Namaku Mentari Aku seorang mahasiswi dari Universitas B, kegiatan yang Aku sukai adalah traveling dan yang paling aku sukai yaitu berada di atas ketinggian. Aku suka mendaki gunung, mendaki bukit, dan segala hal yang berkaitan dengan kegiatan gunung.
Karena hoby inilah aku mulai mengenal Cinta, Aku tipe orang yang kurang dalam bergaul dengan orang lain tapi semenjak mengenalnya aku bisa beradaptasi dengan orang sekitar, bahkan bisa berteman dengan siapa saja. Bagaimana kalian tidak akan jatuh cinta jika mengenal orang yang aku maksud. Dia sosok laki-laki yang penuh kharisma, punya kepribadian yang baik, selalu menghargai orang lain, humoris, selain itu Dia juga tinggi tampan hampir semua kriteria ku ada padanya, terasa nyaman berada disamping Dia.
Perkenalan kami dimulai ketika Aku mengikuti kegiatan Pencinta Alam, kegiatan ini kita lakukan di daerah pegunungan, dan kebetulan Dia dan beberapa temannya lah yang menjadi panitianya.
"Bagaimana, apa ada yang perlu ditanyakan sebelum memulai kegiatan kita hari ini? " Ucap Ketua Panitia penyelenggara.
Aku saat itu mengangkat tangan untuk bertanya namun karena terlalu banyak orang yang sedang hadir Aku berusaha mengangkat tangan sambil melompat.
"Untuk yang mengangkat tangannya, silahkan maju kedepan" Pinta Ketua Panitia itu.
Mendengar intruksi tadi orang yang tadinya saling memadati memberikan ruang untuk Aku melangkah ke depan, dengan segera Aku melangkah menyusuri jalan sempit yang dipadati banyak orang itu. Sesampainya di depan semua bersorak kegirangan, tak terkecuali para Panitia didepan.
"Ceweknya cantik woiii, neng jangan lupa kasi no HP buat Pak Ketua! " Ejek salah seorang dari mereka.
"Sebutkan nama, dan pertanyaan yang akan kamu tanyakan! " Perintah Ketua Panitia.
"Nama saya Tari kak, tadi kakak Ketua menjelaskan jika butuh bantuan kakak akan siap melayani kan? " Tanya Tari sedikit ragu.
"Betul, apa kamu butuh bantuan? " Tanya Ketua Panitia tadi sambil sedikit tertawa dengan pertanyaanku.
"Sebelumnya namaku Elang, jadi jangan panggil Kak Ketua" Pinta Panitia tersebut.
"Iya Kak Elang, saya cuma mau bilang kalau saya punya trauma bersama orang banyak, dan saya butuh bantuan kakak atas masalah saya ini" Aku menjelaskan bla bla bla lagi dengan sangat jelas barulah Kak Elang mengerti.
"Oke jadi maksud kamu, kamu gak enak kalo nanti sering sering minta tolong sama kakak Panitia? " Tanya Elang lagi
"Bener kak" Jawabku
"Baik karena yang lain tidak ada masalah, terkhusus kamu, yang mendampingi kakak sendiri" Jawab Elang dengan senyum manisnya.
Aku pun melempar senyum malu malu ke arah semua orang dan terdengar sorakan dan sautan secara bergantian, dengan cepat aku menutup telingaku karena merasa tidak nyaman mendengar keributan.
"Modusssss alahhh si Panitia"
"Udah cocok dah kalian"
"Cuittt cuitttt"
"Langsung jadian Pak Ketua"
Sorakan yang saling sahut menyahut membuatku merasa pusing, namun dengan sigap Kak Elang merangkul tubuhku dari belakang, aku tanpa sadar menyembunyikan kepalaku kedalam dekapannya.
Karena kejadian itu semua orang tambah bersorak girang, kemudian dengan cepat Kak Elang mengintruksi kan peserta yang hadir agar lebih tenang.
"Oke, cukup kasian teman kalian terganggu, kita buka saja kegiatan ini dengan sama sama mengucap Basmalah" Pinta Kak Elang sambil masih mendekapku.
"Bismillahirrahmanirrahim" Semua mengucapkan nya dengan serentak.
Semua orang sudah bubar untuk membuat tendanya secara berkelompok, namun Aku dan kak Elang masih dengan posisi yang sama.
"Kamu masih takut? " Tanya kak Elang.
Aku mengangguk setelah mengangkat kepalaku ke atas.
"Makasih kak" Aku melangkah pergi namun kak Elang menarik tanganku.
"Bentar dulu, nama kamu siapa tadi? "
"Tari kak"
"Oke Tari, Aku Elang, boleh minta no HP kamu gak" Kak Elang menatapku dengan senyum mautnya, dan Aku seperti tersihir tanpa ragu menyebutkan no HP yang Ia minta.
"Itu aja kak" Tanyaku.
"Iya, makasih".
" Aku yang harusnya bilang makasih kak".
Kemudian Aku berlalu meninggalkan Kak Elang sendiri.
***
Kesan pertama ketika kamu mulai mengenal cinta adalah hal yang paling kamu takuti bukan lagi menjadi musuh bagimu melainkan menjadi teman hidupmu.
***
Semenjak saat itu Aku mulai dekat dengan Kak Elang dan teman temannya, Aku bahkan sering jalan bersama mereka, karena teman-teman Kak Elang bukan hanya cowok, tapi ada juga yang cewek, mereka itu Bram, Gery, Deny, Tania, dan Bela. Mereka semua baik, cuma Aku yang tidak seumuran dengan mereka, namun karena Aku orangnya menyenangkan kata mereka, jadi Aku ikut jadi bagian mereka, dan dijuluki si bontot.
Suatu hari ketika kami sedang makan bersama di sebuah Cafe X, baru kali ini Aku merasa sangat kecewa dengan ucapan Kak Elang, meski sering bercanda Aku selalu enjoy sama candaan mereka kepadaku, namun kali ini kok rasanya sakit.
"Lang, kapan sih loe resmiin Tari jadi pacar Loe? " Tanya Bela sambil senyum senyum.
"Apa sih yang Loe tunggu" Sahut Tania.
"Iya brow kita semua dukung kok" Ucap ketiga laki laki itu serempak.
Aku hanya tersenyum sedikit menyembunyikan rasa maluku akibat ulah mereka, namun ketika Kak Elang menjawab semua terdiam.
"Kalian gimana sih, Tari ini udah gua anggap adik sendiri, kalian mau ngerusak itu semua gara-gara sikap kekanak-kanakan kita" Kak Elang tidak tahu bahwa ucapannya sudah mematahkan hati seseorang.
Aku berusaha bersikap biasa saja, meski saat itu Aku merasa sakit yang kuterima luar biasa, karena jujur Aku sudah terlanjur berharap lebih.
***
Dan ketika kamu patah hati, hal yang paling kamu ingat adalah momen bahagia saat kamu bersamanya.
***
Suara Handphone ku berhasil mencairkan suasana.
Trrrttt trrrrrt
"Hallo, Assalamu'alaikum kenapa bu? "
"Waalaikumussalam, Tar kamu bisa pulang cepat gak, Ibu sama Ayah mau kedatangan tamu dirumah" Pinta Ibu disebrang sana.
"Iya bu, bentar lagi Tari pulang kok".
Mendengar jawabanku Ibu langsung pamit menutup suara telepon.
"Kayaknya, Aku duluan aja deh kak, Ibu nyuruh Aku pulang tadi" Aku menjelaskan dengan senyum yang biasa.
"Bentar dulu Tar, kita kan belum selesai ngobrol" Sambil memegang tanganku Ka Elang sama sekali tidak merasa bersalah dengan ucapannya, bahkan dengan ucapan manisnya yang sering membuatku berharap.
Kak Elang memperlakukan ku seperti seorang kekasih bukan seorang adik, kemana-mana jalannya selalu denganku, setiap kumpul sama teman-temannya selalu mengajakku, terlebih lagi perhatiannya padaku itu sungguh membuatku gila. Tapi ucapan dan tindakan nya tidak sesuai dengan yang Aku harapkan, dan akhirnya Aku patah hati.
"Ibu kalo nyuruh pulang pasti ada hal penting kak, mending Aku pulang aja biar gak kepikiran" Jawabku.
"Ya udah Aku anterin kamu pulang kalo gitu" Pinta kak Elang.
"Iya boleh deh, Aku ke toilet bentar ya tapi".
"Oke deh" Jawabnya singkat.
Namun belum sampai toilet Aku tidak sengaja medengar teman-temannya kak Elang sedang memojokkan kak Elang.
"Ehhh brow, kita tu gak ngerti sama jalan pikir loe, keburu ditikung loe tau rasa, kasian tu anak kayaknya berharap lebih sama loe" Ucap Bram.
Namun Aku melangkah masuk tanpa menunggu jawaban dari kak Elang karena Aku yakin jawabannya pasti tidak akan sesuai dengan harapan.
Setelah selesai dengan kegiatanku di toilet, Aku berjalan menuju meja kami.
"Kak jadi mau anter? " Tanyaku.
"Jadi, yuk kita duluan dulu ya brow" Ucap kak Elang pada temannya.
"Oke deh hati hati loe sama tikungan, jangan banyak-banyak ngerem" Ledek teman-temannya.
Kak Elang hanya tersenyum dengan ucapan mereka, namun Aku malah memasang wajah tak bersemangat, sesampainya dirumah Aku langsung bersiap membantu Ibu memasak didapur, dan selesai di dapur Ibu menyuruh ku untuk mandi dan berhias, aku hanya menurut tanpa bertanya ada apa.
Tepat pukul 19.00 datang sebuah mobil dan Aku bingung melihat siapa yang datang, mereka semua keluar dengan membawa berbagai kotak bingkisan dengan bermacam-macam isinya.
"Bu, ini ada apa sih? " Tanyaku pada Ibu.
"Mereka datang mau ngelamar kamu nak, mereka jauh-jauh dari luar Kota cuma datang buat kamu, kamu Terima ya nak".
"Kenapa gak bilang dulu sih bu" Aku kecewa dengan keputusan Ayah dan Ibu namun Aku tidak pernah melawan kemauannya mereka, bahkan saat ini pun Aku tidak bisa, dengan berat hati Aku menerima perjodohan dari mereka.
***
Jika cinta yang selama ini kamu harapkan tidak kunjung mendapat jawaban, maka akan datang seseorang yang lebih menginginkan mu dari Dia yang kamu cintai.
***
Setelah acara dimulai tidak terasa air mataku jatuh dipipi, ku usap dengan pelan agar tidak terlihat keluarga yang sudah hadir, kini jariku tersemat cincin dari laki-laki yang tengah melamarku.
Semenjak acara lamaran itu, Aku tidak pernah ikut kumpul bersama kak Elang dan teman-temannya, Aku sibuk kuliah sama seperti mereka, namun disatu sisi Aku juga sibuk mempersiapkan acara pernikahan, setelah kartu undangan jadi Aku berencana menemui mereka.
Namun tidak disangka ketika calon suamiku mengantarku ke Kampus, Kak Elang memergoki ku keluar dari mobil calon suamiku, dengan cepat Aku berpamitan dan melangkah menuju kelas, namun Kak Elang berhasil mengejarku, beruntung calon suamiku sudah pergi waktu itu.
"Kamu kenapa lari, kaya dikejar setan aja? " Tanya Kak Elang.
"Siapa yang lari" Aku berusaha menyangkal.
"Kamu sengaja menghindar dari kakak? "
"Gak kok kak, Aku buru-buru mau masuk kelas" Jawabku.
Seketika Kak Elang menggenggam tanganku dan mendapati cincin yang ada di jari manisku, dengan cepat ku tepis tangan itu, untuk menghindari pertanyaan darinya.
"Ini cincin dari siapa? " Tanya Kak Elang seperti menahan rasa kecewanya.
"Sebenarnya Aku mau bilang sama kalian semua, kalau undangan nya udah jadi, tapi berhubung ketemu sama Kak Elang, Aku mau nitip salam Kak sama teman-temannya kakak, Kalau seminggu lagi Aku bakalan nikah" Jawabku sambil menahan tangis.
"Kok mendadak sih Tar? " Kali ini Kak Elang terlihat berkaca-kaca dan menundukkan wajahnya.
"Aku dijodohin Kak, Aku juga sebenarnya gak tau kalau disuruh pulang cepat karena ada lamaran, mungkin memang ini yang terbaik" Jelasku.
"Jadi Aku harus lepasin kamu dengan ikhlas? " Tanya Kak Elang.
"Emang kakak punya perasaan sama Aku? "
"Itu lah bodohnya Aku yang selama ini gak pernah ngasih kamu kepastian, terus menunda dan menunda akhirnya" Kak Elang menghentikan perkataannya dan menangis.
"Sudah lah kak, mungkin ini semua terjadi karena kita memang tidak berjodoh".
"Tapi setidaknya kakak berusaha dapetin kamu, sedang kakak gak pernah berbuat apa-apa".
Semenjak menikah Aku dan Kak Elang tidak pernah bertemu lagi, dan kisah cinta kami bisa menjadi pelajaran untuk orang diluar sana untuk lebih menghargai perasaan orang lain.
The End***