"Willy Rean Andresthya," panggil seorang guru bernama Pak Handri.
"Apa Pak??" Tanya lelaki bernama Willy tersebut dengan nada malas.
"Mana tugasmu yang Minggu lalu hah!?" Tanya Pak Hendri tegas.
"Ah!" Willy membuka tas miliknya dan merogoh tasnya. "Gak bawa Pak," ujarnya santai.
"Kamu ini benar-benar ya!! Sudah Bapak bilang berapa kali hah!? Itu tugas untuk menentukan kamu akan naik kelas atau tidak!! Sekarang!? Bapak mau nambahin nilai kamu kek mana, hah!?" Ceramah Pak Hendri.
"Bapak ini. Nilai saya yang kemaren-kemaren mana?? Saya kan, punya nilai tinggi Pak. Bisa kan, buat nambah nilai ujian saya??" Tanya Willy dengan nada santai.
Willy Rean Andresthya. Lelaki berumur 15 tahun, kelas 8 semester 2, adalah anak yang tidak pernah menaati peraturan sekolah. Selalu seenaknya. Hobinya adalah balapan liar, merokok, memalak orang di sekolahnya, bolos sekolah, baju di luar serta tidak rapi dalam berpakaian, dan mem-bully murid di sekolahnya. Orang tuanya berkerja di luar negeri, jadi dia bebas melakukan apa saja. Tetapi, ada satu hal yang tidak diketahui oleh pihak sekolah maupun murid-murid di sekolahnya dan hanya diketahui oleh satu orang temannya saja. Yaitu penyakitnya. Diantaranya adalah asma, lambung, dan insomnia. Tetapi, walaupun begitu, dia tetap melakukan hal-hal yang berbahaya. Apalagi, dia sering makan mie sehingga membuat lambungnya sering kumat. Meski begitu, dia adalah anak memiliki banyak prestasi. Mulai dari bidang akademik maupun di bidang ekstrakurikuler. Itulah sebabnya, dia tidak pernah dikeluarkan dari sekolah. Karena, pihak sekolah masih ingin mengubah anak ini menjadi pribadi yang baik.
"Hah... Bapak sudah gak tahan lagi" ujar Pak Hendri nyerah sambil menggelengkan kepalanya. "Coba saja sekolah tidak mempertahankan kamu! Kamu pasti sudah Bapak keluarin!!" Ujar Pak Hendri tegas.
"Apaan sih?!" Bisik Willy dengan nada kesal.
Ugh... Willy memegang dadanya dengan tangan kanannya. Asma sialan!!
☄️☄️
Jam istirahat ke-2 [Kantin sekolah]...
"Heh, bocah tengik!! Mana duit lu hah!?" Tanya Willy keras kepada seorang lelaki bernama Demian, yang sedang duduk di kursi milik kantin sekolah.
Demian tidak menjawab. Dia hanya gemetar ketakutan, membuat Willy dan gengnya semakin ingin menindas Demian.
"Heh!! Elu punya mulut kagak!? Gw tanya!! MANA DUIT LU HAH!?" Tanya Willy lagi. Kali ini, dia berteriak.
"Ng-nggak... Nggak ada Will," ujar Demian gemetar.
"HAH!? LU NGOMONG APA!? COBA NGOMONG LAGI!?" Kali ini, Willy langsung memukul perut Demian dengan sangat kuat. Sehingga, dia membuat Demian terjatuh dari tempat duduknya.
Willy langsung jongkok di depan Demian yang sedang terduduk lemas sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
"Ya Allah!! Ada yang kelahi!" Ujar Bulek kantin takut.
"Woi, Demian Aditya Demistri! Kalo lu mau adek lu selamat, patuhi kata-kata gue! Kalo gak, jangan harap adek lu pulang dari SD dengan selamat," bisik Willy mengancam.
"Hah?? Serius nih Will??" Tanya temen gengnya, Fahri, dengan nada meyakinkan. "Elu mau ngapain lagi?? Mau bikin anak orang nangis lagi??"
"Terserah gue! Mau gue bunuh orang lah, mau apalah segala...! Terserah gue!!" Ujar Willy dengan nada kasarnya. "Jadi, mana uang-"
"Ada apa ini??" Tanya seorang perempuan dari belakang Willy.
Willy tidak melanjutkan kata-katanya. Dia langsung menoleh ke arah belakang. Tiba-tiba, dia langsung membelalakkan matanya.
Perempuan tersebut memakai jilbab sekolah, dengan pakaian batik dari sekolah lain. Mungkin, perempuan tersebut murid pindahan. Wajahnya yang putih mulus dengan mata yang sendu, membuat dirinya seperti kembang desa. Mungkin, bisa jadi dia adalah perempuan paling cantik di sekolah saat ini.
"Hah." Willy membuka sedikit mulutnya dan yang keluar hanyalah desis yang tidak jelas.
"Maaf. Tapi, kamu ngehalangi jalan. Orang mau lewat gak bisa," ujar perempuan tersebut.
Willy masih terdiam. Selama ini, banyak orang yang gak berani berbicara duluan dengannya. Tetapi, perempuan inilah orang pertama yang berbicara duluan. Seperti tidak tau apa yang sedang terjadi.
"Eh?? Iya iya. Maaf," ujar Willy langsung berdiri dan sekarang dia berhadapan langsung dengan perempuan tersebut.
"Aaaaa... Ada apa ya??" Tanya perempuan tersebut, bingung sambil menatap mata Willy dengan tatapan sendu nya.
Masya Allah... Suaranya, matanya, wajahnya. Ciptaan mu, Ya Allah. Ujar Willy dalam hati, takjub.
"Nama." Willy menatap perempuan tersebut dengan tatapan dinginnya.
"Eh??" Perempuan tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri. Kemudian dia menoleh ke arah belakang. "Kakak... Nanya ke saya??"
Kakak?? Willy menatap perempuan tersebut dengan penuh penasaran.
"Iyalah. Siapa lagi??" Tanya Willy datar.
"Ooohh... Nama saya Lyaa Andira Alenka. Panggil saja Lyaa," ujar Perempuan bernama Lyaa itu. "Kalau kakak??"
Belum sempat menjawab pertanyaannya, bel masukan berbunyi. Willy langsung memasang wajah kesal.
"Eh! Sudah masukkan Kak. Saya duluan ya. Assalamu'alaikum," pamit Lyaa.
"Wa... Wa'alaikumussalam," ujar Willy gugup. Baru pertama kali ini dia ucap salam setelah sekian lamanya. Terakhir dia ucap salam adalah saat dia berumur 6 tahun.
Willy berpikir sejenak. Kemudian, dia berjalan perlahan menuju kelasnya sambil berpikir.
Aku... Kek nya jatuh cinta ama dia deh.
☄️☄️
"Will!! Kenapa lu?? Tumben banget lu diem. Kesurupan murid baru ya lu!?" Tanya Fahri, menghakimi Willy saat kelas mereka lagi jamkos.
"Hah??" Willy langsung tersadar dari lamunannya. "Siapa murid baru??" Tanya Willy.
"Tadi, cewek yang di kantin. Namanya Lyaa kan?? Kalo gak salah," jawab Fahri.
"Dia... Murid baru??" Tanya Willy. "Kelas berapa??"
"Kelas 7f. Baru hari ini dia pindah. Makanya dia gak tau apa-apa soal tadi," jelas Fahri. "Napa luh cok!?"
"Ah... Gak papa. Lambung ku kambuh lagi," ujar Willy.
"Elu makan mie mulu! Obat lambung nya dah di minum??" Tanya Fahri.
"Udah," jawab Willy. "Btw, Umi mu masih ngajar ngaji ya??"
"Iya. Capek banget cuy, belajar ngaji tiap sore," keluh Fahri.
"Heh Fahri Wijaya Andrea! Bukannya bersyukur, malah ngeluh!" Ujar Willy kesal. "Gw mau belajar ngaji ah!"
"Elu kenapa anjir!? Jangan bilang, elu suka lagi sama yang namanya Lyaa Lyaa itu!?" Tanya Fahri dengan tatapan curiga. "Tiba-tiba mau belajar ngaji anjay!"
Willy hanya diam saja. Teman-temannya pada menoleh ke arah dia.
"Alhamdulillah... Ketua kita mau tobat," ujar Andri, temen gengnya Willy, lega.
"Siapa yang bilang kalo ketua tobat??" Tanya Aldo, temen gengnya Willy, dengan tatapan penasaran.
"DIEM ANJ-!!" Willy tidak melanjutkan kata-katanya. Entah mengapa, dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"..." Temen gengnya hanya menatap Willy dengan tatapan takjub. Sepertinya, mereka sangat ingin Willy kembali ke jalan yang bener.
"Kalo gue confess, gue di tolak kagak??" Tanya Willy polos. Entah mengapa, dia kepikiran sampai sana.
"HAH!?!? SERIUS NIH BOS!?!" Teriak teman-temannya. Kemudian, mereka saling menatap satu sama lain.
"Hah?? Kenapa emangnya??" Tanya Willy. Ini karena Willy baru pertama kali merasakan rasa suka kepada lawan jenis. Biasanya, dia tidak pernah memikirkan apa yang namanya cinta.
"Bos!? What the hell bro!? Baru kenal lho," ujar Fahri dengan tatapan heran. "Gue tau elu baru pertama kali ini suka ama cewek. But, GAK LANGSUNG CONFESS ANJIR!!!" Protes Fahri.
"Salah??" Tanya Willy polos.
"SALAH, SALAH, SALAH!!!" Teriak teman-temannya.
"Gilak!!" Ujar seorang perempuan bernama Erika Sena, perempuan yang sedang duduk di bangku paling depan bersama gengnya. "What?! Willy mau tobat??"
"Apa mau lo hah!?" Tanya Willy kasar. "Berharap apa lo ama gw, hm!?"
"Udah gue bilang. Gue suka ama elu. Jangan lupa ya. Gue yang nyuruh Kakek gue buat mempertahankan elu!" Ujar Erika sambil tersenyum sinis.
Memang benar, kalau Kakeknya Erika yang membuat Willy bertahan di sekolah. Itu semua karena Erika yang memintanya. Itu sebagai alasan bahwa Erika sangat menyukai Willy. Tetapi, sayang. Willy tidak pernah suka sama cewek ataupun cowok. :v
"Gue gak pernah minta elu buat mempertahankan gue!" Ujar Willy tegas. "Udah gue bilang! GW GAK SUKA AMA ELU!! Gw juga suka sama orang lain! BUKAN ELU!!"
"TAPI GW CINTA AMA ELU!!" Teriak Erika sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Willy hingga mereka berhadap-hadapan.
"MANA BUKTINYA HAH!?!" Willy langsung berdiri dari tempat duduknya. "KALO LO EMANG SUKA AMA GW, MANA BUKTINYA!?!"
"BUKTINYA!? GW DAH BIKIN ELU BERTAHAN DI SEKOLAH INI!? ITU BUKAN BUKTI HAH!?"
"GAK ERIKA!! KALO LO BENER-BENER SUKA AMA GW!!! ELU HARUS BUKTIIN KE GW!!! BIKIN GW BERTAHAN DI SEKOLAH INI!? ITU NAMANYA BUKAN BUKTI ELO CINTA AMA GW!!!"
"GW HARUS BUKTIIN KEK MANA LAGI HAH!?!"
"ELU HARUS BUKTIIN KE GUE DENGAN CARA... ELU HARUS UCAP DUA KALIMAT SYAHADAT!!!!" Teriak Willy yang mengejutkan seisi kelas 8f. "DI DEPAN GW!! SEKARANG!!"
"ELU GILA!!!!" Teriak Erika. "ELU PIKIR KITA LAGI-"
"Kalo gitu, jangan suka ama gue lagi. Dan, jangan pernah muncul di hadapan gue," ujar Willy tegas dan pergi meninggalkan kelas.
Sementara itu, Erika menangis histeris dan seisi kelas terdiam. Menatap Erika yang menangis, tanpa bisa berkata-kata.
☄️☄️
Hari Kamis, jam istirahat ke-1 [Kantin sekolah]...
"Eh?? Kamu... Kakak yang kemaren kelahi ya??" Tanya seorang perempuan yang tidak lain adalah Lyaa.
Willy langsung menoleh ke belakang. Kemudian, dia tersenyum kaku.
"Eh... Iya," jawab Willy gugup. Jantungnya berdegup kencang.
"Halo kak! Kita ketemu lagi," ujar Lyaa. "Btw, nama kakak?? Kemaren gak sempet di jawab."
"Eh. Ooohh... Namaku Willy Rean Andresthya. Panggil aja Willy," jawab Willy sambil tersenyum senang.
"Oh! Kak Willy," ujar Lyaa tersenyum. "Salkeennn!"
"Salken juga," jawab Willy. "Eh. Jangan panggil gue kak. Panggil aja Willy."
"Ih kak! Gak sopan..." Ujar Lyaa.
"Gak papa kok," ujar Willy. "Btw, emmmm..."
"Iya??" Lyaa mengambil seblak miliknya dan menunggu Willy melanjutkan kata-katanya.
"Elu... Keberangkatan gak kalo gue makan bareng elu??" Tanya Willy gugup.
"Oh! Boleh banget Kak! Mumpung aku lagi sendirian nih," ujar Lyaa semangat. "Ayok Kak!!" Ajak Lyaa semangat.
"Eh iya. Ayo ayo!"
Kemudian, mereka mengobrol banyak di tempat duduk mereka. Tanpa mereka sadari, mereka sekarang ini menjadi sangat dekat.
☄️☄️
"Umi, ini bacanya apa??" Tanya Willy saat dia berada di rumahnya Fahri untuk belajar mengaji.
"Itu bacanya "walamma" ya. Ada mim sukun ketemu mim tasydid, jadinya seperti itu. Namanya idgham bighunnah," ujar Umi Nia, Umi nya Fahri.
"Oalah..." Kemudian, Willy melanjutkan belajar ngajinya.
"Kalau boleh tau, kenapa mau belajar ngaji ya?? Maaf ya, tapi bukannya kamu dulu gak pernah mau belajar ngaji?? Umi pernah dengar dari Fahri," ujar Umi Nia penasaran.
Fahri jahanam! Batin Willy dalam hati.
"Saya... Entah mengapa ingin berubah Umi," jawab Willy sambil tersenyum malu. "Dan, ini juga karena seseorang Umi."
"Oh... Willy suka sama orangnya?? Makanya mau belajar ya??"
"Iya Umi. Saya dengar, dia anak pindahan dari pondok pesantren. Jadi, mungkin kalau saya berubah, saya bisa menjadi lebih baik lagi Umi."
"Kalau suka sama orang, ya emang harus begitu Nak Willy. Alhamdulillah, karena ada sosok perempuan itu di hatinya Nak Willy, Nak Willy jadi ingin berubah." Jelas Umi Nia. "Tapi, ingatlah. Cintai dulu penciptanya. Batu ciptaanya. Kalau sudah mencintai penciptanya, Insya Allah sosok perempuan tersebut akan mencintai Nak Willy juga."
"Serius Umi!?" Tanya Willy polos. "Harus belajar lebih dalam lagi nih!"
"Semangat Nak Willy!"
☄️☄️
Lima hari kemudian... Jam pelajaran ke-3 [Jamkos]
"Will... Luh serius mau nembak Lyaa??" Tanya Fahri masih belum yakin.
"Iyalah!" Jawab Willy meyakinkan. "Kenapa?? Kok pada serius gitu??"
"Ya... Elu tau sendiri kan. Si Lyaa itu cantik, pinter Agama, plus dia itu anak BTQ!!" Ujar Aldo.
"Ya terus??" Willy masih belum mengerti.
"Ya... Elu kali nembak, jangan ajakin pacaran anak orang! DOSA!!" Ujar Andri tegas. "Minimal, elu berubah lah ya!"
"Hah?! Baca Alquran?? Gak bolos pelajaran?? Bukannya udah perubahan ya??" Willy menatap teman-temannya dengan tatapan heran. "Apa lagi??"
"Ya... Terserah elu lah," ujar Fahri nyerah. "Inget! Elu masih belom sepenuhnya berubah!"
"Gue tau! Diem aja!" Willy langsung melotot. "Gw aja belom nembak dia!"
"Yowes... Moga-moga aja diterima."
☄️☄️
Jam istirahat ke-2, Kantin sekolah...
"Mana yah??" Willy menengok ke kanan dan ke kiri. Kemudian, dia menoleh ke belakang. Tidak ada tanda-tanda Lyaa di kantin.
"Kak!"
"Eh!!" Willy terkejut. Itu karena Lyaa tiba-tiba muncul di depan Lyaa. "Lyaa!"
"Ahahaha! Kak Willy kaget ya..." Ujar Lyaa tersenyum senang. "Kenapa kak?? Kok, lagi nyari seseorang."
"Ah... Gue lagi nyariin elu," ujar Willy gugup. "Boleh minta waktunya gak?? 10 menit aja kok!"
"Oh! Boleh banget! Mau di mana ngobrolnya??"
Willy melihat sekeliling mereka. Kantin sepi karena orang-orang pada shalat Dzuhur. Willy menghembuskan nafas panjang.
"Gue... Suka ama lo, Lyaa," ujar Willy tegas. "Dari pertama kali kita ketemu, gue dah suka ama lo!"
Hah... Willy merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Napasnya tersengal-sengal. Butuh perjuangan untuk mengungkapkan perasaannya. Lyaa menatap Willy dengan tatapan sendu nya. Kemudian, dia tersenyum.
"Lyaa... Juga suka ama Kak Willy," jawab Lyaa sambil tersenyum senang.
"Hah!? Serius!?" Willy tersenyum senang.
"Tapi... Aku boleh minta sesuatu gak kak??" Tanya Lyaa.
"Boleh!! Apa itu!?" Willy langsung menatap Lyaa dengan tatapan penasaran.
"Kakak... Mau gak ninggalin hal-hal yang negatif seperti balapan, merokok, dan melanggar peraturan sekolah??" Tanya Lyaa. "Aku suka sama kakak. Tapi, Lyaa gak suka kalau kakak sering melakukan hal-hal yang negatif. Apalagi, kakak tidak menjaga kesehatan kakak."
Willy berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Lyaa benar. Tapi, apa dia sanggup untuk berhenti melakukan hal-hal yang membuatnya gembira??
"Kak??" Panggil Lyaa. "Kenapa??"
"Nggak..." Willy menggelengkan kepalanya. "Aku... Akan berusaha. Untuk Tuhan dan juga kamu, Lyaa. Bantu aku ya Lyaa!"
"Insya Allah kak! Aku bakal bantu kakak semampu saya!" Jawab Lyaa sambil tersenyum senang.
☄️☄️
Awalnya, Willy sangat kesusahan untuk berhenti melakukan hal-hal negatif. Tetapi, dengan bantuan teman-temannya dan bantuan Lyaa, dia sedikit demi sedikit mulai menghilangkan kebiasaannya makan mie, merokok, balapan, berkata kasar, berbicara tidak sopan kepada guru, dan lainnya. Bahkan, dia telah hapal 30 juz Alquran! Dia juga meminta maaf kepada orang-orang yang telah dia ganggu, terutama Demian. Untunglah, Demian dan yang lainnya memaafkan kesalahannya Willy. Erika masih menyukai Willy. Tetapi Willy tidak peduli dan tetap mencintai Lyaa, begitu juga dengan Lyaa. Saat ini, status mereka adalah sebagai sahabat.
☄️☄️
Tujuh tahun kemudian...
"Pak Willy. Orang yang mau interview kerja dengan Bapak sudah datang," ujar seorang lelaki muda di depan pintu.
Willy menoleh. Kemudian, dia tersenyum.
"Suruh dia masuk," ujar Willy.
Kini, Willy telah mewarisi perusahaan orang tuanya dan menjadi bos yang baik, murah senyum, rajin beribadah, ramah, dan sopan di kantornya. Willy masih mencintai Lyaa, walupun mereka harus berpisah selama 1 tahun karena Lyaa kuliah di Universitas Surabaya. Tetapi walaupun begitu, dia tetap menunggu Lyaa.
"Permisi Pak," panggil suara tersebut.
Willy menoleh dan matanya terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. Kemudian, dia tersenyum senang dan menitikkan air matanya.
"Lyaa," panggil Willy. "Kamu..."
"Eh!?" Perempuan yang dipanggil Lyaa tersenyum terkejut. "Willy!?" Lya tersenyum senang dan menitikkan air matanya juga.
Willy tersenyum dan mengusap air matanya. Dia kembali bertemu dengan cinta pertamanya setelah sekian lamanya. Hampir saja dia mau memeluk Lyaa dengan erat. Tapi dia sadar, bahwa mereka belum muhrim. Ngomong-ngomong soal muhrim...
"Kamu mau gak nikah ama aku??" Tanya Willy polos sambil tersenyum.
"HAH!?!" Lyaa terkejut. "Serius!?"
"IYA!!" Ujar Willy meyakinkan. "Aku kerumahmu hari ini! Sekarang!"
"HAAAHHH!?!?!?"
Cinta, perubahan, dan pertemuan. Siapa yang akan menyadarinya??
☄️☄️
[Tamat]
Karya asli oleh: Aleaa Kanaeru
Sampul cerita: Aleaa Kanaeru