apa mau aku antar?". Tawar Hans kepada Marsya.
" Aku hanya kecapean dengan istirahat nanti aku akan sehat kembali kok". Marsha menolak tawaran dari Hans. "Anda lebih baik pulang saja pak, aku tidak apa-apa kok". Inbuh Marsya agar Hans tak hawatir berlebihan.
" Kamu pucat begitu apa nya yang baik-baik saja". Hans melihat wajah Marsya yang begitu pucat dan tubuhnya terlihat begitu lemas.
Tanpa persetujuan dari Marsya Hans pun menggendong Marsya. "Pak, kenapa anda menggendong ku?".Marsya bingung entah apa yang akan di lakukan Hans kepadanya.
" Kita kerumah sakit sekarang, kamu tak boleh menolak, ini tanggung jawab ku, kamu pernah menyelamatkan nyawaku sebelumnya jadi biarkan aku membalas budi". Begitulah alasan Hans agar Marsya tak menolak.
Marsya yang sudah merasa sangat lemas pin asal setuju saja. Hans pun membawanya kerumah sakit. Dan Marsya pun di periksa oleh dokter.
Dokter memeriksa dengan begitu teliti dan hati-hati. Setelah selesai memeriksa dokterpunmenjelaskan kepada Hans. "Tuan dia baik-baik saja, hanya saja dia sedang hamil, jadi kondisinya mudah lemas dan capek". Mendengar perkataan dari fokter Marsya pun seketika menatap Hans. Hans pun tersenyum puas, dia senang ada ikatan diantara mereka.
"Saya akan membuatkan resep dulu". Dokterpun menuliskan resep di kertas. Setelah dokter memberikan resep dokter pun pergi. Hans pun melihat Marsya yang masih menatapnya.
" Marsya kamu hamil anak ku kan?". Ya Hans yang masih menganggap Marsya memiliki suami dia pun bertanya untuk memastikannya.
Marsya pun hanya diam saja. Dia tak merespon apa pun dengan pertanyaan Hans tadi. "Pak antarkan aku pulang saja dulu, kita bicara di rumah ku saja". Begitulah kata Marsya yang malas mebahas soal kehamilannya.
Hans pun mengantarkan Marsya setelah menebus obat di apotik. Sesampainya di rumah Marsya masih enggan membahas soal kehamilannya. "Pak, aku mau istirahat dulu, kepalaku pusing sekali".begitulah alasan Marsya yang malas membahas kehamilannya dengan Hans.
" Ya, kamu beristirahat lah, aku akan menjaga mu". Kata Hans sambil membantun Marsya untuk tiduran di kasur. Hans benar-benar menjaga Marsya, sampai dia pun tertidur di samping Marsya.
Paginya Marsya terbangun dan melihat Hans yang tidur di sampingnya. "Dia tidur di sini semalam?". Kata marsya Sambil menatap Hans yang masih tertidur. Setelah itu Marsya pun bangun dan segera mandi.
Hans pun terbangun karena mendengar suara HP nya yang berbunyi. " Ya... ". Hans menjawab dengan malas karena masih mengantuk.
" Tuan saya sudah membereskan pembohong itu dengan cara yang cantik, jadi tuan sekarang aman tak akan ada pengganggu lagi". Begitulah kata asisten yang berbicara dengan semangat.
"Bagus lah, sekarang kamu selidiki siapa Marsya sebenarnya, aku mau tahu tentang dia secepatnya". Begitu lah perintah Hans kepada asistennya. Asisten Hans pun menyetujui hal itu dengan cepat.
Setelah Hans mematikan telfon Marsya pun keluar dari kamar mandi. Hans melihat Marsya yang hanya mengenakan handuk dan dia pun tergoda dengan tubuh Marsya.
"Marsya kamu belum menjawab pertanyaan ku semalam". Tanya Hans dengan wajah yang serius.
" Kalau pun aku hamil anak mu, apa yang akan kamu lakukan?". Tanya Marsya sambil mengenakan bajunya.
"Aku akan bertanggung jawab aku akan menikahimu dan menceraikan istri ku".Jawab Hans dengan begitu santainya. Marsya pun kecewa dengan apa yang di ucapkan Hans.
"Semudah itu anda mengucapkan kata cerai, anda tak memikirkan apa yang di rasakan istri anda kalau mendengar kata itu keluar dari mulut anda". Marsya benar-benar kesal, Hans yang belum pernah melihat wajah istrinya, dengan mudah nya mengucapkan kata cerai.
" Aku tak pernah mencintainya istri ku, aku menikah dengannya karena di paksa oleh kakek ku, aku pun berencana untuk menceraikan istri ku". Perkataan Hans benar-benar membuat Marsya makin kesal.
"Lebih baik bapak pulang saja, aku mau pergi ke kantor, bukan kah anda juga harsu ke kantor? ". Marsha mengusir Hans dengan lembut.
" Baik lah, aku pergi seterah mengantarkan mu ke kantor ". Marsya menyetujui hal itu agar Hans tak lagi membuatnya kesal.
Hans pun mengantarkan Marsya sampai kantornya. Setelah itu Hans pun pergi. Karena di sepanjang perjalanan hingga sampai kantor Marsya hanya diam saja dan hal itu membuatnya kesal.
Hingga keesokan harinya pun tiba, Marsya tak menghiraukan Hans sampai dia pun pergi ke eumah kakek Hans. "Marsya kamu ahirnya datang juga, kakek menunggumu dari tadi". Sambil menggandeng tangan Marsya dan menariknya masuk ke dalam rumah.
" Kakek kenapa menyuruh ku datang ke sini?". Kata Marsya sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Ya... Kakek mau bicara dengan kalian". Mendengar kata kalian Marsya memahami kalau Hans pun akan datang.
Tak lama Hans pun datang dan asal masuk begitu saja ke dalam rumah. " Kakek... Ada apa?, kenapa kakek memanggi ku kesini". Sambil menuju arah raung tamu Hans melihat ada orang yang sudah duduk di sana.
"Hans... Sini lah". Kakek memerintah Hans agar ikut bergabung dengannya dan marsya.
Marsya pun hanya diam saja. Hans yang menatapnya kaget pun tak juga di hiraukan olehnya. " Marsya kok kamu disini?".
Pertanyaan Hans di jawab oleh kakeknya. "Dia itu istrimu, kenapa kamu menayakan hal yang bodoh seperti itu?". Perkatwan kakek membuat Hans kaget dan tercengang. Dia tak menyangka kalau Marsya adalah istri yang akan di ceraikannya.
"Jadi marsya adalah marsyanda Hermawan?". Tanya Hans dengan wajah bodohnya. "Dia istri ku kek?". Imbuhnya lagi.
Marsya hanya diam saja, dia masih merasa kesal dengan suaminya yang akan menceraikannya, tanpa mengetahui siapa dieinya sebenarnya.
" Marsya memang gadis yang aku nikahkan dengan mu dulu, kakek tahu kalau Marsya lah gadis yang menyelamatkan mu waktu itu". Ucapan kakek benar-benar membuat fikiran Hans sangat kacau.
"Marsya kenapa kamu diam saja cu?". Melihat marsya yang hanya diam saja membuat kakek pun bingung.
Hans pun duduk di samping Marsya. "Kalian bicara lah, aku ingin ada kemajuan di dalam hubungan kalian". Begitulah kakek yang meninggalkan mereka berdua saja.
" Jadi kamu istri ku?". Tanya Hans dengan bodoh lagi.
"Ya... Istri yang tak kamu inginkan, istri yang ingin kamu ceraikan". Dengan nada kesal marsya mengatwkan hal itu kepada Hans.
" Maaf, aku gak tahu kalau kamu lah istri ku, kalau aku tahu dari awal, aku tak akan berniat untuk menceraikan mu". Hans mencoba membuat marsya mengerti.
"Makanya selidiki dulu, agar tak membuat kesalahan". Marsya masih kesal kepada Hans.
" Maaf ya... Istriku ". Rayu Hans kepada istrinya. Hans pun memeluk marsya agar Marsya tak marah lagi kepadanya.
Kakek yang mengintip dari dslam pun senang meilhat Hans yang sudah membuka hati untuk Marsya.
Marsya pun memberikan kesempatan untuk suaminya, dia memaafkan suminya yang sangat bodoh dan egois itu.
Harap Marsya rumah tangganya dengan Hans bisa bertahan sampai ahir. Dan Hans menerima keluarganya yang selalu di anggap mata duitan.