"Kamu suka siapa?" tanya Endi pada Nana, sambil mengunyah kuaci.
Nana tidak langsung menjawab, sebab dia tidak yakin dengan pasti. Haruskah ia melakukan seperti apa yang ada di dalam drakor semalam? Tidak! Mustahil!
Endi tidak terlalu penasaran pada orang taksiran Nana. Lagipula itu bukan urusannya. Meksipun begitu, ia cukup bahagia mengerjai teman kecil ini.
"...aku...." ucap Nana terhenti saat melihat seseorang lewat.
Endi juga melihat ke arah yang dilihat Nana, lalu menyimpulkan, "Ah, ternyata Siru, ya?"
Wajah Nana berubah menjadi merah. Ia bingung harus berkata apa. Memang benar, tapi Siru sudah seperti pangeran di hatinya.
Endi mendengus. 'Kenapa harus dia?' gerutunya dalam hati.
Untuk menyembunyikan perasaan malu, Nana berbalik menanyakan orang yang Endi sukai. "Kalau Endi siapa?"
Mendengar pertanyaan Nana, Endi terdiam sejenak. Selama ini tidak ada perempuan lain di hidupnya selain Nana dan keluarga Endi sendiri.
Setelah berpikir, Endi menjelaskan, "Hm..., mungkin yang berambut panjang, ceria, dan...." Endi menghentikan kalimatnya, melirik Nana.
Nana sedikit bingung. Entah kenapa ia merasa semua perkataan Endi mengarah padanya.
"Hah, sudahlah. Sana pulang." Endi mengusir Nana untuk pulang, sedangkan yang diusir pasrah.
***
Hari ini, Nana dan Endi tengah bermain monopoli di rumah Endi. Memang lumayan membosankan, tapi tidak ada permainan lain lagi di sana.
"Aaaa, menyebalkan!" gerutu Nana, karena uangnya telah habis. Sementara itu, Endi malah mendapatkan uang.
Merasa makin lama makin membosankan, Nana memutuskan untuk bermain tantangan. Endi menerima tawaran Nana.
"Batu...,"
"Gunting...,"
"Kertas!"
Endi membentuk batu, sedangkan Nana mengambil gunting. Dengan begitu, Nana kalah.
"Sebentar..., kira-kira apa tantangan yang sulit untukmu, ya?" kata Endi sambil berpikir.
Nana memberikan masukan, "Makan cabai? Menari di festival sekolah?"
Endi menggeleng. Semua masukan Nana sangat mudah. Toh, Nana sudah sering melakukannya.
"Aha!"
"Aku punya ide cemerlang!" Endi membisikkan tantangan pada Nana. Seketika wajah Nana berubah.
Endi meminum gelas, meminum jus mangga di dalamnya. "Kalau kamu tidak berani, berikan skin Epic itu padaku."
Beberapa hari yang lalu, Endi mengajak Nana memainkan game mobile. Saat mengikuti pengundian event bersama, skin Epic incaran Endi justru didapatkan oleh Nana, sedangkan ia hanya mendapatkan 100 koin. Sejak saat itu, Endi memikirkan trik untuk membodohi anak kecil ini sembari terus mempengaruhinya agar tidak menggunakan skin epic incaran Endi.
"Baik. Skin itu milikmu!" Nana mengambil hpnya, membuka game mobile, lalu membuka inventori.
"...."
Endi login, membalas pesan dari para teman mabarnya sambil menunggu Nana.
"Endi...," Nana memanggil dengan suara pelan.
Yang dipanggil menyahut, "Kenapa?"
Sebelum Nana membuka mulut, tiba-tiba terdengar teriakan Ibu Nana.
"Bunda manggil, tuh," ujar Endi.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan kabur, Nana segera lari menuju rumah. Endi sama sekali tidak memerhatikan, karena terlanjur masuk pertandingan bersama teman-temannya.
***
"Siru! Aku menyukaimu!"
Pernyataan cinta Nana menggemparkan seluruh murid sekolah. Bagaimana tidak? Ia berteriak sangat kencang dari lapangan ke arah siswa yang sedang bermain basket, tapi telah terhenti karena teriakan itu.
Semua penonton bersorak, "Terima! Terima! Terima!"
Siru terkejut sekaligus bingung. 'Siapa siswi ini?' tanyanya dalam hati.
Nana melangkah maju mendekati Siru. Pemain basket yang lain memberikan tempat untuk dua pemeran utama hari ini.
"Siru, aku menyukaimu." Nana memperjelas ucapannya.
Memastikan pendengarnya masih normal, Siru merasa malu. Ia memang sering mendapat pernyataan, tapi baru kali ini ada yang begitu berani.
Situasi hening sesaat, sebelum Siru menjawab, "Maaf, kamu...." Siru mendekat, membisikkan kelanjutan kalimat itu.
Nana tersenyum. Lalu mengucapkan terimakasih, dilanjutkan selamat tinggal. Siru juga melakukannya. Sedangkan penonton merasa sangat kecewa.
***
Bel istirahat berbunyi, semua murid berbondong-bondong menuju kantin. Berbeda dengan Endi yang tengah terdiam di kelas. Bahkan ajakan teman-temannya pun tidak mampu menggerakkan Endi.
Di sisi lain, Nana sudah berada di kantin. Banyak orang yang memandanginya sambil berbisik-bisik membicarakan kejadian tadi pagi.
"Bu, susu kotak rasa coklat dua, sempol dua porsi super pedes," Nana memesan makanan.
Tidak membutuhkan waktu lama, pesanan Nana selesai. Nana membayar, lalu bergegas menuju kelas Endi.
Pada saat tiba di kelas Endi, hanya terlihat seorang siswa duduk. Nana masuk ke kelas, lalu duduk di samping siswa itu.
"Ini untukmu!" Nana memberikan sekotak susu coklat dan seporsi sempol super pedas pada Endi.
Endi tidak merespon. Padahal biasanya ia akan mengoceh seperti burung beo saat bersama Nana.
Nana tidak memerhatikan perubahan Endi. Ia fokus pada makannya sendiri.
"Apa skin Epic itu sangat berharga?" tanya Endi tiba-tiba.
Mengingat kejadian kemarin, Nana merasa bersalah pada Endi. Sebenarnya akun game Nana dipinjam adiknya, lalu adiknya menggunakan skin Epic itu. Kalau Endi tau pasti Nana akan diomeli habis-habisan. Jadi, Nana memilih untuk melakukan tantangan saja.
Melihat tidak ada sepatah katapun dari Nana, entah kenapa Endi merasa makin kesal. Ia pun mengembalikan jajanan pemberian Nana yang belum disentuh. "Aku sudah kenyang."
***
Pulang sekolah, Endi melarang Nana untuk main ke rumahnya dengan alasan ia akan pergi. Nana mengiyakan larangan Endi. Namun, bukan Nana kalau tidak melanggar larangan. Jadi, dia pergi ke rumah Endi untuk meminjam Garam.
"Ibu mau masak apa, Na?" tanya Ibu Endi.
Nana menjawab, "Soto, Bu."
Ibu Endi memberikan garam beserta wadahnya. Nana mengambil, lalu berkata, "Banyak banget, Bu?"
"Ini buat persediaan, Na," sahut Ibu Endi sambil tersenyum.
Nana celingak-celinguk mencari keberadaan Endi. Tentu saja Ibu Endi sadar. "Endi sedang tidur di kamar, Na."
Sadar niat aslinya telah diketahui, Nana segera berterima kasih dan pamit pulang.
***
Hari ini adalah Jum'at sehat. Semua murid menggunakan seragam olahraga, kecuali Nana yang melupakan jadwal.
"Na, ambil minuman gelas di koperasi." Ketua kelas memerintahkan Nana yang tidak kebagian pekerjaan apapun.
Setelah menerima tugas, Nana segera bergegas. Kebetulan koperasi melewati kelas Endi.
Saat di depan kelas Endi, Nana berpapasan dengan Endi yang tengah mengobrol dengan murid-murid lain.
Nana menyapa Endi, "Pagi, Endi!"
Endi tidak menjawab. Ia hanya melirik sebentar, lalu pergi bersama sekelompok murid meninggalkan Nana.
"...."
***
Jum'at sehat kali ini sangat ramai. Tidak ada satupun murid yang alfa. Ditambah dengan penampilan boy band dadakan sekolah yang membawakan lagu-lagu romantis a.k.a patah hati.
Nana merasa bosan. Apalagi anggota boy band tersebut adalah musuh bebuyutannya. Oleh karena itu, Nana memilih untuk pulang saja.
Kebetulan ia bertemu dengan Endi yang duduk di halter bus. Jadi Nana mendekati Endi.
"Endi, mabar, yok?" ajak Nana.
Endi kembali diam. Tanpa respon apapun.
Nana sedikit gelisah, "Apa rank-mu turun?"
Meskipun sudah berusaha mencoba membuka mulut Endi, tetap saja itu tertutup. Jadi Nana menyeret tangan Endi. Namun, segera di tepis Endi.
"Jangan sok kenal!"
Ucapan Endi sangat mengejutkan Nana. Ia merasa salah dengar barusan, "Siapa?" tanya Nana.
Endi menaikkan nada pada setiap perkataannya, "Jangan sok kenal padaku! Memangnya kamu siapa?!"
Lalu Endi pergi meninggalkan Nana yang terdiam.
Semenjak hari itu, Endi selalu menjauhi Nana. Karena Nana tidak memiliki teman akrab selain Endi, jadi ia sendirian. Para pembuli pun mulai menargetkan Nana, sampai hari kelulusan tiba.