Wrong
by: Restu Anugerah
Namaku Hito, hari ini adalah hari yang mendebarkan untukku. Aku telah menyiapkan nyali untuk menembak cewek yang sangat aku kagumi. Dia Novi, orang yang dikenal sangat cantik di sekolah. Bisa dibilang seorang idola sekolah. Aku memanggilnya ke belakang sekolah untuk mengutarakan perasaan ku padanya.
"Jadi, ada urusan apa sama aku?" tanya Novi.
"Be-begini, se-sebenarnya aku udah lama suka sama kamu." Novi mendengarkan. "Ja-jadilah pacarku!" teriakku langsung ke intinya.
"Boleh," balas Novi.
"Bo-boleh?!" kagetku.
"Iya boleh, nanti kita pulang bareng ya, Hito," ajak Novi dengan tersenyum manis.
"Eh, kok kamu tahu nama aku?"
"Rahasia, hihi."
Waktu pulang sekolah
Tiba masanya untuk pulang. Aku bergegas menuju pintu gerbang. Dan ternyata Novi sudah ada di sana. Masih serasa mimpi, namun aku merasakan sakit ketika dicubit.
"Ah! Hito!" teriaknya menyapaku.
Semua mata tertuju padaku dan Novi. Mungkin dibenak mereka.
"itu Novi kan?"
"Lalu, yang dipanggilnya itu siapa?"
"pacarnya kali."
"Gak mungkin lah, wkwk."
Entah kenapa pikiranku suka untuk berkhayal dengan sendirinya. Padahal aku tidak mengetahui apa yang mereka bisikkan. Cuma sekadar prasangka belaka dariku.
"Udah nunggu lama, Nov?" tanyaku, dia tersenyum lalu merespon ucapanku.
"Gak kok, baru aja. Yuk pulang, Hito," ujarnya sembari menggenggam tanganku. Aku kaget plus gemetar, tidak dengan Novi yang sangat senang. Bisa terlihat dari wajahnya.
Kami berjalan pulang, meninggalkan tatapan penuh tekanan dari para Siswa. Di perjalanan, Novi selalu mengajakku mampir ke berbagai tempat. Dan dia terlihat sangat menikmati ini. Aku juga secara tidak sadar terbawa suasana.
"Hari ini sangat menyenangkan, Hito."
"Iya, Novi. Aku juga senang. Tapi ini hampir malam. Kita pulang yuk, aku anterin kamu sampai rumah."
"Tentu, sayang. Hihi, yuk!"
Sayang? Barusan dia bilang sayang kepadaku? Hati ini sangat tersipu malu. Kaki melangkah dengan senangnya. Namun,
"Guk! Guk!" Anjing datang pada kami. Dan terlihat anjing liar yang buas.
"Novi awas!"
Tak menghiraukan perkataanku, Novi mendekati anjing itu. Terlihat Novi memegang sebilah pisau yang entah darimana asalnya. Dia menikam anjing itu tanpa ampun, sampai anjing itu mengeluarkan suara kematiannya. Aku sangat syok, Novi yang selama ini aku kagumi memiliki sisi gelap seperti ini.
Anjing itu sudah tak bernyawa, namun Novi masih saja menikamnya dengan pisau tadi. Ku hampiri dia, aku ingin menghentikan.
"Nov-Novi—"
Seragam sekolahnya bersimbah darah anjing. Dia bahkan tersenyum setelah aku memanggilnya.
"Nov-Novi, sebenarnya apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu membunuh anjing itu?" gemetar diriku setelah membentaknya. Dia menatapku.
"Hito gak suka ya?"
Novi mendekat dengan pisau masih di tangan. Aku ketakutan setengah mati, apa aku akan dibunuhnya? Diriku mundur, hingga aku terduduk ke tanah.
"Hei, Hito beneran gak suka?" Kembali dia bertanya. Tiba-tiba! Pisau melayang, mengagetkanku.
"Hito. Berjanjilah untuk merahasiakan hal ini, anggap tidak pernah terjadi apa-apa." Tatapan membunuh tertuju padaku. Dia mengancam diriku dengan tatapannya itu. Aku kesulitan bernafas. Diriku masih syok berat, tatapanku kosong menuju tanah. Nafasku sesak, terengah-engah.
"Yuk, sayang kita pulang." Dia kembali seperti tadi. Senyuman itu apakah palsu?
Diriku berniat melupakan kejadian tadi seperti yang dikatakan Novi. Namun kakiku terus gemetaran, walaupun aku menggandeng tangannya. Keringat dingin terus bercucuran. Hati ini ingin melupakan, namun otak terus memikirkan.
***
"Makasih ya, sayang. Kalau gitu aku masuk dulu. Kamu hati-hati ya pulangnya."
"I-iya," responku. Alih-alih melihat mukanya. Kakiku spontan berlari meninggalkan dirinya.
Keesokan harinya, Novi menghampiri diriku yang berada di kelas. Dia berencana mengajakku ke rumahnya sepulang sekolah. Semua itu dia katakan dengan sikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami kemarin. Aku mengikuti sandiwaranya, menjadi pacar yang baik buat Novi.
"Jangan lupa loh ya... sampai nanti, sayangku."
Seisi kelas menatap kami dengan perasaan iri. Namun mereka tak mengetahui siapa Novi sebenarnya. Pulang sekolah, benar-benar seperti wacana. Novi membawaku ke rumahnya. Sesampai di sana, yang kulihat adalah rumah besar, namun sangat sunyi.
"Novi," ujarku. "Kamu tinggal sendiri?"
"Iya aku tinggal sendiri, kamu duduk dulu ya, aku mau ke dapur ambil minuman." Novi menyuruhku duduk. Kenapa dia tidak mengajakku ke kamarnya?
Aku berpikir, apa mungkin dia menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh seorangpun untuk melihatnya. Apa itu? Mengingat kepribadian Novi yang sangat buruk, aku berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Nih minum dulu." Dia menyuguhkan segelas air. Saat bersama Novi, rasa takutku tak pernah hilang. Terus gemetar, walau hanya meneguk segelas air putih.
"Hei, Hito. Apa kamu udah pernah pacaran sebelumnya?"
"A-aku gak pernah. Ini pengalaman pertamaku."
"Gitu ya, aku juga baru pertama kali."
Aku tidak sanggup menahan, aku ingin ke toilet untuk buang air. Aku pun bertanya pada Novi.
"Nov, toilet dimana?"
"Oh, di sana. Kamu tinggal lurus aja," ucapnya seraya menunjuk arah.
Aku mengangguk tanpa berterima kasih. Menuju toilet dengan cepatnya. Saat menuju ke toilet tak lupa mataku memandang kemewahan rumah Novi. Hal itu membuat aku terkagum-kagum dan sejenak melupakan kejadian yang tak menyenangkan.
Namun, itu semua cuma sekejap. Aku mencium bau yang sangat menyengat, bau itu seperti berasal dari sebuah kamar. Karena penasaran dengan sumber bau itu, aku mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut. Dan ternyata pintu itu tidak tertutup. Sangat gelap, seluruh isinya sangat gelap. Mataku mulai membiasakan. Dan apa yang kulihat? Kembali aku gemetar setelah melihat semua ini, syok berat menimpa diriku.
"Aku harus kabur! Aku harus kabur!" Kata-kata terlintas dalam benakku.
Tanpa aku sadari, Novi sudah ada di belakangku. Dia menutup pintu kamar dari dalam. Aku tidak bisa keluar! Aku terjebak di sini bersama orang gila ini. Novi mendekat, lalu membenturkan tubuhku ke dinding. Tenaganya sangat kuat, hingga membuat aku tak sadarkan diri.
****
"Emm." Diriku tersadar. Aku kaget mendapati kedua tangan dan kakiku di ikat pada tiang-tiang ranjang. kulihat lagi tubuhku setengah telanjang.
"No-novi?! Lepaskan aku!"
Sial! sial! Wanita ini gak waras. Otaknya rusak. Aku melihat Novi beranjak dari ranjang, dia mengambil sesuatu. Meja? Oh! Itu meja besi dengan roda. Dia menariknya, lalu memperlihatkan banyak benda tajam. Itu semua terlihat seperti alat penyiksaan bagiku.
"Nah, Hito ... saatnya hukuman. Soalnya kamu udah nakal melihat ruangan ini tanpa izinku. Kamu tahu, ruangan ini ruangan rahasiaku loh. Jadi kamu gak boleh seenaknya."
Novi mulai mengambil sebilah pisau kecil. Dia menaikiku. Namun, ini semua bukan memancing nafsuku. Malah sebaliknya, membuat diriku sangat ketakutan. Sayatan pisau kecil itu melukai perutku.
"Si-sial!" Aku tak berdaya.
"Hito, kamu lihat yang di sana, kan? Itu semua adalah mayat kedua orang tuaku." Tatapanku menajam. "Sangat di sayangkan mereka mati, padahal cuma aku kurung di kamar ini, hihi."
"Cewek gila!"
"Ah, Hito. Kata- kata kamu kasar. Aku bisa menangis loh."
"Lepasin aku, Nov!"
"Enggak mau, kamu milik aku. Selamanya milik aku. Kamu gak boleh pergi kemana-mana."
Novi mengucapkan itu seakan sangat mencintaiku. Tapi, apa ini bisa disebut cinta?! Apa anggapannya saja yang berbeda dari orang lain.
Terus dan terus. Sayatan pisau terus melukai tubuhku. Namun, aku tak berdaya, tak bisa melawan. Mentalku mulai pudar. Tatapanku kosong. Membuat diriku seperti orang bisu serta cacat. Pikiran berada pada dunia putih tanpa warna lain.
Novi yang memanggilku tak kuhiraukan. Namun aku bisa melihat wajah penuh bersalahnya.
****
Tidak tahu sudah berapa lama waktu berjalan. Dimana aku sekarang? Iya ... aku masih berada di dunia kosong. Namun kali ini, dunia penuh dengan air. Sangat gelap bak lautan dalam. Aku mati? Tidak, aku masih bisa mendengar suara.
"Hito, apa kamu bisa mendengar suaraku. Bagaimana keadaanmu, Hito." Siapa itu yang bertanya. Dia mengenakan jas putih, oh dia seorang Dokter. Artinya aku berada di rumah sakit.
"Saya kenapa, Dokter?"
"Kamu menderita gangguan mental yang berat. Selama tiga tahun ini, kamu hanya diam dan tidak merespon sedikitpun perkataan orang di sekitarmu."
Entah kenapa aku melupakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang membuatku seperti ini.
"Jangan memaksakan dirimu berpikir. Layaknya smartphone, otakmu sedang mereset hampir semua ingatanmu. Artinya kamu memulai kehidupan dari awal kembali," jelas Dokter.
"Dan kata orang tuamu, mereka akan menjemputmu pulang hari ini."
Orang tuaku? Aku tak ingat sama sekali. Mereka datang menjemputku dengan sebuah mobil sewaan. Tiga tahun sudah berlalu. Lalu ...
"Berhenti, di sini!" teriakku. Aku berlari keluar dari mobil. Rumah ini terasa familiar. Dan aku mungkin akan menemukan jawaban kegelisahan diriku. Aku seperti mengetahui semua jalan dan letak ruangan di rumah ini.
Aku membuka pintu. Tidak ada apapun di kamar ini. Cuma kamar kosong. Tapi di sebuah meja terdapat secarik kertas. Aku membuka dan membaca setiap tulisannya.
Dear, Hito
Maafin aku sudah berbuat hal yang jahat padamu.
Aku menyesali perbuatanku.
Namun aku sangat mencintaimu.
Walaupun hubungan kita cuma sebentar, dan aku juga sudah memberi kesan buruk pada kencan pertama kita.
Aku benar-benar gak bisa diharapkan ya, hihi.
Kamu tahu ...
Selama ini aku selalu memperhatikanmu. Dan saat kamu bilang, jadilah pacarku! Aku sangat senang, karena aku sudah lama mencintaimu.
Namun, caraku salah. Ungkapan cintaku salah.
Aku rasa, aku harus menghilang dari kehidupanmu, Hito. Yang terpenting bagiku adalah kebahagiaanmu.
Bahagia selalu, ya. Buat selamanya.
Aku sayang kamu ...
Tertanda,
Novi
Tidak sadar, air mata ini telah mengalir. Aku sangat dibutakan oleh rasa takutku selama ini. Aku melupakan bahwa aku dulu sangat mencintai Novi. Aku tidak berusaha untuk memahami Novi. Dia yang selama ini mencintaiku dengan tulus, sedangkan aku telah menilainya dengan buruk. Aku sadar, cinta itu bukan melihat kekurangan suatu pasangan, melainkan saling melengkapi dan menasehati satu sama lain.
END