Dalam kelamnya malam, di konser musik yang mempesona, Diana merasa terhipnotis oleh melodi piano yang menyayat hati. "Itu melodi yang menghantarkanku pada seseorang," ucapnya pada seorang pria tampan yang sedang memainkannya. "Afgan," jawab pria itu, "profesor musik yang sedang mencari keindahan yang hilang dalam not-not kesepian." Afgan membawa Diana ke dalam dunianya yang penuh dengan melodi klasik. "Inilah dunia yang jarang terjamah, tapi aku yakin kamu bisa menemukan keindahannya,"
kata Afgan sambil tersenyum.
-
Diana membalas, "Duniamu seperti simfoni yang menakjubkan, aku ingin menjadi bagian darinya." Ketika Diana mengetahui bahwa Afgan masih merasakan rasa kehilangan dalam cinta masa lalunya, dia bertanya, "Bisakah kita menyembuhkan bersama-sama?" Afgan merenung sejenak, "Aku butuhmu untuk menyusun kembali melodi yang terputus dalam hatiku."
-
Di hadapan teman-temannya yang skeptis, Diana dan Afgan menghadapi pertanyaan dan pandangan meragukan. "Cinta tidak mengenal usia," ucap Diana dengan tegas. Afgan menambahkan, "Biarkan kami membuktikan bahwa hati ini dapat berbicara tanpa terhalang oleh angka-angka." Pulang malam menjadi rutinitas bagi Diana dan Afgan. Mereka bercerita, tertawa, dan merencanakan masa depan. "Pulanglah setiap malam, dan kita akan terus membangun kisah ini bersama," kata Afgan sambil menatap Diana dengan mata penuh kasih.
-
Novel ini berakhir dengan jejak cinta yang terdengar abadi dalam setiap melodi yang mereka ciptakan bersama. "Hati tak kenal usia, dan cinta kita adalah bukti bahwa melodi cinta dapat bersahut-sahutan sepanjang waktu," ujar Diana, sementara Afgan menambahkan, "Kita adalah satu harmoni yang akan terus terdengar dalam jejak waktu."