"Katanya jika ada dua orang anak kembar di lahirkan, dan yang satunya meninggal, maka arwah saudaranya yang meninggal itu akan tinggal di tubuh saudaranya yang hidup"
"Kalau begitu, bukankah itu seperti kisahnya Althea? Terkadang ia mengaku dirinya adalah Althei!"
***
Namaku Althea, kini aku duduk di bangku SMP kelas 3. Aku bukanlah murid yang cukup pintar hingga dapat membuatku terkenal di sekolah. Sifatku, mungkin karena sifatku yang aneh dan misterius ini, aku menjadi terkenal. Mereka memanggilku 'Malaikat Iblis'.
Semua itu terjadi di mulai dari 10 tahun yang lalu,
"Hey Althea, ayo kesini! Lihat, aku menemukan kelinci yang malang ini" Ajak Althei si gadis periang, ia adalah saudari kembarku.
Rambutnya dan matanya berwarna biru, serta ekspresinya yang ia tunjukan selalu periang. Berkebalikan denganku, mataku berwarna merah, rambutku berwarna hitam, serta wajah tanpa ekspresi membuat orang yang melihatku menjadi takut.
Kami hanya berbeda 5 menit, dan dia adalah adikku. Meskipun begitu, orang tua kami selalu menganggap dia kakaknya, yang paling tua. Sifatku ini kurang dewasa, misterius, berbeda dengannya yang periang dan berhati hangat serta memikirkan orang lain.
"Hey, kamu sangat kekanak-kanakan 'kakak', cepatlah, ayo pulang! Hari semakin gelap ini" Ujarku sambil berusaha membujuknya.
"Tapi dia sangat kasian, jika di biarkan dia akan di mangsa hewan buas" Rasa simpatinya yang berlebihan itu terkadang membuatnya menyakiti dirinya.
Kami tinggal di sebuah desa, letaknya sangat dekat dengan hutan. Terkadang, hewan buas suka datang ke desa kami dan meneror warga penduduk. Oleh karena itu, sejak lahir, kami diajarkan untuk berburu dan melindungi diri.
Berbeda dengan orang-orang, kami di lahirkan dengan mental yang lemah. Mudah jatuh sakit, apalagi Althei. Oleh karena itu, kami hanya di ajarkan trik trik kecil untuk mengalahkan binatang buas, tapi tidak dengan latihan otot ataupun bela diri.
"Memangnya kenapa sih? Masih banyak kelinci di sini, nanti kamu bisa minta ayah untuk membelikannya" Ujarku dengan muka kesalku. Terkadang, sifatnya itu membuat kesal.
"Tapi...-" Ia masih saja mengeluh, aku yang geram pun langsung menariknya pergi meninggalkan kelinci yang malang itu.
"Thea, kenapa kamu tidak membiarkanku membawa kelinci itu?" Tanyanya yang berusaha memberontak dari genggaman tanganku.
"SADARLAH THEI!" Bentakku sambil memukul pipi yang mulusnya itu, "Lihat langit itu sudah tak ada cahaya, kita sudah terlalu lama main di dalam hutan. Hilangkan lah sifatmu itu yang belas kasihan!" Aku memarahinya akan sikapnya itu.
Aku tak mau membuang-buang waktuku, setelah aku membentaknya aku mengajaknya lari lagi, keluar dari hutan. Namun, itu sepertinya sudah terlambat. Cahaya bulan itu hilang tertutup oleh tebalnya awan. Kami justru tersesat di dalam hutan. Aku berusaha untuk tak panik, namun ia malah merengek ingin pulang.
"Lihatkan! Gara-gara kamu, kita jadi tersesat. Bisa gak sih dengerin omonganku! Dengar ya, walau ayah ibu selalu menganggapmu sebagai kakak, tapi dari sisi manapun AKU LAH KAKAKMU YANG SEBENERNYA!" Aku membentaknya dan menghabisinya dengan omonganku. Mungkin itu cukup kejam, sampai membuatnya menangis terisak-isak.
"Ma-ma-maaf!"
Saat itu, aku sudah muak mendengar perkataan 'maaf' darinya. yang bisa ku lakukan adalah membuat api dari dua buah batu. Namun, tanpa di sadari hujan datang menguyur kami. Api yang baru saja ku buat padam begitu saja.
Suasana hutan semakin menakutkan, aku mencoba untuk tak bersuara, karena aku takut itu akan mengundang hewan buas datang.
Aku berjalan kesana kemari sembari mengandengnya. Ia masih sama dari tadi, tak henti merengek-rengek.
"Diamlah, tangisanmu membuat kita terbunuh" Aku coba menenangkannya dan membuatnya berhenti menangis.
"Ba-baik"
Ku coba untuk mencari jalan keluar, keadaan yang gelap gulita ini membuat tubuhku dipenuhi oleh luka lecet, begitu juga dengannya. Kami hampir putus asa, hingga suara itu datang, yang membuat kami makin putus asa.
RAWWWRRR!!! Suara auman harimau itu mengagetkanku. Namun, aku masih ingin berusaha mencari jalan keluar tanpa berpapasan dengan harimau itu. Ku pikir luka lecet kami ini membuatnya mencium darah kamu, dan ia seperti sedang berusaha mencari kami.
"Huft...huft..."
Aku tetap berlari kesana kemari. Walau luka ditubuh ku ini sangat perih.
BRUKKK...
"Thea...kaku aku terkilir, gimana ini" Ujarnya, yang membuatku semakin panik.
Tak ada cara lain lagi, aku menggendongnya. Rasanya aku ingin terjatuh dan pingsan. Ku gigit lidahku, berharap aku dapat menahan kesadaranku.
RAWWWWRRR!!! suara itu semakin mendekat, aku semakin panik, hanya hitam dan hitam, aku tak dapat melihat di mana harimau itu berada.
BRUKKK....
RAWWWRRR!!!
Aku terkejut setengah mati, melihat sosok pemangsa itu, harimau, berdiri tepat di hadapanku. Aku hanya bisa terdiam dengan saudari kembarku dan meratapi nasib. Namun, sepertinya Tuhan masih berpihak padaku.
Kaki harimau itu tersangkut di sebuah akar, merasa aku memiliki waktu yang cukup, aku pun kabur sembari menggendong Althei.
Aku pun kabur dengan cepat-cepat "Huft...huft.." Sempat beberapa kali aku tersandung oleh akar pohon dan bebatuan, dan juga kulitku yang tergores, entah oleh apa itu bendanya.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah cahaya di depan mataku itu, memberiku harapan. Aku melihat sebuah rumah tua dengan di kelilingi obor di sekitarnya. Ku pikir pasti akan ada orang yang dapat menolong kami, aku pun menurunkan Althei terlebih dahulu, lalu mengetuk pintu itu.
TOKK...TOKK...TOKK...
"Sepi sekali Thea, kakiku sakit" Rintih Althei yang membuatku semakin sebal mendengarnya.
"Diamlah Thei, aku sedang berusaha!"
"..."
Aku tak mendengar suara apapun dari balik pintu, ku putuskan untuk membuka pintunya. Teryata, rumah itu kosong melompong. Ya...setidaknya aku dapat mengobati lukaku dan berisitirahat di tempat itu sejenak sembari menunggu pemilik rumah datang.
Mungkin sudah 1 jam sang pemilik gubuk itu tak datang. Yang ku pikir mungkin rumah ini di tinggalkan, atau mungkin sang pemilik hanya datang ke sini setiap siang.
RAWWRRR!!!
Aku terpaku mendengar suara auman harimau itu datang lagi. CREKKK...CREKKK...CREKKK!!!
"Thea a-apa itu? di depan pintu" Panggil Althei dengan nada gelisah.
Saat itu, aku takut setengah mati, namun aku berusaha untuk mengecek apa yang ada diluar.
"AAAHHH!!!" Teriak histeris ku.
"Ba-ba-bagaimana mungkin?!"
Sosok harimau itu mengaruk garuk pintu rumah itu. Harapanku untuk bertahan hidup hilang begitu saja, hawa dingin dan rasa takut menyelimutiku. Harimau itu terus dan terus menggaruk pintu itu, ku pikir pintu itu tak akan bertahan lama. Lalu, aku memikirkan sebuah cara, "Jika aku naik ke atas bagaimana?!"
Aku menatap ke langit langit atas, tidak ada plafon sama sekali, yang ku lihat hanya kerangka kayu. Ku pikir jika aku naik maka harimau itu tidak dapat menemukanku. Tapi, bagaimana dengan Althei? Kakinya terkilir.
"Heh" aku tersenyum sinis saat itu.
"Thei, kamu sembunyi di balik kursi saja. Aku akan naik ke atas, jika harimau itu mendekatimu, teriaklah, maka aku akan menjatuhkan sebuah kayu berpaku dari atas" Pintaku.
Tanpa berpikir panjang, sungguh gadis yang bodoh "I-iya"
Aku memanjat kerangka kayu itu dengan perlahan-lahan. Dan membiarkan saudari kembarku bersembunyi di balik kursi untuk mendekati ajalnya.
"Heh, sungguh bodoh"
BRAKKK!!!
Sesuai dugaanku, tak lama setelah aku tiba di atas. Aku melihat harimau yang ganas itu merusak pintunya. Althei hanya bisa terdiam dengan ketakutan.
Rawwrr!!!
Perlahan, harimau itu berjalan mendekati Althei, dan aku hanya bisa menatapnya dengan sinis dari atas.
RAWWRRR!!!
"THEAAAA!!!"
JLEBBB!!! Harimau itu menancapkan cakarnya yang panjang tepat di perut Althei, hingga membuat lubang yang besar di perutnya. Aku hanya bisa melihat tubuh Althei menggeliat sambil memohon kepadaku agar ku tolong. Darahnya yang muncrat kemana-mana. Serta anggota tubuhnya yang mulai di makan oleh sang harimau ganas itu, sungguh menakjubkan. Namun, aku sama sekali tak memiliki rasa penyesalan. Karena bagaimanapun semua hal yang terjadi di sebabkan olehnya.
"Cihh, cepatlah makan anak itu dan pergilah" Desisku.
"Harimau itu membawa tubuh Althei yang sudah terkoyak-koyak itu keluar. Dan aku hanya bisa menunggu hingga pagi datang.
•°•-----------------°•°
Pagi hari itu, segerombolan warga menemukanku sedang tertidur di atas kursi, dan jasad saudari kembarku yang di temukan di depan rumah tua itu. Dengan keadaan yang mengenaskan, kepalanya yang telah hancur, jeroannya yang sudah terobak-abik, dan tubuhnya bersimbah darah.
Kedua orang tuaku hanya bisa menangis, terpaku dan meratapi kesedihan, melihat kematian salah satu anaknya. Aku hampir di tuduh sebagai pembunuh, namun dugaan itu tidak di benarkan. Mulai dari usiaku yang di bawah umur, dan saudari kembarku yang mati karena di terkam harimau. Orang-orang beranggapan bahwa Althei lah yang mengorbankan dirinya. Sungguh mudah di tipu.
Sejak saat itu, arwah Althei bersemayan di dalam tubuhku. Terkadang ia menggunakan tubuhku saat aku tertidur ataupun pingsang. Daripada situlah semua anak memanggilku 'Malaikat Iblis'
[End]
Author note: Maaf jika mengandung unsur kekerasan, ataupun hal hal yang menyeramkan.
Author Quotes:
"Terkadang sifat iri bisa membutakanmu, dan rela membunuh semua orang yang mencampuri urusanmu, ataupun menghalangimu dalam mengapai tujuan"~Lisaa
By Lisaa Lisaya