Blood Rain
By : Restu Anugerah
Blood Rain, itulah namaku. Orang-orang takut ketika mendengar namaku, bahkan takut untuk mendekatiku. padahal aku tidak pernah berbuat jahat kepada mereka. Apa hanya karena sebuah nama? Maka seseorang akan dibenci oleh orang lain, apalah arti sebuah nama? Itu hanya sebuah kata yang disebut untuk menyapa seseorang, untuk mengingat seseorang, untuk memudahkan dalam pertemanan bukan malah memperburuk keadaan. Bukan keinginanku untuk memiliki nama ini, karena nama ini perwujudan dari keinginan kedua orang tuaku, aku tidak pernah membenci kedua orang tuaku hanya karena nama ini. Aku yakin bahwa ada makna tersirat dari nama ini yang hanya diketahui orang tuaku.
Aku ingin bertanya mengenai alasan mereka dan tentang arti nama ini. Tapi, apa yang kubisa. Dari kecil aku sudah tidak bersama orang tuaku, aku tinggal di sebuah panti asuhan dan kemudian diadopsi oleh saudagar kaya. Memang materi tidak pernah kekurangan bagiku, hanya saja terasa ada yang kurang. Pengakuan! Aku hanya ingin pengakuan! Pengakuan bahwa aku ini bukanlah seorang dengan niatan busuk melainkan seseorang yang bisa jadi teman yang baik bagi orang-orang di sekolah. Sampai saat ini tidak ada yang benar-benar menjadi temanku. Yang paling banyak adalah menjadi musuhku. Bukan aku yang ingin, hanya saja mereka setiap hari mencari gara-gara kepadaku. Aku berkelahi? Iya, aku berkelahi dengan mereka. Setiap hari musuh-musuhku terus bertambah dan terus-terusan juga aku berkelahi dengan kemenangan untukku.
Aku mengetahui ilmu bela diri karena Ayah angkatku mengikutsertakan diriku di sebuah tempat bela diri, bisa dibilang aku telah ikut di tempat itu dari aku SD sampai aku kelas dua SMA sekarang. Karena itu aku mempunyai kemampuan buat membungkam mulut musuh-musuhku. Namun, hal ini juga semakin membuatku dikucilkan di sekolah. Rumor tentang perkelahianku terus menyebar sampai ke sekolah, membuat aku yang semula telah ditakuti semakin ditakuti, tidak ada yang mau berteman denganku. Aku cuma pasrah akan nasibku ini, dan terus menjalani kehidupanku seperti bagaimana mestinya.
"Blood Rain! Blood Rain!" pekik Pak Darmo kepadaku yang sedang tidur di kelas. Segera aku terbangun.
"Itu Blood Rain, kan?"
"Eh, eh. Kalian udah denger rumornya belum?" tanya seorang gadis kepada temannya yang lain.
"Rumor? Oh rumor yang itu," respon gadis yang lain.
Hiruk-pikuk terdengar di seluruh penjuru kelas, mereka hanya menggosipkan diriku yang habis membantai satu geng kemarin malam. Aku pun merasa tidak nyaman terus-terusan berada di kelas mendengar ocehan dari mulut-mulut ikan ini. Segera aku mengambil tasku dan berniat pulang lebih awal.
"Hei, Blood Rain! Mau kemana kamu?! Bapak belum selesai menerangkan!"
Tanpa menghiraukan pekikan Pak Darmo, aku berlalu meninggalkan kelas dan segera pulang. Aku tidak langsung pulang ke rumah tapi singgah ke Minimarket yang biasa aku datangi sepulang sekolah. Aku mengambil minuman di dalam lemari pendingin. Minuman yang aku pilih yaitu satu kaleng Fanta dan sebotol Nescafe. Lalu membayar ke kasir dan keluar Minimarket. Aku mengistirahatkan tubuhku di tempat duduk depan Minimarket. Setidaknya di sini lebih tenang dari di kelas tadi.
"Aghh, tenangnya di sini," ucap seorang gadis yang baru keluar dari pintu Minimarket. Spontan aku menengok ke arahnya, dan dia juga melihatku.
"Hei, kamu!"
Dia memanggilku? Apa benar memanggilku? Tidak ada orang lain di sini berarti memang tertuju kepadaku. Aku bingung dan menengok kiri dan kanan.
"Iya, kamu. Emangnya siapa lagi," ucapnya.
"Kamu bolos sekolah, ya? Sama dong kayak aku, habisnya di sekolah berisik banget, kalau di sini kan tenang. Ya, gak?"
"Hmm," responku singkat. Seketika itu mukanya terlihat emosi namun terlihat konyol.
"Jangan hmm-hmm doang. Aku kan jadi malu kayak ngomong sendirian."
"Ma-maaf," responku singkat lagi.
"Huh." Dia menghela nafas, "udah lupain. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?"
Dia bertanya tentang namaku, aku yakin dia akan menjauhiku setelah mengetahui namaku. Tapi ini memang takdirku, yang hanya bisa kulakukan sekarang adalah memberitahunya kebenaran dibalik namaku.
"Aku Blood Rain," ucapku bersusah payah.
"Blood Rain? Wkwk nama aneh apa itu?"
Dia tertawa? Kenapa dia tidak lari? Apa dia berbeda dari yang lain? Kemudian aku menengok ke arahnya lagi.
"Nama kamu aneh banget, wkwk. Eh nama aku juga aneh sih. Mau tahu ... mau tahu, gak?!" tanyanya dengan semangat, aku pun menggangguk pelan.
"Daisy Flower, aneh kan?"
"Cantik," responku tak terduga. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa berkata demikian.
"Eh! Beneran? Baru kali ini loh ada yang muji nama aku biasanya juga diledekin, hihi." Dia terlihat sangat senang dengan senyuman tulus di wajahnya. Aku berpikir, cantiknya ...
"Kalau gitu Blood Rain, mulai hari ini kita temenan, ya. Kamu mau, kan?" ajaknya sambil mengulurkan tangannya dengan senyuman manis masih terlihat di wajahnya.
Aku membalasnya dengan anggukan dan tanpa kusadari aku juga ikut tersenyum. Baru kali ini aku tersenyum setelah sekian lama. Pertama kalinya aku memiliki seorang teman, aku berjanji akan melindunginya dengan segenap tenagaku. Dan hari-hariku akan terasa berbeda kedepannya. Akhirnya musim semi datang kepadaku ...
END