Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Raka ketika lelaki itu tengah asyik mengelap motor kesayangannya di halaman kontrakan. Raka menoleh sebentar lalu kembali dengan aktivitasnya karena merasa tidak mengenal si pemilik mobil.
Seorang perempuan muda keluar dari mobil sambil menggendong bayi dan menenteng sebuah tas yang berukuran cukup besar. Dia menghampiri Raka. Tubuhnya tinggi dengan kulit putih bersih. Terlihat jelas dari pakaian yang dikenakan kalau dia berasal dari kalangan atas. Sayang, wajahnya sebagian tertutup oleh masker.
“Mas, tolong saya.” Perempuan itu berkata membuat Raka mendongak lalu berdiri.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”
Perempuan muda itu menatap Raka dengan tatapan sendu lalu pandangannya beralih kepada bayi yang berada dalam gendongannya. Bayi itu sedang tertidur lelap.
“Mas, tolong jaga anak saya,” ucapnya sambil menyerahkan bayi itu.
Raka melongo sesaat. Namun, tangannya tetap menerima tubuh bayi mungil itu.
“Tolong pelihara dia, Mas. Semua perlengkapannya ada di tas itu.”
Selesai berkata, perempuan itu berjalan cepat menuju mobil. Begitu dia masuk, kendaraan roda empat itu melesat kencang seperti angin.
“Woy, Mbak, ini maksudnya apa?!”
“Woy, saya bukan tempat penitipan bayi!”
“Woy! Woy!”
Raka melambaikan tangannya, berharap mobil tadi berhenti. Namun, kendaraan itu justru melaju makin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan.
“Woy, kenapa lu?” Zul, teman Raka berlari mendekat lalu menepuk pundak Raka pelan. “Kesambet? Eh, ini bayi siapa?” tanyanya saat melihat sahabatnya itu menggendong bayi.
“Itu dia, Zul. Gue juga bingung,” balas Raka sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Bingung bagaimana? Coba lu cerita. Ini bayi dapat dari mana? Lu nggak nyulik anak orang, kan?”
“Gila lu, Zul. Ya, kagaklah.” Raka berjalan menuju teras rumah. “Lu bawain, tuh, tas!” titahnya. Lelaki berusia 25 tahun itu lalu duduk di bangku teras, masih dengan menggendong sang bayi di pangkuannya.
Zul ikut duduk di samping Raka dengan wajah penasaran. Matanya masih saja menatap ke arah bayi yang tidur terlelap di pangkuan sahabatnya itu.
“Tadi itu pas gue ngelap si Juki tiba-tiba ada mobil berhenti, terus ada cewek turun sambil gendong bayi. Dia bilang nitip bayinya. Gue pikir cuma disuruh jagain sebentar. Eh, nggak tahunya itu cewek kabur naik mobil,” jelas Raka panjang lebar.
Zul hanya melongo mendengar penjelasan Raka. “Lah, kok, bisa?” balasnya tidak percaya. Matanya sibuk memindai wajah sang sahabat dan bayi yang masih tertidur pulas.
“Heh, apa yang lu pikirin?” Raka menoyor kepala Zul.
“Dia bukan anak lu, kan, Ka?” tanya Zul dengan wajah tidak percaya.
Raka melotot. “Lu pikir gue ....”
“Sorry. Sorry. Gue cuma bercanda. Siapa tahu di luar sana lu ngehem, tapi nggak mau tanggung jawab,” potong Zul lalu tertawa lepas, membuat Raka geram dan menjitak kepala Zul dengan keras.
“Aduh, sakit, Bambang!” teriak Zul sambil memegangi kepalanya. “Lu pikir kepala gue apaan? Batu?” protesnya.
Teriakan Zul membuat bayi dalam pangkuan Raka terbangun dan menangis.
“Berisik, sih, lu, Zul.”
Raka dan Zul berusaha membuat bayi itu berhenti menangis. Mereka bergantian menggendongnya. Akan tetapi, tetap saja bayinya tidak berhenti menangis. Justru tangisnya makin kencang.
“Lu punya dosa apa, sih, Ka. Belum nikah udah dikasih anak,” celetuk Zul sambil memamerkan barisan giginya yang rapi. Meledek.
“Ngomong sekali lagi gue pites lu.” Raka terlihat sewot.
Benar juga, sih, apa yang dibilang Zul. Mimpi apa, ya, gue semalam? Bisa-bisanya dititipin bayi. Mana, tuh, sama perempuan gue kagak kenal lagi, batin Raka nelangsa.
Raka memandangi bayi dalam gendongannya yang tidak kunjung berhenti menangis. Ada rasa iba menyelinap di dada. Namun, Raka juga bingung, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa mungkin dia akan merawat bayi itu sesuai permintaan perempuan yang menitipkannya? Apakah dirinya sanggup?
“Itu anak siapa?” Seorang wanita bertubuh gemuk tiba-tiba menghampiri mereka. Dia adalah pemilik kontrakan tempat Raka dan Zul tinggal. Namanya Bu Ratna.
Raka menceritakan apa yang terjadi kepada Bu Ratna.
“Lah, kok, ada, ya, yang seperti itu? Terus ini bagaimana urusannya? Siapa yang akan merawat bayi ini?” tanya Bu Ratna sambil menimang-nimang bayi itu agar berhenti menangis.
“Apa kalian bisa merawatnya? Nggak mungkin, kan?” Bu Ratna menatap Raka dan Zul secara bergantian.
“Apa kita lapor polisi saja, Bu?” tanya Zul.
“Kalo lapor polisi bayinya nanti dibawa ke panti. Kasihan.” Raka menimpali. Membayangkan bayi itu harus hidup di panti asuhan, Raka pun tidak sampai hati. Teringat saat masa kecilnya yang dihabiskan di panti asuhan dulu. Batin lelaki itu kembali nelangsa.
“Terus bagaimana? Lu mau pelihara?” sergah Zul. “Yang ada juga lu bakalan bermasalah sama polisi. Kalau benar si perempuan itu penculik anak bagaimana? Lu bisa dipenjara karena barang buktinya ada di elu.”
“Sudah! Sudah! Jangan ribut! Coba periksa tas itu. Siapa tahu ada petunjuk di sana!” perintah Bu Ratna.
Raka membuka tas yang tadi ditinggalkan perempuan misterius itu. Isinya hanya baju dan perlengkapan bayi lainnya seperti susu, bedak dan minyak telon. Sebuah surat terselip di antara lipatan baju. Surat itu hanya menerangkan tentang kapan waktu sang bayi dilahirkan. Hari, bulan, dan tahunnya. Tidak ada petunjuk apa pun yang bisa mereka temukan tentang siapa orang tua bayi itu. Bahkan bayi itu sendiri belum ada namanya.
“Kasihan. Umurnya baru dua minggu,” gumam Raka sambil menatap surat di tangannya. “Apa perempuan tadi itu ibu kandungnya?”
“Kita bawa ke rumah Pak RT saja. Biar beliau yang putuskan bagaimana baiknya nanti. Zul, tolong kamu bikinin susunya. Lihat saja petunjuknya di kemasan!” perintah Bu Ratna kepada Zul.
*
“Jadi, ini baiknya bagaimana? Bayinya kita serahkan ke pihak kepolisian saja?” tanya Pak RT kepada warga yang hadir.
“Ja-jangan, Pak. Biar saya yang rawat!”
Jawaban itu sukses membuat semua yang hadir menoleh kepada sosok Raka. Mereka semua tampak tercengang dan geleng-geleng kepala menatap pemuda itu.
“Yang benar saja lu? Lu pikir pelihara bayi gampang? Kayak pelihara ayam? Cuma dikasih makan terus dikandangin,” bisik Zul sambil menyikut lengan Raka.
“Gue kasihan, Zul. Kagak tega.”
“Benar Nak Raka mau merawat bayi ini?” tanya Pak RT tidak yakin. Beliau menoleh pada bayi yang kini tengah digendong sang istri.
“Hem, anu. Iya, Pak. Saya mau merawatnya. Kita bisa rawat bersama. Kasihan, Pak. Nanti bayinya dibawa ke dinas sosial.”
“Bagaimana ini, Bapak-bapak, Ibu-ibu?” tanya Pak RT lagi.
“Kalau Raka mau merawat bayi itu, ya, nggak papa, Pak. Nanti kami bantu.” Seorang ibu memberi jawaban.
“Tapi, kan, Nak Raka belum berpengalaman merawat bayi. Nikah saja belum. Bagaimana bisa merawat bayi ini?” balas Pak RT sambil tersenyum.
“Benar itu, Ka. Penghasilan lu sebagai tukang ojek online belum cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi yang nggak murah,” imbuh Zul. “Sudah jangan nyari sengsara.”
Raka menggaruk-garuk kepalanya. Bingung. “Saya memang belum menikah Pak RT, tapi sebagai anak yang pernah ditinggal orang tua di masa kecil, hati dan jiwa saya merasa terpanggil untuk merawat bayi itu.”
Semua warga yang hadir di rumah Pak RT terdiam. Raka sejak bayi memang dibesarkan di sebuah panti asuhan. Pemuda itu tidak pernah tahu siapa dan bagaimana rupa orang tuanya.
“Sa-saya cuma mau menjalankan amanah dari yang menitipkan bayi itu, Pak. Ya, walaupun saya tidak kenal sama mbak itu. Saya nggak tega melihat bayi itu dibawa ke panti asuhan. Kasihan,” ucap Raka.
Pak RT dan warga tampak mangut-mangut.
“Saya merasa sudah sayang sama bayi itu,” ucap Raka lagi. Dia memang berkata apa adanya. Entah mengapa dia mulai jatuh hati pada bayi laki-laki itu sejak awal melihatnya.
Pertemuan warga di rumah Pak RT pun berakhir dengan kesepakatan Raka boleh merawat bayi itu dan mereka semua akan bersama-sama membantunya.
Raka kembali membawa bayi yang diberinya nama Gibran itu pulang ke rumah kontrakannya dan Zul. Gibran artinya hadiah. Lelaki itu percaya Gibran sengaja dikirimkan Tuhan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-25.
“Kalo dilihat-lihat Gibran ini cakep, ya, Ka. Kayak bule, tapi kenapa orang tuanya nggak mau merawat, ya?” Zul mengamati wajah Gibran yang tengah tertidur pulas setelah menghabiskan sebotol susu.
Raka mengangkat bahu. Hari ini dia sangat lelah setelah seharian mengurus bayi. Dibaringkannya tubuh letihnya di samping Gibran.
Terdengar dering ponsel dari atas nakas. Raka dan Zul serentak menoleh. Ternyata suara itu berasal dari ponsel milik Raka.
Raka bergegas menyambar ponselnya. Ada sebuah pesan masuk di kotak email miliknya. Lelaki itu hampir saja berteriak kegirangan kalau tidak ingat waktu sudah tengah malam.
“Zul, gue diterima di perusahaan yang selama ini gue incar.” Raka berucap dengan wajah bahagia.
“Alhamdulillah. Wah, selamat, Ka. Akhirnya, Tuhan mengabulkan doa lu,” balas Zul ikut senang.
“Iya, Zul. Lu doain, ya, gajinya gede. Biar gue gak nebeng makan lagi sama lu.” Binar mata Raka terlihat sangat bahagia. Pemuda itu langsung bersujud syukur.
Zul mendengkus. “Jangan lupa hutang lama dibayar,” kelakarnya.
Raka mengacungkan jempol kanannya lalu kembali membaringkan tubuh di samping Gibran dan memejamkan mata. Sedangkan, Zul memilih tidur di ruang tamu.
Raka tersenyum menatap wajah polos Gibran. Semoga kamu menjadi anak yang sholeh, ya, Nak,” bisiknya di telinga bayi itu.
❤️*BERSAMBUNG*❤️
Cerita ini terinspirasi dari berita di televisi. Seorang pemuda yang menemukan seorang bayi baru lahir.