Malam sudah larut seorang gadis masih menangis di tepi jembatan Rainbow Bridge. Sedari tadi ia terus saja menangisi pacarnya yang baru saja ia temui. Gadis tersebut datang jauh-jauh dari Pulau Hokkaido ke kota Tokyo hanya untuk bertemu Daichi. Tapi, sesampai di Tokyo laki-laki itu telah bersama wanita lain.
Tangisnya begitu pilu, semuanya sudah hancur berantakan. Ia tak tau kenapa semua ini terjadi kepadanya. Rasanya dunianya benar-benar runtuh. Sekarang ia tak bisa pulang lagi ke rumahnya. Karna, malu tak mempercai ucapan dari ayahnya. Kalau kekasihnya itu bukan laki-laki baik. Sekarang ia menyesali keputusannta yang telah kabur dari rumahnya.
Dari jau seorang laki-laki yang baru saja mengantarkan pesan makan terakhir pun terkejut melihat gadis itu yang menangis sendiri. Rasa khawatirnya mulai merasukinya. Laki-laki itu takut kalau wanita yang dilihatnya ini akan bunuh diri.
Secepat kilat ia mengayuh sepedanya untuk menghampiri gadis itu. Setelah sampai ia langsung menarik tangan gadis itu sampai membuat keduanya terjatuh ke tanah. Dengan posisi Laki-laki itu yang dibawah dan tubuh gadis itu di atasnya.
Dengan segera ia pun bangun dari tubuh laki-laki itu. “Kamu apa-apa sih menarik tangan gadis sembarangan,” bentaknya kesal.
Laki-laki itu pun menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Tubuhnya yang sakit, kenapa gadis ini yang marah-marah?” pikir Laki-laki itu bingung.
“Maaf, aku tak mau kamu bunuh diri!” serunya menunduk tak berani melihat wajah gadis itu yang membuatnya berdebar sedari tadi.
“Bunuh diri! Aku masih waras, tak mungkin aku melakukan itu,” bentaknya lagi kesal karna, laki-laki ini datang tiba-tiba disaat hatinya sedang sakit.
Laki-laki itu pun mengelus dadanya merasa bersyukur kalau gadis yang ditemuinya itu tak berniat bunuh diri.
Terlihat gadis itu masih cemberut dan tiba-tiba menangis lagi. Membuat laki-laki itu bingung. “Kamu kenapa? Ada yang sakit!” tanyanya khawatir dan juga bingung.
Gadis tersebut mengelengkan kepala sambil terus saja menangis tanpa henti. Sampai laki-laki itu benar-benar tak tau bagaimana cara menenangkan gadis itu?
“Kamu kenapa? Kalau kamu tak berbicara, bagaimana cara aku membantu kamu!”
Gadis itu pun berhenti menangis dan berjongkok di samping jembatan. Air matanya terus saja keluar walau sudah tak ada suara tangis yang keluar dari mulutnya.
Laki-laki itu pun ikut duduk di sampingnya sambil memarkirkan sepedanya. Karna, malam sudah larut tak banyak orang yang lewat . “Rumahmu di mana? Biar saya antarkan!” tanya laki-laki itu.
Gadis itu malah menangis kembali. Membuat ia semakin bingung harus bagaimana? Ia pun berpikir. “Apakah salah berbicara lagi!” lagi-lagi laki-laki ini menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Aku kesal, aku benci!” serunya sambil menangis.
Laki-laki itu hanya mendengar apa yang gadis itu ucapkan? Ia tak mau salah bicara lagi sampai membuat gadis ini kembali menangis.
“Aku jauh-jauh dari pulau Hokkaido, untuk menemui dia. Tapi, apa yang dilakukan! Dia malah selingkuh dengan gadis lain. Apa salahku? Apa kurangku? Aku sudah setia menjaga cinta dan perasaan dalam hatiku namun, dia malah menyakiti aku. Dia tega, dia kejam aku benci-benci sekali,” ucapnya marah-marah sendiri.
Sekarang Laki-laki itu memahami kalau gadis itu baru putus cinta. Makanya kelakuan aneh. Walaupun seperti ini, gadis ini lumayan cantik sih. Laki-laki itu pun membuang muka tak ingin berpikir yang aneh-aneh tentang gadis yang baru putus cinta ini.
“Semua Laki-laki sama!”
“Tunggu, karat! Aku keberatan kalau aku disamakan dengan dia?”
Gadis itu menoleh ke arah Laki-laki yang ada disampingnya itu. Ia baru menyadari kalau ia sedang berbicara dengan orang asing. Gadis itu pun menepuk keningnya sendiri dan beranjak bangun untuk kembali ke penginapannya.
“Kamu, mau kemana?” tanya Laki-laki itu sambil menahan tangan dari gadis itu.
Gadis tersebut mulai salah paham dengan laki-laki yang baru ditemuinya itu. Sekarang ia mulai bingung harus minta tolong sama siapa? Kalau laki-laki ini berbuat jahat kepadanya.
“Maaf Kak, tolong lepaskan aku? Kasihanilah aku yang jauh dari orang tua ini!”
Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari gadis itu. Rasanya lucu melihat tingkah dari gadis ini. Tadi saja menangis sekarang minta diampuni.
“Kamu salah paham! Memang aku kelihatan tampang penjahat!” serunya masih tertawa.
Gadis itu mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya.
“Aku Azumi Kinomoto,” ucapnya sembari mengukurkan tangannya.
Gadis itu pun mengerutkan keningnya. “A-aku Fujiki Yunna,” ucapnya sembari menjabat tangan laki-laki itu.
“Ayo aku antar kamu ke penginapan,” ucap Azumi
Yunna masih bengong dan bingung.
“Aku bukan orang jahat. Aku baru selesai mengantarkan makanan tadi aku melihatmu sedang menangis di tepi jembatan. Aku takut kamu bunuh diri, makanya aku menghampirimu,” tuturnya.
Gadis tersebut pun mengembuskan nafas panjang merasa lega kalau laki-laki yang ditemuinya ini bukan orang jahat. “Aku baru pertama kali datang ke Tokyo!”
Azumi tesenyum. “Sekarang mau ke mana! Semua tempat wisata sudah tutup.”
“Yah, aku tau! Aku hanya ingin berjalan-jalan saja di sekitar Odaiba.”
“Baiklah, aku temani.”
“Benarkah!”
“Iya, aku takut kamu kenapa-kenapa? Tokyo bukan tempat yang baik bagi gadis sepertimu!”
“Tokyo berbeda sekali dengan Hokaido.”
Saat keduanya sedang berjalan-jalan. Segerombolan orang pun datang menggunakan sepeda motor. Azumi pun berhenti. Membuat gadis itu bingung. “Kenapa?” tanyanya masih belum memperhatikan ke depan.
“Kamu, tetap berada di belakangku,” gumannya.
Beberapa orang yang mengunakan sepeda motor pun mulai menghampiri Azumi dan Yumna.
“Waw, gadis cantik nih,” goda salah seorang dari mereka.
Azumi masih dengan posisi waspada karna, harus menjaga gadis yang baru dikenalnya ini. Yunna benar-benar ketakutan memegang erat tangan dari laki-laki itu. Jumlah mereka begitu banyak rasanya tak mungkin bisa di lawan.
“Yunna, dengarkan aba-aba dariku dalam hitungan tiga kita harus lari dari sini,” bisik Azumi.
Gadis itu hanya bisa mengangguk menuruti semua yang diucapkan dari Azumi jika ingin selamat. Beberapa laki-laki yang lainya pun mulai mengodanya sambil bersikap kurang ajar. Laki-laki itu pun sedang mencari celah untuk segera kabur dari mereka. Mereka pun mulai berkumpul tak menghiraukan Azumi di samping Yunna. Mereka terus saja menggoda Yunna yang hampir menangis karna, takut.
Dalam hitungan tiga Azumi pun melempar sepeda yang ia bawa untuk menghantarkan makanan tadi. Kepada salah satu pengendara motor itu sampai membuat pengendara motor itu pun terjatuh dari motornya. Secepat kilat Azumi menarik tangan Yunna untuk berlari sekuat tenaga untuk menghindari mereka.
Mereka yang kesal pun mengejar Azumi dan Yumna berlari dengan begitu kencang menembus gang-gang sempit agar para preman itu tak mengejarnya. Dalam hati Yunna pun berdoa agar bisa selamat dari kejaran dari para preman-preman itu.
Azumi yang begitu hapal jalan tikus pun secepat kilat berlari sembari memegang tangan Yunna dengan begitu erat sampai Yunna pun merasa kelelahan karna, malam-malam harus berolahraga lari maraton.
“Tunggu,baku lelah,” gumannya sendiri.
Dengan keringat yang bercucuran Azumi pun berhenti. Ia melihat ke belakang memastikan kalau preman-preman itu tak mengejarnya lagi. Yunna masih mengatur nafasnya. Baru kali iya berlari dengan seorang laki-laki yang baru dikenalnya tadi. Dengan cucuran keringat yang banyak keluar dari tubuh Azumi pun duduk di trotoar jalan.
Keduanya pun saling melihat dan tertawa bersama. Rasanya lucu harus dikejar-kejar preman-preman itu. “Gila,” guman Azumi.
“Gila, kenapa?” tanya gadis itu dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
“Gila saja, bisa bertemu dengan preman-preman itu!”
“Kamu kenal mereka?”
“tidaklah?”
“Kenapa mereka mengganguku!”
“Aku tak tau! Mungkin karna, kamu cantik?” ucapnya sambil berpaling.
Gadis itu pun terdiam, rasanya aneh dipuji oleh seseorang yang baru saja dikenalnya.
Laki-laki itu pun kembali melirik gadis itu, yang terlihat murung. “Sudah, lupakan saja laki-laki tak setia itu?”
Gadis tersebut tersenyum. “Kamu salah paham? Aku menyesalkan tak mendengarkan apa yang ayahku katakan padaku, tentang dia? Aku terus-menerus menentang ayahku,” ucapnya sambil meneteskan air matanya lagi.
Laki-laki itu pun menarik wajah gadis itu dengan lembut dan mulai menghapus air mata yang keluar dari pelupuk matanya. “Ini jadi kali terakhir, kamu menangis karna, dia!” gumannya memeluk erat gadis itu.
Yumna tak kuasa menahan sakit hati dalam hatinya yang begitu berat untuk ia lepaskan. Gadis tersebut tak ingin menangis lagi karna, Laki-laki yang tak layak diperjuangkan itu. Dalam pelukannya, ia terus saja menangis sampai-sampai ia merasa puas.
Setelah itu keduanya berpisah tanpa memberikan no ponsel keduanya. Yunna pun pulang ke penginapannya akan tetapi sampai penginapan, ayahnya sudah berada di sana dan memaksa Yunna pulang dini hari itu juga. Karna, desakan sang Ayah gadis itu pun menurut untuk pulang ke kota kelahirannya di Sapporo, Pulau Hokkaido.
Sampai rumah, Azumi pun membaringkan tubuhnya sendiri. Walaupun lelah tapi, malam ini ia begitu bahagia bisa bertemu dengan gadis itu. Laki-laki itu pun melupakan sesuatu. Gadis itu belum memberikan no ponselnya. Membuat laki-laki itu beberapa kali menepuk jidatnya sendiri. Namun, ia pun tersenyum karna, hari ini mereka berjanji akan jalan-jalan sebelum Yunna pulang ke Sapporo.
Hari ini Azumi sengaja meminta izin untuk tak masuk kerja karna, ia berjanji akan mengajak Yunna jalan-jalan sebelum ia pulang ke kota Sapporo. Tapi, sampai penginapan tempat Yunna menginap tuk sudah tak ada. Kata pekerja penginapan semalam ia sudah berangkat kembali dijemput oleh seseorang yang entah siapa?
Dengan wajah sendu, laki-laki tersebut keluar dari penginapan itu. Rasanya hatinya hancur, yang ia sesalkan, ia belum sempat menanyakan no ponsel dan alamat rumahnya di kota Sapporo. Ia pun berbesar hati untuk rela melupakan gadis yang ditemuinya malam itu. Karna, mungkin Azumi tak akan bertemu kembali dengan gadis bernama Yunna.
Enam bulan pun berlalu dari malam itu. Sampai hari Laki-laki tersebut belum bisa melupakan gadis itu. Walaupun cuman satu malam namun, kesannya itu masih membekas dalam hatinya. Sekarang laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu pun mulai memikirkan bahkan merindukan gadis tersebut yang entah bagaimana kabarnya sekarang?
Lamunan buyar saat ibunya menelpon untuk pulang ke Sapporo karna, Azumi juga berasal dari kota Sapporo. Karna, tak ada kabar dari gadis itu. Pada akhirnya, Azumi pun menerima gadis yang selalu ibunya bilang untuk dijodohkan dengannya.
Ibunya begitu bahagia saat putra bungsunya mau menerima perjodohan dengan gadis pilihannya. Ibunya selalu mengatakan kalau gadis itu begitu baik dan cantik anak dari teman suaminya. Sebenarnya Azumi malas saat ibunya memuji gadis itu. Ibunya menyarankan untuk melihat foto dari gadis itu. Tapi, ia menolaknya. Laki-laki yang sudah cukup umur itu pun ingin bertemu langsung saja. Ibunya pun sangat senang dan menyuruh putranya bersiap untuk pergi ke rumah gadis itu untuk melamarnya.
Rumah gadis itu tak jauh dari tempat tinggalnya sehingga tak butuh waktu lama untuk sampai rumahnya. Entah kenaoa? Hatinya berdebar lebih kencang dari biasanya. Rasanya aneh sekali berdebar saat pertama kali bertemu dengan gadis yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Sampai rumah gadis itu, hatinya semakin gugup dan cemas. Laki-laki itu pun mendadak menjadi mulas saat ia merasa gugup. Dua keluarga itu pun berbincang-bincang dengan santai namun, Azumi tak bisa menghilangkan rasa gugupnya yang terlihat begitu jelas di wajahnya.
Pak Yoshida pun tersenyum melihat kegugupan yang Azumi perlihatkan saat ini. “Tenang saja, gadis itu akan berdandan cantik untukmu. Tak seperti dulu, dengan gaya khas Laki-laki sepertimu,” gumannya.
Ucapan dari calon mertuanya itu pun membuatnya bingung. Sanae-ibu dari Azumi pun menjelaskan kalau gadis yang akan menjadi istrinya pun teman masa kecilnya. Azumi pun mencoba mengingat-ingat kembali dengan teman masa kecilnya. Tapi, Laki-laki itu pun benar-benar tak ingat. Ibunya mengatakan pertemanan mereka hanya sebentar karena, Pak Yoshida ke buru pindah dari kota Sapporo. Dan baru beberapa tahun ini kembali ke kota Sapporo.
Keduanya pun terkejut saat melihat satu sama lain. “Yunna,” panggilnya.
“Kalian saling mengenal,” guman Pak Yoshida sambil tersenyum.
Keduanya pun mengangguk dengan malu-malu Yunna mengatakan kalau satu bulan yang lalu mereka bertemu di Odaiba tempat di jembatan Rainbow Bridge. Sabar dan Yoshida pun tersenyum dan melanjutkan perjodohan ini. Pada akhirnya keduanya pun menikah di Odaiba seperti pertama kali cinta mereka tumbuh Love in Odaiba.
Selesai