Ini adalah kisahku. Kisahku sepuluh tahun yang lalu. Entah kenapa aku ingin menulisnya dibuku ini. Aku teringat kembali cerita kelamku yang seharusnya aku lupakan.
10 tahun yang lalu merupakan saat di mana aku masih menjadi seseorang yang tidak memiliki orang tua dan tinggal di panti asuhan. Panti asuhan yang paling aku benci seumur hidupku, namanya adalah MUTIARA HATI, namanya saja yang mutiara hati nyatanya tempat itu bagaikan neraka bagi kami yang berada disana saat itu.
Dulu saat aku bayi, aku dan kembaranku ditinggalkan oleh ibuku di panti itu. Aku tidak tau mengapa sampai ibuku rela berbuat hal seperti itu, bahkan sampai sekarang aku tidak mengetahui alasannya, bertemu saja tidak pernah. Sempat berpikir olehku untuk bertemu kembali dengan keluarga ku, tapi apakah mereka masih menginginkan ku, kalau iya lantas mengapa dulu ibuku sempat membuangku? Apakah ia tidak pernah memikirkan seberapa menderitanya aku dan kakakku saat berada di panti ini? Apakah ia tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi pada aku dan kakakku?
Dan ya sudah pasti karenanya aku harus menderita bersama dengan anak-anak lain. Penderitaan yang aku alami dengan anak anak panti lainnya cukup menyedihkan, kami di perlakukan seperti budak, dipaksa mengemis kepada orang kaya bahkan kami pun tidak sekolah. Mereka tidak mau menyekolahkan kami. Jika pun ditanya oleh para donatur atau para relawan yang sering berkunjung jawaban mereka pun sederhana.
“Bagaimana bisa saya menyekolahkan mereka, kalian liat saja tempat ini, kami pun hanya bisa membuat tempat ini secara sederhana, setidaknya bisa untuk tinggali dan uang pun hanya secukupnya saja untuk makan.” itulah jawaban dari mereka, sambil memasang raut wajah sedih yang sudah pasti di buat-buat.
Padahal pada kenyataannya mereka memakai uang dari donatur untuk bersenang senang sendiri, sedangkan kami makan saja susah. Kami harus mau bersih bersih panti terlebih dahulu setiap hari dan kalau tidak mau kami tidak akan di beri makan, kami juga di minta untuk pergi berkebun dulu supaya bisa memasak, bahkan lebih parahnya lagi untuk anak anak yang usianya diatas 9 tahun di minta untuk memasak makanan untuk semua orang yang berada di panti, termasuk memasak makanan yang nantinya akan di makan oleh madam mei dan tuan Dirga.
Sampai suatu hari terjadilah serentetan kejadian yang sangat menggemparkan yang terjadi di panti itu. Awalnya kami berpikir ini adalah sebuah kasus kecelakaan biasa, namun seiring berjalannya waktu kasus kasus yang terjadi semakin mencurigakan. Contoh saja dari kasus pertama ini, saat itu tengah terjadi pergantian tahun baru di tahun 2013 ke 2014, secara mengejutkan terjadi sebuah kecelakaan truk pengangkut kayu yang berasal dari hutan belakang panti secara mendadak menabrak tembok bagian depan panti hingga meruntuhkan tembok tersebut. Beruntung sekali kecelakaan itu tidak menimbulkan korban jiwa, dan untungnya juga saat itu kami para anak panti tengah di sibukkan dengan memasak dan menyiapkan segala keperluan untuk perayaan tahun baru di dapur belakang bersama sekelompok suka relawan dari sebuah organisasi pemuda. Untungnya juga sang supir selamat dari kecelakaan tersebut karena langsung di larikan ke rumah sakit setelah di berikan pertolongan pertama, walau dalam keadaan luka berat di kepala dan dada. Namun, dari yang aku dengar saat itu sang supir di jatuhi hukuman akibat lalai dalam mengendarai sebuah mobil dan kejadian itu terjadi akibat sang supir mengalami Micro sleep selama beberapa saat hingga menabrak tembok itu.
Itu baru satu kejadian, masih ada lagi kejadian kejadian lain yang menyusul. Seperti kejadian kedua tepatnya di awal bulan februari di mana saat itu hampir semua anak panti harus di bawa ke rumah sakit akibat keracunan makanan yang dimasakan para relawan dari sebuah yayasan yang hadir untuk membantu dan memasak di panti ini. Saat itu aku juga ikut merasakan betapa sakitnya ketika mengalami keracunan. Saat itu, aku dan sebagian anak anak panti mengalami gejala berupa diare, muntah-muntah hingga terkena dehidrasi. Dan setelah di selidiki oleh polisi, ternyata memang ada yang salah dengan makanannya. Di dalam salah satu sampel makanan terdapat sebuah obat pelancar BAB dengan dosis tinggi dan itulah yang menyebabkan kami semua mengalami keracunan.
Setelah kejadian itu juga masih ada kecelakaan-kecelakaan lain, dan kecelakaan-kecelakaan itu hampir selalu terjadi di setiap bulannya. Hingga puncaknya adalah hari itu di mana terjadi sebuah kebakaran di panti yang terjadi ketika tengah malam, saat dimana semua orang tengah tertidur lelap. Aku juga tengah tertidur saat itu, hingga akhirnya aku terbangun oleh suara teriakan dari saudara kembarku dengan seorang anak laki laki yang merupakan anak panti itu juga yang pada saat itu berumur 5 tahun lebih tua dari aku dan kakak kembarku. Kami memanggilnya dengan nama Kak Harun.
Kak Harun merupakan seorang anak berusia 10 tahun dengan perawakan yang tinggi, berkulit sawo matang, dengan tatanan rambut yang selalu terlihat lebih berantakan daripada kami. Sifat kakak Harun sangat baik sehingga banyak para pengunjung atau donatur yang menyukainya, biarpun demikian kak Harun tidak pernah mau apa bila di adopsi hingga membuat madam Mei dan tuan Dirga marah padanya. Hm, sebenarnya sih ini tidak bisa di katakan adopsi, karena madam Mei dan Tuan Dirga selalu meminta imbalan uang dengan dalih sumbangan.
“Chelena bangun! Cepat bangun!” Teriak kak Archer selaku kakak kembar ku seraya langsung membangunkan anak-anak lain yang sekamar dengan ku begitupun juga dengan kak Harun yang juga melakukan hal yang sama.
Aku bangun, kakak kembarku langsung memelukku seolah sedang ngenguatkanku dengan mata yang berkaca-kaca, aku bingung, aku juga tidak merespon pelukan itu. Saat itu, aku tidak melihat adanya api yang berkobar, Kak Harun dan kakak kembarku juga tidak bilang jika saat itu terjadi kebakaran. Mereka hanya membangunkan kami kemudian menyuruh kami keluar dari panti secepat mungkin tanpa boleh menengok ke arah belakang.
"Emangnya gak papa kalau kita kabur dari panti? Gimana kalau nanti madam marah?" Tanya seorang anak lain, Dimas namanya. "Syifa, juga lagi sakit kak."
"Gak papa, madam gak akan tahu." Jawab kak Harun tanpa menatap mata Dimas, ia lebih fokus untuk membangunkan beberapa anak yang lain.
Saat kami akan keluar dari pintu depan, tiba-tiba saja ada seorang anak laki laki yang berteriak dan bilang bahwa melihat api berkobar besar dari arah belakang kami, kami menoleh kearah belakang dan betapa terkejutnya kami, kami lantas menjerit karena terkejut, tapi anehnya kak Harun menyuruh kami untuk bergegas keluar dan bersikap tenang. Saat itu Kak Harun hanya bilang “gak papa ayo keluar aja dulu jangan disini.”
Aku baru teringat bahwa saat itu masih ada anak panti lain yang terjebak disana. Bisa aku pastikan mereka semua pasti panik begitu melihat kobaran api yang sangat besar. Aku langsung menyampaikan isi pikiran ku ke kakak kembarku. " Kak Archer, di dalam masih ada Sari, Rena, Mona, tidak tidak, bahkan masih ada banyak anak yang masih di dalam kak." Ucapku dengan bingung, jujur saja aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Bahkan aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya kami lakukan saat ini, mengapa kak Archer dan kak Harun terlihat panik, mengapa anak-anak yang berhasil keluar ini juga menangis, apa yang sebenarnya terjadi?
Kami pun mengangguk dan keluar mengikuti perintah dari kak Harun, aku pun sudah tidak menanyakan hal itu lagi pada kak Archer. Bahkan aku masih mengingat dengan jelas apa yang diucapkan oleh Kak Harun saat itu.
“Ayo lari saja jangan lihat kebelakang, kita ikutin saja jalan ini nanti pasti kita bertemu orang baik yang akan membantu kita.”
Kami pun menurutinya dan percaya pada Kak Harun. Bagaimana kami tidak mempercayainya, kami selalu mendapat bantuan dari kak Harun dan hanya kak Harun lah yang selalu membantu kami. Saat kami di paksa untuk bersih bersih, kak Harun pasti membantu dan meringankan pekerjaan kami. saat ada salah satu di antara kita yang tidak bisa makan malam karena tidak mau bersih bersih atau melakukan pekerjaan lain karena sedang sakit Kak Harun pasti memberikan makananya untuk kita. Intinya Kak Harun selalu menolong kita. Bahkan saat terjadi masalah sepele sekali pun dia pasti membantu kita hingga membuat kita tidak terkena marah dari madam Mei. Mungkin karena dia lebih tua dari kita makanya kita bisa mempercayai dan menurut padanya, juga menganggapnya sebagai ketua kami. Agak berlebihan sih, tapi begitulah yang kami rasakan.
Saat itu kami hanya bisa terus berjalan dan mengikuti arahan dari Kak Harun. Tiba-tiba ada seorang anak perempuan bilang bahwa dia sudah capek berjalan dan ingin beristirahat, anak perempuan itu adalah Syifa adik dari Dimas yang saat itu masih seusia dengan ku sedangkan Dimas 1 setengah tahun di atasku. Akhirnya Kak Harun menyuruh kami untuk beristirahat sampai pagi. Setelah pagi kami pun akhirnya melanjutkan perjalananya.
Sejauh mata memandang sebenarnya yang terhampar pada saat itu hanyalah pepohonan rindang. Yah, mau bagaimana lagi jalannan yang saat itu kami lewati memang sebenarnya jalanan yang membelah hutan, sudah pasti yang terlihat hanya pepohonan, bahkan tidak ada satupun mobil yang lalu lalang sejak tadi malam. Yang seharusnya mobil damkar lewat saja ternyata tidak terlihat lewat, padahal akses terdekat untuk menuju panti hanya jalan ini saja.
Tak terasa saat itu hari pun ternyata sudah malam lagi. Kami saat itu belum makan dan minum sama sekali sejak kejadian kebakaran itu, sialnya hari itu turun hujan lebat. Kami pun bingung mau meneduh dimana pasalnya tidak terdapat satu pun rumah maupun gubuk yang didirikan dipinggir hutan tersebut. Kami hanya terdiam di salah satu sisi jalan. Beberapa dari kami mulai menangis bahkan aku pun ikut menangis saat itu. Aku takut, aku takut terkena marah apa bila kami ketahuan oleh madam, aku takut kami semua dihukum.
Terlihat raut wajah semua orang bingung dan gelisah begitu juga dengan Kak Harun. Ia yang terlihat sedang memandangi jalan itu berharap ada sebuah mobil yang mau menumpangi kami untuk pergi ke kota atau setidaknya mau menyerahkan kami ke panti asuhan lain.
Kakak kembarku berusaha untuk menenangkanku yang menangis saat itu. Salah satu dari kami bahkan ada yang mengeluh lapar karena memang kami belum makan sejak kejadian itu, kami pergi dari panti tanpa membawa apa apa. Dengan raut wajah yang masih bingung Kak Harun mencoba untuk menenangkan kami kembali seraya berucap “maaf ya semuanya hari ini kita tidak bisa makan lagi, bagaimana kalau kita berdoa saja, kalian mau ya.”
Semua anak menjawabnya dengan anggukkan dan aku pun berhenti menangis, hingga detik itupun hujan masih turun tapi dengan intensitas yang sudah menurun.
“Ya sudah sekarang angkat tangan kalian, ayo kita berdoa.” Semua anak saat itu mengikutinya.
“Ya Allah tolong bantulah kami, tolong datangkanlah orang yang baik untuk membantu kami. Amiin.” Ucap kak Harun sambil menengadahkan tangannya, berdoa.
“Amiin” ucap semua anak serentak.
Kami berusaha bersabar di sana sambil menunggu benar-benar ada orang baik yang mau membantu kami. Tapi saat itu aku masih ingat sekali kalau Kak Harun bergumam sesuatu. “Gak seharunya aku melibatkan mereka. Tapi kalau gak kaya gini kita gak akan bebas.” Kemudian kakak kembarku pergi mendekati Kak Harun dan memegang tangannya dan dibalas senyuman oleh kak Harun.
Beberapa menit berselang, tiba tiba ada seorang anak perempuan yang tadi mengeluh lapar secara tiba- tiba pingsan, mukanya pucat pasi dan kami dibuat bingung karenanya. Kami terkejut dan menagis karena bingung harus berbuat apa sekaligus syok karena banyaknya masalah yang secara tiba-tiba menghampiri kami.
Hingga akhirnya ada sebuah mobil yang melintas di jalan. Dengan segera Kak Harun langsung berlari dan memberhentikan mobil tersebut dengan cara berdiri di depan mobil itu. Sang supir yang mengendarai Mobil mewah dengan merek Alphard putih itu langsung memberhentikan mobilnya secara mendadak begitu melihat aksi nekat dari kak Harun. Si pemilik mobil mewah itu turun, ia mengenakan jas berwarna hitam sambil mengeluarkan payung dan diikuti dengan sang supir yang sepertinya merupakan ajudannya. Kemudian aku melihat mereka berdua dengan kak Harun tengah mengobrol dari seberang jalan sambil sesekali memperhatikan kami.
Hingga akhirnya kami pun di suruh menunggu beberapa saat, benar saja selang satu menit ada sebuah mobil lain yang melintasi jalanan itu, dan sepertinya merupakan iring iringan mobil yang berjalan bersama mobil Alphard ini. Kami pun dibawa ke dalam mobil dan setelahnya aku tidak tau apa yang terjadi lagi, aku pingsan di dalam mobil itu.
Saat aku sadar aku sudah berada di sebuah rumah sakit dengan ruang kelas VIP privat. Terlihat sepasang suami-istri yang sedang berpelukan yang sepertinya sedang menungguku sadar.
Setelah semua kejadian traumatis itu, mereka pun mengangkat ku menjadi anaknya dan aku berpisah dari kakak kembarku. Mereka tidak mengangkat kakak ku juga karena dia tidak mau dan memilih diangkat anak oleh orang lain beberapa bulan kemudian.
Setelah kejadian kebakaran itu kami semua berpisah aku ikut dengan orangtua baruku dan begitupun dengan kakak kembarku. Aku yang masih berusia 5 tahun itu langsung dibawa pergi ke luar negeri oleh orangtua baruku dan menjalankan kehidupanku di sana. Setelah aku masuk ke SMP dan masih menetap di Inggris aku baru mendengar kabar bahwa sebenarnya semua kejadian itu adalah kejadian yang di buat oleh Kak Harun dan kakak kembarku tapi ditutupi oleh orangtuaku bersama salah seorang teman Dadyku.
Jujur saja sebenarnya aku tidak peduli siapa yang menyebabkan kebakaran ataupun kejadian lainnya, sejujurnya aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada Kak Harun dan Kakak kembarku jika memang mereka pelakunya. Ya, walaupu aku tidak tahu keberadaan mereka sekarang, yang penting mereka telah menyelamatkan kami dari neraka yang telah menyiksa kami selama bertahun-tahun. Karena kejadian itu pula akhirnya membuatku bertemu dengan sepasang suami-istri yang benar benar menyayangiku saat ini. Saat ini aku hanya ingin mempercayai ucapan seorang pepatah. “Jika seseorang tidak memberikan kabar maka itu adalah kabar baik karena artinya mereka baik baik saja.” itu adalah inti dari ucapan seorang pepatah itu. Jadi intinya adalah, aku percaya di manapun kak Archer dan kak Harun berada, aku yakin mereka pasti baik baik saja atau mungkin mereka sedang bersenang-senang bersama kehidupan baru mereka masing-masing.
***********
Halo teman-teman, perkenalkan nama penaku adalah Myusa De Lunar, salam kenal semuanya.
Teman teman, apakah kalian tahu sebenarnya cerpen ini merupakan sebuah spoiler yang aku keluarkan untuk novel terbaruku dengan judul "SECRET STORY: CHELENA ARETHA CHARLENE" buat kalian yang penasaran dengan kelanjutan dari kisah ini dan sudah pasti kelanjutan dari kisah para penyintas kebakaran panti asuhan ini bisa langsung di baca melalui apk Wattpad tepatnya di tanggal 3 Februari 2024 mendatang, karena hanya memlalui apk itu saja tempat aku mem-posting semua cerita "SECRET STORY" ini.
See you next time teman teman🤗
Mudah-mudahan kita benar-benar bisa bertemu lagi di lain waktu ya