Pagi hari dengan tetesan embun yang terbagi rata diantara daun-daun
Aku duduk ditemani teh tawar hangat
Kepulan asap yang menari diatas permukaan teh hampir tak terlihat tapi masih bisa aku rasakan.
Meski pahit namun akan berubah manis disetiap sesapannya
Sama seperti kisah ku
Kejadian yang tak mungkin dapat terulang tapi masih bisa aku ingat dan aku rasakan
Bogor, September 2001
Cuaca yang sedang musim panas namun sedikitpun kulitku tak merasa terbakar, sejuknya kota ini masih terjaga
Curah hujan yang tinggi dibanding kota lain menambah suasana kota Bogor menjadi lebih dingin dimalam hari
Panggil aku Ramdan, berusia 25 tahun April kemarin, aku berasal dari kota yang jauh disebrang pulau jawa.
Karna keadaan ekonomi keluarga, aku terpaks merantau hingga akhirnya aku sampai dikota ini.
Sesampainya diterminal kampung rambutan aku dijemput oleh paman Anang, adik ke dua dari keluarga ibu ku.
"Gimana perjalanannya Ram?"
"Lelah mang !"
Untuk perjalanan ditahun itu belum ada jalur Tol, mobil bis yang aku tumpangi beriringan dengan kendaraan kecil lainnya, hingga membuat jalan mobil tak bisa cepat.
Aku fikir perjalanan sudah berakhir dengan sampainya aku diterminal, namum aku masih harus menempuh satu jam perjalanan lagi menggunakan motor bersama paman.
"Sampai Ram, masuk ! Sapa bibi kamu didalam"
Sebuah rumah tak terlalu besar dengan dua kamar tidur, daerahnya tidak terlalu padat tapi juga tidak terlalu pelosok.
Sebelum sampai kesini, dijalan paman menunjuk suatu kawasan pabrik yang berada didaerah Cilengsi.
Aku bertegur sapa dengan istri pamanku yang asli pribumi dan anak laki-laki paman yang masih duduk dibangku sekolah dasar, setelah itu barulah aku istirahat
Hari-hari disini ku isi dengan membantu pekerjaan rumah, selain itu bila paman ada pekerjaan sampingan aku turut diajak.
Waktu berjalan terasa lambat, sudah tiga bulan aku dikota ini barulah aku mendapat pekerjaan.
Aku bekerja disebuah pabrik textile yang jaraknya cukup jauh dari kediaman paman.
Karna tidak memiliki kendaraan sendiri, ku memutuskan untuk tinggal dikontrakan yang dekat dengan tempat kerja.
"Mending kamu pakai motor paman, uang mu kamu kirim ke Mak mu dikampung"
"Engga apa-apa paman, soal uang aku tetap kirim ke Mak nanti, aku juga engga terlalu banyak kebutuhan"
Paman membantu ku mencari kontrakan terdekat dengan tempat kerja
Dan akhirnya aku disini, kontrkan Dua lantai dengan kamarku berada dilantai Dua, ada Empat kamar dengan posisi saling berhadapan.
Belum sampai habis anak tangga yang ku langkahi, seorang perempuan sempat terlihat hendak menuruni tangga tapi diurungkan.
Dia langsung berbalik badan dan sepertinya kembali kedalam kamarnya.
Kamar Dua petak berukuran 3x3 meter sudah cukup besar, ditambah biaya sewa yang murah.
Paman beberapa kali melihat keadaan ku disini, untuk memastikan aku sehat dan baik-baik saja.
"Baru disisni Brow?"
"Iya bang, saya Ramdan"
Karna jam kerja minggu sebelumnya sift malam, aku baru bisa bertegur dengan tetangga sebelah kamar.
Namanya Dirga, dia berasal dari kota yang tak jauh dari kota bogor, alasan dia disini sama dengan ku.
Dia bekerja disalah satu pabrik yang memproduksi ban motor dikawasan menara permai.
Karna ada Dirga dilantai yang sama aku jadi memiliki kawan, biasanya kalau disift yang sama kami selalu minum kopi dibalkon sambil bersantai.
"Disini ada perempuan, tapi kok gua engga pernah lihat lagi, apa dia pindah?" aku penasaran karna memang baru Satu kali melihatnya saat baru pindah kesini.
"Gua udah Tiga bulan lebih lama dari lo disini, tapi engga ada perempuan brow, lu salah liahat mungkin"
Karna pertanyaan ku barusan, Dirga malah merasa paranoid sendiri, dia saja belum pernah melihat, kenapa aku malah bisa bertemu.
Pagi hari saat kami berangkat kerja, aku harus berlari kembali kekontrakan hanga karna ponsel ku tertinggal.
Namun sialnya saat aku akan melangkah pergi lagi, terdengar suara tangisan dari dalam kamar yang berhadap-hadapan dengan kamar ku.
Aku tidak memiliki perasaan aneh soal hantu atau apalah itu, hanya khawatir tentang kondisi pemilik suara didalam.
Pintu sudah beberapa kali ku ketuk tapi belum ada jawaban.
Karena waktu yang sudah sangat menipis, aku tinggalkan kamar itu dan melangkah pergi.
Sore hari saat pulang, kamar Dirga masih terkunci tanda dia masih belum sampai atau biasanya over time dipabriknya.
Baru saja pintu kamar ku buka, pintu yang ada dibelakangku terbuka juga.
Eh... Hallo kak" sapa ku, sebenarnya aku terkejut tapi aku masih bisa menguasai diri.
Dia hanya mengangguk dan tersenyum lalu pergi begitu saja, dalam hati aku mengatakan 'mempesona'.
Saat Dirga sudah pulang aku ceritakan tentang perempuan misterius yang dia sebut hantu itu.
Dia sempat tidak percaya, tapi tirai jendela yang terbuka beserta barang yang ada didalam menjelaskan semuanya.
Pertemuan kemarin membuatku siaga telinga, aku kadang duduk dekat pintu kamarku sendiri untuk memastikan perempuan itu kembali pulang.
Tapi sudah Dua hari ini aku tidak mendapat apa-apa, aku hanya penasaran saja tidak lebih.
Menikmati teh hangat diminggu pagi dibalkon sidah menjadi hari liburku yang paling the best.
Sesaat aku menyesap teh, suara seorang meminta bantuan dari belakang.
Ditunggu tak muncul tapi saat dibiarkan malah sudah berada didekat ku sendiri.
"Permisi Mas, boleh minta tolong !"
Aku mengiyakan permintaan dia, ternyata tuas keran dalam kamar mandinnya patah
Dengan sigap aku membelikan yang baru lalu kembali memasangnya.
"Terima kasih Mas"
"Kalau ada perlu apa-apa, ketuk pintu saya kak, saya bantu sebisa saya.
Hari itu kami berbincang sedikit, dia memiliki nama yang bagus menurutku, aku memanggilnya Eva.
Blasteran sumatra dan jawa, memiliki tatapan mata yang tajam, hidung yang sedikit mungil serat lesung pipi.
Ternyata Eva sudah lebih dulu Lima bulan dari ku tinggal disini, karna kesibukannya yang kuliah dijurusan hukum membuat dia harus berangkat pagi lalu pulang diwaktu gelap.
Aku tidak mengerti sama sekali tentang mata kuliahnya, tapi yang kutangkap adalah keseriusan dia dalam mengenyam pendidikannya.
Tidak banyak dia bercerita, akupun tak mau menanyakan hal lebih jauh, hawatir membuat dia tidak nyaman.
Beberapa hari kemudian aku bertemu denganya lagi, ternyata seharian ini dia didalam kamarnya.
Kalau orang yang betah berada didalam, biarpun ada didalam tapi orang tak ada yang tau, menghawatirkan sekali.
Kebetukan Dirga juga ada dikamarnay, kami bertiga akhirnya bisa saling berkenalan, meski ditengah-tengah obrolan Eva merasa tidak terima disangka Hantu oleh bocah itu.
"Mau teh, gua bikinin sekalian kalo lo suka" tawarku pada Eva
"Mau, sekalian sama cemilannya ya, kayanya enak sore-sore gini" ucapnya sambil mesam-mesem
"Ahh nyesel gua nawarin lo"
Sebenarnya aku juga sangat berharap setiap apa yang aku tawarkan dia terima, karena yang ku lihat saat terakhir kali didalam kamarnya, aku tidak menemukan apapun peralatan memasak.
Hanya lemari pakaian dan meja serta buku-buku yang menumpuk diatasnya, ingin rasanya bertanya tapi aku urungkan.
Hari-hari kami lewati biasa saja, saat berkumpul kami hanya minum teh hangat dan sisanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Pernah suatu hari dia meminta aku menceritakan asal-usul ku, meski terdengar aneh tapi tetap aku ceritakan dari mana aku berasal dan alasan aku ada disini.
Dia hanya mendengarkan tanpa berkomentar apapun, selesai aku bercerita aku balik menanyakan tentang dirinya.
"Ayahku dari sumatra utara, kalau ibu dari jawa, aku tadinya tinggal dengan Oma tak jauh dari daerah sini"
Hanya itu yang dia katakan, aku tidak akan berkomentar, aku menghargai ceritanya.
Dia malah merasa nyaman kalau menceritakan kesehariannya dikampus dan juga didalam kamar.
Kalau lapar ternyata dia sering membeli nasi bungkus diwarung nasi yang ada didepan gang sini.
Seperti biasa, hari-hari kerja membuat kami sibuk lagi, tapi pagi itu aku mendengar tangisan lagi dari dalam kamarnya Eva.
Sekarang aku tidak perduli kalau dia tidak membuka pintu, aku buka sendiri pintu kamarnya.
Beruntung dia tidak mengunci pintunya, aku masuk sambil memanggil namanya,
Dia terduduk disudut ruangan sambil memeluk lututnya, tangisnya bertambah parau saat dia melihatku datang.
Dia memeluku sambil menangis terisak, tak ada pertanyaan, hanya mengusap rambutnya yang bisa aku lakukan.
Setelah selesai menangis dia memintaku keluar, dan anehnya saat dia sudah keluar penampilannya sudah rapih bersih dan harum, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kamu engga kerja Ram ?"
"Sift sore, kenapa ?, mau ngajak kencan ?"
"Iya, kencan kerumah Oma ku yuk"
Tentu saja kaget, mataku sampai membulat, belum apa-apa sudah dikenalkan dengan keluarganya (batinku yang terbawa perasaan)
Ternyata rumah Omanya tidak sedekat yang dia maksud, butuh Tiga puluh menit menggunakan angkutan umum belum lagi berjalan kaki kedalam.
"Oma !"
"Cucu Oma kenapa lama sekali sih datangnya"
"Banyak tugas, ini Ram" sambil menunjuk wajahku
Terkesan tidak sopan, tapi aku maklumi, karna memang aslinya Eva itu sedikit blak-blakan.
Hari itu juga aku tau kalau Eva dengan ku berbeda keyakinan, dia juga meminta ku mengantar ke gereja yang dekat dengan rumah Omanya.
Aku menawarkan diri menunggunya, awalnya dia dengan seenaknya menyuruhku pulang sendiri.
"Yuk makan dulu" ajak ku saat tepat didepan warung nasi
"Mau traktir nih, wah senengnya"
"Yey keenakan lo, tapi yaudahlah, kqn gua gajian kemarin"
"Ahh masa disini, ke kafe atau ke restoran lah, bikin yang romantis buat gua" Eva terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Tapi aku malah gugup
"Kenyangnya !" Sambil mengusap perutnya "Makasih ya Ram, jangan sungkan sering-sering, biar banyak pahala lo"
Eva tetaplah Eva, tak ada kecanggungan dalam kalimatnya, tapi dalam hati kecil aku juga merasa senang.
Saat dibalkon kami menghabiskan waktu sambil minum teh, seperti biasa semua aku yang menyediakan bahkan aku juga yang menyiapkan.
"Cuma Oma yang aku punya sekarang Ram"
Kalimat menohok saat kami hanya diam menikmati teh.
Eva menceritakan masa lalunya, yentang Ayah dan Ibunya, sungguh kisah yang kelam.
Ayah Eva Adalah seorang pendeta saat dia tinggal disumatra, hari-hari disana sungguh seperti neraka baginya.
Ibu dan anak selain mengalami tindak KDRT dari sang Ayah, Ibu Eva meninggal karna penyakit kanker yang diderita sejak lama, bahkan tak ada yang tahu.
Kehilangan sang Ibu membuatnya berani kabur dari rumah, saat itu Oma tau keberadaan Eva.
Perasaan Oma sangat hancur kelihat kondisi keluarga anaknya, dengan terpaksa Oma melaporkan Ayah Eva kepihak kepolisian
Eva pun dibawa ketanah jawa untuk menghilangkan traumanya, meski usaha Oma sebenarnya tidak bisa menghilangkan kenangan buruk itu
Tapi Eva selalu berusaha tersenyum dihadapannya.
"Ram, makasih ya udah mau denger cerita gua"
"Kalo lo butuh teman cerita, jangan ragu ceritain ke gua"
Eva mengusap ujung netranya yang basah, meski terlihat berat menceritakan kisah itu tapi Eva berusaha menarik sudut bibirnya dihadapan pandanganku.
Tak terasa hari-hari kami bertiga disini sudah menginjak hampir Dua tahun
Pagi ini ada Eva ikut minum teh dengan kami
"Gua balik dulu ke kampung Ram sekitar Tiga hari"
"Emang kenapa, kok mendadak"
"Lusa terakhir gua ambil cuti kerja, mau nengokin orang tua"
"Wah setuju banget kalo soal nengok orang tua, mudah-mudahan tahun depan gua bisa pulang kampung juga"
Jarak kota asal Dirga memakan waktu Tiga jam lebih untuk kesana, ditambah perjalanan lebih nyaman karna Dirga sendiri sudah memiliki motor.
Sedikit merasa aneh dengan suasana, biasanya kami bersantai disini tapi saat tidak ada rasanya jadi sepi.
Didekat daerah kami tinggal ada pasar malam dengan banyak permainan, terutama bianglala yang jadi icon pasar malam.
Eva sangat antusias menaiki permainan semacam ini, meski ini juga pertama kalinya untuk ku.
"Ada yang mau lo bilang ke gua Ram ?" Saat wahana yang kami naiki mulai beroperasi, Eva tiba-tiba berkata seperti itu.
"Hah ?" Itu ucapanku padanya karna aku juga tidak mengerti maksud pertanyaan Eva
"Lo kan laki-laki, emang udah engga punya selera lagi sama perempuan apa ?"
Aku mengerti, sampai-sampai jantung berdegup hingga seolah-olah degupannya terdengar sampai keluar dada.
Aku juga malu, tapi aku tak tau harus berkata apa, ini pertama kalinya untuk ku dan perempuan yang selama ini dekat dengan ku pun hanya dia.
Ku pandangi wajahnya, dia memalingkan pandangan, pipinya bersemu merah, aku bisa melihat semuanya.
Tapi apakah benar bika aku menyatakan kalau aku suka padanya, sedangkan aku banyak yang harus aku lakukan, banyak juga tanggung jawabku.
Aku tidakmau egois pada tanggung jawabku tapi aku juga tidak mau mengabaikan perasaanku.
"Lo tau gak Ram, orang yang oaling deket sama gua selain Oma ?"
"Siapa ?"
"Cuma Lo, gua engga bisa interaksi sama orang lain, jiwa sosial gua juga kurang, gua engga mau deket-deket banyak orang"
"Penyendiri" ucapku, Eva mendelik.
"Tapi sekarang engga sendiri lagi, makasih ya Ram"
Iya perasaan ini, rasanya ingin menemani, melindungi, menjaga bahkan apapun yang terjadi kedepannya aku ingin mendukungnya.
Tapi aku tidak akan memaksakan kehendak, hari ini biarlah untuk hari ini, besok aku serahkan pada diriku diesok hari.
(*Suara pintu kamar digedor)
Eva memanggil sekitar jam Empat pagi, sekarang Eva selalu masuk kedalam kamarku.
Alasannya bervariasi, membuat teh sendiri atau membuat mie instan, aku mengijinkan semua kegiatan dia didapurku.
Tapi kali ini tersengar agak bergetar suaranya, aku yang sebelumnya malas tapi ini berbeda.
"Oma masuk rumah sakit Ram" ucapnya saat pintu aku buka.
Tangan Eva terasa dingin dan bergetar, dia sangat ketakutan, aku hanya bisa memeluknya.
"Ayo kita kesana"
Dirumah sakit banyak sanak saudara Eva yang menunggu Oma, mereka ramah dan perhatian pada Eva.
Hanya sayangnya jarak tempat mereka tinggal terlau jauh.
Pagi itu dirumah sakit menjadi hari yang paling ditakutkan Eva, Oma menghembuskan nafas terakhirnya.
Satu-satunya sandaran Eva telah berpulang, tatapan mata Eva terlihat kosong.
Tak ada air mata dinetranya, namun tubuhnya tak berhenti bergetar, sungguh berat rasa sakit kehilangannya.
Selama ini Oma lah yang membiayai kehidupan Eva, meski sekarang Eva berhasil mendapat Beasiswa serta uang saku, tapi Oma tetap memberikan Eva pemasukan.
Pihak keluarga sepakat pemakaman akan dulakukan dukampung halaman.
Sudah jelas Eva akan ikut kesana bagaimanapun.
Disaat aku membantu Eva berkemas, pintu kamar diketuk oleh Dirga yang ternyata sudah pulang.
Aku menggantikan Eva mengabari kepada Dirga.
Meski pamannya menawari naik pesawat, Eva menolak, dia memilih didalam ambulan menemani Oma.
"Ram gua pergi dulu ya"
Malam itu terakhir aku melihat dia, sudah hampir Satu bulan Eva tak ada kabar apapun.
Aku hanya menatai pintu kamar yang tertutup rapat setiap kali melewatinya.
"Mungkin Eva tinggal disana Ram" ucap Dirga yang sama seperti yang aku perkirakan.
Dirga pamit untuk istirahat dan meninggalkan ku sendiri sambil melihat kejauhan dari atas balkon.
Setidaknya dia sempat berpamitan dengan ku dihari itu, meski aku merasa kehilangan.