Hari itu saat aku membuka mata...
Waktu seakan sempat berhenti saat mata ku terpejam—
Tapi apa yang terjadi?
.
.
.
Saat aku membuka mata, ruangan putih dengan perabotan mewah menyapa mata ku. Ya, itu adalah rumah ku. Sofa kulit yang dingin berada di bawah ku saat aku masih memproses yang terjadi. Lalu seorang pria tampan menghampiri ku tidak lama setelah itu, dia terlihat kuatir sambil membawa segelas air pada genggaman nya.
"Yeri.. Kamu baik-baik saja? Ada yang tidak nyaman? Kamu pingsan lagi, sayang..."
Wajahnya terlihat sangat kuatir seperti biasanya saat aku membuka mata.Tangan nya yang besar menyentuh lembut permukaan kulit kening ku saat tubuhku sepertinya masih terbaring di atas sofa.
"Iya, hanya sedikit pusing, tapi aku baik-baik saja." Senyum ku mengembang.
Pria itu adalah pacar ku yang tampan, seorang dokter muda tampan yang disukai oleh semua orang terutama para pasien nya. Sepertinya kami sudah berpacaran sekitar dua tahun lamanya.Entah bagaimana kami bertemu, tapi sepertinya aku melupakan pertemuan kami juga setiap kali aku pingsan, seperti biasa.
"Apa yang terjadi, Michael? Aku.. Seingatku, aku sedang memasak tadi pagi di dapur." Aku benar-benar linglung, apalagi saat melihat langit yang sudah gelap di luar jendela besar di samping ku.
"Sudah.. tidak usah dipikirkan lagi."
Dada nya yang hangat membuat ku tenang dalam pelukan nya, pelukan yang selalu aku nantikan, nyaman.. Hangat.. Aku tidak pernah bosan dengan perlakuan lembut yang dilakukannya padaku. Tapi kondisi ku yang sekarang membuatku semakin takut kehilangan hilangan nya.
"Michael..."
"Kenapa, sayang? Kamu perlu sesuatu?" Suaranya masih lembut saat pelukan nya masih mengelilingi ku. Bibir nya yang hangat menyentuh kulit kening ku dengan lembut.
"Kapan aku bisa sembuh..? Aku lelah terus seperti ini. Terus pingsan dan melupakan apa yang terjadi barusan, terus menjadi beban untuk mu. Aku ingin sembuh, Michael.."
Telunjuk Michael yang lembut mengangkat dagu ku, membuat ku benar-benar terpaku pada matanya yang indah. Senyum manisnya seakan membuat ku semakin takut untuk kehilangan dia suatu saat nanti.
"Yeri sayangku.. Aku sedang berusaha menemukan caranya. Kamu harus sabar, ya? Kamu bukan beban, aku melakukan ini untuk mu karena aku mencintaimu, sayang.."
Aku hanya terdiam seperti biasa. Mulutku membisu saat suara, perhatian dan tatapan nya menghipnotis ku. Dengan gampangnya Michael mengangkat kaki dan punggung ku, membawa ku dalam gendongan nya saat aku masih tenggelam dalam lamunan.
"Sudah, kamu tidur saja, ya? Jangan memikirkan yang aneh-aneh."
Langkahnya yang kokoh membawa ku ke dalam kamar tidur yang ada di pojok ruangan. Perlahan dan lembut, Michael meletakkan ku lembut di atas kasur dan memberikan sedikit kecupan pada bibir ku.
"Selamat tidur cantik, mimpi indah.." Senyum nya yang lebar dan lembut menghantarkan kantuk ku yang benar-benar mulai tidak tertahankan.
"Selamat malam, sayang.. Terimakasih.."
Sebelum sosok pria itu hilang dari balik pintu, dia mematikan saklar lampu kamar ku dan memberikan senyum nya yang lembut di remang-remang cahaya kamar yang gelap. Mataku terpejam, tidur dengan nyenyak tanpa ada apapun. Perhatian yang Michael lakukan benar-benar membuat ku tenang dan melupakan segala kekuatiran ku selain bagaimana dia yang mungkin akan meninggalkan ku di masa depan.
.
.
.
Malam itu sunyi saat aku entah kenapa terbangun di tengah malam yang dingin dan pergi ke dapur. Aku memang menuju ke dapur, tapi tidak ada yang aku lakukan di sana selain menatap lampu kulkas dan isinya. Saat aku hendak kembali ke kamar, aku melihat pintu ruang kerja ayah ku sedikit terbuka dengan lampu yang menyala.
Dengan segala rasa penasaran, aku diam sebentar di depan pintu saat mendengar suara ayah berbicara. Telinga ku diam-diam menguping pembicaraan serius ayah dengan seseorang yang ada bersamanya di ruangan itu.
"Sakit Yeri sepertinya semakin parah. Kenapa putri tunggal ku harus memikul penyakit langka ini..." Aku mendengar suara ayah yang frustasi.
"Paman, saya pernah bilang pada anda. Kalau saya tidak akan menyerah untuk mencari cara menyembuhkan Yeri."
Suara orang yang berbicara dengan ayah... Aku mengenalnya, sangat familiar dan aku baru saja mendengar nya beberapa waktu lalu.
"Michael..?" Lirih ku sangat pelan sambil terus menguping di balik pintu.
Pembicara mereka terdengar semakin serius saat ayah menghela nafas berat sebelum melanjutkan bicaranya. Walaupun kaki ku sudah mulai pegal berdiri di depan pintu dalam diam, itu tidak menghapus tekad ku untuk menguping.
"Jangan karena budi itu kamu menjadi terbebani oleh Yeri. Paman memang meminta mu untuk menjadi pacar bohongannya, hanya untuk memastikan kondisi Yeri baik-baik saja. Tapi setelah paman pikir-pikir lagi... Kamu punya kehidupan, Michael. Permintaan paman untuk menjaga Yeri seakan menjadi penghalang dan beban untuk kehidupan mu."
Suara ayah terdengar jelas masuk ke dalam telinga ku, otak ku memproses setiap kalimat ayah yang terdengar berat. Kaki ku mulai gemetar, tangan ku mengepal dengan air mata yang sudah berada di ujung mata dan siap untuk jatuh.
Hati ku terasa di tusuk saat tahu bahwa Michael ternyata.. Bukan pacar ku yang sesungguhnya, dia hanya terpaksa melakukan itu demi membalas budi ayah yang tidak aku pahami sedikit pun. Lalu, cinta dan perhatian Michael yang selama ini aku rasakan?—
"Benar, paman. Karena paman, saya tidak akan bisa menjadi seorang dokter sukses seperti sekarang ini. Jadi saya sekarang membalas budi, dengan membantu paman mengawasi kesehatan Yeri dan menjadi pacar bohongannya."
Ucapan Michael itu membuat ku benar-benar runtuh. Tangis ku mungkin akan pecah sejadi-jadinya jika aku tidak segera menutup mulut ku. Kaki dan tangan ku gemetar di balik pintu ruang kerja ayah. Tanpa aku sadari, aku menyenggol sedikit pintu di belakang ku dan membuat bunyi yang menarik perhatian Michael dan ayah.
Dengan segera aku berlari terbirit-birit ke dalam kamar dalam diam sambil menahan tangis ku. Michael dan ayah langsung tetegun mengetahui aku telah menguping pembicaraan mereka. Namun Michael tetap terlihat tenang walaupun sudah tau aku menguping. Dia masih duduk diam di depan ayah, memejamkan matanya dan menghela nafas berat sebelum kembali bicara.
"Yang semua saya katakan itu benar adanya, paman."
Michael membuka matanya dan menatap tegas pada ayah. Tekad nya terlihat kuat dan kokoh.
"Itu yang saya pikirkan satu setengah tahun lalu. Sekarang.. Pikiran saya berubah."
Ayah menatap bingung Michael sambil memikirkan aku yang telah menguping mereka tadi.
"Yeri sudah menjadi kehidupan saya sekarang.. Saya benar-benar telah jatuh cinta pada Yeri, paman.."