Satu. Gadis itu
Panggil aku Ben. Sebenarnya, aku sangat menyukai gadis yang selalu menunduk di sana. Namanya Nana. Nathaliana Suryani nama lengkapnya. Dia imut dan manis, kalau bicara selalu menunduk.
Sejak aku pertama datang di sekolah ini dan menjadi teman sekelasnya, aku selalu mencuri pandang padanya. Kami kelas dua SMA.
Namun, Nana itu cuek dan tidak suka terlalu lama dipandang.
Hari-hari terus berganti...
Pagi ke sekolah, sore jam tiga pulang ke rumah selalu seperti itu setiap hari.
Sampai pagi ini, ketika aku datang terlalu dini, ku lihat di kelas sudah ada dia, si Nana yang pemalu. Seperti biasa, aku langsung masuk dan duduk di kursi, menaruh tas lalu melempar senyuman termanis padanya.
Dia tidak melihat atau pura-pura tidak tahu kalau aku mencuri pandang padanya.
Tidak! Oh my God! Sekarang dia malah berdiri sambil melihat ke arahku. Nanaku yang imut datang mendekat. Pandangan mata kami saling bertumbuk. Debar di dadaku ini seolah membuat aku pangling setengah mati. Sekarang aku yang jadi mati kutu di depan Nana.
"Halo, Ben. Morning!" sapa manis Nana padaku. Suaranya oh ... merdu sekali. Aku membalas dengan anggukkan kepala dan tersenyum simpul. Ku berikan senyuman paling ramah dan tidak palsu untuknya.
Nana duduk di depanku sambil memutar tubuhnya menghadap kepadaku. Dia benar-benar manis dan mungil. Masih terpesona dengan Nana, Seno masuk kelas sembari teriak-teriak mirip orangutan.
Dasar Seno, orangutan! Gerutu ku di dalam hati. Masih pagi sudah bikin males melihatnya. Yah, Seno emang seperti itu, dia selalu terlihat ceria. Kami baru tiga orang di kelas. Mungkin karena ini baru jam setengah tujuh kurang sepuluh menit jadi yang lainnya masih molor atau pada di jalan. Ah, peduli amat dengan mereka, yang penting hari ini aku bisa melihat senyuman bidadari imut ku.
"Yuhu, Bro. Morning!" sapa Seno sembari menepuk bahuku dengan kencang.
"Aih, sial! Sakit, berengsek!" umpatku padanya sembari mengusap pundakku. Tepukan tangan yang ia daratkan padaku mirip orang yang menonjok, cukup sakit, dia memang kasar, sih... meskipun itu dilakukannya dengan bercanda. Ku lihat wajah Nana berubah tidak suka pada Seno.
"Jangan gitu, Seno!" tegur Nana. Mataku membulat dengan perasaan canggung. Nana membelaku? Asyik!
"HAHAHAHA!" Seno terbahak-bahak.
Kemudian dia keluar kelas, main mungkin. Tinggal aku dengan Nana yang diam dan saling pandang satu sama lain.
Aku butuh kursus kata-kata, nih! Ku tak bisa merangkai kata-kata yang indah untuk Nana, gumamku dengan gelisah. Rupanya dia melihat tingkahku yang gelisah, mencari kata-kata yang tepat dengan wajah muram.
"Kamu sakit, ya, Ben?" tanya Nana.
Ku jawab dengan gelengan kepala. Aku makin gugup. Oh astaga, kenapa dengan diriku ini. Biasanya aku tidak begini. Seraya garuk-garuk kepala yang tidak gatal aku berusaha mencari cara agar bisa bercengkrama dengan dirinya. Nana tersenyum kecil. Gila! Dia manis sekali! Oh, ya ampun, kenapa dengan debaran ini, lagi-lagi membuatku semakin gelisah dan tidak bisa berkutik di depan Nana.
Aku dengan dirinya terus seperti itu sampai bunyi bel tanda pelajaran akan segera dimulai.
Aih, sial! Kapan sih, aku punya waktu bercakap-cakap tanpa merasa kikuk dengan dia?
Dua. Dia mau Pindah?
"Eh, Ben. Lo tahu ngga soal cewek mungil yang pendiam itu, katanya dia mau pindah sekolah!"
DARR! Ucapan Diki bagai petasan yang meledak di telingaku. Apa, si imut yang manis itu mau pindah sekolah? Tapi kenapa? Apakah dia sedang ada masalah?
"Oh, ya? Maksud lu, Nana?" tanya ku ingin tahu.
Diki mengangguk membenarkan.
"Ada apa dengan dia?" tanyaku padanya dengan muka biasa saja. padahal, hati ini kebut-kebutan di dalam sana. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Sedang aku bertanya-tanya, Diki bercerita tentang Nana. Dia juga hanya mendengar sepintas dari guru BK. Nana disuruh ayahnya pindah sekolah, kata guru Astuti, ayah Nana dipindahkan ke Jakarta. Pindah tugas, itu yang Diki tahu. Dengan cepat aku pun berdiri mencari bidadari imutku berada. Ternyata memang benar ucapan Diki barusan.
Ku lihat ada Nana dan seorang laki-laki yang berusia senja. Kira-kira enam puluh lima tahun. Pria tua itu sedang berbicara dengan guru wali kelas kami. Aku menelan ludah dengan susah payah.
Nana, kamu akan meninggalkan ku di sini, ya, gumam hatiku sedih.
"Hai!" sapa seseorang yang membuat aku terkejut.Ternyata Nana yang menyapaku. Dia berdiri di samping dengan senyuman yang manis. Nana masih terus memandangi wajahku.
"Ben. Kok kamu di sini, bolos, ya?"
Aku menggeleng. "Beneran, kamu udah mau pindah, Na?" tanyaku tanpa basa-basi lagi. Aku berharap kamu menggeleng dan bilang tidak, ku mohon jangan pergi, Na! Tapi kamu malah tersenyum manis lagi.
"Iya, tahu dari mana?" tanya Nana padaku. Ah, bukan ini jawaban yang ku inginkan, Na!
"Aku ingin bicara serius sama kamu, tapi sepertinya nggak ada waktu lagi, ya?" tanyaku terlalu terburu-buru membuat kamu terperangah. Mata indah mu itu membulat, masih dengan bibir mungil yang merah terbuka sedikit.
"Eh, kamu mau bilang apa, bilang aja di sini, Ben. Masih lama, kok ayahku bicara sama Bu Sinta," kata Nana dengan sedikit menoleh melihat ke arah pria yang sedang bercakap-cakap di depan sana bersama guru di kelas kita.
"Mana bisa di sini, aku hanya ingin bicara berdua aja. Gimana kalau kita ke belakang sekolah, di taman itu," ajakku pada Nana.
Nah, inilah kesempatanku. Kesempatan emas yang hanya datang sekali saja. Aku akan mengungkapkan semuanya. Kalau aku suka sama kamu, Na! Tidak peduli kamu bakal menolak atau membenci. Pokoknya sudah ku utarakan perasaan ini.
Kamu akhirnya setuju. Kita terpaksa bolos pelajaran matematika hari itu juga. Waduh, Padahal pak Budi yang killer itu sudah masuk dari tadi. Dia bakalan membunuh ku kalau tahu aku bolos pelajarannya.
Demi cinta ku padamu, Na! Aku rela bolos matematika dan pasti kena strap pak Budi!
Tiga. Ditolak atau Digantung?
Aku bahagia sekali karena kamu memberikan sedikit kesempatan untuk mengungkapkan perasaan ini. Sudah tidak bisa ku tahan lagi, rasanya membuncah keluar dari kepalaku. Aku tidak yakin, sih kamu akan menerima perasaanku. Tapi... yah, semua itu terserah kamu saja, Na!
Kamu yang lebih dulu berjalan dengan hati-hati, sesekali melirik pria tua itu. Lalu kamu lari tanpa menoleh lagi membuat aku bertanya-tanya. Kenapa sikapmu aneh, Na ... kayaknya kamu takut pada ayahmu? Apakah ayahmu tidak suka melihat kamu berjalan dengan laki-laki?
Aku ikut mengejar Nana yang sudah menjauh ke belakang sekolah. Yup! Kami bolos berdua. Keputusan yang tidak bagus. Jangan ditiru, ya!
Di taman belakang sekolah...
Bunga yang sudah bermekaran sangat indah, tapi ada yang lebih indah di sini, yaitu kamu, Na! Bunganya memang cantik, wangi lagi. Ku akui itu, tapi yang lebih cantik dan juga wangi adalah bidadari imutku ini Nathaliana Suryani. Gadis mungil periang yang tidak pernah berwajah muram sedikit pun. Kamu sudah duduk di bangku kayu ukiran yang dibuat anak Budaya tahun kemarin. Kakak kelas kita. Mereka cukup berbakat membuat ukiran bangku taman yang cocok untuk orang yang sedang kasmaran seperti aku ini. Hehehe...
Nana duduk di sampingku. Ia masih tertunduk dan malu-malu. Ku akui, jantung ini mau copot saat duduk dekat bersamanya.
Aduh, nggak kuat aku, Na!
Ku coba untuk tidak grogi dan kikuk lagi. Meskipun kedua tangan ini keringat dingin dan gemetar. Aku meremasnya.
"Ehem! Gini... aku..."
Baru saja aku mulai bicara, eh jantungku kembali berdebar-debar. Sialaaan! Kenapa aku terlalu bersemangat begini, sih. Bisa mati muda aku!
"Tenanglah, jantung!" bisik ku pelan. Kamu memalingkan wajah manismu kepadaku.
"Ya, Ben, ada apa kamu panggil aku di sini?" tanyamu dengan cepat. Mata indahmu itu berkedip-kedip. Bibir merah muda mu itu terbuka sedikit. Dan aku makin gugup memandangi wajahmu.
"Ben, kok kamu ngelamun?"
Desakanmu itu semakin membuat jantungku blingsatan. Jangan terlalu terburu-buru, dong, Na! Atau aku yang terlalu heboh sendiri sampai lupa mau bicara apa?
"Anu, eh ... Na! Apa kamu sudah pu–" Aku tidak bisa bicara lagi. Gugup sekali, aku, Na. Bibirku bergetar. Meskipun mau lanjut bicara, tapi kenapa dengan lidahku ini tiba-tiba menjadi keluh.
Mata indah mu itu terus memerhatikan ku, seolah menuntut bicara lagi. Sungguh, Na! Kalau aku tidak berdebar kencang, sudah kukatakan dengan jelas dari tadi. Debaran jantungku ini membuatku gelisah karenanya.
"Ya?" Kamu bertanya dengan mata indah itu. Bola matamu sedikit membulat.
"Anu, ehem. Kamu sudah... makan?"
Aih berengsek, kok nanya makan, hish! Sebenarnya bukan maksudku bilang "sudah makan", tapi sudah punya pacar! Astaga aku ini kenapa jadi bodoh? Jadi tidak jelas begini lagi.
Apa karena cinta yang kuat dan susah diungkapkan ini yang membuatku jadi seperti ini? Entahlah, Na...kamu tahu benar, iya kan?
"Huh?" gumammu. Kamu jadi heran.
"Aku udah makan, kok, thanks!" Kamu tertawa kecil. Gigi-gigi putih itu berbaris seperti anak kelinci putih yang imut.
Tuh, kan. Orang bodoh kayak aku ini. Aku malah bertanya soal makanan! Na, maafin aku yang jadi dungu di depanmu. Ini karena jantungku yang terus berdetak makin kencang.
Ku pegang erat tangannya. Nana menoleh, melihat aku yang tiba-tiba memegang tangannya. Dia tidak keberatan.
"Aku boleh mencintaimu, nggak?"
Huft!
Akhirnya! Aku mengungkapkan perasaan ini juga. Lega rasanya, Na.
Ku lihat reaksi mu. Kamu terkejut. Wajahmu berubah tegas, tapi matamu menjadi sendu. Kamu menggeleng dengan cepat lalu melepaskan pegangan tanganku.
"Kenapa?" tanyaku dengan cepat. Perasaanku tadi yang sudah berbunga-bunga kini kembali menjadi tanda tanya besar di kepala. Ada apa dengan dirimu Nana? Kok dilepas tanganku? Aku mau protes padamu, Na, tapi aku nggak berani. Syukur saja kamu tidak marah karena aku pegang di tangan.
"Aku senang, sih. Kamu boleh mencintai aku tapi, maaf, ya! Aku nggak bisa membalasnya!" katamu dengan menunduk. Wajah yang cantik itu menjadi muram.
Kamu dengan tegas menolak ku. Memang, aku sudah tahu jawabannya.
Tidak apa-apa, Na! Kamu bebas kok menolak ku.
"Boleh ku tau apa alasan kamu nolak? Kalau nggak bisa bilang yah nggak apa-apa, sih..."
Jangan berharap Ben, gumam hatiku.
Kamu jadi diam seribu bahasa. Oh my God, kita memang butuh kursus, Na! Kursus merangkai kata sama tuan Iwan fals!
"Aku ... harus pergi, nanti ayah bakalan cari-cari aku. Aku duluan, ya, Ben," katamu dengan memandangi aku agak sungkan.
Kamu ingin berbicara lagi, tetapi lamat terdengar suara keras pria meneriaki nama mu. Ayahmu sedang mencarimu, Na. Yah, apa boleh buat, aku nggak mungkin memaksamu, kan.
Jawaban mu adalah tidak. Dan ini membuatku tertohok dengan bambu yang besar di jantung.
"Jangan lupain aku, ya, Na! Kelak kalau udah di kota!" kataku akhirnya dengan senyum paksa.
Kamu mengangguk, tersenyum manis lagi.
"Selamat tinggal, Ben. Kelak, pasi kita ketemu lagi," katamu.
Aku terperangah. Beneran, Na?? Apa boleh aku bertemu lagi denganmu? Meskipun aku telah kau tolak?
Banyak pertanyaan di dada ini setelah kamu berlari menjauh. Aku duduk sendirian di sini. Di taman ini. Merenungi semua ucapan terakhirmu.
End. Kisah Kita belum Usai, Na!
#thanks bagi yang udah mampir baca sekelumit kisah cinta nyata temanku si Ben. Happy Valentine Days. Nyatain cinta Lo jangan telat ya, jangan telat makan juga entar sakit tuh maag. Bye...
Salam😁